RENUNGAN MINGGU ADVEN KEEMPAT: YESAYA 2:1-5

 

PENDAHULUAN

Musim penghujan telah tiba. Ketika hujan berhenti, pada malam hari lampu dinyalakan banyak serangga yang berterbangan. Sangat mengganggu kami yang duduk di teras Pastori. Kemudian kami “menanyakan” kepada paman google, kemudian IA menjawab. Dari beberapa ringkasan jawaban kami mengutip dua ringkas. Pertama, cahaya sebagai pemandu. Banyak serangga menggunakan cahaya alami, seperti bulan dan bintang, untuk navigasi. Lampu buatan di malam hari mengacaukan sistem navigasi mereka, menyebabkan mereka terbang menuju sumber cahaya tersebut. Kedua, permukaan yang terang. Lampu yang menyala sering kali menerangi dinding atau permukaan lain yang kontras, membuat serangga lebih terlihat dan menarik perhatian mereka lebih jauh lagi. Di minggu Adven keempat, tema renungan “Berjalan dalam Terang Tuhan”. Cerita ini menghantar kita dalam perenungan firman Tuhan dalam minggu ini.

PEMBAHASAN TEKS

a.    Latar Belakang

Yesaya Bin Amos adalah nabi yang melayani Tuhan di Yehuda, kerajaan yang dipimpin oleh keluarga Daud. Dia tampil sekitar tahun 740. s.M. di Yerusalem, tidak seberapa lama sesudah Nabi Hosea di negara tetangga, utara. Makna nama Yesaya berarti Yahweh adalah keselamatan atau Allah adalah sumber kelepasan.  Yesaya dari keluarga yang terkemuka, berasal dari lapisan masyarakat kelas atas. Alasan ini membuatnya leluasa melayani dalam istana raja di Yerusalem. Ia berasal dari keluarga yang terpandang dan berpendidikan, jebolan sekolah nabi.

Dia melayani di kurung waktu tiga raja yang memerintah di Yehuda. Raja Yotam (740-733 s. M), raja Ahas (733-114 s. M) dan raja Hizkia (714-696 s. M). Pada zaman Hizkia kemungkinan dia menjadi penasehat raja.  Perang saudara antara Israel dan Yehuda (733 s.M), runtuhnya kerajaan Israel (722.s.M), semakin terjepitnya Yehuda dan tetangganya oleh Kerajaan Asyur, semua itu dihayati oleh Yesaya dan nampak dalam nada-nada pemberitaannya.

Keadaan Yahuda secara politik cenderung melihat pentingnya berkoalisi dengan bangsa-bangsa lain sebagai bagian dari menggalang kekuatan politik. Bagi Yesaya, tindakan para pemimpin Yehuda seperti bermain-main dengan api yang membara, sebab tindakan tersebut merupakan pemberontakan kepada Allah. Mereka diumpamakan sebagai orang yang meninggalkan Allah (Yes. 1:28; 65:11).

Dalam kehidupan keagamaan, umat Yehuda melakukan ibadah yang sia-sia (Yes. 28:7-29:16) karena mereka beribadah sembari mabuk oleh anggur. Bangsa yang dahulu setia kepada Tuhan, pusat religius sekarang menjadi sundal (Yes. 1:21). Negeri didiami oleh orang-orang benar, yang setia kepada Tuhan, sekarang penuh dengan kenajisan. Kota itu telah menjadi seperti Sodom dan Gomora (Yes. 1:10), baik pemimpin maupun penduduknya.

Tuan-tuan tanah yang membeli tanah para petani dan membangun rumah demi rumah di atasnya, sehingga tidak ada ladang pertanian bagi petani dan buruh tani. Para penguasa memutarbalikkan proses pengadilan dengan membuat surat-surat keputusan mengaburkan hak dan mengorbankan orang-orang tidak berdaya. Ketidakadilan, penindasan, kekerasan, bahkan pemerasan, penipuan, fitnah dan sumpah palsu pun dapat membunuh kehidupan orang kecil dan miskin. Sedangkan anak anak yatim dan janda-janda adalah kelompok paling lemah dalam status sosial dan sistem kemasyarakatan tidak ada orang yang mau membela perkara mereka.

Dalam konteks yang demikian Yesaya melontarkan kritik sosialnya dengan tuduhan terhadap orang-orang Yehuda (Yes. 1:21-23). Kemudian ia juga menubuatkan tentang masa depan bagi Israel, ketika Israel berbalik kepada Tuhan, Tuhan datang untuk memulihkan umat-Nya.

b.    Teks Bacaan

Bacaan kita saat ini, kita dapat membaginya dalam beberapa bagian.

Pertama, ayat 1-2. Penglihatan menjanjikan masa depan yang bertentangan dengan pengalaman orang-orang saat itu. Frasa pembuka dalam ayat 2, "pada hari-hari terakhir," menyiratkan latar eskatologis atau "akhir zaman." Namun, bahasa Ibrani tidak mensyaratkan bahwa penggenapan nubuat ini hanya mungkin terjadi pada akhir zaman. Nabi hanya memberi tahu pendengar bahwa penglihatan yang dilihatnya untuk Yehuda dan Yerusalem adalah tanggal di masa depan, waktu yang penuh harapan yang dijanjikan di tengah masa kini yang mengerikan .

Penglihatan kenabian dimulai dengan pengangkatan Bait Suci Tuhan. Posisi bait suci yang menonjol mendahului kedatangan “semua bangsa” ke sana. Penulis menggambarkan kedatangan bangsa-bangsa ke Yerusalem seolah-olah seperti aliran air ( nahar ). Permainan kata antara aliran (air) dan mengalir (orang) memungkinkan Nabi untuk mengingatkan umat bahwa Allah tidak hanya menghasilkan perhatian internasional, tetapi juga menandakan pemeliharaan ilahi bagi umat perjanjian Allah. Ada transformasi geografis dan lingkungan sering menyertai pembalikan ilahi atas nasib Yehuda dan Israel. Masa depan yang dijanjikan Allah menunjukkan penetapan kedaulatan Allah, pemulihan reputasi Yehuda, dan pembaruan sumber daya berharga yang sering terancam oleh invasi militer. Dengan demikian, setiap seruan kepada pemulihan Ilahi mencakup ekspresi spiritual, sosial, dan material. 

Kedua, ayat 3. Gambaran tentang “segala bangsa” dan “banyak orang” yang datang ke Yehuda berlanjut dalam ayat 3. Tujuan ziarah mereka diumumkan. Orang-orang asing ini memasuki wilayah Yehuda karena di sanalah tempat pengajaran Allah ( tōrāh ). Mirip dengan Mazmur 119. Yesaya memahami tōrāh (sering diterjemahkan sebagai “hukum” atau “pengajaran”) sebagai undangan Allah untuk mengenal Allah lebih sepenuhnya dan berjalan lebih dekat dengan Allah di sepanjang jalan yang dilalui Allah (Yesaya 3:1a). Hukum, pengajaran, dan perintah Allah bukanlah penghalang bagi sukacita manusia atau beban berat yang harus ditanggung manusia. Sebaliknya, itu adalah ungkapan undangan Allah untuk mendekatkan diri, mengenal-Nya bukan hanya perbuatan Allah, tetapi juga jalan-jalan Allah (Mazmur 103:7).

Nabi melukiskan gambaran tentang kemakmuran Yehuda, di mana orang-orang berbondong-bondong datang ke kota itu karena keagungan Allah dan keinginan mereka untuk belajar tentang Allah. Di dalam rumah Tuhan, tempat semua suku bangsa berkumpul untuk mendapat pengajaran. Tuhan akan berperan sebagai tuan rumah dan guru bagi seluruh bangsa.

Gunung Sion merupakan  tempat suci (Mzm. 48 : 1-2). Kata “Gunung tempat rumah Tuhan akan berdiri tegak”, mengartikan nubuatan Yesaya tentang suatu waktu ketika pemerintahan Allah akan ditegakkan di seluruh bumi. Semua kejahatan, ketidakadilan, dan pemberontakan menentang Allah dan hukum-Nya akan ditumpas dan kebenaran yang akan memerintah. Ajakan “Mari, kita naik ke gunung Tuhan….”. Berarti adanya keinginan dan kerinduan untuk bersama-sama pergi ke rumah Tuhan, bukan hanya pergi tetapi tujuannya adalah mendengar pengajaran-Nya. Sehingga mereka boleh berjalan seturut dengan jalan-jalan Tuhan.

Ketiga, ayat 4. diakhiri dengan refrain terkenal, “Mereka tidak akan lagi mempelajari peperangan.” Suatu  masa ketika alat-alat perang dapat ditinggalkan dan diubah menjadi alat-alat yang membawa dan menopang kehidupan. Bagi Yesaya, tanah yang dirusak oleh tentara yang memegang pedang dan tombak diubah menjadi tanah subur. Setiap pedang dan tombak menjadi alat pertanian untuk menyediakan makanan bagi komunitas yang penuh damai. Bagaimana nabi membayangkan transformasi ini terjadi? Apa kunci untuk mengakhiri perang dan mengantarkan era perdamaian ini? Menurut Yesaya, kemampuan Tuhan untuk menghakimi dan menyelesaikan perselisihan adalah dasar untuk mengakhiri peperangan bangsa-bangsa (Yesaya 2:4a).  

Keempat, ayat 5. Ajakan nabi kepada bangsa Yehuda untuk berjalan dalam terang. Melalui bangsa Yehuda akan terpancar sinar terang kepada seluruh bangsa. Melalui mereka bangsa-bangsa lain akan hidup dalam terang Allah. Nabi mengajak mereka untuk berjalan dalam terang Tuhan, artinya hidup seturut dengan kehendak Tuhan, taat kepada perintah-Nya dan hidup menurut jalan-jalan-Nya.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Melalui pembahasan di atas kita mencatat beberapa pokok renungan.

Pertama, hari ini kita memasuki minggu Adven keempat. Selama empat minggu kita berada dalam masa-masa persiapan penantian kedatangan Tuhan. Kedatangan Tuhan membawa harapan di masa depan. Walaupun mungkin kini kita berada di masa-masa sulit, namun Tuhan memberikan harapan bagi masa depan. Bacaan kita Yehuda di masa-masa sulit namun ada pengharapan di masa depan dalam Tuhan melalui nubuatan Yesaya. Merayakan Adven tidak hanya melihat ke masa lalu dan juga tidak hanya melihat masa kini, namun melihat ke masa depan. Masa depan yang cerah bagi orang berjalan mencari Tuhan, menuju ke gunung Tuhan dan berjalan dalam terang Tuhan.

Kedua, hidup orang Kristen harus menjadi daya tarik, magnet untuk kebaikan. Menjadi daya tarik yang membuat orang datang belajar tentang jalan-jalan Tuhan menemukan kebaikan. Seperti cerita di atas. Yehuda dan Yerusalem menjadi tempat ziarah, tempat semua suku bangsa datang belajar taurat Tuhan.

Ketiga, minggu-minggu Adven yang telah kita rayakan, harus ada transformasi hidup dan pikiran kita yang nampak dalam cara berpikir dan bertindak. Merubah kekerasan menjadi pendamai. Pisau, parang, pedang, tombak yang dipakai untuk mengancam, berperang, membunuh atau menebang pohon sembarangan, di masa Adven kita harus mentransformasi menjadi alat-alat yang produktif bagi kebaikan. Minggu Adven keempat dan dalam rangka perayaan Natal, kita harus berkomitmen untuk untuk perubahan hidup. Perubahan yang mendalam dalam kehidupan sebagai orang Kristen. 

Keempat, mari kita saling mengajak datang kepada Tuhan yang adalah terang kehidupan. Dalam minggu ini, kita akan akan merayakan Natal. Mari kita saling mengajak; ajak istri, ajak suami, anak-anak, tetangga dan kenalan yang seiman datang kepada Tuhan. Sebagai murid-murid Kristus, kita berjalan dalam terang Tuhan sehingga kehidupan  menjadi anak-anak terang. Terang menjadi pemandu dan menarik perhatian untuk orang datang kepada Tuhan, seperti cerita di atas. Amin. (FN).

Selamat memasuki minggu Adven keempat dan selamat menyongsong Natal. Salam dari Jemaat Bermata Jemaat Betel Tetus, Klasis  Amanuban Timur.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

MENJAGA DIRI DARI MINUMAN KERAS (AMSAL 31:1-9 )