RENUNGAN : YAKOBUS 2:14-26
Apa yang harus dilakukan
oleh seorang untuk diselamatkan? Pertanyaan ini diperdebatkan di sepanjang
sejarah gereja. Oleh karena itu gereja mengeluarkan berbagai ajaran, aturan dan
pandangan yang tidak lagi bersumber pada Alkitab seperti aneka sakramen,
absolutisme kekuasaan, doa arwah, api penyucian jiwa (purgatori) dan
sebagainya. Hal itulah yang mengakibatkan lahirnya reformasi gereja yang
dipelopori oleh Marthen Luther.
Untuk surat Yoakbus ini Luther pernah
menamakan sebagai surat yang terdiri dari “jerami atau rumput kering”(a right
strawy epistle, for it has no true evangelical character), karena surat ini
tidak mempunyai sifat injili yang benar. Selain karena isinya yang mementingkan
perbuatan, juga karena surat Yakobus sedikit sekali menyebut nama Yesus
Kristus. Bagi Luther, manusia diselamatkan hanya karena iman. Perbuatan baik
manusia tidak akan menyelamatkan manusia.
Dalam perkembangannya di
kalangan Calvinis maupun Lutheran, surat Yakobus biasanya kurang dihargai,
sebab dianggap berlawanan dengan surat-surat dan ajaran Paulus menyangkut
ajaran keselamatan: hanya oleh karena iman saja (sola fide).
Apa yang sebenarnya
terjadi? Yakobus berbicara tentang iman dan perbuatan karena dia menghadapi
sebuah konteks tertentu yang berbeda dengan Paulus dalam suratnya kepada jemaat
di Roma. Yakobus berhadapan dengan orang-orang yang yang memiliki iman yang
“mati”. Mereka hanya berdoa saja tanpa bertindak. Sedangkan Paulus berhadapan dengan
orang yang Yahudi yang merasa sebagai orang benar (righteous) karena mereka
memiliki hukum Taurat.
Kemudian surat Yakobus
ini diperuntukkan kepada orang-orang Yahudi yang tidak mengerti mengenai
hubungan iman dan perbuatan baik. Yakobus memunculkan sebuah konsep iman di
dalam suratnya yang menyatakan, bahwa iman harus disertai dengan perbuatan, dan
iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.
Pokok penting guna
memahami ajaran Yakobus dalam teks 2:14-26, di mulai dari ayat 14 yang
berfungsi sebagai pendahuluan tentang pembahasan iman dan perbuatan. Jika kita
membaca dari pasal sebelumnya kita menemukan penekanan bahwa apabila seseorang
yang mendengar Firman tetapi gagal melakukannya atau yang menganggap dirinya
beribadah (1:26) tetapi tidak menghidupinya hanyalah menipu diri sendiri dan
tidak memiliki ibadah sejati sama sekali. Penekanan Yakobus bertolak dari iman
yang menghasilkan tindakan-tindakan praktis.
Yakobus tidak
mengontraskan “iman” dan “perbuatan” serta tidak sedang mengajarkan bahwa “iman
harus ditambahkan pada perbuatan”. Yakobus menekankan bahwa iman yang benar
harus didemonstrasikan melalui tindakan nyata. Inti argumentasi Yakobus
terlihat jelas dalam ayat 14-26 di mana iman yang sejati mencakup perbuatan
iman (ay. 17, 20, 26). Ilustrasi tentang membantu orang lain yang sedang
mengalami kekurangan secara jasmani (ay. 15-16), tidak terlepas dari topik
sebelumnya yakni “belas kasihan” dalam ayat 13.
Kita dapat membagi bacaan
dalam beberapa bagian.
Pertama, pertanyaan apa
gunanya? Terletak pada bagian pembuka dan penutup dalam paragraf ayat 14-16,
berfungsi untuk menyatukan ayat 14-16. Alur pemikiran Yakobus dapat digambarkan
sebagai berikut: Apakah gunanya mempunyai iman, padahal tidak mempunyai
perbuatan? (ay. 14a) Tidak ada! Dapatkah iman itu menyelamatkan? (ay. 14b)
Tidak dapat! Apakah gunanya? (ay. 15 16) Tidak ada! Konklusi: iman saja, tanpa
perbuatan, adalah mati (ay. 17). Melalui pertanyaan ini Yakobus hendak
menegaskan bahwa iman yang tidak disertai dengan perbuatan adalah hal yang
sia-sia tidak mendatangkan manfaat apa-apa di dalam keselamatan. Selain itu penegasan
bahwa tidak mungkin seseorang mengatakan memiliki iman tetapi tidak memiliki
perbuatan.
Kedua,
Yakobus mengidentifikasi lawan bicara sebagai orang yang “mengatakan bahwa ia
memiliki iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan”. Dari identifikasinya,
Yakobus mengutip lawan bicaranya dua kali dalam bagian (2:18a, 19a), untuk
menegaskan posisi dari lawan bicaranya dan menjawab pernyataan ini dalam
ayat-ayat berikutnya. Akhirnya, Yakobus mengklaim lawan bicaranya sebagai
“orang bebal” dalam ayat 20. Selain dialog dengan lawan bicara dari frasa
“Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan” (ay. 18); “Jadi kamu
lihat..” (ay. 24). Penggunaan tradisi Abraham dan Rahab dalam ayat 21-25
memberikan contoh yang bagus. Kutipan ini digunakan untuk menjawab keberatan
dan kesimpulan yang salah. Yakobus dalam ayat 23 dan 25 mengutip Kejadian 15:6
dan Yosua 2:1-21 untuk mendukung argumennya.
Tujuan dengan memberikan
bukti-bukti ini adalah untuk memberikan sanggahan bagi lawan bicara yang
memiliki pemahaman yang salah tentang iman dan perbuatan, di mana bukti ini
mendapat dukungan dari Perjanjian Lama dan tradisi eksegesis Yahudi.
Ketiga,
akhirnya, Yakobus menutup bagian surat ini dengan epilog tajam dan antitesis
yang merangkum dan menyimpulkan argumen di atas dengan menggunakan perbandingan
“tubuh tanpa roh sama dengan iman tanpa perbuatan” (ay. 26). Analogi ini
merupakan sebuah kecaman yang menunjukkan bahwa lawan bicara Yakobus gagal
memahami iman yang benar (iman dalam pengertian agama/religius). Analogi ini
menggambarkan tentang relasi iman dan perbuatan, di mana pemisahan salah satu
unsur dalam diri manusia yakni “roh” dan “tubuh” akan mengakibatkan kematian,
demikian juga iman dan perbuatan tidak dapat dipisahkan.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Kita mencatat beberapa
pokok renungan.
Pertama,
iman menjadi dua sisi, yakni ditinjau dari sisi positif dan sisi negatif.
Ditinjau dari segi positif, iman yang benar adalah iman yang menerima Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, serta menyerahkan hidup sepenuhnya dalam
tangan-Nya. Iman yang benar ditunjukkan dalam perbuatan-perbuatan, yang bekerja
bersama-sama dengan perbuatan-perbuatan, dan yang disempurnakan oleh
perbuatan-perbuatan. Iman yang sejati
pasti menghasilkan tindakan-tindakan ketaatan, kesetiaan, dan kasih
kepada Allah dan kasih kepada sesama. Iman yang benar tidak hanya lipat tangan
dan berdoa tetapi membuka tangan dan bertindak.
Kedua,
dari segi negatif; “iman palsu” yaitu iman ini tidak terbukti dalam perbuatan
baik dan hal tersebut tidak dibenarkan. Ini bukanlah iman Kristen yang benar. Bacaan
ini berulang-ulang menulis iman “tanpa perbuatan” atau “tidak disertai
perbuatan”. Ini adalah iman palsu yang tidak memiliki perbuatan baik, tidak
dapat menyelamatkan, yang sudah mati, yang terpisah dari perbuatan baik, dan
tidak berguna. Walaupun kita orang Kristen, orang beribadah namun kita tidak
melakukan kehendak Tuhan maka kita hidup dalam kepalsuan.
Ketiga, perbuatan
mengacu pada kasih atau tindakan belas kasihan, mengacu pada ibadah yang sejati
dan hukum kasih kepada sesama. Kasih yang tidak memandang muka. Perbuatan yang
dimaksud adalah sebagai ekspresi atau perwujudan dari iman yang menyelamatkan,
bukan sebagai sarana untuk mendapatkan keselamatan. Perbuatan berkat-berkat
menunjukkan penyempurnaan dan penggenapan iman. Jadi dari perbuatan kita tahu
bahwa orang itu beriman kepada Tuhan.
keempat, manusia
beriman tanpa perbuatan adalah seperti roh yang bergentayangan dan perbuatan
tanpa iman adalah manusia yang hidup namun tanpa roh. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar