PENEMPATAN DI JEMAAT BEANG DAN PENGALAMAN MENEGANGKAN DI MALAM HARI

 

Penempatan vikaris di jemaat-jemaat
Klasis Pantar Barat dilakukan oleh Ketua Majelis Klasis (KMK) selaku koordinator mentor. Prioritas penempatan di jemaat yang belum ada pendeta sehingga koordinator mentor sekaligus sebagai mentor. Selama kurang lebih seminggu, KMK melakukan percakapan dengan kami sebelum diantar ke jemaat.
"Hampir satu minggu kita di sini, setiap malam saya berdoa agar tidak salah menempatkan kamu di jemaat," kata Pdt Yeskiel Oumaara.

Orang yang tempat harus ditempatkan di tempat yang tepat pula. Kandang orangnya tepat salah ditempatkan di tempat yang tepat hasilnya tidak tepat.

Momen penempatan tidak mendebarkan seperti saat penarikan lot karena kami telah berada di Klasis, dan telah memperoleh gambaran umum tentang jemaat-jemaat yang membutuhkan vikaris. Itu berdampak pada psikologi kami. 
Melalui pergumulan dan percakapan, KMK menempatkan kami masing-masing di jemaat yang tidak ada pendeta. Vikaris
Efrayim Sakan di Jemaat Alfa Omega Beangawang, vikaris Iyet Haning di Jemaat Airpanas, vikaris Dhewy N. Nenobais di Jemaat Puntaru, vikaris Mitha Kana Djawa, di Jemaat Koinonia Maliang, vikaris Yumince Pinat di Jemaat Imanuel Latuna, dan saya di Jemaat Beang.

Untuk jemaat Beang di pinggir pantai, air  bersih sulit didapat, jalan belum diaspal dan jaringan telpon dan internet belum ada. Walaupun gambaran jemaat yang demikian namun karena semangat untuk belajar dan melayani maka siap menjalani.

Kemudian kami dijemput. Waktu itu utusan Majelis Klasis yang mengantar saya ke Beang adalah bapak Bendahara klasis (lupa nama).
Jalannya menurun yang terjal dengan gusuran tanah dan batu lepas. Pada waktu itu jalan dari Maliang ke Beang belum diaspal.

Menjelang maghrib kami tiba di Beang, sebuah kampung kecil dengan jumlah kepala keluarga 30-an.
Belum ada ibadah penerimaan vikaris. Ada rumah pastori namun fasilitas sangat minim. Pintu tak ada kunci, jendela tak ada gerendel. Lemari satu bentuknya seperti salib. Dapur untuk masak terbuka di luar tak ada kompor. Kamar mandi di luar. Lampu hanya dari cahaya suriah tiga buah yang menyala pada malam hari. Jaringan tak ada.
Malam pertama dan kedua saya masih ditemani oleh bendahara klasis. Setelah ibadah penerimaan vikaris, bendahara klasis kembali ke Maliang.
Setiap malam saya mulai merasa takut.
Sudah terbiasa hidup di kota, malam terang seperti siang dengan berbagai fasilitas yang ada.

Tibalah malam yang menegangkan.
Pukul satu malam saya kaget dengar bunyi seperti orang yang mengambil piring lalu menyendok nasi di tempat nasi yang ada di atas meja makan. Saya bangun dengan gemetar duduk di tempat tidur. "Hallo siapa? Hallo siapa?” tanya saya dengan suara yang keras dari dalam kamar.  Tidak ada jawaban. Sendok dan piring terus berbunyi seperti orang makan. Kamar tidur hanya kain pintu yang menghalangi saya.
Saya berdoa, "Tuhan, Engkau yang mengutus saya ke sini dan Engkau yang bertanggung jawab atas keselamatan saya," Setelah itu saya sengaja mendorong kursi plastik di kamar. Kemudian bunyi di meja makan tak lagi kedengaran. Saya keluar perlahan dari kamar menuju ke meja makan dan memperhatikan tak ada orang. Saya memperhatikan pintu belakang tetap tertutup. Pintu itu ditutup dari luar sehingga tak bisa palang dari dalam. Pintu depan tetap tertutup. Saya kembali ke kamar dan tak bisa tidur. Malam yang kedua saya ketiduran tapi bangun pagi memperhatikan makanan di tempat nasi  habis dimakan.
Saya menceritakan kepada beberapa orang, kemudian mereka bilang, "Pak vikaris, di sini anjing bisa jalan di atas seng." Dalam hati saya, anjing macam apa? Ini pasti anjing jadian?"

Hari minggu sebelum kebaktian saya menyampaikan kepada Wakil Ketua Mata Jemaat Ebenhaezer Beang. Sehabis kebaktian dari mimbar kecil beliau berkata, "malam-malam jangan ada yang pi coba saya punya vikaris. Jangan macam-macam. Tidak ada lagi yang setiap malam pi ganggu vikaris, karena nanti orang itu akan berhadapan dengan saya."

Saya mulai menganalisa apa yang disampaikan. Ini bukan anjing benaran. Saya memiliki keberanian untuk hal ini. Setiap hari ada jam-jam tertentu saya duduk di bawah mimbar untuk berdoa dan membaca Alkitab. Saya merasa begitu dekat dengan Tuhan. Muncul refleksi tentang Tuhan sebagai Pelindung dan Penjaga. Mazmur 121 menjadi bacaan emas saya.

Berdoa sambil melayani dan belajar. Ternyata masyarakat masih sangat tertutup walaupun mereka telah menjadi orang Kristen. Kekuatan magic dipakai untuk melindungi diri, melindungi suku, melindungi kampung. Muncul berbagai refleksi tentang hubungan mereka dengan Tuhan dan kekuatan Alam. Tuhan Raja atas alam semesta. Semua di bawah kaki-Nya. Masa, saya sebagai anak-Nya  kerja di ladang Bapa saya takut dengan hal seperti itu. Ada beberapa orang yang menceritakan kepada saya tentang keadaan di kampung itu dengan orang-orangnya. Saya semakin berani karena tahu keadaan mereka.
Setelah itu tak ada gangguan.

Tuhan memampukan saya untuk mengatasi segala sesuatu.

Saya menemukan jaringan telpon di bawah jendela kamar.

Kampung cukup sepi. Pada siang hari semua di kebun menjelang maghrib baru mereka kembali ke dalam kampung. Namun alamnya indah dan kaya yang memberi inspirasi. Air lautnya hangat dan ada bagian dari pantai itu yang cukup panas. Setiap tahun di bulan-bulan tertentu ada turis dari mancanegara datang di Pantai Beang.
Banyak pengalaman iman yang saya alami. Banyak waktu untuk saya berefleksi sehingga munculnya "Ceritaku Hari Ini" di dinding Fb saya.
Awalnya cukup terasa lama namun setelah belajar dan mengikuti proses tak terasa.

Ada tiga mata jemaat. Salah satu mata jemaat di bawah kaki gunung Sirung dengan 14 kepala keluarga. Masing-masing punya ceritanya. Ada satu cerita yang lucu di mata jemaat ini.
Pagi-pagi saya ditemani koster ke Mata Jemaat tersebut. Perut saya sakit saat itu, sehingga turun dari perahu motor saya langsung menuju ke WC di rumah pastori. Pintu langsung WC menghadap ke dapur dan jalan, hanya ditutup dengan kain. Closed jauh dari pintu, sekarang mau buang air, angin keras tiup kain tersebut. Saya serba salah di dalamnya.
Setelah itu siap untuk kebaktian. Kami berdoa untuk memulai kebaktian, sekretaris tanya nama saya.
"Pak punya nama siapa?" Fransiskus Seran Nahak," jawab saya. Dia menuju ke mimbar, tapi lupa nama saya dan kembali tanya ulang. "Pak, ulang nama. Nama siapa?" "Frans Nahak," jawab saya pendek.
Kemudian dia kembali mimbar lagi untuk mengajak jemaat, "Bapak, ibu, jemaat Tuhan, kebaktian hari dipimpin oleh pak vikaris S.Th., saya menjemput jemaat berdiri kita menyanyi hormat bagi Allah Bapa.."
Saya terima Alkitab dari pendamping dan ke mimbar sambil tertawa.

Banyak cerita dan pengalaman yang membentuk saya.
Kini saatnya mencari cerita dan pengalaman di tempat baru.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Minggu Sengsara Kedua: YESUS MENDERITA AKIBAT DOSAKU (1 Petrus 2:18-25)

Renungan Minggu Sengsara Pertama: KASIH BAPA DALAM PENGORBANAN ANAK TUNGGAL ALLAH (MAT. 21:33-46)

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)