MAKNA DAN SIMBOL UME KBUBU DAN LOPO ORANG METO, AMANUBAN TIMUR (Pdt. Frans Nahak)


A.    PENDAHULUAN

          Hakikat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan hidup dalam lingkungan dengan  paradigma yang terbentuk berdasarkan lingkaran sosial dalam sebuah produk budaya. Produk budaya tidak hanya sekedar hasil cipta tetapi di dalamnya terdapat keseluruhan paradigma. Pemahaman ini terkait erat  dengan  filsafat   realisme dalam  antropologi.[1] Di mana penekanannya dalam realitas sosial dan budaya ada secara objektif yang dapat dipelajari.

          Konstruksi bangunan rumah adalah sesuatu yang direncanakan atau ditata sebaik mungkin sebelum mendirikannya, dalam hal ini konstruksi bangunan yang dimaksud adalah buatan manusia itu sendiri yang terstruktur dan tertata rapi yang mempunyai atap, dinding dan sejenis lainnya. Selain itu, didirikan secara permanen di atas tanah yang berukuran sesuai dengan yang diinginkan. Bangunan harus ditata sebaik mungkin sesuai dengan ukuran yang sudah ditentukan. Namun tidak demikian bagi orang Atoni, rumah bukan semata-mata tempat tinggal melainkan simbol tata dunia dan tata sosial. Penataan rumah tidak ditentukan pertimbangan seni atau fungsi tetapi oleh satu makna yang hendak diungkapkan.

          Rumah suku Atoni Meto di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) adalah wujud arsitektur dengan wujud bulat, mencerminkan bentuk dari reaksi kondisi alam yang dingin sehingga wujud rumah tradisional atapnya berbentuk bulat menyentuh tanah serta tidak memiliki jendela sebagai reaksi akan kondisi alam. Ada beberapa jenis rumah suku Atoni Meto yakni, rumah tinggal (ume kbat), rumah bulat (ume kbubu), rumah suku (ume mnasi/knaf), istana (ume sonaf) dan lopo.[2]

Dalam tulisan ini, penulis hanya membahas lopo dan ume kbubu yang masih terpelihara sampai saat ini di Desa Taebone dan Desa Besnam, Kecamatan Fatukopa, Kab. TTS.[3] Tujuannya menghasilkan sebuah teologi kontemporer bagi orang Atoni.  

B.    METODE PENELITIAN

            Metode penulisan yang digunakan adalah metode deskriptif dan reflektif. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan model rumah bulat dan metode reflektif digunakan untuk makna teologisnya. Model teologi yang akan dipakai sebagai penghubung antara teks dan konteks. Di sini Penulis menggunakan model sintesis atau dialog sebagai jalan tengah antara penekanan masa kini maupun masa lalu. Dengan demikian, dapat menghasilkan suatu sintesis atau dialog sehingga pewartaan Injil tentang Yesus Kristus. Model sintesis adalah sebuah model jalan tengah yaitu penekanan pada pengalaman masa kini (konteks: pengalaman, kebudayaan, perubahan sosial) dan pengalaman masa lampau (Kitab Suci dan tradisi). Model ini bisa bersandar pada pembenaran Alkitab menyangkut keseluruhan proses penyusunan.[4]

            Sisi paling kuat dari model sintesis ini ialah posisi metodologisnya yang mendasar, yaitu keterbukaan dan dialog. Model sintesis sungguh-sungguh membuat suatu proses berteologi sebagai suatu percakapan dan dialog secara benar dengan orang lain, sehingga jati diri kita dan jati diri budaya kita bisa muncul dalam proses itu.  Dengan demikian, jika model ini dipakai sebagai upaya kontekstualisasi, maka hal itu berarti bahwa peranan konteks sangat diperhatikan, kebudayaan-kebudayaan dihargai dan juga doktrin-doktrin Kristen tetap didengarkan sebagai dasar pijak pemberitaan Injil.

            Aylward Shorter memperingatkan bahwa teologi tidak bisa dibatasi pada suatu cara memasukkan iman ke dalam satu kebudayaan. Kontekstualisasi teologi mesti menjadi sebuah sikap sebagai tanggapan atas konteks yang senantiasa berubah. Model ini juga berupaya memberi kesaksian tentang universalitas yang benar tentang iman Kristen.[5]

C.    PEMBAHASAN

            Pada  tanggal 22 Desember tahun 2018, Penulis ditempatkan sebagai pendeta di salah satu jemaat di pedalaman pulau Timor. Penulis memperhatikan kehidupan dan aktifitas masyarakat setempat. Setiap kali suami dan isteri ke kebun mereka masing-masing berjalan dan di dalam gereja pun demikian, suami dan isteri duduk berpisah. Ketika saat dipersilahkan makan, perempuan selalu orang terakhir mengambil makanan. Hal ini Penulis anggap janggal. Namun observasi yang dilakukan oleh Penulis hal ini berhubungan dengan pandangan, hubungan dan tata sosial seperti yang diwujudkan dalam bentuk, letak, jumlah ume kbubu dan lopo. 

1.    Ume Kbubu

            Ume kbubu (harafihanya : rumah bulat) adalah rumah tempat tinggal keluarga. Disebut demikian karena bentuknya bulat seperti telur yang diletakkan secara vertikal. Atap ume kbubu  terbuat dari alang-alang yang menutupi seluruh rumah mulai dari puncak sampai ke tanah. Ume kbubu  hanya memiliki satu pintu. Letaknya sangat rendah ukurannya sempit. Untuk dapat masuk dan keluar orang harus membungkuk serendah mungkin. Tinggi dan rendah rumah ini untuk menjaga kehangatan udara di dalam rumah. Hal ini mengingat karena rumah orang-orang Atoni terletak di puncak-puncak gunung. Pada malam hari udara sangat dingin.

 Ume kbubu juga menjadi tempat menyimpan jagung di loteng rumah, agar tidak cepat dirusak oleh rayap atau kutu-kutu maka api harus dinyalakan 1 x 24 jam di dalamnya. Ume kbubu merupakan bangunan yang sangat tertutup bagi dunia luar. Hanya keluarga inti yang bisa masuk keluar. Ruangan dalam ume kbubu terdiri dari dua unit ruang atas dan ruang bawah. Ruang atas adalah loteng. Seluruh persediaan makanan keluarga tersimpan di situ. Ruangan yang paling bawah adalah tempat tinggal keluarga. Sisi kanan ruangan adalah wilayah laki-laki sedangkan sisi kiri adalah wilayah perempuan. Di wilayah laki-laki terdapat tempat tidur untuk kaum laki-laki, serta semua peralatan yang sering dipakai mereka seperti pedang dan tombak. Dua buah tiang di bagian kanan yang menyangga rumah itu diberi nama laki-laki. Tiang yang letaknya dekat pintu masuk disebut ni monef matan (harafiahnya: tiang depan jantan). Tiang yang letaknya jau dari pintu adalah nai monef kotin (harafiahnya: tiang belakang jantan). Di sisi kiri adalah wilayah perempuan. Di situ terdapat dipan untuk kaum perempuan, tungku masak, tempat air, balai-balai tempat dan peralatan makanan. Dua tiang rumah belakang juga diberi nama feminin. Yang dekat dengan pintu bernama ni feto matan (tiang depan perempuan) sedangkan yang jauh dari pintu bernama ni feto kotin (tiang belakan perempuan). Sejak dari rumah seorang Atoni sudah dilatih untuk bertindak sesuai dengan jenis kelamin.

            Antara ruang bawah dan ruang atas terdapat lubang (pintu lonteng) di mana orang dapat naik turun mengambil jagung untuk dimasak. Pintu loteng berada di bagian kiri. Jadi berjalan ke loteng adalah wilayah perempuan. Ini berarti yang bertugas mengatur makanan adalah kaum perempuan. Ibu adalah pemegang kunci loteng rumah. Dia yang diperbolehkan naik turun loteng mengambil bahan makanan.       

            Di loteng terdapat tiang penyangga utama. Tiang itu diberi nama tiang ibu atau induk (nai ainaf). Nai ainaf  hanya satu. Ia dipikul oleh empat buah tiang yang ditanam di tanah dibagian bawah, yaitu dua di kanan dan dua di kiri. Ni ainaf merupakan titik pusat dari rumah orang Atoni. Balok-balok rumah yang melintang dan membujur membentuk rumah bertemu disatukan oleh ting induk itu. Ume kbubu adalah rumah tinggal keluarga. Ini identik dengan orang Atoni sebagai rumah perempuan.

            Fungsi ume kbubu sebagai rumah tinggal tapi juga sebagai tempat untuk menenun. Bagi sebagian besar perempuan suku Dawan, bisa mengerjakan pekerjaan lain selain memasak, maka menenun adalah keahlian mereka. Adanya rumah ume kbubu ini, menjadikan kaum perempuan Atoni lebih leluasa untuk menenun. Tangan-tangan kaum ibu dan perempuan akan sangat lihai dalam merajut benang dan menjadikannya sebagai kain tenun ikat khas Timor

2.     Lopo

            Lopo adalah rumah tamu. Bentuknya seperti payung bertiang empat. Lopo tidak memiliki dinding. Ia terbuka dalam segala penjuru dan sebagai tempat pertemuan. Di sini keputusan-keputusan mengenai adat dan hubungan-hubungan sosial dibicarakan dan ditetapkan.  P. Middelkoop menceritakan bahwa seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang gadis dan mengunjungi pada waktu malam, maka pemuda itu akan tinggal sampai jauh malam di situ. Sang gadis juga tidur di loteng lopo. Tengah malam pemuda naik ke atas loteng sang gadis tidur, jika sang gadis menyukainya maka ia diam saja, kalau tidak, maka ia akan berteriak memanggil orang tuanya.[6]

            Selain itu, lopo memiliki beberapa fungsi di mana menjadi tempat berkumpul oleh setiap keluarga, maupun ruangan penerimaan tamu. Keluarga akan berkumpul di lopo ketika mendiskusikan berbagai hal, dan juga sebagai tempat orang tua untuk mengajari anak-anaknya belajar. Berbagai keputusan adat juga disepakati di lopo, dan keputusan yang diambil akan disepakati dan dilakukan bersama-bersama. Lopo juga sangat efektif digunakan sebagai tempat untuk berteduh dari panasnya terik matahari, mengingat kawasan ini tergolong sebagai kawasan yang kering, sehingga teriknya matahari akan sangat terasa jika sedang berada di luar ruangan. Fungsi lopo tidak hanya itu tetapi juga menjadi tempat bagi warga membahas setiap persoalan yang dihadapi. Misalnya perihal gotong-royong di desa atau saat ada upacara adat, segala persiapan dibahas bersama di dalam lopo.        

            Konstruksi bangunan ditopang oleh empat tiang utama yang ditanam langsung ke tanah. Seperti halnya ume kbubu, lopo, terdiri dari empat buah tiang yang berfungsi memikul balok utama di atasnya terdapat beberapa balok anak untuk menopang lantai loteng. Di mana terdiri dari bilah-bilah kayu yang disusun rapat. Lantai loteng ini berbentuk lingkaran yang tepat dikelilingi oleh sisi atap. Pada bagian loteng terdapat tiang utama, berada pada titik tengah lantai loteng dan berfungsi sebagai penopang atap.

            Konstruksi atap berupa kerucut yang terbentuk dari rusuk-rusuk tegak dengan bagian puncaknya terhubung pada titik tepat di atas tiang utama. Bentuk bulat kerucut terbentuk dari ikatan utama, ikatan pertama mengunci bagian tengah rusuk-rusuk atap yang sejajar dengan lantai loteng, ikatan yang lain bersusun ke atas dan ikatan terakhir sebagai pengunci titik temu rusuk atap dekat dengan ujung tiang bubungan. Ring pada atap juga membentuk lingkaran yang diikat mengelilingi rusuk atap dan bersusun dari dasar atap hingga puncak atap.[7] Lopo juga sebagai tempat penyimpanan dan pengamanan barang–barang harta kekayaan (bale mnasi) milik bersama keluarga atau suku yang bernilai mahal.

Ekklesiologis-Teologis Ume Kbubu dan Lopo

a.     Gereja sebagai Ibu yang Melayani  

            Metafora gereja sebagai keluarga Allah merupakan bahasa iman dan suatu terjemahan khusus dari misteri Allah yang misterius kepada realitas untuk diketahui oleh manusia. Gereja merupakan tempat persekutuan orang-orang percaya dan sekaligus gereja milik Tuhan yang sangat kuat dicirikan oleh karagaman suku, pulau, latar belakang adat, nilai budaya, sejarah dan geografis anggotanya.[8] Dalam konteks ini, gereja memahami dirinya sebagai keluarga Allah. Maka dengan demikian, gereja adalah rumah bersama yang memberi perlindungan bagi umatnya. Rumah bagi suku Atoni Meto adalah ume kbubu, di mana dibangun sedemikian rupa untuk menjaga kehangatan udara di dalam rumah. Ketertutupan ume kbubu merupakan balutan untuk memberi kehangatan bagi anggota keluarga. Oleh karena itu, gereja harus menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk umat bersekutu. Selain itu gereja menjadi lumbung, memberi makan kepada umatnya, sebagaimana ume kbubu loteng menjadi tempat menyimpan jagung. Yesus memerintahkan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka harus memberi makan kepada orang banyak  (Mar. 6:37b).

            Ume kbubu adalah rumah perempuan bagi suku Atoni Meto. Gereja adalah ibu yang melayani anak-anak dan memberi mereka makan. Yohanes Calvin menguraikan gereja sebagai ibu. Bagi Calvin, mustahil jika orang tidak mengakui gereja sebagai ibunya dan Allah sebagai Bapa. Gereja sebagai ibu yang membina dan memelihara anak-anaknya dalam iman[9]. Bagi Calvin, gereja adalah ibu melaluinya kita masuk ke dalam kehidupan. Sebagaimana setiap manusia dapat hidup kalau ia dikandung dalam rahim ibu, dilahirkan, disusui, dilindungi dan dibimbing.[10]

            Gereja merupakan tempat persekutuan yang merawat iman keluarga Allah melalui devosi agar bertahan di tengah-tengah tantangan zaman.  Sebagai mana ume kbubu api selalu dinyalakan 1 x 24 jam agar jagung jangan cepat rusak oleh rayap atau kutu-kutu. Bagi orang Dawan, Uisneno adalah api yang panas yang tidak bisa tertandingi tetapi juga memberi kehangatan bagi manusia.[11]

            Dalam Perjanjian Lama (PL) istilah keluarga biasa juga dipakai untuk menyebut Bait Suci di Yerusalem, yaitu menunjukan kepada suatu persekutuan yang mesra sebagai satu keluarga, satu rumah tangga Allah.[12] Persekutuan dalam Bait Suci di Yerusalem sangat penting karena menggambarkan keluarga adalah pusat peribadatan dan pengajaran. Ibadah dalam Bait Allah sangat penting dalam memelihara kesinambungan tradisi dan iman bangsa itu dari generasi ke generasi.

Dalam Bait Allah di Yerusalem ada tiga ruangan yang disesuaikan dengan tiga kelompok para peserta ibadah, serambi untuk orang asing tidak bersunat dan perempuan dan ruangan utama untuk orang Israel dan para imam sedangkan ruangan Maha Kudus untuk para imam.[13] Jika dalam ume kbubu suku Atoni dikenal tiga ruangan, masing-masing dengan larangannya (luar untuk siapa saja, dalam untuk keluarga inti dan loteng hanya untuk perempuan) maka jemaat-jemaat dalam persekutuan dalam Kristus tidak demikian.

            Paulus memperlihatkan kepada kita perbedaan itu. Sekat yang memisahkan antara mereka yang “ jauh” dan yang “dekat,” “orang asing atau pendatang” dari “orang bersaudari dalam rumah”. Darah Kristus yang meniadakan tembok pemisah itu. Siapa saja yang datang di rumah Allah mereka adalah kawan-kawan sewarga dari orang-orang yang kudus. Inilah tata sosial dan sistem nilai yang harus diterima dan diimplementasikan oleh jemaat dalam seluruh aktifitas pelayanan dan kesaksian mereka. Sikap suami dan isteri ke kebun jalan sendiri-sendiri, duduk berpisah, saat makan perempuan yang terakhir menunjukkan bahwa jemaat belum sungguh-sungguh hidup dalam Injil. Injil belum menjadi dasar  pemberi makna dan tujuan budaya.  Gereja juga merupakan lopo di mana menjadi tempat yang terbuka. Gereja menjadi tempat terbuka untuk dialog tentang berbagai hal, dan juga sebagai tempat pengajaran bagi anak-anaknya.

b.     Kristus adalah Tiang Induk Rumah Allah 

            Gereja adalah rumah Allah, Kristus adalah tiang induk dalam rumah itu. Tiang induk adalah titik sentral dari  dari ume kbubu dan lopo. Empat buah tiang ditanam di tanah mewakili dua jenis kelamin sekaligus arah mata angin. Letak mereka yang terpisah-pisah itu diikat dan disatukan oleh tiang induk. Tiang induk mempertemukan yang berbeda-beda. Masing-masing diberi fungsi dan makna untuk sebuah rumah berdiri. Tidak ada pemisahan antara luar dan dalam, laki-laki dan perempuan, warna kulit, suku, ras, budaya, mereka disatukan dalam Kristus sebagai keluarga Allah.

            Semua anggota adalah saudara dan saudari. Persaudaraan bersifat mendunia. Ia menerobos batas yang manusia tetapkan. Semua komitmen kepada ikatan keluarga jasmani, yakni ayah, ibu, saudara perempuan dan saudara laki-laki tidak dibatalkan atau digantikan, melainkan diperbaharui dan diperluas. Persaudaraan itu tidak lagi bersifat pada hubungan biologis saja, tetapi berbasiskan iman (Gal. 4). Gereja sebagai keluarga Allah bukan berarti membatasi warganya untuk bergaul dengan warga gereja lain atau melarang warganya untuk mencari saudara dan saudari di gereja lain melainkan terbuka untuk bergaul dengan mereka, saling memperhatikan, mengasihi dan bekerja sama.

            Tiang induk dari ume kbubu dan lopo tidak menyentuh tanah. Ia bertumpu di atas empat buah tiang penyangga tiang jantan dan tiang betina. Selanjutnya, tiang induk dikelilingi oleh puluhan bahkan mungkin ratusan balok-balok kecil yang diletakkan membujur dan melintang. Seluruh komponen dari seluruh penjuru dengan cara yang unik diikat dan disatukan dengan tiang induk. Komponen lainnya dibangun dengan jaringan yang rapi dan indah di sekitar pusatnya yaitu tiang induk. Kesatuan dari semua komponen inilah yang disebut rumah. Tiang induk sendiri bukan rumah. Satu dihubungkan yang lain dengan tiang induk barulah kita memperoleh sebuah bangunan yang indah.

            Gereja sendiri adalah rumah Allah yang terdiri dari tiang induk serta masih banyak tiang dan balok-baloknya. Tiang induk adalah Kristus, yakni tiang penyangga balok-balok, atap, dinding dan sebagainya. Tanpa tiang induk ume kbubu dan lopo tidak bisa berdiri dan juga tanpa tiang-tiang kecil, balok-balok tidak akan menjadi rumah. Tanpa Kristus tidak ada gereja dan tanpa jemaat maka tidak akan bangun sebuah rumah. Gereja adalah persekutuan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain di dalam Kristus.

c.     Akar Budaya Patriarki

            Pandangan dan tata sosial  orang Atoni seperti terbentuk dalam wujud letak rumah. Jumlah rumah orang Atoni ada dua pertama adalah ume kbubu (rumah tempat tinggal ) dan yang kedua rumah lopo (rumah tamu). Lopo selalu dibangun di depan karena lopo simbol laki-laki dan ume kbubu adalah simbol perempuan. Oleh karena itu, laki-laki sering didahulukan. Akibatnya perempuan menjadi manusia kelas dua dalam masyarakat. Hal ini merupakan titik  pisah antara teologis Kristen dan budaya orang Atoni. Kitab Kejadian 2:18-25 berkisah tentang seorang laki-laki yang menemukan kepenuhan hidupnya. Di mana ia menemukan  seorang manusia perempuan yang disebutnya “tulang dari tulangku daging dari dagingku”. Kebersamaan ini saling melengkapi sebagai sesama manusia dengan ungkapan “penolong yang sepadan”. Kedua manusia ini berhak menolong dan ditolong, maka dengan demikian tidak ada manusia kelas satu dan kelas dua.[14] Semua manusia baik perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama bekerja di ruang publik maupun ruang privat. Dikotomi simbol budaya berupa struktur rumah dan pembagian rumah merupakan akar budaya patriarki yang harus ditransformasi melalui terang Injil.

D.    KESIMPULAN

            Perkembangan zaman merupakan tantangan bagi makna dari setiap simbol dari budaya orang Atoni, khususnya makna ume kbubu dan lopo. Gaya bangunan arsitek modern merubah nilai-nilai yang ada. Orang Atoni kini meninggalkan ume kbubu dan lopo  dan beralih ke rumah modern beserta dapurnya. Di hampir setiap pekarangan rumah jarang kita bertemu dengan ume kbubu dan lopo. Rumah yang dibangun sekarang adalah rumah moderen, permanen dengan ruang tamu yang luas beserta empernya. Pertemuan diadakan dalam ruang tamu dan emper yang tertutup. Hal ini menunjukan manusia modern yang indiviadualis.

            Gereja terbawa dalam gaya hedonisme dan konsumerisme yang mementingkan kemegahan gereja, sehingga lupa akan panggilannya sebagai seorang ibu yang memberi makan kepada anak-anaknya. Pembangunan gedung gereja yang mengikuti gaya arsitek modern menelan biaya miliaran rupiah, sehingga lupa akan si miskin di samping gereja. Pembangunan gedung gereja membuat jarak antara si kaya dan si miskin yang tak berkasut. Lantai granit seperti “melarang” mereka tidak berkasut untuk mengambil bagian dalam persekutuan dalam gedung gereja. Ume kbubu dan lopo ada salah satu simbol budaya orang Atoni yang menjadi rujukan gereja sebagai keluarga walaupun ada titik pisah yang harus dikritisi dalam simbol budaya ini.


DAFTAR PUSTAKA

Bevans, B. Stephen, Model-model Teologi Kontekstual, Maumere: Ledelero, 2004

Berkhof,H., Tata Gereja, Jakarta: BPK Gunug Mulia, 2010.

Calvin, Yohanes, Institutio Pengajaran Agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.

Hesselgrave , David  dan Rommen, Edward,  Kontekstualisasi - Makna, Metode dan Model, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010

Iswanto, Supernatural Signification System Amuf on Death Ritual Speech Nen Fen Nahat Neu Nitu in Dawan Society (index tertinggi Thomas Reuthers) International Journal of Linguistics, Literature and Culture (IJLLC), Mei. 2023

Keraf, S.A. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010.

Middelkoop, P. Atoni Pah Meto, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982

Timo  Nuban  Eben, Pemberita Firman Pencinta Budaya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

Wright, Christopher,  Hidup Sebagai Umat Allah, Etika PL, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

Tata Gereja Masehi Injili di Timor 2010 (perubahan), Kupang: Majelis Sinode GMIT, 2015.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Minggu Sengsara Kedua: YESUS MENDERITA AKIBAT DOSAKU (1 Petrus 2:18-25)

Renungan Minggu Sengsara Pertama: KASIH BAPA DALAM PENGORBANAN ANAK TUNGGAL ALLAH (MAT. 21:33-46)

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)