Renungan Bulan Pendidikan: SETIA DAN BERTANGGUNG JAWAB KEMBANGKAN POTENSI (LUKAS 19:11-27)
PENGANTAR
Manusia adalah makhluk
yang “terus menjadi”. Menjadi apa? Tergantung pabriknya. Dalam kenyataan
tersebut, Driyarkara menyebutkan manusia bukan hanya sebagai makhluk “ada”
(being), melainkan juga makhluk yang “menjadi” (becoming). Dalam konteks ini,
Driyarkara menekankan pada proses hominisasi, yaitu upaya mengembangkan potensi
manusia seutuhnya, baik secara, intelektual, emosional maupun spiritual.
Hominisasi memungkinkan manusia bebas “dari” dan bebas “untuk”. Adapun
Humanisasi menurut Driyarkara adalah bentuk panggilan alturis bahwa manusia
wajib memanusiakan manusia lain. Oleh karena itu, proses hominisasi dan
humanisasi tak lain adalah serangkaian aktivitas reflektif dalam memaknai
sejarah dan kebudayaannya. Proses menjadi manusia adalah proyek terus-menerus
dan tidak pernah usai. Salah satu proyek tersebut adalah Pendidikan baik formal
maupun non formal.
PEMBAHASAN TEKS
Tuhan Yesus menceritakan
perumpamaan ini kepada mereka yang berada di rumah Zakheus sewaktu Yesus
melintas di kota Yerikho menuju Yerusalem (Luk 19:1-2). Mereka yang
mendengarkan perumpamaan ini adalah seisi rumah Zakheus, para murid Yesus (ayat
11) dan ahli-ahli Taurat. Mereka masih berpikir bahwa Kerajaan Allah akan
datang dalam bentuk yang kelihatan atau bentuk fisik seperti kerajaan Israel
pada zaman Daud. Mereka masih belum mengerti tujuan kedatangan Yesus yang
sebentar lagi akan menuju Yerusalem (puncak pelayanan-Nya) yakni memasuki masa
sengsara atau penderitaan seperti yang dia berulang kali sampaikan kepada para
murid-Nya.
Para murid masih belum
mengerti tujuan kedatangan Yesus yang harus menderita sengsara dan mati
disalibkan di Yerusalem (Luk. 13:32-35; Luk.. 18: 31-34; Mat 20:17-19; Mar.
10:32-34). Dalam konteks inilah perumpamaan ini diceritakan kepada mereka
terutama kepada para murid dalam rangka mempersiapkan hati mereka menghadapi
masa sengsara Yesus.
Tuhan Yesus memulai
narasi perumpamaan tentang seorang bangsawan yang berangkat ke negeri jauh
untuk dinobatkan menjadi raja dan dia akan kembali lagi ke negerinya (ay.
12). Negeri yang jauh adalah pusat negara. Pada zaman Yesus
kekaisaran Romawi amat luas mencakup banyak kerajaan di Asia, Eropa dan Afrika.
Raja-raja kerajaan diizinkan tetap memerintah dengan kewajiban untuk taat pada
kaisar di Roma. Bila terjadi konflik di antara putera-putera raja kerajaan
taklukan maka ada yang berangkat ke Roma untuk memohon kaisar mengukuhkannya
menjadi raja. Sebelum dia berangkat ke negeri jauh, dia memanggil 10
hambanya dan memberikan mereka masing-masing 1 mina supaya mereka dapat
berdagang sampai tuannya datang kembali (ay. 13). Mina 11 (uang) yang diterima
setiap pelayan bernilai sekitar tiga bulan gaji atau mungkin lebih sedikit.
Tanggung jawab mereka adalah "menggandakan uang ini" dalam bisnis,
perdagangan, atau dengan investasi.
Dalam cerita ini terjadi
peristiwa konflik yakni adanya penolakan dari orang-orang sebangsanya yang
membenci bangsawan tersebut sehingga mereka menolak dia menjadi raja atas
mereka (ay. 14). Ketika bangsawan itu kembali ke negerinya dan sekarang telah
dinobatkan menjadi raja, dia memanggil 10 hamba tadi untuk mengetahui berapa
hasil dagang mereka masing-masing (ay. 15). Setiap hamba memberi
pertanggungjawaban dan mengusahakan uang mina tersebut namun ada 1 hamba yang
tidak mengusahakan uang tersebut. Dia hanya menyimpan uang tersebut dalam sapu
tangannya (ay. 21).
Peristiwa akhir adalah
raja memberikan pujian kepada hamba-hambanya yang mengusahakan uang mina dan
memberikan berkat atau keuntungan yang sangat berlimpah kepada mereka (ay. 17,
19). Dua hamba yang menjadi teladan dalam perumpamaan ini mendapat pujian dan
kekuasaan atas tindakan mereka karena berhasil melipatgandakan uang yang
dipercayakan tuannya. Jadi sebagai hamba yang taat seharusnya melipatgandakan
uang yang telah titipkan.
Sedangkan hamba yang
tidak mengusahakan uang mina tersebut dihakimi dan dibinasakan termasuk
orang-orang yang membenci dan tidak suka pada raja tersebut (ay. 22, 24, dan
27). Hamba ketiga yang menyimpan hartanya dan tidak melipatgandakan uangnya
mendapat celaan dan teguran dari raja, hamba yang jahat ini juga dihakimi
bersama-sama dengan orang-orang yang menolak penobatan tuan ini menjadi raja.
Dari cerita tersebut kita
menyimpulkan dua pandangan dari tokoh-tokoh dalam perumpamaan tersebut. Ada dua
pandangan yang berbeda, yakni dari hamba-hamba yang baik dan hamba jahat dan
orang-orang sebangsanya. Pandangan pertama, raja itu adalah raja yang kejam,
dia mengambil apa yang dia tidak taruh dan menuai apa yang tidak tidak tabur
sehingga karakter raja tersebut adalah jahat dan sewenang-wenang (otoriter).
Dia juga ditolak untuk menjadi raja atas orang-orang sebangsanya. Mereka
memusuhi raja mereka sendiri (ayat 27). Pandangan kedua adalah raja itu adalah
raja yang adil karena dengan adil dia membagi setiap hamba 1 mina untuk
berdagang, dia dengan adil membagi hasil kepada hamba-hamba berhasil
mengusahakan uang 1 mina dan memberi hukuman kepada hamba yang tidak bekerja
sesuai dengan perbuatannya. Selain itu dia juga sangat murah hati yakni
memberikan kota-kota kepada hamba yang baik dan setia itu untuk dikuasai namun
sisi lain dia sangat tegas kepada mereka yang memusuhi dia. Kemudian tokoh 10
hamba dapat dibagi menjadi 2 kelompok yakni hamba-hamba baik dan hamba jahat.
Karakter hamba-hamba baik adalah mereka yang menuruti perintah sang raja yakni
mengusahakan uang 1 mina sehingga mereka dipuji baik perbuatannya dan setia
dalam hal yang sangat kecil. Karakter hamba jahat adalah dia yang tidak
menuruti perintah tuannya yakni hanya menyimpan uang tersebut karena dia
menganggap tuannya adalah orang yang kejam dan sewenang-wenang sehingga dia
disebut jahat dan mendapat penghakiman menurut apa yang dia pandang tentang
tuannya itu. Hamba ini tentu sama dengan orang-orang sebangsanya yang membenci
raja tersebut (ay. 14). Sikap benci kepada rajanya inilah yang menghasilkan
permusuhan sehingga pandangan hamba tersebut adalah hal-hal yang jahat tentang
tuannya dan karena itu dia tidak menuruti perintah tuannya. Hal ini tentu
kontras dengan mereka yang mendapat pujian baik dan berkat dari tuannya. Jika
hamba yang jahat itu membenci dan takut kepada tuannya, maka hamba-hamba baik
ini pasti mengasihi dan setia kepada tuannya. Sikap kasih dan benci ini yang
ditonjolkan di dalam tokoh 10 hamba dan orang-orang sebangsanya itu.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama, Tuhan
mengaruniakan potensi dan talenta kepada setiap orang. Apa talenta kita?
Masing-masing kita berefleksi. Apa potensi dan talenta Anda dan saya? Apakah
sebagai seorang petani? Apakah sebagai seorang guru? Apakah sebagai
seorang perawat, bidan, dokter? Apakah sebagai seorang nelayan? dst.
Mengembangkan potensi adalah perintah Tuhan. Kembangkan potensi dan talenta
yang ada, jangan sembunyikan. Jangan malu dan takut sebab jika kita malu
melakukan sesuatu yang baik maka kita seperti hamba yang menyembunyikan uang
mina di dalam sapu tangan. Tuhan Yesus (raja dalam perumpamaan) meminta
pertanggungjawaban dari kita semua.
Kedua, potensi
dan talenta kita berbeda-beda dari segi jumlah, mungkin ada yang satu ada yang
dua dan seterusnya. Yang satu jangan merasa iri dengan yang lebih dari satu,
namun kembangkan talenta tersebut. Kembangkan yang satu itu untuk dalam
melayani, Tuhan akan menambahkan. Setialah dalam perkara-perkara kecil maka Dia
akan mengaruniakan perkara-perkara besar. Jika kita mengembangkan yang ada pada
kita, maka ketika Tuhan datang kembali kita akan memiliki kehormatan dan
kemuliaan.
Ketiga, di
bulan pendidikan ini selain kita menyekolahkan anak-anak, kita juga terus
belajar. Belajar merupakan sebuah “proyek” yang tidak pernah usai kecuali Tuhan
datang kembali menjemput kita (melalui kematian). Dengan belajar kita mengenal
potensi kita dan juga bisa mengembangkan. Yang sementara belajar di lembaga
pendidikan formal teruslah belajar. Yang tidak memiliki kesempatan untuk
belajar di bangku sekolah, kini banyak sekali peluang untuk kita belajar secara
otodidak. Ada juga lembaga-lembaga non formal yang memberi kesempatan kepada
kita untuk berlatih mengembangkan potensi kita.
Keempat,
anak-anak adalah harta yang berharga bagi orang tua, gereja, bangsa dan negara.
Tuhan mempercayakan kepada orang tua untuk anak-anak disekolahkan. Dengan
adanya sekolah, mereka menemukan dan memiliki potensi kemudian mengembangkan
potensi tersebut. Dengan bersekolah maka mereka ada anak-anak yang “terus
menjadi”. Anak-anak kita mau menjadi apa tergantung dari kita orang tua. Bukan
hanya orang tua, namun lembaga pendidikan, bapa dan ibu guru juga berperan
penting membentuk potensi anak-anak. Murid adalah pemberian Tuhan kepada
lembaga pendidikan untuk mereka dibentuk agar mereka berguna bagi keluarga,
gereja dan masyarakat. Sebagai orang tua dan guru akan mempertanggungjawabkan
setiap upaya pengembangan kepada Tuhan. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar