SEBUAH CATATAN REFLEKTIF: CAMP PEMUDA KLASIS AMANUBAN TIMUR

 (Sebuah catatan tentang Camp Pemuda Klasis Amanuban Timur di hari pertama) 

Apa tantangan yang dihadapi oleh orang muda di Klasis Amanuban Timur?

Tantangan sangat beragam. Pertama, pencarian identitas. Menurut Erikson, remaja akan mengalami suatu fase dalam hidupnya, yaitu krisis dalam pencarian identitas. Umumnya, fase ini dialami oleh remaja berusia 10 hingga 20 tahun. Fase yang disebut sebagai “ identitas versus kebingungan peran” tersebut membuat remaja sering kali menganalisis hampir seluruh hal dalam dirinya, seperti penampilan fisik, pendidikan, pekerjaan, percintaan, pertemanan, dan banyak hal lainnya. Oleh karena itu, remaja akan bereksplorasi untuk mencari jawaban tersebut. Ketiadaan dukungan dari lingkungan sekitar (termasuk gereja), terutama orang tua, akan semakin memperparah krisis identitas pada remaja. Akibatnya, remaja akan dipenuhi oleh rasa tidak aman dan bingung terhadap diri sendiri serta masa depannya. Salah satunya pencarian Identitas keagamaan. Identitas keagamaan merupakan salah satu komponen fundamental dalam pembentukan identitas diri yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang, khususnya pemuda dan pemudi di Klasis Amanuban Timur. 

Agama memberikan landasan nilai-nilai, keyakinan, dan norma-norma yang memandu individu dalam bertindak, membuat keputusan, dan berinteraksi dengan dunia sekitar mereka. 

Dalam banyak kasus, agama menjadi salah satu sumber utama bagi remaja dalam menentukan arah hidup mereka. Untuk konteks Amanuban isu konversi agama sangat mengemuka.

Kedua, kehilangan identitas budaya sebagai orang Amanuban. Orang muda terpapar berbagai macam budaya dan nilai dari luar sehingga membuat mereka bingung dalam menentukan identitas mereka sendiri. Misalnya budaya saling menghargai, menghormati, gotong royong, makan bersama hilang dari generasi muda.

Ketiga, orang muda meniggalkan kampung halaman dan menjadi TKI di luar daerah atau luar negeri. Ada beberapa faktor mengapa mereka meninggalkan kampung halaman, misalnya faktor ekonomi, sulit mendapat pekerjaan, diiming-imingi dengan uang dan keuntungan, dll.

Keempat, orang muda tidak memiliki tempat di dalam gereja. Budaya paternalistik tidak memberi ruang bagi orang muda untuk memimpin gereja, apalagi orang muda dari suku lain yang berada dalam kampung tersebut.

Kelima, pengaruh teknologi. Ketergantungan pada teknologi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, dan kemampuan berpikir kritis. Kemudian berdampak pada masalah Kesehatan Mental. Terlalu banyak waktu dihabiskan di media sosial dapat menyebabkan perasaan kesepian, kecemasan, dan depresi. Kemudian dalam dunia post truth orang muda terpengaruh dengan berita-berita subjektif yang banyak hoaxnya.

Masih banyak tantangan yang dihadapi oleh pemuda dan pemudi masa kini di Klasis Amanuban Timur. 

KATEGORI ORANG MUDA & PERKEMBANGAN

Pada umumnya kategori seseorang dapat digolongkan berada pada masa muda adalah ketika berada pada rentang usia antara usia 18-27 tahun. World Health Organization memberikan definisi pemuda (youth) sebagai individu-individu yang berusia antara 15-24 tahun, sedangkan remaja adalah mereka yang berusia 10-19 tahun dan anak muda berusia 10-24 tahun sebagai kombinasi dari remaja dan pemuda. 

 Definisi pemuda tersebut juga sama dengan yang ditemukan dalam dokumen World Youth Report yang dikeluarkan oleh PBB pada tahun 2003 hingga 2018 yang mendefinisikan pemuda ialah mereka yang berusia 15-24 tahun. Sementara itu, menurut Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Sesuai dengan data yang diperoleh dari panitia bahwa peserta Camp Pemuda 90% umur 15-24 tahun. 

Dalam teori psikologi perkembangan yang dinyatakan oleh Mariyati dan Rezania usia 20-30 tahun masuk dalam masa dewasa awal. Pada masa ini individu memiliki peranan yang krusial dikarenakan pada masa ini individu memasuki fase awal dari pemilihan karir serta membangun keluarga, sehingga pada masa ini, individu harus bisa memutuskan pilihan yang sesuai dengan yang dia butuhkan agar memiliki kehidupan yang terjamin pada masa yang akan datang.

 Erikson dalam teorinya mengatakan bahwa pada tahap dewasa individu mulai merasakan serta mengemban tanggungjawab yang lebih berat dibanding masa-masa sebelumnya. Pada tahap ini pula ikatan seksual mulai berlaku serta berkembang. Di samping itu, pertumbuhan sosio emosional pada usia ini cukup mengalami kompleksitas. Sosio emosional merupakan perubahan yang terjadi pada setiap individu yang menyertai setiap kondisi ataupun sikap individu. Salah satu masalah sosio emosional pada usia dewasa awal. 

Dalam usia dewasa awal, baik laki-laki maupun perempuan memandang bahwa cinta merupakan hal yang penting dalam kehidupan mereka. Meskipun hubungan dengan pasangan romantis berbeda dari hubunga cinta terhadap Tuhan.

CINTA TUHAN BERARTI CINTA TUBUH

 Tema camp pemuda tahun ini adalah “Beta Orang Muda, Beta Sayang Diri, Beta Cinta Tuhan”.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus mengatakan bahwa tubuh adalah bait Allah  (1 Kor. 6:19-20). “Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” Mengapa? Karena menurut Paulus tubuh (fisik) telah dibeli lunas. “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu”.

Tubuh ini bait Roh Kudus, dan Ia berdiam di dalam tubuh ini. Sebab tubuh ini telah dibeli oleh Allah dengan harga yang telah lunas dibayar. Oleh karena itu Paulus menyerukan agar orang percaya memuliakan Allah dengan tubuh mereka, artinya hidup dalam kekudusan dan melakukan kehendak Allah.

Maka dengan demikian, tubuh orang-orang muda adalah tempat Roh Allah berdiam, karena itu jaga kekudusan tubuh dalam pergaulan sehari-hari. Merawat tubuh agar sehat adalah merawat rumah Allah. Setiap orang yang mengasihi tubuhnya adalah mengasihi Allah, namun orang yang tidak mengasihi tubuh maka dia tidak mengasihi Allah. Jangan berkata “Beta cinta Tuhan, tetapi Anda dan saya tidak mengasihi tubuh sendiri, sebab orang yang cinta Tuhan orang yang mengasihi tubuhnya”.

CINTA TUHAN, BERGAUL KARIB DENGAN TUHAN

Kata Kasih dalam Alkitab PL dan PB merangkum mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat. 22:37-30; Mar. 12:29-31) seperti mengasihi diri sendiri. Mengasihi Allah berarti bergaul karib atau dekat dengan Allah melalui persekutuan dalam doa dan membaca Alkitab. Kedekatan dengan Allah yang membentuk spiritualitas seorang muda. Orang muda yang memiliki spiritualitas Kristen yang baik pasti dapat menghadapi berbagai tantangan seperti yang telah disebutkan di atas. 

Orang muda yang dekat dengan Tuhan akan sendirinya terbentuk dalam kedewasaan intelektual, emosional, budaya, artificial intelligence dan spiritualitas.

Pertanyaan reflektif: Siapa yang mendekatkan orang muda dengan Tuhan? Atau gereja yang menjauhkan orang muda dari Tuhan? Atau gereja yang jauh dari orang muda? Atau gereja tidak menjawab kebutuhan orang muda di masa kini? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi refleksi bagi gereja. Dengan adanya kegiatan camp pemuda semoga menjawab salah satu dari pertanyaan tersebut. 

Ayo orang muda, sayang diri pasti cinta Tuhan, cinta Tuhan pasti sayang diri. 

Kaeneno, 22 Agustus 2025. (Fn)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

MENJAGA DIRI DARI MINUMAN KERAS (AMSAL 31:1-9 )