RENUNGAN NATAL tgl. 24 MALAM : LUKAS 2:1-14
Kidung Jemaat 127
merupakan nyanyian Natal, saya mengutip ayatnya yang pertama untuk kita
perhatikan.
Kandang domba itu
rumahNya, palungan hewan petiduranNya;
lahir dari Bunda Maria Pangeran Mahamulia.
Aku pun hendak ke Betlehem, supaya ‘ku melihatNya di tempat
yang hina dan rendah, Pangeran Mahamulia.
Ayat ini menjelaskan
tempat di mana Yesus lahir dan dibaringkan. Kandang domba itu rumah-Nya,
palungan hewan tempat pembaringan. Tempat bagi Yesus adalah tempat yang paling
hina bagi seorang anak manusia yang dilahirkan.
Michael E.Perry, sebagaimana dikutip oleh Joas Adiprasetya, secara dramatis menggambarkan tempat Yesus lahir di sebuah kandang dengan pintu terbuka angin yang bertiup kencang. Kalau dalam konteks orang Barat, gambaran ini pas, sebab mereka hidup dalam empat musim (mereka merayakan Natal pada musim salju), bakal muncul dengan muda sebuah kesan bahwa Yesus lahir di tempat yang sangat dingin. Akhirnya kita orang Timor meniru dengan dekorasi pohon Natal, yang bernuansa salju.
Jika kita melihat adegan drama Natal, kita mendapat kesan bahwa tuan rumah yang
menolak Maria dan Yusuf sangat kejam, sebab Maria yang sementara hamil besar untuk
melahirkan. Mengapa menolak kelahiran Yesus, Juruselamat umat manusia? Kejam,
berdosa. Yusuf juga panik karena istrinya mau melahirkan, pilihan satu-satunya
harus di kandang dan Maria melahirkan di situ.
Benarkah Yesus lahir di kandang?
Mari kita melihat sejenak. Pertama, tidak ada satu ayat pun dalam kisah-kisah
Injil mengatakannya. Kesimpulan itu diambil dari Lukas 2:7, yang berkata bahwa
Maria dan Yusuf tak mendapat tempat di rumah penginapan. Kemungkinan,
penginapan-penginapan sudah penuh. Terpaksa Yesus dibaringkan di palungan yang
adalah tempat makanan ternak. Tempat makanan ternak selalu disimpan dalam kandang. Dari situlah muncul kesimpulan bahwa Yesus lahir di kandang.
Ada beberapa catatan
tentang tempat kelahiran Yesus. Kita mengutip beberapa teolog. Misalnya, W.
Barclay, mengatakan bahwa pada waktu itu kota penuh dengan orang sehingga
mereka harus menginap di sebuah kendang. Kandang itu terbuka pintu-pintunya. Kemudian
Boland menjelaskan bahwa tempat Yusuf dan Maria menginap mungkin berupa ruangan
dalam suatu pesanggrahan yang disediakan untuk hewan. Sedangkan Yustinus Martir
menyebutnya kandang itu adalah sebuah gua yang terletak di luar desa. Namun
menarik, ada sebuah analisis dan imajinasi yang dikembangkan oleh Adiprasetya
tentang peristiwa tersebut. Menurut Adiprasetya, untuk memahami kisah itu, kita
melihat kata Yunani yang digunakan untuk kata “penginapan”. Kata yang digunakan
adalah kataluma, yaitu ruang tamu
atau ruang atas. Kata yang sama dipergunakan di Lukas 22:11, ketika
Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes mencari ruang untuk perjamuan Paskah. Jadi
menjadi jelas ayat 7, di ruang tamu atas bukan penginapan.
Lalu Yesus lahir dan
dibungkus dengan lampin? Menurut Adiprasetya, Lukas 2:7 hanya mengganti kataluma
atau ruang tamu atas. Sebab Yesus dibaringkan di palungan dan bukan di
ruang tamu atas. Hal ini mau menunjukkan bahwa Maria dan Yusuf sesungguhnya di
dalam sebuah rumah. Mari kita memperhatikan.
Ayat 1-5. Kelahiran Yesus
dalam sebuah peristiwa sejarah. Yesus lahir pada masa
pemerintahan kaisar Agustus. Sebagai kaisar, dia dianggap juruselamat. Pada
waktu itu, ia memerintahkan untuk diadakan sensus bagi wilayah penjajahan
pemerintah Romawi. Titah kaisar adalah masing-masing harus kembali ke daerahnya melakukan pendataan.
Tujuannya apa? urusan pajak, yakni menarik pajak sebanyak-banyaknya. Kemudian
pendataan penduduk untuk memperoleh calon-calon wajib militer.
Dalam keadaan politik
yang demikian, sebuah keluarga kecil, Maria dan Yusuf, terpaksa pulang ke kota
kecil di Betlehem untuk menjalankan perintah si kaisar. Maria tengah mengandung.
Menurut adat dan etiket yang berlaku pada waktu itu, sudah menjadi sebuah
kelaziman seorang perantau mendatangi rumah sanak saudara mereka. Demikian juga
dengan Yusuf dan Maria. Sangat mungkin mereka datang di rumah kerabat mereka.
Bisa dibayangkan Maria dan Yusuf tiba terlambat karena kehamilan Maria yang
membuat perjalanan mereka terhambat.
Rumah kerabat itu bisa
jadi telah terlebih dahulu disinggahi oleh saudara-saudara yang lain. Mereka
semua sedapat mungkin ditampung di ruang tamu atas (kataluma). Itulah yang
dikatakan oleh Lukas, “Tidak ada tempat bagi mereka di ruang tamu atas”. Penuh,
ribut dan sesak. Maka bisa dibayangkan bingungnya tuan rumah. Pasangan suami
istri muda datang terlambat sementara rumah mereka telah penuh. Maka sesuai
dengan bentuk rumah orang Yahudi pada masa itu, satu-satunya kemungkinan adalah
menempatkan Yusuf dan Maria di ruang bawah. Tak ada pilihan lain, sekalipun itu
bukan ruang tamu (kataluma). Di ruang bawah itu orang menjaga ternak
mereka setiap malam sehingga terdapat palungan. Maka dapat kita simpulkan bahwa
tempat Maria dan Yusuf di ruangan bawah. Ruangan itu tiap malam para gembala memasukan domba-domba di dalam, pada siang harinya baru dikeluarkan ke padang. Setelah dikeluarkan dibersihkan. Oleh karena itu, kita tidak bisa katakan bahwa terjadi sebuah penolakan. Kemudian kandang yang dimaksud bukan sebuah kandang yang berdiri sendiri jauh dari kota melainkan sebuah rumah.
Ayat 6-7. Di ruang bawah
itulah Maria melahirkan seorang anak dan anak itu adalah anaknya yang sulung.
Dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan. Dua hal itu
memiliki makna kepribadian bayi tersebut di kemudian hari. Kain lampin tidak
saja menunjuk kepada kesederhanaan, namun secara budaya, bahwa seorang lahir
dan diterima oleh kedua orang tuanya. Kemudian menunjukkan penerimaan
secara sah oleh kedua orang tuanya. Anak itu diletakkan ke dalam palungan,
tidak hanya menunjukkan solidaritas-Nya dengan para gembala, namun menunjuk
kepada gaya kepemimpinan menjadi seorang gembala bagi umat manusia.
Ayat. 8. Para gembala
sementara menjaga kawanan ternak, bisa juga ternak itu milik mereka atau mereka
disewa oleh orang lain. Namun yang jelas mereka bukan orang kaya atau golongan
bangsawan yang menjaga hewan di tengah malam.
Ayat. 9-12. Urutan
pengumuman agak baku dan dapat dibandingkan dengan pengumuman kelahiran Yohanes
kepada Zakharia dan kelahiran Yesus kepada Maria. Ada penglihatan, menakutkan,
yang takut diberi pesan dari malaikat dan ada tanda-tanda dan bukti. Sebagaimana
penjelasan di atas bahwa bayi yang dibaringkan dalam palungan bukan tanda yang
lazim dalam tradisi Israel tentang kelahiran Mesias. Dalam ayat 11: “Hari ini”
dipakai secara khusus dalam Injil Lukas (10 kali) untuk mengungkapkan bahwa
kedatangan Mesias bukan lagi sesuatu yang kelak akan datang sudah diwujudkan
dalam diri Yesus Kristus.
Ayat. 13-14. Tiba-tiba
nampaklah paduan suara sorgawi, akta liturgis yang terbuka dalam sebuah
keheningan malam. Peristiwa itu tidak terjadi di Bait Allah namun di padang.
Diperdengarkan kepada para gembala. “Damai sejahtera” sering dipakai oleh Lukas
untuk mengungkapkan dampak dari kedatangan Yesus sebaliknya dipahami dengan
latar belakang bahasa Ibrani shalom. Manusia yang berkenan kepada Allah
tidak diartikan bahwa semua manusia atau manusia yang baik sehingga Allah
berkenan kepada mereka. Penekanan kepada kebaikan dan rahmat Allah.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Dari pembahasan di atas
kitab isa mencatat beberapa pokok refleksi di malam Natal saat ini.
Pertama,
merayakan Natal berarti Tuhan harus selalu ada tempat dalam hati kita, rumah
kita dan keluarga kita. Jangan membiarkan Yesus pergi meninggalkan
kita. Hati, rumah kita dan keluarga kita menjadi palungan bagi Yesus. Tuhan tinggal dalam rumah kita, bukan berarti kita menyingkirkan saudara/I kita yang lain, mereka
tetap ada sebagai saudara. Persaudaraan kita semakin diperkuat dengan rahmat Allah serta kebaikan-kebaikan-Nya.
Kedua, dalam kesibukan agenda kita, hiruk pikuknya
pesta Natal, bisingnya dunia, tidak membuat Tuhan meninggalkan kita. Natal
adalah Tuhan yang hadir menembus ruang dan waktu. Ia hadir dalam kebisingan dunia. Ia hadir
dalam ketidaksadaran kita, di luar akal kita. Dia hadir melalui
orang-orang kecil di sekitar kita. Oleh karena itu, Natal membutuhkan hati yang empati bagi mereka yang kecil. Adakah tempat bagi Yesus? Ada! Di mana? Dalam hati
terbuka luas dan berempati bagi mereka yang kecil dalam masyarakat.
Ketiga,
perayaan dan pemaknaan Natal pertama-tama bukan dalam sebuah gedung gereja
tetapi sebuah padang. Bukan juga di sebuah ruangan yang dihiasi dengan pohon
Natal yang hampir menutup mimbar, lampu Natal dan pernak-pernik Natal yang indah kelihatan di mata. Akhirnya hati manusia dialihkan kepada gemerlapnya pesta Natal. Perayaan Natal perdana di sebuah padang
dengan para gembala. Malam yang sunyi dengan nyanyian suci di padang Efrata, membuat para gembala tidak tenang dan berani meninggalkan domba mereka untuk berjumpa dengan Dia yang lahir. Selamat berefleksi. Amin.
Selamat merayakan Natal.
FN.

Komentar
Posting Komentar