RENUNGAN NATAL tgl. 25 PAGI : MATIUS 1:18-24

 


Perayaan Natal tidak semua keluarga berkumpul bersama di rumah karena kemungkinan ada yang sakit,  harus menginap di rumah sakit, bergumul dengan sakit penyakit yang tak kunjung sembuh. Ada yang di tenda-tenda pengungsian, ada mahasiswa yang tak bisa pulang berkumpul bersama keluarga, ada suami atau istri ada di rantauan, ada juga aparat keamanan yang harus berjaga 1 x 24 jam, dst. Tentu suasana hati, nuansa Natal yang mereka rasakan berbeda dengan kita yang berkumpul bersama keluarga. Itulah Natal. Natal tidak selalu romantis dan spektakuler, segala sesuatu tercukupi. Mari kita memperhatikan bacaan kita.

Ada beberapa perbedaan  nuansa yang menarik antara keempat Injil saat mereka mengisahkan peristiwa Natal. Menurut Eka Damaputera, Lukas menceritakan peristiwa Natal  sesuatu yang dramatis dan spektakuler. Itulah yang kita lihat di panggung-panggung jika ada sandiwara Natal. Cahaya sorgawi yang menerangi kegelapan malam di padang Efrata. Simfoni besar para malaikat yang menyanyikan nyanyian suci. Peristiwa yang membesarkan hati, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Yesus Kristus Tuhan, di kota Daud!” itulah Lukas. Dramatis, romantis dan spektakuler.

Markus tidak menceritakan tentang Natal karena ia memusatkan pemberitaannya kepada perbuatan-perbuatan Yesus. Yohanes, ia tidak menarasikan peristiwa Natal, namun ia mengatakan bahwa Natal adalah Firman Allah yang dari atas menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita.

Matius lain lagi. Ketika Matius menceritakan Natal, ia mengambil sisi yang jauh dari spektakuler. Natal sebagai peristiwa keluarga. Natal sebagai family affair. Ada memang yang dramatis dan romantis pada Matius, tetapi yang lebih menonjol adalah segi yang tragis. Matius memulai ceritanya dengan Maria yang sudah mengandung bukan karena hubungan dengan Yusuf, tunangannya, “Sebelum mereka hidup sebagai suami istri” (ay. 18). Mari kita coba membayangkan posisi Maria, bagaimana hamil di luar nikah? Dia harus menanggung malu dalam keluarga dan masyarakat. Bagaimana ia harus menjelaskan kepada keluarga, terlebih kepada calonnya yang begitu tulus mencintainya.

 Lalu setelah itu, Matius menulis “Yusuf bermaksud menceraikannya dengan diam-diam”. Kata mencerai ditulis apolusai dari kata apoluoo, artinya memberi izin untuk pergi tanpa tuntutan hakim. Alkitab memang tidak memberikan kepada kita peraturan perceraian ketika masih dalam tahap pertunangan, namun menurut kebiasaan Yahudi, jika ada bukti yang kuat yang menyatakan calon istri tidak setia, maka calon suami boleh memberi pengumuman secara resmi untuk menceraikan tunangannya, maka dengan demikian pertunangan dibatalkan.

Yusuf tidak mau mencemarkan nama tunangannya, karena ia adalah orang yang tulus hati. Yusuf masih sangat mencintai Maria, Yusuf sangat amat menyayangi Maria. Cinta yang tulus tidak membuat Yusuf mengumbar aib pasangannya untuk orang lain (ay. 19). Cinta yang tulus dalam hatinya membuat Yusuf mempertimbangkan segala keputusan yang akan diambil. Tetapi seolah-olah Yusuf tidak memiliki pilihan lain. Ia harus menceraikannya. Sisi Natal yang sangat amat tragis menurut Matius.

Namun sementara mempertimbangkan hal tersebut, malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam mimpi. Dalam penampakan itu menarik, karena malaikat itu menyapa Yusuf katanya, “Yusuf, anak Daud” menunjukkan bahwa malaikat berusaha meyakinkan Yusuf. Bagi suku Yahudi, Daud tidak hanya sekedar nama namun ada makna religius dan juga makna politik.

Orang asing yang menampakkan diri kepadanya benar-benar mengenal dengan Yusuf, bukan orang biasa. Sesuatu yang datang dari Allah. Oleh karena itu, membuat Yusuf mendengar dan percaya. Si malaikat meyakinkan Yusuf untuk jangan takut mengambil Maria sebagai istri (ay. 20). Kemudian malaikat menjelaskan tentang kehamilan Maria (21). Yusuf sebagai ayah nanti memberi nama kepada Anak itu. Ada dua nama untuk Yesus yakni Imanuel dan Yesus. Kita memperhatikan latar belakang nama tersebut

Pemberian nama kepada Yesus akarnya dalam PL. Di mana bangsa Aram dan Israel ingin membentuk suatu koalisi dengan Yehuda guna mencegah laju perkembangan kekuasaan Asyur. Yesaya diutus menjumpai Ahas untuk memberitahunya agar dia tidak usah takut terhadap Asyur karena Allah akan hadir menyelamatkan Yehuda. Yesaya memberitakan suatu pertanda kepada bangsa Yehuda. Dalam penglihatan, nabi itu melihat seorang dara (wanita yang belum kawin) yang akan melahirkan seorang bayi dan akan menamakannya Imanuel.

Dalam PB, kelahiran Yesus terjadi saat situasi politik, sosial dan ekonomi yang tidak menentu. Orang Israel dijajah di negeri sendiri oleh bangsa Romawi. Dalam situasi yang demikian Allah hadir dalam diri sang Imanuel.

Nama Imanuel yang diberikan kepada Bayi itu menunjukkan bahwa dalam kelahiran-Nya terdapat kehadiran Allah. Allah telah datang kepada umat-Nya di dalam seorang Anak. Anak yang istimewa. Nama Imanuel ini mengungkapkan sifat keilahian yang merujuk kepada keberadaan, kedekatan, dan peran aktif Yesus dalam sejarah manusia di sepanjang waktu.

Yusuf selain tulus namun taat kepada perkataan malaikat sehingga ia mengambil Maria sebagai istri. Ia juga menjaga kekudusan hidup rumah tangga dengan tidak bersetubuh (ay. 25).

POKOK-POKOK RENUNGAN

Pertama, peristiwa Natal yang kita rayakan mengingatkan kita bahwa Tuhan kadang bekerja tidak sesuai dengan alur berpikir manusia. Sebab Dia melampaui akal manusia. Dalam kehidupan keluarga ada segi-segi tragis yang terkadang membuat kita seperti tak ada lagi jalan keluar. Pasrah pada keadaan. Itulah segi lain dari kehidupan, tidak selalu romantis dan spektakuler, namun Tuhan hadir melampaui akal manusia untuk menolong setiap keluarga. Itulah cerita Natal menurut Matius.

Kedua, Natal mengingatkan kita bahwa Allah hadir untuk terus memelihara dan menyelamatkan keluarga-keluarga yang membangun cinta kasih yang tulus. Cinta tulus yang dibangun menutupi segala kekurangan dan kelemahan dari setiap anggota keluarga serta pasangan. Itulah makna Natal menurut Matius.

Ketiga, Natal, apa pun yang kita alami dalam keluarga baik hal yang dramatis atau sebaliknya romantis dan spektakuler, mari menjaga kekudusan keluarga. Tuhan menolong orang-orang yang menjaga kekudusan hidup dan keluarga.

Keempat, sekalipun kita dalam situasi yang sulit, perayaan Natal mengingatkan kita bahwa  pertolongan bukan terletak di tangan manusia, melainkan di tangan Allah. Di dalam keadaan sulit ini Allah hadir menyertai dan menyelamatkan umat-Nya. Imanuel. Allah beserta keluarga-keluarga Kristen di mana pun berada. Amin. FN.

Selamat Natal!




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Minggu Sengsara Kedua: YESUS MENDERITA AKIBAT DOSAKU (1 Petrus 2:18-25)

Renungan Minggu Sengsara Pertama: KASIH BAPA DALAM PENGORBANAN ANAK TUNGGAL ALLAH (MAT. 21:33-46)

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)