Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

RENUNGAN tgl. 18 JANUARI : MAZMUR 89:1-19

Gambar
  Krisis global   berdampak kolektif. Manusia hidup di dunia yang saling terhubung. Ketika perang terjadi di satu negara, harga pangan bisa naik di negara lain. Ketika pandemi melanda, seluruh dunia ikut berhenti, dan ketika bencana besar diberitakan, seluruh lini masa media sosial penuh dengan kesedihan. Artinya, krisis kemanusiaan kini bersifat kolektif. Seseorang mungkin tidak kehilangan rumah, tetapi kehilangan rasa aman. Seseorang mungkin tidak menjadi korban perang, tapi merasa cemas menatap masa depan. Seseorang mungkin tidak berada di garis depan, tetapi ikut lelah secara emosional melihat penderitaan berulang. Persoalan tersebut mempengaruhi juga kesehatan mental . Melalui layar ponsel, masyarakat di seluruh dunia menyaksikan berita tentang perang, wabah, atau bencana kemanusiaan dan tanpa sadar ikut menanggung beban psikologisnya. Semua orang, dalam cara yang berbeda, hidup di era darurat  mental global . Kemudian informasi di media sosial tak jarang saling m...

RENUNGAN tgl. 11 JANUARI : YOHANES 1:35-51

Memulainya khotbah minggu kedua dengan cerita: “Setelah Yesus bangkit, 40 hari kemudian Ia terangkat ke sorga. Sampai di sorga malaikat-malaikat terkejut. Mengapa Yesus cepat sekali kembali ke surga, padahal Injil harus diberitakan ke seluruh dunia. Namun tak ada satu malaikat pun bertanya. Yesus tahu apa yang ada dalam benak malaikat-malaikat ini, kemudian Ia mengatakan bahwa nanti ada murid-murid yang melanjutkan pemberitaan Injil, ada 12 murid, 70 murid, 120 murid, ada Rasul Paulus, ada Pendeta, Pastor, Penatua, Diaken, Pengajar, guru agama, dll, mereka akan sampai di Indonesia, di NTT di berbagai pelosok.” (anonim). Cerita ini sebagai pengantar dalam pembahasan kita tentang bacaan ini. Injil Yohanes ditulis kepada jemaat yang sementara menghadapi perlawanan dan penolakan terhadap Injil. Terhadap penyangkalan terhadap keilahian Yesus Kristus karena pengaruh berbagai bidat dan ajaran sesat. Selain itu, muncul juga perlawanan dari kalangan pemeluk agama Yahudi. Untuk menguatkan oran...

RENUNGAN HARI MINGGU tgl. 4 Januari : YOHANES 8:30-36

Gambar
  Kita hidup di era Post Truth. Era ini   melalui informasi digital, fakta objektif sering diabaikan dan digantikan oleh keyakinan emosional atau preferensi pribadi. Bahkan berita hoax disebarkan melalui media sosial, akhirnya membuat kita susah membedakan mana informasi yang benar, dan mana yang hoax. Fenomena post truth menunjukkan bagaimana opini publik tidak lagi terbentuk oleh fakta-fakta ilmiah, kebenaran, atau data yang terverifikasi, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dan kepercayaan subjektif. Kebenaran lama yang berdasarkan fakta digeser oleh "kebenaran baru" yang terbentuk dari persepsi, narasi emosional, atau kebohongan yang diulang-ulang. Era ini menciptakan kondisi di mana hoax atau informasi palsu mudah diterima dan menyebar lebih cepat daripada kebenaran diverifikasi. Mari kita memperhatikan bacaan kita tentang kebenaran yang memerdekakan. Bacaan merupakan respon orang Yahudi setelah mendengar pengajaran Yesus di Bait Allah (ay. 20...