RENUNGAN tgl. 18 JANUARI : MAZMUR 89:1-19
Krisis
global berdampak kolektif. Manusia hidup
di dunia yang saling terhubung. Ketika perang terjadi di satu negara, harga
pangan bisa naik di negara lain. Ketika pandemi melanda, seluruh dunia ikut
berhenti, dan ketika bencana besar diberitakan, seluruh lini masa media sosial
penuh dengan kesedihan.
Artinya,
krisis kemanusiaan kini bersifat kolektif. Seseorang mungkin tidak kehilangan
rumah, tetapi kehilangan rasa aman. Seseorang mungkin tidak menjadi korban
perang, tapi merasa cemas menatap masa depan. Seseorang mungkin tidak berada di
garis depan, tetapi ikut lelah secara emosional melihat penderitaan berulang. Persoalan
tersebut mempengaruhi juga kesehatan mental. Melalui layar ponsel, masyarakat di
seluruh dunia menyaksikan berita tentang perang, wabah, atau bencana
kemanusiaan dan tanpa sadar ikut menanggung beban psikologisnya. Semua orang,
dalam cara yang berbeda, hidup di era darurat mental global. Kemudian
informasi di media sosial tak jarang saling melukai antar sesama pengguna media
sosial.
Selain
itu, krisis lingkungan. Jeritan Bumi dipandang sebagai ungkapan metaforik yang
mewakili bumi yang dapat bersuara sebagai entitas hidup dalam keutuhan ciptaan
Tuhan. Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis ekologi tidak bisa dipisahkan
dari krisis moral dan spiritual. Artinya bahwa dunia yang terluka karena
masalah moral dan masalah spiritual manusia.
Tema renungan minggu kedua Epifani adalah “Bersaksi tentang Allah yang Setia di Tengah Dunia yang Terluka”. Dunia yang terluka adalah sebuah metafora kuat yang merangkum krisis multidimensi yang dihadapi planet ini. Kerusakan seperti yang telah disebutkan di atas.
PEMBAHASAN
TEKS
Mazmur
89 adalah salah satu Mazmur yang rumit. Para ahli sejarah dan penafsir pada
umumnya tidak sepakat, tentang penulis, penulisan, waktu dan isinya. Mazmur 89 masuk
dalam ratapan komunitas Israel pasca-pembuangan. Setelah bangsa Israel kembali
dari pembuangan, mereka mengalami krisis dalam berbagai aspek kehidupan. Alur
lahirnya mulai dari Mazmur 73 dengan doa-doa yang meratapi kehancuran
Yerusalem, yang terlihat dalam Mazmur 73-89.
Mazmur
89 adalah perjanjian Allah dengan raja Daud. Kita dapat mengelompokkan bacaan
ini dalam beberapa bagian. Pertama, ayat 2-19. Nyanyian pujian kepada
Pencipta dan pemilik dunia. Dalam ayat 4-5 menyebut perjanjian Allah dengan
Daud.
Kedua,
ayat 20-38. Berisi janji Allah kepada Daud dan keturunannya. Ketiga,
ayat 39-52. Memuat doa-doa keturunan Daud yang gagal.
Ayat
1. Menyebut nama pengajar dan penyanyi, walaupun judulnya memakai nama Daud
sebagai seorang raja yang sukses secara politik dan rohani membangun kerajaan
Israel raya. Siapakah Etan? Apakah syairnya ditulis oleh Daud? Dia orang
dekatnya Daud? (bisa dilihat 1 Raja. 4:31)
Ayat
2-10. Nyanyian ini didorong oleh kasih kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan,
tak habis-habisnya. Bagi Pemazmur, pertolongan manusia terbatas, namun
pertolongan Tuhan tidak pernah terbatas. Oleh karena itu, untuk
selamanya-lamanya si Pemazmur hendak beryanyi bagi Tuhan. Kalimat
“selama-lamanya” bisa menunjuk bahwa seumur hidupnya, dia akan bernyanyi bagi
Tuhan atau anak cucunya akan terus bernyanyi bagi Tuhan. Selain bernyanyi, dia
hendak memperkenalkan. Kalimat “memperkenalkan” bisa berarti bersaksi tentang
orang itu. Seperti seseorang memperkenalkan temannya kepada kepada orang lain.
Sebelum memperkenalkan temannya kepada orang lain, terlebih dahulu ia yang
mengenalnya secara mendalam. Dalam konteks ini, si Pemazmur hendak menyaksikan
kesetiaan Tuhan yang turun temurun dengan mulutnya karena dia mengenal Tuhan
dan dekat dengan Tuhan. Mengenal melalui sejarah bangsa Israel dan dekat secara
pribadi dengan Tuhan.
Pemazmur
memulai nyanyiannya dengan suatu tekad yang indah, yaitu bersyukur atas
kesetiaan Allah, bahkan ingin menceritakan-nya dari generasi ke generasi (ay. 2). Ia tahu bahwa Allah yang memimpin bangsa-Nya telah menetapkan rencana-Nya (ay. 3) untuk memberkati takhta Daud seterusnya (ay. 4-5). Kasih setia Tuhan begitu
luar biasa, sehingga makhluk-makhluk surgawi pun kagum akan keagungan-Nya (ayat
6-9).
Dalam
pengertian aslinya, istilah "kasih setia" biasanya dipakai dalam
sebuah hubungan perjanjian antara 2 pihak. Ketaatan manusia akan menghasilkan
berkat, sedangkan ketidaktaatan membawa hukuman. Maka memang ada unsur
kesetiaan di dalam istilah "kasih setia". Namun demikian, kesetiaan
bukan satu-satunya unsur di sana. Yang lebih penting adalah "kasih".
Allah memberikan kasih setia-Nya bukan melulu karena syarat yang telah dipenuhi
manusia, tetapi terutama karena pemberian-Nya berdasarkan anugerah semata. Ia
menegakkan takhta Daud karena kasih-Nya yang cuma-cuma, dan inilah yang membuat
langit kagum. Allah yang memberikan kasih setia-Nya menjalankan kuasa
pemerintahan di atas takhta Daud dengan tongkat keperkasaan-Nya yang mulia (ay.
10).
Ayat
11-19. Kuasa Tuhan tak dapat disejajarkan dengan kuasa-kuasa dalam dunia ini
karena segala sesuatu berasal dari Dia. Langit, bumi dan segala isinya adalah kepunyaan-Nya
(ay.12), tiada tempat di bumi ini yang bukan milik-Nya (ay.13), kekuatan dan
kehebatan-Nya tak tertandingi, bahkan segala yang sering diandalkan dalam dunia
ini berasal dari-Nya (ay.11,14,19). Pemazmur kemudian menyampaikan bahwa karena
kuasa Tuhan yang luar biasa itulah maka manusia bersorak, bermegah, berbahagia
dan menjadikan mereka mulia dan ditinggikan (ay.16-18). Mereka yang berbagian
dalam anugerah ini disebut berbahagia. Allah sendiri yang melindungi kerajaan
yang dikasihi-Nya dan raja yang diurapi-Nya untuk menjadi hamba-Nya di dunia
(ay. 18-19).
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama,
Gereja adalah salah satu alat yang Tuhan hadirkan dalam dunia untuk menyaksikan
kebaikan Tuhan. Kehadiran gereja menunjukkan kasih setia Tuhan dalam dunia yang
terluka. Pertama, kesaksian melalui aksi. Gereja terus bersaksi tentang
kebaikan Tuhan melalui program-program pelayanannya. Kasaksian dengan membangun
ekosistem digital yang sehat dengan media yang berimbang dan empatik melalui
kampanye di lingkungan terdekat. Dorong kolaborasi lintas sektor (kesehatan,
pendidikan, sosial, dan komunikasi publik) untuk lebih peka terhadap kesehatan
psikologis di lingkungan sekitar. Selain itu kesaksian gereja melalui pendidikan
publik dan literasi emosional bagi masyarakat luas agar mampu mengelola stres
dan kecemasan akibat krisis sosial dan media. Ruang aman dan komunitas empatik
yang menyediakan tempat untuk berbagi cerita, bukan sekadar menyebarkan berita.
Kedua, bersaksilah dengan kata-kata yang memulihkan dan menyembuhkan. Postinglah
di dinding media sosialmu dengan kesaksian yang membangun dan memberikan
informasi yang benar.
Kedua,
Gereja menyaksikan kasih setia Allah kepada dunia yang terluka bahwa Allah tetap
setia dalam ketidaksetian manusia. Mengapa? Dunia adalah ciptaan-Nya. Dia mengasihi
dunia. Dunia hidup dalam anugerah Allah. Daud bukan juga orang suci, keturunannya
yang membuat Israel terpecah dua. Anak-anaknya hidup dalam kejahatan. Namun
Allah tetap menunjukkan kasih setia-Nya. Tetapi janganlah kita memanfaatkan kesetiaan Allah untuk
saling melukai dan hidup dalam dosa. Kasih setia Allah biasanya dipakai dalam
sebuah hubungan perjanjian antara 2 pihak. Ketaatan manusia akan menghasilkan
berkat, sedangkan ketidaktaatan membawa hukuman.
Ketiga, menjadi
saksi Tuhan dalam dunia yang terluka, Anda dan saya harus mengenal dengan benar
dan mengalaminya. Kita tahu tentang kehendak Tuhan. Mungkin kita juga terluka
namun luka-luka itu hanya meninggalkan bekasnya dan menjadi sebuah kesaksian. Cerita
sambil tertawa gembira karena kebaikan Tuhan. Ataukah sementara kita mengalami
luka, mari tetap berharap kepada kasih setia Tuhan. Anda dan saya terluka Dia
tahu cara menyembuhkannya dan memulihkan. Pertolongan Tuhan tidak terbatas bagi
Anda dan saya. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar