RENUNGAN tgl. 11 JANUARI : YOHANES 1:35-51



Memulainya khotbah minggu kedua dengan cerita: “Setelah Yesus bangkit, 40 hari kemudian Ia terangkat ke sorga. Sampai di sorga malaikat-malaikat terkejut. Mengapa Yesus cepat sekali kembali ke surga, padahal Injil harus diberitakan ke seluruh dunia. Namun tak ada satu malaikat pun bertanya. Yesus tahu apa yang ada dalam benak malaikat-malaikat ini, kemudian Ia mengatakan bahwa nanti ada murid-murid yang melanjutkan pemberitaan Injil, ada 12 murid, 70 murid, 120 murid, ada Rasul Paulus, ada Pendeta, Pastor, Penatua, Diaken, Pengajar, guru agama, dll, mereka akan sampai di Indonesia, di NTT di berbagai pelosok.” (anonim).
Cerita ini sebagai pengantar dalam pembahasan kita tentang bacaan ini.
Injil Yohanes ditulis kepada jemaat yang sementara menghadapi perlawanan dan penolakan terhadap Injil. Terhadap penyangkalan terhadap keilahian Yesus Kristus karena pengaruh berbagai bidat dan ajaran sesat. Selain itu, muncul juga perlawanan dari kalangan pemeluk agama Yahudi. Untuk menguatkan orang-orang yang sudah percaya terhadap penyangkalan keilahian Yesus, kitab Yohanes menyampaikan kesaksian menggunakan metode, bertanya, kemudian “kesaksian berlanjut” kepada setiap pendengar. Mereka yang mendengar lalu percaya diajak masuk dalam persekutuan. Hal ini terlihat dari cerita ini.
Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus (ay. 29). Kedua murid-Nya mendengar perkataan Yohanes Pembaptis dan tertarik mengikut Yesus. Yohanes Pembaptis mendorong murid-muridnya untuk mengikut Yesus. Salah seorang muridnya adalah Andreas, namun yang satu tidak mau menyebut namanya karena menurut para teolog, dia yang menulis Injil ini. Ketika mereka mengikut Yesus, mereka memanggil Yesus sebagai Guru. Mereka adalah murid.
Pada perikop Yoh. 1:35-51, secara khusus dikisahkan bagaimana keterlibatan Yohanes Pembaptis dalam menggerakkan para murid untuk sampai pada Sang Mesias. Karya pewartaan Yohanes Pembaptis berhasil membawa para murid kepada Yesus Sang Guru sejati. Tidak berhenti di situ, para murid pun melakukan hal yang sama setelah bertemu dan tinggal bersama Yesus.
Ketikan Yesus melihat murid-murid Yohanes mengikut Dia, Yesus bertanya kepada mereka (baca ay. 38). Yesus menggunakan metode tanya jawab/dialog. Dalam Injil Yohanes, sepanjang pelayanan-Nya, Ia banyak melakukan dialog atau bertanya jawab, baik secara perseorangan maupun kelompok. Yesus berdialog pada pemanggilan murid yang pertama (ay. 35-51), Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya (bdk. Yoh. 4:35). Kemudian, Yesus mengajak mereka tinggal bersama dengan Dia di rumah tinggal-Nya. Rumah orang tua-Nya. Dalam rumah itu, kita dapat membayangkan bahwa Ia mengajak mereka berkenalan, bercerita mendengar pengajaran Yesus, bersenda gurau, makan bersama, dst.
Injil Yohanes menuliskan identitas Yesus sebagai guru. Sebutan guru dalam bahasa Aram “rabi”, merupakan sapaan kehormatan bagi para ahli-ahli kitab. Yesus mendapat gelar sebagai “rabi” sebanyak 8 kali dalam Injil Yohanes (Yoh 1:38; Yoh 1:49; Yoh 3:2; Yoh 3:26; Yoh 4:31; Yoh 6:25; Yoh 9:2; dan Yoh 11:8).
Yohanes menulis sapaan “Rabi” karena sosok Yesus sebagai seorang guru Agung yang melekat dalam sikap-Nya yang tegas, penuh wibawa, dan bersahaja, sehingga Dia dapat menarik perhatian banyak orang untuk datang kepada-Nya.
Kata yang digunakan untuk menyebut Yesus sebagai guru adalah kata didaskalos (pengajar). Sapaan para murid kepada-Nya sebagai Seorang didaskalos, menunjuk kepada pribadi Yesus yang membimbing, mengasuh dan mengarahkan. Rabi atau guru digambarkan sebagai seorang teknisi yang tugasnya memberikan instruksi. Namun sebutan itu bukan sebutan guru secara universal, melainkan sosok yang memiliki kecakapan mengajar, seseorang yang mampu memberikan jawaban benar terhadap setiap pertanyaan yang diajukan padanya. Ia juga dinilai sebagai seseorang yang selalu siap dalam menghadapi setiap situasi atau keadaan yang muncul. Murid dalam bacaan ini menggunakan sebutan Yunani mathetes yang berarti pengikut/murid menunjuk pada orang yang belajar.
Setelah Andreas menjadi murid Yesus, ia membawa Simon saudaranya kepada Yesus. Keberlanjutan kesaksian. Ketika Yesus melihat Simon, Ia memberi nama Kefas (bahasa Aramik) atau Petros (bahasa Yunani). Kemudian Yesus bertemu dengan Filipus, langsung Yesus mengajak, “Ikutlah Aku”. Filipus orang Betsaida sama dengan Petrus dan Andreas.
Kemudian Filipus berjumpa dengan Natanael dan menyampaikan bahwa ia sudah berjumpa dengan Yesus anak Yusuf dari Nazaret. Dia yang dinubuatkan dalam hukum Taurat dan kitab para nabi. Filipus bersaksi tentang Yesus. Natanael adalah seorang yang mengerti membantahnya (ay. 46). Filipus tidak mau berdebat, ia mengajak untuk bertemu dengan Yesus. Ketikan Natanael bertemu dengan Yesus, lalu Yesus melakukan percakapan dengan Natanael (baca ay. 46.)… di hadapan Yesus, Natanael merasa dirinya kecil. Ia berhadapan sosok yang besar, Ilahi, yang mengetahui segala sesuatu (ay. 48). Perkataan Yesus membuat Natanael tertegun. Mendengar itu Natanael mengucapkan pengakuannya (baca ay. 49). Bagi Yesus, Natanael adalah “Israel sejati”. Hal ini menunjukkan bahwa Natanael bukan orang biasa. Dia adalah seorang yang taat beragama dan tahu tentang ajaran agama. Natanael dalam pengakuan mengatakan bahwa Yesus adalah guru dan juga Anak Allah.
Jika kita membaca kesaksian Injil Yohanes, Yesus selalu menegaskan bahwa “Aku adalah………..” yang menunjukkan bahwa Yesus meyakinkan para pendengar bahwa Dia adalah Anak Allah. Ada lebih dari 27 kali Yohanes mencatat itu untuk membuat orang-orang tidak ragu terhadap Yesus. Kita juga melihat bahwa Yohanes Pembaptis memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah (ay. 34; 3:22-36). Natanael memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah, Nikodemus pun demikian (3:2), perempuan Samaria memberi kesaksian bahwa Yesus Mesias, Petrus, Thomas, dll. Natanael yang ragu terhadap keilahian Yesus kini dia menjadi percaya.
Kemudian Yesus menyampaikan sebuah rahasia Ilahi, yang berhubungan dengan Yakub, bapa leluhur mereka. Rahasia ini tidak pernah terhapus dari ingatan orang Israel turun temurun. Yesus menghubungkan kehadiran-Nya dengan mimpi Yakub di Betel tentang tangga. Tangga yang menghubungkan bumi dan surga, malaikat Allah naik turun. Tangga yang dilihat oleh Yakub dalam mimpinya, menghubungkan bumi dan surga adalah Yesus yang adalah jalan kebenaran dan hidup. Dalam bahasa Yunaninya malaikat bukan turun lalu naik ke atas tangga melainkan naik dan turun (anabainoo-kabainoo).
POKOK-POKOK RENUNGAN
Di minggu Epifani kita mencatat beberapa pokok renungan dari bacaan ini.
Pertama, Anda dan saya adalah saksi Kristus dalam dunia ini. Menjadi saksi namun tetap menjadi murid yang terus belajar dari guru Agung kita yakni Yesus Kristus. Jangan berhenti menjadi.
Kedua, bersaksi tidak hanya teriak-teriak di media sosial, di lapangan, tapi hadir dan menemui mereka. Ajak mereka ke rumah. Jadi tuan dan nyonya rumah yang melayani mereka. Ajak mereka seperti Yesus mengajak Andreas mengajak Petrus, Yesus mengajak Filipus dan Filipus mengajak Natanael.
Ketiga, mari kita belajar metode kesaksian yang disampaikan Yohanes. Metodenya seperti seorang guru yang mengajar murid, ketika murid mengerti, dia mengajar kepada yang lain sehingga pengajaran kesaksian tidak terputus. Cerita itu harus berlanjut.
Keempat, Tuhan memanggil seseorang orang untuk menjadi murid dengan cara yang berbeda.
Selamat hari Minggu untuk kita semua dari GMIT Moria Wemasa, Klasis Malaka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Minggu Sengsara Kedua: YESUS MENDERITA AKIBAT DOSAKU (1 Petrus 2:18-25)

Renungan Minggu Sengsara Pertama: KASIH BAPA DALAM PENGORBANAN ANAK TUNGGAL ALLAH (MAT. 21:33-46)

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)