RENUNGAN HARI MINGGU tgl. 4 Januari : YOHANES 8:30-36
Kita hidup di era Post Truth. Era ini melalui informasi digital,
fakta objektif sering diabaikan dan digantikan oleh keyakinan emosional atau
preferensi pribadi. Bahkan berita hoax disebarkan melalui media sosial, akhirnya membuat
kita susah membedakan mana informasi yang benar, dan mana yang hoax. Fenomena
post truth menunjukkan bagaimana opini publik tidak lagi terbentuk oleh
fakta-fakta ilmiah, kebenaran, atau data yang terverifikasi, melainkan lebih
banyak dipengaruhi oleh emosi dan kepercayaan subjektif. Kebenaran lama yang
berdasarkan fakta digeser oleh "kebenaran baru" yang terbentuk dari
persepsi, narasi emosional, atau kebohongan yang diulang-ulang. Era ini
menciptakan kondisi di mana hoax atau informasi palsu mudah diterima dan
menyebar lebih cepat daripada kebenaran diverifikasi.
Mari kita memperhatikan
bacaan kita tentang kebenaran yang memerdekakan.
Bacaan merupakan respon
orang Yahudi setelah mendengar pengajaran Yesus di Bait Allah (ay. 20). Yohanes
mengatakan bahwa setelah mendengar, mereka percaya kepada pengajaran Yesus (ay.
30). Mari kita memperhatikan sedikit kata “percaya” yang dimaksud. Kata percaya
yang digunakan dalam terjemahan Yunaninya berarti ‘percaya; mempunyai iman kuat
dan yakin, boleh; mempercayakan’, “telah mempercayai-Nya”.
Namun dalam kepercayaan
mereka kepada Yesus tidak begitu mendalam.
Penyebutan orang-orang Yahudi yang percaya merupakan kritik Yohanes terhadap
orang-orang Yahudi dari sinagoganya sendiri yang pada permulaan menerima
pewahyuan namun berkonfontrasi dengan Yesus sendiri. Hal ini terlihat dalam
ayat 31, yang mengacu pada mereka hanya melakukan pengakuan lahiriah saja namun
tidak “tinggal”. Kata kuncinya di sini adalah “tinggal” yang berarti berpegang
pada ajaran Yesus. Bahasa Yunaninya berarti “tinggal pada perkataanku”.
Jika mereka percaya dengan sungguh-sungguh
maka mereka adalah murid Yesus. Untuk
menjadi murid tidak ditetapkan syarat khusus, tetapi memberi tahu mereka apa
isi pemuridan, yaitu tinggal dalam firman Kristus. Mereka yang tinggal di dalam
Kristus adalah murid sejati.
Jika kamu tetap dalam firman-Ku dan kamu
benar-benar adalah murid-Ku. Kata “tetap” (μείνητε) yang berarti ‘telah
tinggal; menumpang; tetap; tetap hidup; permanen; menunggu’. Hal ini
menunjukkan bahwa Yesus memberitahukan kepada mereka (orang Yahudi yang percaya
kepadanya) syarat menjadi murid adalah telah berada dalam firman-Nya. Untuk
tetap berada di dalam perkataan Tuhan Yesus berarti bertekun belajar dan
memikirkan/ merenungkan terus menerus apa yang Dia firmankan. Bukan untuk
memuaskan pengetahuan akademis atau untuk kepuasan intelektual, melainkan
agar bisa mengerti maksud yang Tuhan inginkan untuk diperbuat.
Ayat 32. Setelah Yesus
menunjukkan bagaimana kualifikasi menjadi murid-Nya, Ia kemudian melanjutkan
bahwa murid yang diterangkan sebelumnya akan menerima dan mengerti kebenaran
yang akan memerdekakan, “Kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan
memerdekakan kamu”. Kata kamu akan mengetahui yang digunakan γνώσεσθε; tahu;
mengetahui; mengenal; mengetahui dengan pasti; memahami; memperhatikan;
mengakui; menyadari. Yesus mengatakan bahwa “kebenaran” itu memerdekakan.
Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang terikat dengan Pribadi dan karya
Yesus. Ini adalah kebenaran yang menyelamatkan manusia dari kegelapan dosa,
bukan sesuatu yang menyelamatkan mereka dari kegelapan kesalahan (walaupun ada
perasaan bahwa mereka yang berada di dalam Kristus dibebaskan. Salah belum
tentu berdosa.
Dalam bahasa Yunani
istilah “kebenaran” (aleteia) memiliki makna ganda bisa berarti benar
(bertentangan dengan palsu), bisa juga berarti “nyata”, “asli” (bertentangan
dengan tidak nyata, bohong, tiruan). Jika kedua pengertian ini dikenakan kepada
Yesus, maka Ia adalah benar dan nyata. Di dalam kepribadian Yesus ini, orang
mendapat kepastian sebab Yesus berperan sebagai kepastian bagi manusia. Yesus
disebut sebagai kebenaran, karena pewahyuan Allah yang sempurna ada di dalam
Dia. Kebenaran dapat dimengerti sebagai moralitas yang baik, ketaatan pada
hukum, sikap taat kepada Allah, serta keteguhan iman dalam menjalani hidup yang
penuh ketidak-pastian.
Kebenaran bukanlah
semacam teori tentang Yesus atau pernyataan tentang Yesus. Kebenaran itu adalah
Yesus sendiri yang sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah. Yesus
menyatakan diri-Nya sebagai sumber kebenaran yang memerdekakan (membebaskan)
mereka yang setia kepada-Nya. Penjelasan ini menekankan bahwa kebenaran yang
Yesus maksudkan bukan hanya sebagai kumpulan doktrin atau fakta, tetapi sebagai
suatu realitas yang mempengaruhi kehidupan dan kebebasan spiritual orang
percaya. Dengan mengikuti ajaran-Nya, orang-orang akan mengalami pembebasan
dari dosa dan kegelapan, menuju hidup yang benar-benar bebas dan berdamai.
Ayat 33-36. Pembenaran Yahudi. Kata
orang Yahudi, “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah
diperbudak oleh siapa pun. Bagaimana mungkin kamu berkata, 'kamu akan menjadi
merdeka? Orang-orang Yahudi” mempertanyakan Yesus tentang kebebasan yang Ia
tawarkan karena, dari sudut pandang, mereka garis keturunan Abrahamik sehingga mereka
tidak membutuhkan kebebasan yang diberikan oleh Yesus. Sebagai tanggapan, Yesus
menjelaskan bahwa kebebasan yang Ia tawarkan adalah kebebasan dari dosa
(8:34-36). Yesus pertama-tama menegaskan bahwa tindakan (melakukan dosa), bukan
keturunan silsilah, yang menentukan apakah seseorang membutuhkan kebebasan dari
dosa yang dapat Ia berikan (ay. 34). Kemudian Ia kembali pada konsep
“tetap tinggal” menggunakan analogi yang diambil dari hierarki rumah tangga (ay.
35). Seorang budak tidak memiliki status tetap yang sama di dalam rumah tangga
seperti halnya anak kepala rumah tangga karena seorang budak dapat dijual atau
bahkan dibebaskan. Anak, di sisi lain, memiliki tempat di dalam rumah tangga
selamanya dan bahkan memiliki wewenang untuk melaksanakan perintah ayahnya,
itulah sebabnya dalam ayat 36, Yesus dapat dengan berani berkata bahwa “Jika
Anak membebaskan kamu, kamu akan benar-benar bebas.” Kebebasan dari
dosa adalah karunia yang diberikan oleh Dia yang memiliki wewenang untuk
memberikannya.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama,
Anda dan saya yang adalah milik Kristus, bersedia mengikatkan diri kepada-Nya
seumur hidup. Tetap dalam firman Tuhan. Selalu konsisten memelihara firman
Tuhan serta hidup dalam-Nya. Menjadikan firman Tuhan sebagai kebutuhan utama
yang tidak terpisahkan dari hidup sehari-hari, sehingga pikiran, tindakan,
perasaan dan tujuan hidup berdasarkan firman Tuhan. Orang-orang yang berpegang dan
tinggal di dalam firman Tuhan akan berpegang pada kebenaran. Dia tidak gampang
percaya kepada informasi yang belum terverifikasi.
Kedua,
Anda dan saya sudah dibenarkan oleh Allah, karena itu jadilah pembawa
kebenaran. Karena sebagai orang yang dibenarkan, berbagilah informasi yang benar.
Kebenaran tidak tunduk pada hati nurani, tekanan massa, kehendak kelompok
tertentu, atau pembenaran karena mayoritas, dst., melainkan apa yang diajarkan
Yesus dan dilakukan oleh Yesus.
Ketiga,
Anda dan saya tidak boleh menaruh kepercayaan pada fakta bahwa telah menjadi
orang Kristen, kita telah dibaptis, atau pergi ke gereja yang tepat, atau
dibesarkan di gereja. Jika demikian kita tidak berbeda dengan orang-orang
Yahudi yang menaruh kepercayaan mereka pada diri mereka sebagai keturunan
Abraham, karena mereka telah disunat dan memiliki garis keturunan tersebut.
Semuanya tak berarti jika kita hidup dalam dosa. Namun percayalah
sungguh-sungguh kepada Kristus yang adalah Kebenaran tersebut. Kepercayaan kepada
Kristus membuat kita aktif melakukan kebenaran dan dituntun untuk melawan nafsu
dosa.
Keempat,
“tinggal” atau “berdiam” dan menunjukkan sifat permanen atau abadi dari
hubungan kita dengan Yesus. Dalam bacaan ini muncul dua kali, “Budak tidak
tinggal di rumah tangga; anak tinggal di
sana selamanya.” Yesus datang menjadikan kita murid yang terus belajar
kehendak-Nya dan menjadikan Anda dan saya sebagai anak-anak Allah. Terus
belajar menjadi murid dan menjadi anak kesayangan Bapa di sorga. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar