RENUNGAN MINGGU SENGSARA KETIGA: 2 TIMOTIUS 2:1-13
Surat
2 Timotius adalah surat Paulus yang dikirimkan kepada Timotius, sebagai anak
rohaninya. Saat penulisan surat ini Paulus sedang dalam penjara di Roma pada
masa tahanan yang ke 2 sekitar tahun 65 M.
Paulus
mengingatkan Timotius tentang pengalaman pribadinya, dan dengan
mengikutsertakan ia di dalamnya. Paulus mendorong Timotius untuk menerima
segala kesulitan dalam pelayanan dan mengabdi dengan sepenuh hati tanpa pernah
mengeluh di mana pun tenaganya dibutuhkan. Bacaan ini yang menjadi pokok utama pembahasan
mengenai nasehat seorang pelayan yang setia melayani.
Kita
dapat membagi bacaan ini dalam beberapa bagian.
Pertama,
ayat 1-2. Paulus berpesan kepada Timotius untuk menjadi kuat dalam kasih
karunia. Paulus menjelaskan secara spesifik tentang pekerjaan yang ada di
hadapan Timotius. Ayat 2 (baca), dalam tugasnya, Paulus mengajak Timotius untuk
meneruskan pelayanan Injil pada orang lain karena hal itu merupakan tanggung
jawab seorang pelayan.
Kedua,
ayat 3-6. Ikut menderita. Maksudnya adalah turut menanggung sesuatu secara
bersama untuk saling mendukung atau menolong. Jadi Paulus meminta Timotius
bukan semata-mata untuk bersimpati atas penderitaan, tetapi mau juga menanggung
penderitaan karena Injil sama seperti yang dilakukan oleh Paulus. Bagi Paulus,
hidup sebagai pemberita Injil harus bersedia tidak masyur, tidak tenar,
melainkan siap dicemooh dan dicaci.
Dalam
terjemahan bahasa Indonesia sehari-hari, “Engkau harus turut menderita sebagai
prajurit Kristus Yesus yang setia” (BIS). Ajakan Paulus untuk Timotius turut
menderita demi Injil, sudah disebutkan di ayat 8. Kemudian Paulus menganalogikan
turut menderita seperti sikap seorang prajurit, olahragawan dan seorang petani
(ayat 4-6).
Analogi
pertama, mengenai prajurit, Paulus mengatakan, “Seorang prajurit yang sedang
berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya
dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” Tidak dapat disangkal bahwa
gambaran Paulus mengenai prajurit yang fokus, disiplin dan tunduk pada
komandannya, ini terinspirasi dari prajurit Roma, yaitu seseorang yang sedang
menjalani wajib militer. Paulus mengatakan bahwa seorang prajurit yang sedang
berjuang ini tentunya tidak akan “Memusingkan diri dengan soal-soal penghidupan
mengusutkan hatinya dengan perkaranya sendiri, tidak akan menyibukkan dirinya
dengan urusan-urusannya sendiri”. Frase “memusingkan diri” berasal dari kata
kerja ἐμπλέκεηαι (empleketai). Kata ini bermakna menenun, menjalin dan terlibat.
Sementara frase “soal-soal penghidupan” berasal dari 2 kata, yaitu βίοσ (biou)
dan πραγμαηείαις (pragmateiais). Keduanya bermakna cara hidup (manner of life)
dan kepedulian yang bersemangat tentang sesuatu, bisnis, pekerjaan, urusan,
tugas. Jadi kalimat “memusingkan diri dengan soal-soal penghidupan” berarti
melibatkan diri dengan urusan atau pekerjaan hidup sehari-hari. Tujuan akhirnya
adalah untuk menyenangkan komandannya. Paulus memakai analogi prajurit untuk
menjelaskan kesiapsediaan terhadap perintah komandan dan patuh dalam menjalankan
tugas yang diberikan. Pada bagian ini Paulus berusaha mengarahkan fokus
Timotius kepada tugas pemberitaan Injil yang untuknya ia telah dipanggil, dan
supaya Timotius menjalankannya dengan sungguh-sungguh demi menyenangkan Allah
yang telah memanggil dan mengutusnya.
Analogi
kedua, ajakan Paulus untuk ikut menderita seperti olahragawan, “Seorang
olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding
menurut peraturan-peraturan olahraga”. Gambaran mengenai seorang olahragawan
atau atlet yang sedang berjuang juga bukanlah hal yang baru dalam tulisan
Paulus. Gambaran yang sama terdapat dalam surat 1 Korintus 9:24-27. Metafora
ini jelas mengacu pada pertandingan Olimpiade. Kata Yunani yang dipakai adalah ἀθλῇ
(athlē). Kata “bertanding,” secara literal mengandung pengertian pengerahan
tenaga, pengorbanan, dan disiplin.
Sementara
itu, frase “menurut peraturan-peraturan olahraga” menunjukkan bahwa setiap
pertandingan tentunya memiliki batasan dan peraturannya, oleh sebab itu peserta
yang gagal mendisiplinkan diri untuk mematuhi aturan-aturan tersebut, pasti
didiskualifikasi. Oleh sebab itu, Paulus ingin Timotius berlari untuk
memenangkan mahkota (band. 2 Tim 4: 7-8) dan tidak didiskualifikasi. Jadi
ketika Paulus mengatakan, “seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota
sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga,”
maka maksudnya adalah bahwa seorang atlet harus mengerahkan tenaganya,
menunjukkan pengorbanan, dan disiplin untuk bertanding sesuai aturan supaya ia
pantas menjadi juara.
Analogi terakhir adalah “seorang petani yang
bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya” (ay. 6). Petani
yang sudah bekerja keras, dialah yang pertama-tama berhak mendapat hasil
tanaman. Kata “bekerja keras” berasal dari kata kerja κοπιῶνηα (kopiōnta). Kata
ini bermakna melelahkan diri sendiri, contohnya dari pekerjaan manual yang
dilakukannya. Di bagian lain surat Timotius, yaitu di 1 Timotius 1:4 rasul
Paulus memakai kata yang sama ketika ia mengatakan, “Itulah sebabnya kita
berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah
yang hidup. Secara khusus dalam ayat 6, kata ini juga dapat berarti atau mengambil bagian. Jadi dapat kita
katakana bahwa Paulus hendak menyampaikan kepada Timotius bahwa hal ia turut
menanggung penderitaan, ia harus bersikap seperti prajurit yang fokus dalam
perjuangannya dengan cara mengesampingkan urusan hidup sehari-hari. Ia juga
harus bersikap seperti seorang atlet yang mengerahkan tenaganya, menunjukkan
pengorbanan, dan disiplin untuk bertanding sesuai aturan supaya ia pantas
menjadi juara. Sikap terakhir yang Paulus harapkan adalah bahwa Timotius akan
berjerih payah seperti petani yang mengolah kebunnya oleh karena ia akan
menikmati upah dari kerja kerasnya tersebut. Ketiga ilustrasi ini memiliki
kesamaan, yaitu menekankan bahwa kesuksesan akan tercapai melalui disiplin,
kerja keras dan pikiran yang tertuju kepada satu fokus.
Ketiga,
ayat 7-10. Paulus menggunakan dirinya sebagai teladan untuk Timotius bertahan
dalam penderitaan. Paulus mengingatkan untuk belajar dari Paulus.
Mengikuti
teladan Yesus dalam menanggung penderitaan. Kata “ingatlah” untuk menguatkan
Timotius dalam penderitaan. Paulus menghendaki agar mengarahkan pikirannya
kepada Yesus Kristus yang sudah bangkit. Kebangkitan Yesus Kristus harus
sungguh-sungguh diyakini dan dipertimbangkan dengan benar, akan mendukung orang
yang sedang menanggung segala penderitaan dalam kehidupan sekarang. Jadi,
mengikuti teladan Yesus dalam menanggung penderitaan adalah terus menerus
mengingat Yesus Kristus yang sudah bangkit sebagai dasar kekuatan pelayanan
pemberitaan Injil.
Paulus
menegaskan bahwa alasan penderitaannya dan pemenjaraannya adalah karena
pemberitaan Injil. Namun Paulus sabar menanggung semua ini asalkan lebih banyak
orang mendengar dan menerima Injil sehingga mereka beroleh selamat. Hal ini
merupakan teladan Paulus dan yang ia kehendaki untuk Timotius juga miliki.
Keyakinan Paulus untuk sabar menanggung segala penderitaannya juga karena ia
meyakini bahwa ada penghargaan atas kesetiaannya tersebut. Seperti yang
ditunjukkan pada ayat-ayat selanjutnya (11-13),
Frase
“sabar menanggung” berasal dari satu kata kerja Yunani, yaitu ὑπομένω
(hypomenō). Secara umum kata ini memiliki pengertian untuk tetap tinggal, untuk
tetap hidup, untuk berharap, untuk berdiri teguh, untuk bertahan, untuk
menanggung, untuk menderita.”
Keempat,
ayat 11-13 (baca). Bagian ini kemungkinan diambil dari himne yang populer pada
masa itu atau serangkaian kata-kata mutiara, yang dimaksudkan untuk mengilhami
kesetiaan sampai mati dan harapan untuk berbagi dalam kemuliaan kekal Kristus.
Bagian ini dimulai dengan kalimat, “benarlah perkataan ini….” Kalimat ini
merupakan sebuah ciri khas Paulus yang tercantum beberapa kali dalam
surat-surat pastoral. Contohnya dalam 1 Tim 1:15; 3:1; 4:9; dan Titus 3:8.
Perkataan Paulus di Ayat 11-13 ini mengandung dua penafsiran. Pertama adalah
bersifat positif yang berisi penghargaan. Bagi yang mati dengan Kristus,
penghargaan yang ia dapat adalah akan hidup dengan Dia (ay. 11) . Bagi mereka
yang bertekun akan ikut memerintah dengan Dia (ay. 12). Dalam surat Roma Paulus
pernah mengatakan hal yang senada (lih. Rom 8:17).
Penafsiran
kedua adalah bernada negatif yaitu barangsiapa yang menyangkal Kristus, maka
Kristus juga akan menyangkalnya. Kemudian bagian ini ditutup dengan perkataan
bernuansa positif dan menghibur, “jika kita tidak setia, Dia tetap setia,
karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (ay. 13). Bagian terakhir ini
sekali lagi menegaskan akan kasih karunia Allah yang jauh melebihi
ketidaksetiaan manusia.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama,
kita diingatkan oleh firman Tuhan di minggu sengsara ketiga untuk hidup
disiplin, kerja keras dan fokus dalam situasi apa pun. Tetap mengarahkan
pikiran dan hati kepada Kristus yang menderita, mati dan bangkit. Seperti yang
ditunjukkan Paulus melalui gambaran seorang prajurit, olahragawan, dan petani.
Tujuan dari semuanya untuk menyenangkan hati Tuhan
Kedua, bertanggung jawab. Dalam penderitaan karena pemberitaan Injil, kita akan terus dikuatkan oleh kasih karunia Tuhan. Saat kita lemah Dia menguatkan kita, saat kita hampir putus asa Dia hadir memberi harapan, saat tak ada jalan Dia membuka jalan, dst. Itu bukan hebatnya kita melainkan kasih karunia-Nya.
Ketiga, spiritualitas. Kita diminta untuk mengembangkan
spiritualitas seorang prajurit, yaitu fokus, disiplin dan kesiapsediaan
terhadap perintah komandan untuk menyenangkan hati komandan; kita menyenangkan
hati Tuhan. Spiritualitas olahragawan, seorang olahragawan hanya dapat memperoleh
mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan
olahraga. Melayani sesuai dengan aturan-aturan yang ada. Dan spiritualitas
seorang petani yakni pekerja keras.
Keempat,
satu hal yang perlu dipegang oleh oleh setiap kita seperti yang tertulis dalam
ayat 11-13. Jika jika kita setia maka ada penghargaan atas kesetiaannya
tersebut. "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika
kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita mendapat menyangkal diri-Nya." Tetaplah setia dalam
melayani. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar