RENUNGAN MINGGU SENGSARA PERTAMA : MATIUS 18:21-35

 

PENGANTAR

Pasti kita semua tahu nyanyian rohani Sejauh Timur Dari Barat

Sejauh timur dari barat

Engkau membuang dosaku

Tiada Kau ingat lagi pelanggaranku

Jauh ke dalam tubir laut

Kau melemparkan dosaku

Tiada Kau perhitungkan kesalahanku

Betapa besar kasih

PengampunanMu Tuhan

Tak kau pandang hina hati, yang hancur

Ku berterima kasih

KepadaMu ya Tuhan

Pengampunan yang

Kau beri, pulihkanku

Kita mencatat makna dari lagu ini, yaitu pengampunan total. Pengampunan yang tak terbatas dan dosa yang tidak akan kembali menghantui. Pemulihan hati dan pembebasan, serta penerimaan tanpa syarat. 

Mengampuni ialah suatu tindakan yang dilakukan untuk tujuan pembebasan dari tuntutan karena melakukan kesalahan atau kekeliruan. Mengampuni itu sendiri merupakan pembebasan dari hukuman atau tuntutan. Kata yang sama dengan pengampunan adalah memaafkan.

LATAR BELAKANG

Sebelum kita sampai kepada percakapan yang ada dalam bacaan kita, Yesus telah mengajarkan tentang menasihati sesama saudara dalam psl.15-20. Lalu Yesus menegaskan tiga hal yang sangat erat hubungannya dengan isi teks bahasan ini: Pertama, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (ay. 18). Kedua, “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (ay.19). Ketiga, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (ay. 20). Ajaran ini hendak mengukuhkan, bahwa apabila ada tindakan mengampuni, sehingga relasi orang yang mengampuni dan yang diampuni dipulihkan, itu akan terikat di sorga. Tindakan mengampuni dilakukan oleh sedikitnya dua orang yang berkumpul dan oleh karena itu Tuhan hadir sebagai saksi di sana. Matius menghubungkan teks bahasan dengan ajaran tentang menasihati sesama saudara tersebut.

Di zaman Yesus sedang berkembang Gerakan Pertobatan yang ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan mengampuni dosa oleh para pemimpin-pemimpin rohani. Hal ini tampak menonjol dalam gerakan Seruan Pertobatan oleh Yohanes Pembaptis, sebagai suatu gerakan kharismatik yang muncul di zaman Yesus. Tetapi juga di kalangan pengikut agama ortodoks Yahudi praktek pertobatan dan tindakan mengampuni dosa semakin disemarakkan. Para Rabbi membimbing penganut agama Yahudi untuk melakukan tindakan-tindakan mengampuni dosa yang dilakukan oleh saudaranya maupun oleh sesamanya penganut agama Yahudi. Mereka kembangkan hukum-hukum Musa untuk itu. Sebagaimana disebutkan di atas, menurut W. Barclay, Rabbi Yahudi mengajarkan: “Kalau ada tetanggamu memohon pengampunan dosanya, maka lakukanlah tindakan mengampuni dosa itu tidak lebih dari tiga kali,” Rabbi Yose bin Yehuda mengajarkan: “Jika seseorang melakukan pelanggaran atau dosa sekali, mereka mengampuni dia. Jika dia melakukan pelanggaran atau dosa kedua kalinya, mereka mengampuni dia; jika dia melakukan pelanggaran atau dosa ketiga kalinya, mereka mengampuni dia; keempat kalinya mereka tidak mengampuninya lagi.” Mereka mengembangkan praktek mengampuni dosa ini berdasarkan teguran dan nubuat-nubuat dalam kitab Amos 1:3a.6a.9a.11a.13a; 2:1a.4a.6a, yang bicara tentang adanya perbuatan jahat dan bahkan empat. Tentang setiap perbuatan jahat keempat itu, Tuhan tidak menarik keputusan-Nya (Am.1:3.b. 6b.9b.11b.13b; 2:1b.4b.6b). Kaum rabbinik melakukan praktek pengampunan dosa sedemikian. Yesus merombak dan menghapus praktek pengampunan dosa sedemikian.

PEMBAHASAN TEKS

Petrus bertanya (baca ay. 21…) dengan menyodorkan angka tujuh kali mengampuni. Angka yang disodorkan Petrus kepada Yesus  tujuh kali sebenarnya merupakan angka yang cukup fantastis. Pertanyaannya; mengapa Petrus harus mengajukan angka tujuh? Kita mencatat dua kemungkinan, yaitu penggambaran karakter Petrus yang cenderung arogan, bukan tidak mungkin Petrus menyebut angka yang fantastis ini untuk mendapatkan pujian dari Yesus atau setidaknya menunjukkan bahwa dirinya hebat. Selain itu, angka tujuh merupakan angka yang khusus dan memiliki makna bagi orang Israel.

 Namun Yesus mengatakan bahwa bukan hanya sampai tujuh kali melainkan tujuh puluh kali tujuh kali (baca ay. 22), bahkan Injil Lukas mengatakan, kalau ada seorang saudara yang berbuat dosa kepadamu tujuh kali sehari dan tujuh kali pula ia kembali kepadamu dan berkata, “Aku menyesal, kamu harus mengampuni dia” (Luk. 17:3-4), sebagai manusia murid-murid merasa berat sehingga kata rasul-rasul, “tambahkan iman kami?”

Angka tujuh puluh kali tujuh terdapat juga dalam kitab Daniel 9 mengenai batas waktu yang diberikan Allah yaitu tujuh puluh sabat sabat atau tujuh puluh kali tujuh. Dalam eskatolgi nubuatan tujuh puluh minggu dimulai dengan dekrit raja Koresy, di mana ia menyuruh bangsa Isreal pulang ke negerinya dari penawanan di Babel sampai kepada kedatangan Kristus. Jika dihubungkan dengan pengampunan maka memberi pengampunan sampai Kristus datang kembali.

Tanggapan Yesus kepada Petrus harus diterjemahkan "tujuh puluh tujuh" atau "tujuh puluh kali tujuh", jelaslah bahwa Matius menggunakan majas hiperbola yang artinya tidak ada akhir dari kewajiban untuk mengampuni.

Untuk itu Yesus menceritakan sebuah perumpamaan.

Ada seorang yang berutang kepada raja dan raja hendak membuat perhitungan dengan dia. Orang itu berhutang kepada raja sejumlah 10.000 talenta (1 talenta = 6000 dinar; 1 dinar sama dengan upah kerja satu hari. Ini berarti hutangnya 60 juta dinar sama dengan 164.383 tahun kerja). Jumlah ini benar-benar jumlah yang fantastis dalam konteks masa itu. Orang ini berhutang dalam nominal terbesar pada masa itu: dia berhutang dalam angka terbesar (sepuluh ribu, μςπίων, adalah bilangan terbesar dalam numerologi kuno) dan dalam satuan yang terbesar. Jika menggunakan analogi masa kini, orang ini seibarat berhutang “sembilan puluh sembilan trilyun rupiah”: sebuah nominal dengan dua puluh empat angka nol di belakang

Karena hamba itu tidak sanggup melunasinya, maka raja memerintahkan supaya segala yang dimilikinya dijual termasuk anak-anak dan istrinya  walaupun ini juga belum bisa melunasi hutang tersebut. Kemudian  hamba memohon belas kasihan dari raja, meminta penundaan waktu tetapi raja tahu bahwa tidak mungkin ia bisa melunasinya. Menyadari bahwa dirinya ada dalam keadaan di ujung tanduk, hamba tersebut lantas bersujud (πεζὼν) dan menyembah (πποζκύνει) raja itu, serta memohon agar dirinya diberi tambahan waktu untuk melunaskan segala hutangnya (ay. 26).

 Dalam terjemahan Yunaninya menyiratkan bahwa orang tersebut terus merengek meminta tambahan waktu kepada sang raja. Raja tidak mengabulkan permintaan orang tersebut, melainkan memberi lebih dari apa yang dimintanya. Raja itu tidak memberi tambahan waktu, tetapi malah menghapuskan semua hutangnya!

Hamba itu pulang dengan sukacita sebab bebannya selesai, ia bebas dari segala dakwaan, tuntutan dan tekanan. Ketika hamba itu keluar dari istana, ia bertemu dengan seorang yang berutang kepadanya 100 dinar. Jumlah yang kecil. Orang itu sangat ketakutan dan memohon belas kasihan, agar menunda pembayarannya tetapi ditolaknya. Lalu dengan kejam ia membawanya ke penjara supaya utangnya dilunasi. Padahal dirinya sendiri berhutang kepada raja yang tak sanggup ia bayar dan mendapat belas kasihan. Terjemahan TB-LAI “bertemu” untuk kata εὖπεν dalam ayat ini mengesankan bahwa pertemuan ini terjadi secara tidak disengaja. Tetapi karena penggunaan kata ini di ayat 31 mengesankan pertemuan yang disengaja, maka nampaknya konotasi yang sama juga berlaku di sini. Dengan kata lain, hamba ini memang sengaja mencari rekannya untuk menagih hutangnya. Tindakan si hamba ini bertolak belakang dengan kemurahan yang baru dia terima, hamba ini ternyata tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun kepada temannya ini. Sebaliknya, hamba ini malah menangkap dan mencekik temannya itu, serta memaksa dia membayar hutangnya yang sebesar seratus dinar itu.

Apa yang dilakukan oleh teman dari hamba ini di ayat 29 jelas mengingatkan pembaca kepada tindakan yang dilakukan oleh si hamba di ayat 26. Pertama, sama seperti yang dilakukan si hamba di depan sang raja, teman hamba ini juga bersujud  dan memohon  kepada hamba itu; Kedua, sama seperti si hamba meminta tambahan waktu untuk membayar hutangnya, teman hamba ini juga menyampaikan permintaan yang mirip. Namun menyedihkan, tidak seperti sang raja yang berbelas kasihan, hamba ini ternyata sama sekali tidak mau bermurah hati terhadap temannya, atau setidaknya memberi tambahan waktu. Dia justru menolak permintaan temannya dan melemparkan  temannya itu ke penjara. Apa yang dilakukan hamba ini sebenarnya termasuk berlebihan. Hutang temannya itu sebenarnya termasuk sangat kecil bila dibandingkan dengan hutangnya terhadap sang raja. Akan tetapi, fakta bahwa si hamba tadi menangkap, mencekik, dan melemparkan temannya ke dalam penjara, menunjukkan bahwa sebenarnya tindakan hamba ini benar-benar keterlaluan.

Mendengar hal itu teman-temannya  melaporkan kepada raja dan raja memanggil orang itu dan raja berkata (baca ay. 32-33). Hamba itu jahat karena tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih, tidak ada belas kasih dan tidak meniru apa yang raja lakukan kepadanya. Si hamba membalas kebaikan dengan kejahatan.

Sebutan “hamba yang jahat” menandakan bahwa sang tuan memandang perbuatan hamba tersebut sebagai hal yang kelewatan batas. Ayat 33 menjelaskan alasan mengapa tuan tersebut merasa sangat tidak nyaman dengan perbuatan hamba tadi. Si  hamba tidak menunjukkan belas kasihan  kepada temannya. Kini terjadi kepada dirinya sendiri, bahkan dengan tingkat penderitaan yang lebih tinggi. Hamba itu melemparkan temannya ke penjara hingga temannya itu bisa membayar hutangnya, kini hamba itu diserahkan kepada para algojo (penyiksaan) hingga hamba itu bisa membayar semua hutangnya.

Ayat 35 merupakan kesimpulan dan makna dari cerita perumpamaan dari mengampuni orang berbuat dosa terhadap kita dengan segenap hati. Apa yang kita perbuat bagi orang lain itu juga yang kita dapat. Dalam doa Bapa kami Yesus mengajarkan “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12).

POKOK-POKOK RENUNGAN

Pertama, di minggu sengsara pertama kita diingatkan untuk saling mengampuni. Mengampuni tak ada batasnya, pengampunan yang tidak bertepi. Syair nyanyian di atas sejauh timur dari barat Tuhan membuang dosa kita. Dia tidak mengingat-ingat dosa kita. Oleh karena itu  Tidak ada kata akhir dari kewajiban untuk saling mengampuni. Tujuh puluh kali tujuh dan 10.000 talenta menunjukkan angka yang tak terbatas. Kesempatan itu selalu ada untuk kita saling mengampuni sampai Kristus datang kembali yang kedua kalinya.

Kedua, di minggu sengsara Yesus, kita diingatkan bahwa Tuhan mengampuni kita secara total, lunas dan itu gratis. Tidak ada campur tangan manusia. Itu yang dilakukan oleh si raja kepada hamba ini. Oleh karena itu mari kita saling mengampuni, saling memaafkan. Dosa sesama kita kepada kita tidak sebanyak dosa kita kepada Tuhan; dosa kita yang banyak telah diampuni secara gratis, kini kita saling mengampuni tanpa denda, tuntutan, dll.

Ketiga, berdamai dengan diri dan mengampuni diri sendiri. Orang yang mengampuni sesamanya adalah orang yang sudah mengampuni dirinya sendiri, mengampuni masa lalunya dan hidup dalam pengampunan masa kini. Dalam cerita ini, si hamba yang pertama belum berdamai dengan dirinya, mengampuni dirinya, sehingga ia keluar mencari hamba yang berhutang kepadanya dan menghukumnya. Jika ia telah berdamai dengan diri karena kelepasan yang diberikan oleh raja, maka dia akan mengampuni orang lain. Penderitaan Kristus untuk mendamaikan diri kita dan mengampuni kita.

Keempat, hukuman tersedia bagi kita yang telah memperoleh pengampunan namun tidak mengampuni sesama kita. Hamba yang kedua tidak menunjukkan belas kasihan  kepada temannya, hamba itu diserahkan kepada para algojo untuk disiksa.

Kelima, saling mengampuni dan memaafkan adalah ungkapan syukur kita kepada Allah yang telah mengampuni kita (Nyanyian: Ku berterima kasih KepadaMu ya Tuhan). Tuhan telah mengampuni kita dengan gratis, oleh karena itu mari kita saling mengampuni dan memaafkan  sesama. Mengampuni dan memaafkan  adalah “hutang” yang tak habis dibayar seumur hidup kita.

Keenam, pemulihan relasi dan penyembuhan luka hanya bisa terjadi jika kita saling mengampuni dan memaafkan. Amin.

Selamat merayakan minggu-minggu sengsara Kristus!

Salam dari Pastori Oelet, Klasis Amanuban Timur.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Minggu Sengsara Kedua: YESUS MENDERITA AKIBAT DOSAKU (1 Petrus 2:18-25)

Renungan Minggu Sengsara Pertama: KASIH BAPA DALAM PENGORBANAN ANAK TUNGGAL ALLAH (MAT. 21:33-46)

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)