RENUNGAN MINGGU SENGSARA KETUJUH: YESAYA 53:1-12

 

"Kalau mau damai, harus siap berperang," terjemahan pepatah Latinnya "Si vis pacem, para bellum. Pepatah ini berasal dari Winston Churchill. Menurut Churchill perdamaian harus melalui kekuatan. Perdamaian tidak dijaga dengan negosiasi lemah atau "menyenangkan" agresor, melainkan dengan memiliki militer yang cukup kuat untuk membuat musuh takut menyerang. Bagi Churchill, kelemahan negara adalah undangan untuk perang. Kekuatan adalah satu-satunya cara untuk menegakkan perdamaian. Peradaban butuh penjaga. Peradaban hanya bisa bertahan jika dilindungi oleh senjata dan disiplin yang kuat. Paham ini salah satu faktor yang mengakibatkan perang antara AS-Israel vs Iran.

LATAR BELAKANG MESIAS

Kitab Yesaya 53, yang dikenal dengan “Nyanyian Hamba Tuhan”, sering dianggap sebagai salah satu teks nubuat yang paling signifikan dalam tradisi agama Kristen. Namun, interpretasi terhadap pasal ini sangat bervariasi tergantung pada perspektif keagamaan, khususnya dalam konteks Kristen dan Yudaisme.

 Dalam tradisi Kristen, Yesaya 53 sering dipandang sebagai nubuat yang meramalkan penderitaan dan kematian Yesus Kristus sebagai Mesias. Kekristenan meyakini bahwa “Hamba Tuhan” yang digambarkan dalam teks tersebut adalah Yesus, yang melalui penderitaan dan kematian-Nya menggenapi nubuat sebagai penebus dosa umat manusia. Interpretasi ini memegang peranan penting dalam pemahaman Kristen tentang penebusan dan keselamatan, serta memberikan landasan teologis bagi ajaran mengenai kematian Yesus di kayu salib sebagai pengorbanan untuk dosa.

Sebaliknya, dalam tradisi Yudaisme, Yesaya 53 umumnya dipahami dalam konteks yang berbeda. Banyak tafsir rabinik melihat “Hamba Tuhan” sebagai representasi dari bangsa Israel secara kolektif, bukan sebagai individu tertentu. Dalam pandangan ini, teks ini menggambarkan penderitaan dan kesulitan yang dialami oleh Israel sebagai umat pilihan Tuhan di tengah penindasan bangsa-bangsa lain. Konsep kemesiasan dalam Yudaisme tidak selalu terpusat pada sosok individu yang menderita, melainkan lebih kepada harapan akan pemulihan dan keselamatan kolektif melalui kedatangan Mesias yang akan memimpin bangsa Israel menuju masa depan yang lebih baik. Mesias dalam Kitab Yesaya Konsep Mesias sendiri dalam penafsiran sejarah bangsa Yahudi muncul secara beragam. Ada yang lebih menekankan aspek politisnya, namun ada juga yang menekankan pada pembaharuan ibadah seperti golongan Eseni (salah satu sekte agama Yahudi).

PEMBAHASAN TEKS

Yesaya dipanggil menjadi nabi dalam tahun matinya raja Uzia, yaitu tahun 740/739 sM; penampilannya yang terakhir dapat dipastikan yakni pada waktu Sanherib menyerang Yerusalem tahun 701 sM.

 Yesaya rupanya berasal dari keluarga kalangan atas di Yerusalem, dia orang berpendidikan, memiliki bakat sebagai penggubah syair dan berkarunia nabi, mengenal keluarga raja dan memberikan nasihat secara nubuat kepada para raja mengenai politik luar negeri Yehuda.

Nubuatan Mesianik muncul dalam situasi kerajaan Yehuda yang sedang mengalami ancaman kedaulatan oleh agresi militer. Dua Kerajaan yaitu Aram dan Israel maju berperang melawan Yehuda. Nubuatan Yesaya tentang Mesias didahului dengan perintah Tuhan kepada nabi Yesaya untuk menemui Ahas, raja Yehuda yang sedang mengalami ketakutan (Yesaya 7:1-18). Nabi Yesaya menasehati raja agar tetap teguh hati. (7: 4).

 Yesaya memberikan nasehat kepada Raja Ahas untuk meminta tanda dari Tuhan, namun Raja Ahas tidak melakukan nasehat dari Nabi Yesaya karena hal tersebut menjadi sesuatu yang mencobai Tuhan (7:10-12). Karena Raja Ahas tidak mau meminta tanda kepada Tuhan, maka Tuhan sendiri yang akan memberikan tanda kepada Raja (7: 14-17). Pada saat Tuhan menunjukkan tanda kepada Raja Ahas maka sekaligus dideklarasikan ucapan-ucapan profetik tentang kedatangan Mesias, dan beritanya adalah tentang kelahiran anak laki-laki dari seorang perempuan muda yang akan dinamakan Imanuel.

Yesaya 53, dengan gambaran kuatnya tentang penderitaan Mesias, tetap menjadi salah satu bagian yang paling berkesan dari kitab ini.

Secara sederhana kita dapat mengelompokkan bacaan ini dalam beberapa poin.

Pertama,  ayat 1-3. Menggambarkan penolakan dan ketidakpercayaan terhadap hamba Tuhan. Masyarakat Israel yang tidak percaya kepada Hamba ini merasa terkejut dan tidak menganggapnya penting, bahkan merendahkannya. “Dia tidak tampak” berarti Hamba ini tidak sesuai dengan ekspektasi atau standar duniawi akan seorang pemimpin.

Kedua,  ayat 4-6. Menggambarkan penderitaan Hamba Tuhan yang menanggung beban dosa umat. Hamba ini menderita bukan karena kesalahannya sendiri, tetapi sebagai pengganti, dan melalui penderitaannya, ia membawa kesembuhan dan pengampunan bagi umatnya. Frasa “kita telah menyangka dia telah kena tulah” menunjukkan bahwa penderitaan Hamba dipandang sebagai akibat dari murka Tuhan, padahal sebenarnya itu adalah bagian dari rencana penebusan.

Ketiga, ayat 7-9. Menggambarkan sikap Hamba yang tenang dan tidak membela diri, serta kematiannya yang tidak bersalah. Walaupun dia dibawa ke pengadilan tanpa ada keadilan dan mengalami kematian yang brutal, Hamba ini tidak mengeluh atau membela diri.

Keempat, ayat 10-12. Menjelaskan tujuan akhir dari penderitaan Hamba, yaitu untuk memenuhi kehendak Tuhan dan mendapatkan ganjaran bagi dirinya sendiri serta bagi banyak orang. Hamba ini tidak hanya menderita tetapi juga akan melihat hasil dari usahanya dan akan mendapat bagian yang mulia karena ia “telah menanggung dosa banyak orang.”

Kelima, kemesiasan dalam penderitaan dan penebusan yang diidentifikasikan dengan Yesus Kristus. Ia ditindas, disiksa dan mati sebagai korban untuk dosa. Ditolak dan dianiaya, dikucilkan dari tanah orang hidup (ay. 8) dan tidak ada rupa atau keindahan, yang menarik bagi orang untuk memperhatikan-Nya (ayat 2). Hal ini sesuai dengan cerita hidup Yesus yang seringkali ditolak oleh orang-orang, bahkan dihina dan dianiaya. Pengorbanan yang membawa Keselamatan Mesias dalam Yesaya gambarkan sebagai ”dibawa seperti domba ke sembelihan”(ay. 7). Menggambarkan pengorbanan-Nya sebagai kurban yang dibawa untuk penebusan dosa umat manusia. Pengampunan dan Keselamatan yang dibawa oleh Mesias. Penderitaan Mesias bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memberikan pengampunan dan keselamatan kepada banyak orang (ay. 11-12). Hal ini menggambarkan misi Yesus Kristus dalam membawa keselamatan kepada umat manusia melalui pengorbanan-Nya.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Pertama, dari firman Tuhan saat ini kita belajar bahwa untuk keselamatan, kedamaian dan kesembuhan terjadi bukan karena kekuasaan, kekerasan, seperti teori di atas; pemimpin yang harus perkasa, melainkan yang tak dipandang, tak dianggap, itulah yang dipakai oleh Tuhan. Yesus mengalami dan menjalani di minggu-minggu sengsara ini. Untuk keselamatan dan kesembuhan umat manusia, Dia seperti domba yang dibawah kepembantaian. Tak memberontak dan mengeluarkan suaranya. Tindakan kekerasan untuk menciptakan kedamaian harus ditentang. Mari kita menciptakan kedamaian, keselamatan, kesembuhan dengan cara-cara yang ramah dan kerendahan hati.

Kedua, dari firman Tuhan kita belajar bahwa rencana Tuhan tidak seperti ekspektasi kita; tidak jatuh sama dengan keinginan kita, sehingga membuat kita kecewa. Namun perlu diingat bahwa Tuhan mempunyai rencana yang lebih besar dari keinginan kita. Itulah terjadi dalam bacaan ini. Mesias yang akan menyelamatkan manusia tidak seperti ekspektasi orang Yahudi. Mungkin rencana Tuhan tidak sesuai dengan ekspektasi kita sebagai orang Kristen. Tetapi Tuhan mempunyai rencana yang jauh lebih besar untuk keselamatan umat manusia.

Ketiga, dari firman Tuhan kita belajar, bahwa  Ia ditindas supaya kita tidak ditindas, karena itu Anda dan saya jangan jadi penindas. Ia menanggung penyakit kita supaya kita menjadi sembuh, karena itu Anda dan saya jangan saling melukai. Ia disiksa supaya kita tidak siksa. Dia  mati untuk Anda dan saya supaya memperoleh hidup, karena itu kehadiran Anda dan saya memberi kehidupan. Biar Dia yang ditolak supaya kita diterima oleh Allah. Dia yang mengambil rupa/wajah penuh dosa agar gambar dan rupa Allah nampak dalam wajah Anda dan saya. Itulah yang dialami oleh Yesus dalam kesengsaraan-Nya untuk Anda dan saya.

Keempat, dari firman Tuhan kita belajar bahwa akhir dari penderitaan ada terang. Setiap penderitaan yang dialami ada hikmatnya, ada maknanya. Penderitaan Yesus memberi makna bagi Anda dan saya tentang terang keselamatan. Amin. FN.

Selamat Menyongsong Jumat Agung dan Paskah.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

MENJAGA DIRI DARI MINUMAN KERAS (AMSAL 31:1-9 )