RENUNGAN : 1 PETRUS 1:3-12
Ada
3 buah lilin yang menyala, mereka sementara bercakap-cakap dalam suasana yang
begitu sunyi di sebuah kamar. Yang pertama berkata: “Aku adalah iman. Aku tak
percaya mengapa peristiwa itu terjadi pada orang yang kita harapkan selama
ini. Harapanku hilang! Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Begitu
selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Lili
kedua bicara: “Aku adalah kasih. Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia
tidak lagi memandang dan menganggapku berguna. Lihat, mereka membecin dan
menghukum-Nya seperti penjahat! Kasih menjadi pudar.” Tanpa menunggu waktu
lama, maka matilah Lilin kedua.
Tanpa
terduga…
Seorang
anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat kedua lilin telah padam. Karena
takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh, apa yang terjadi? Kalian harus tetap
menyala, Aku takut akan kegelapan!” Lalu ia menangis tersedu-sedu. Lalu dengan
terharu Lilin ketiga berkata: “Jangan takut, janganlah menangis, selama aku
masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan keduanya. Akulah Harapan.
Kegelapan dalam kubur telah dikalahkan dengan cahaya pengharapan. Dengan mata
bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali kedua lilin
lainnya. Kini harapan kalian semua tak akan mati. Oleh karena itu dalam situasi
apapun mampu menghidupkan kembali iman, kasih dengan harapan!
PEMBAHASAN
TEKS
Penulis
surat ini adalah Simon Petrus, murid Yesus. Ia adalah murid yang bersama dengan
Yohanes dan Andreas naik ke gunung saat Yesus dipermuliakan (Mrk. 9:2). Petrus
menulis surat ini kepada umat beriman, yakni orang-orang pendatang yang
tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia.
Surat
Petrus ditulis oleh Simon Petrus dalam rangka meneguhkan iman orang Kristen
agar tidak mudah disesatkan oleh ajaran lain. Berhadapan dengan ajaran
tersebut, orang Kristen harus
dikuatkan dan terus bertumbuh sehingga mampu menangkis berbagai serangan yang
menyesatkan mereka.
Kita
dapat membagi bacaan kita saat ini dalam beberapa bagian.
Pertama,
ayat 3-5. Ayat 3 dimulai dengan kata pujian kepada Allah. Alasan memuji Allah
karena Allah di dalam Yesus Kristus telah menyelamatkan umat-Nya. Yang oleh
karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali. Kata “rahmat” dan “melahirkan kita kembali”, menunjuk kepada kelahiran baru (hidup
baru), yang merupakan pemberian Allah. Pemberian tanpa syarat. Sebenarnya kita
tidak layak untuk menerima namun kita diberi dengan cuma-cuma. Pemberian yang
cuma-cuma dikerjakan dalam diri Yesus Kristus, yakni melalu menderita mati dan bangkit. Itu kehendak Allah bukan kehendak manusia, bdk.
Efesus 2:4-5. Oleh karena itu, istilah melahirkan kembali bukan karena upaya
manusia tetapi karya Allah melalui kebangkitan Yesus Kristus.
Kelahiran
baru itu terletak kepada kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus memberi
pengharapan baru kepada orang-orang Kristen untuk lahir baru. Selain memberi
pengharapan, kebangkitan Kristus juga memberi pengharapan bagi orang-orang
percaya menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, aman, yang tidak dapat
cemar, dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu (ay. 4).
Menerima “satu bagian”, menunjukkan pada penerimaan warisan, kata Yunaninya kleronomia, yang menunjukkan
kepada warisan milik pusaka sebagai anak-anak Allah tersimpan di sorga.
Warisan
itu aman, maka ayat 5 menunjukkan bahwa orang beriman aman karena dipelihara
oleh kekuatan Allah. Tidak ada yang mengambil warisan keselamatan yang telah
disediakan kepada orang yang percaya kepada Kristus melalui Paskah. Kata “dipelihara”
menunjukkan kepada tentara yang menjaga kota/benteng. Dalam 2 Kor. 11:32 diterjemahkan
sebagai “pengawal”. Di sini memberi pesan bahwa walaupun orang-orang percaya
telah lahir baru tetapi mereka masih lemah dalam dunia ini, sehingga
membutuhkan perlindungan dari Allah. Dalam ayat 6 dikatakan bahwa ada banyak
pencobaan yang siap menimpa orang-orang percaya. Namun demikian kita tetap
aman karena dipelihara oleh kekuatan Allah.
Kedua,
ayat 6-9. Bergembiralah karena rahmat Allah yang diterima melalui kebangkitan
Kristus, dan warisan yang telah disediakan bagi orang-orang percaya. Kata “bergembira”
bahasa Yunaninya algalliasthe yang
menunjukkan pada sukacita yang besar, walaupun saat ini mereka mengalami
dukacita karena berbagai cobaan. Dukacita dan sukacita “berjalan bersamaan”
tetapi maksud dari semuanya adalah untuk membuktikan kemurnian iman.
Cobaan-cobaan itu merupakan alat pemurnian iman bagi orang percaya sehingga orang
percaya memperoleh puji-pujian, kemuliaan dan kehormatan (ay. 7).
Ketika
kita percaya kepada Dia, walaupun kita tidak melihat Dia. Kita bergembira
karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan (ayt. 8). Di situlah kita
menemukan pengharapan, iman dan kasih. Orang-orang percaya memiliki
pengharapan, iman dan kasih karena mereka telah mencapai tujuan iman yakni
keselamatan (ay. 9). Keselamatan karena kepercayaan bukan karena melihat. Rasul
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengatakan hidup bukan karena
melihat namun percaya (2 Kor. 5:7). Ketika Yesus menampakkan diri kepada Tomas,
Dia berkata berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya (Yoh. 20:29).
Iman, pengharapan dan kasih lahir karena percaya bukan karena melihat.
Ketiga,
ayat 10-12. Keselamatan yang dibicarakan dalam ayat 9, yang diselidiki oleh
para nabi, mereka ingin mengetahui. Meneliti, menyelidiki, menguji bukan sebuah
dosa, melainkan dituntun dikehendaki oleh Allah sehingga dituntun oleh Roh
Kudus. Yesus pernah berkata bahwa Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa, Dia
datang untuk memberitakan hal-hal yang akan datang (Yoh. 16:13c). Para nabi
dalam Perjanjian Lama selidiki/teliti (Daniel 7:15-16 ; Mat. 13:17 ; Luk.
10:23-24) berbicara dan menulis tentang keselamatan yang akan datang, tetapi
mereka sendiri tidak melihat karena keselamatan itu dikerjakan oleh Yesus
Kristus 2000-an tahun sebelum Masehi. Mereka menulis dan memberitakan
keselamatan dengan pimpin Roh Kristus, itu bukan hanya ditujukan pada
zamannya mereka, tetapi untuk zaman sekarang. Sehingga Calvin menggambarkan
bahwa nabi-nabi itu menyiapkan makanan di meja makan tetapi kitalah yang makan.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Kita
mencatat beberapa pokok refleksi.
Pertama, kebangkitan
Kristus memberi kita kelahiran baru. Kebangkitan-Nya telah melahirkan kita dari
kematian karena dosa. Dahulu manusia terancam oleh kematian karena dosa, namun
kini harapan baru itu nyata melalui kebangkitan Kristus. Kini semangat Paskah memberi
kita kekuatan untuk hidup baru dalam pertobatan. Oleh karena itu kita harus
meresponnya dengan hidup baru. Paskah hanya bermakna jika kita merespon dengan
kehidupan baru.
Kedua,
Paskah menjadikan kita ahli-ahli waris kerajaan Allah. Kita memiliki bagian
yang tersimpan di sorga yang tidak bisa diambil orang lain. Itu bukan hasil
usaha kita atau karena kebaikan kita, melainkan rahmat Tuhan. Oleh karena itu
tidak perlu menyombongkan diri. Kita selamat bukan karena perbuatan baik kita
melainkan rahmat Allah berlimpah bagi setiap kita. Oleh karena itu, mari kita
bersyukur kepada Allah dalam kerendahan dengan tetap merawat keselamatan yang
kita peroleh.
Ketiga,
walaupun kita adalah anak-anak Allah, pewaris Kerajaan Allah, namun kita masih
hidup dalam dunia. Kita selalu ditempa oleh berbagai macam cobaan, tetapi
Allah memelihara dengan kekuatan-Nya. Pencobaan, dukacita yang kita alami
sebagai orang percaya untuk memurnikan iman kita, terus berpengharapan kepada
Tuhan dan kasih kepada sesama. Apapun cobaannya kebangkitan Kristus menjadi
pengharapan bagi kita untuk kita terus bangkit.
Keempat,
percaya, berpengharapan dan kasih bukan karena melihat namun karena percaya.
Percaya, berpengharapan dan menunjukkan kasih bukan karena kita melihat hal-hal
yang spektakuler, melainkan ketiga hal itu dinyatakan dalam kehidupan
sehari-hari yang tak istimewa, tak diberi tepuk tangan atau pujian, namun
dinyatakan dalam kesunyian. Terang dalam kegelapan yang sunyi karena kita
memiliki pengharapan. Terus beriman dan menunjukkan kasih kepada dunia yang
bising sebab kita memiliki pengharapan kepada Kristus yang bangkit. Itulah
sebuah sukacita dan kegembiraan sebagai orang percaya. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar