RENUNGAN JUMAT AGUNG: MATIUS 27:32-56
PEMBAHASAN TEKS
Keputusan
untuk penyaliban Yesus sudah bulat. Mereka membawa Yesus ke luar kota. Menurut catatan,
Yesus berjalan beriringan dengan dua orang penjahat yang turut disalibkan.
Dengan memikul kayu salib, sebuah balok horizontal yang kasar diikatkan
melintang pada bagian belakang leher korban dengan dua tangan yang merentang.
Kayu itu akan menggesek bahu si korban sehingga menyebabkan luka. Kaki diikat
dengan tali dan menyambung ke patibulum penjahat yang lain, demikian juga
dengan kaki penjahat yang lain diikat dan dikaitkan.
Penjelasan:
salib dalam Alkitab dikaitkan dengan dua kata benda yang saling berkaitan.
Pertama xulos artinya pohon. Rasul Paulus menggunakan istilah ini untuk
menerangkan salib. Istilah kedua stours artinya kayu yang terpancang
atau ditancapkan. Dalam zaman PB, salib terbuat dari kayu kering. Kayu ini
dipancangkan ke tanah dengan berbagai
bentuk. Yesus tak dapat berjalan lebih jauh lagi, karena fisik-Nya sudah banyak
mengeluarkan darah. Malam itu pun Dia tak dapat istirahat.
Ketika
Yesus digiring ke luar kota, mereka bertemu dengan seorang Simon dari Kirene
berasal dari ibu kota Tripoli di Afrika Utara. Simon dipaksa untuk pikul salib. Dengan
tidak berpikir panjang, prajurit-prajurit itu memindahkan kayu palang itu ke
pundak Simon. Ia pasti menolak tetapi dipaksa. Simon tidak tahu bahwa yang dia
pikul itu adalah salib Tuhan Yesus. Melalui salib itu dia dan seluruh umat
manusia di selamatkan.
Simon
adalah ayah dari Alexander dan Rufus yang baru datang dari luar kota (Kis.
19:33). Sebagai informasi, Rufus disebut oleh Paulus sebagai orang yang Tuhan
pilih (Rom. 16:13). Kita tidak mendapat informasi lagi tentang Simon, tetapi
kedua anaknya Alexander dan Rufus menjadi pengikut Yesus (Rom. 16:13)
Ketika
mereka sampai di Golgota mereka menyalibkan Yesus. Orang mendirikan kayu salib
yang dipakai oleh pemerintah Romawi yang berbentuk tanda tambah (+). Hukuman
penyaliban itu sebenarnya berasal dari bangsa Siro-Fenesia Tirus dan Sidon,
kemudian orang Romawi memakai cara demikian. Karena ngerinya hukuman tersebut
maka dijatuhkan kepada budak-budak dan anak-anak negeri jajahan saja.
Yesus
di atas salib mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Ia cukup haus
dan kelelahan. Sungguh ngeri dan kejam. Luka yang terdapat di sekujur tubuh,
dijemur oleh panas bahkan hujan, tubuh yang telanjang sehingga badan gemetar
dan menimbulkan demam. Kebanyakan orang yang disalibkan mati karena demam.
Hukuman ini yang dibenci oleh orang Yahudi sehingga hukuman ini disebut kutukan
Allah (Ul. 21:23; Gal. 3:13).
Mereka
membagikan pakaiannya dengan cara membuang undi. Hal itu merupakan sebuah
kebiasaan. Para prajurit memperebutkan barang-barang dari tahanan yang
disalibkan. Biasanya mereka membagikan sendal, ikat kepala, jubah luar
(himation), sabuk, jubah (chiton). Ketika mereka sampai kepada Yesus, mereka
memperhatikan bahwa jubah-Nya unik, dijahit sebagai satu potong kain saja. Dari
pada merusak pakaian itu, mereka bersepakat untuk mengundinya dengan melempar
dadu. Hal itu untuk menggenapi Mazmur 22:19. Pakaian melambangkan kebenaran dan
kehormatan.
Yesus disalibkan, di atas kepala tertulis “Inilah Yesus Raja orang Yahudi” itulah
alasan politik mengapa mereka menyalibkan Dia. Alasan ini meyakinkan juga orang
Romawi. Tulisan ini tertulis dalam tiga bahasa. Bahasa Ibrani Yeshua hanorsi
wumelekh haiehudim, Yunani dan Latin Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum. Mengapa
tiga bahasa? Karena tiga bahasa ini yang digunakan pada waktu itu? Bahasa
Ibrani adalah bahasa orang Yahudi, bahasa Yunani bahasa umum dipakai waktu itu
dan Latin adalah bahasa kekaisaran Romawi
Ada
dua orang penyamun (penjahat) yang disalibkan bersama dengan Dia. Salib di antara
dua orang penjahat merupakan tindakan penghinaan, sehingga orang banyak melihat
Dia sebagai penjahat. Genaplah Yesaya 53:12, “Ia akan terhitung di antara
orang-orang durhaka.” Orang-orang yang lewat di situ bukan berbelas kasih tetapi
menghujat-Nya. Hujatan itu dalam bentuk ejekan. Nadanya berbau agama. Bukan
hanya masyarakat biasa namun para pemuka agama juga turut menghujat-Nya. Penyamun
yang disalibkan bersama Dia juga turut mengejek-Nya.
Selama
Yesus di kayu salib, orang banyak tidak henti-hentinya mengolok Dia. Biasanya
ketika di pengadilan si terdakwa diolok-olok dan kemudian ketika dieksekusi
mereka akan meninggalkannya. Namun Yesus sampai dieksekusi pun masih tetap
diolok. Ia direndahkan amat sangat.
Yesus
disalib jam sembilan pagi. Kemudian mulai jam dua belas kegelapan meliputi
seluruh daerah itu sampai jam tiga sore. Dalam teks yang lain mengatakan bahwa
kegelapan meliputi seluruh bumi. Bahasa Yunaninya pasan teen geen (kegelapan
meliputi seluruh bumi). Alam pun turut
merasakan duka dan kesakitan.
Dalam kesakitan itu Ia berseru “Eli, Eli
lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
(bahasa Ibrani dialek Galilea) . Yesus menggunakan dua bahasa “Eli” bahasa Ibrani dan “sahabakhtani” bahasa
Aramik. Sejenak kita memperhatikan teriakan ini. Yesus mengutip ayat dari
Mazmur 22:2.
Pemazmur mengalami penderitaan karena
perlakuan manusia terhadapnya. Dia dihina, dicela, diolok, orang mencibirkan
bibir kepadanya, orang mengerumuni dia dan musuh menerkam dia. Dia merasa hancur
seperti air yang tercurah, dan segala tulangnya terlepas dari sedihnya.
Perlakuan orang-orang kepada Pemazmur hampir sama dengan perlakuan yang dialami
Yesus di atas kayu salib.
Respon
orang-orang yang mendengar Dia. Dia sementara memanggil Elia. Elia adalah
seorang nabi yang besar dalam agama Yahudi. Ia pernah meminta api diturunkan
dari langit untuk memusnahkan musuhnya (2 Raj. 1:10). Orang-orang tidak
memahami bahasa penderitaan Yesus. Seorang prajurit datang mengambil bunga
karang (spon) dan mencelupkan ke dalam anggur asam sebatang hisop. Hisop
digunakan untuk memercikkan darah kurban persembahan dalam perayaan Paskah. Ia
berseru dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Yesus mati sebagai korban
sembelihan untuk pengampunan dosa.
Ada
beberapa tanda ajaib yang terjadi. Pertama, tabir Bait Allah terbelah dua. Tirai
Bait Suci yang memisahkan ruangan maha kudus dan ruangan kudus terbelah dua dari atas sampai bawah. Menurut
kebiasaan dalam agama Yahudi, jam tiga sore adalah waktu di mana para imam
sibuk untuk mempersembahkan kurban petang di Bait Allah. Sekarang tirai itu
telah robek, sehingga setiap orang di ruang kudus bisa melihat ke ruang maha
kudus. Dalam aturan Taurat, orang yang boleh masuk dalam ruangan maha kudus
hanya imam besar. Peristiwa ini merupakan simbol bahwa Yesus adalah Imam Besar
yang membawa kita masuk ke dalamnya.
Tanda
kedua, gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah. Karena terbelahnya bukit-bukit
batu, maka muncul tanda ketiga, kuburan-kuburan yang ada di tempat itu pun
terbuka. Banyak orang kudus yang terbuka kuburan pada hari itu. Beberapa orang
penafsir mengatakan bahwa peristiwa itu menunjukkan bumi membuka mulutnya
menerima Sang yang mahakudus. Ia turun ke dalam dunia orang mati untuk
membangkitkan mereka yang meninggal di dalam Tuhan. Tanda keempat adalah kepala
pasukan dan prajurit melihat peristiwa ajaib itu, mereka menjadi takut dan
mengucapkan pengakuan mereka.
Injil
yang lain mencatat bahwa mereka memukul-mukul dada tanda perkabungan. Mereka
percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Israel telah membuang Tuhannya dan kini
bangsa lain yang mengakui Dia sebagai Tuhan dan juruselamat.
Di
salib itu ada juga perempuan-perempuan yang setia mengikut Yesus sejak di
Galilea dan sampai Yesus disalibkan.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama, membantu
sesama menanggung luka, menanggung beban, seperti Simon dari Kirene. Kadang
keadaan memaksa kita untuk membantu sesama kita, namun terkadang kita dipaksa
untuk untuk membantu sesama kita. Mungkin kita bersungut; apa yang kita dapat?
Capek, rugi, bukan? Dari firman Tuhan ini kita belajar bahwa Simon dipaksa
untuk pikul salib dan kemudian hari anak-anaknya, Alexander dan Rufus menjadi
orang pilihan Tuhan. Hidup mereka diberkati dan menjadi berkat. Kita biasa
bilang, “bukan lombok, makan langsung rasa dia pung pedas”. Ada berkat
yang Tuhan siapkan di masa depan bagi orang yang membantu sesamanya.
Kedua,
sesama
orang yang terluka, memiliki beban, mari kita saling menyembuhkan, bukan saling
mengejek. Kedua penjahat juga menderita, namun mereka masih juga ikut mengejek
Yesus. Kita yang merasa diri tak memiliki luka mari kita mengerti bahasa mereka
yang terluka, yang membutuhkan pertolongan kita. Para prajurit tidak mengerti
bahasa Yesus, orang-orang yang lewat pun tak mengerti bahasa dan kondisi Yesus,
sehingga mereka mengolok dan memberi anggur asam. Kita hanya bisa saling
menyembuhkan apabila kita saling mengerti dan memahami bahasa mereka yang
terluka.
Ketiga,
dalam kesulitan, merasa sendiri, semua orang menjauh dari kita, tak ada jalan
keluar, kita tetap berseru kepada Tuhan. Katakan kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa
Engkau meninggalkan Aku?” Itu bahasa anak manusia, ketika tak ada kata yang
bisa kita ucapkan karena penderitaan yang tak tertahankan. Tuhan mengerti.
Itulah yang Yesus alami. Dari firman Tuhan saat ini kita belajar bahwa dalam
kondisi yang demikian jangan hiraukan apa kata orang, tetapi tetap fokus kepada
Tuhan.
Keempat,
kita semua memiliki beban dan persoalan. Kematian Yesus membuka tabir Bait
Allah. Kini gereja menjadi tempat yang terbuka bagi semua orang datang kepada
Tuhan untuk menyampaikan segala persoalan dan luka yang dialami. Jadilah gereja
yang terbuka bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan gereja.
Kelima,
bukan hanya manusia yang terluka namun alam pun ikut terluka. Kegelapan
menutupi daerah itu, gempa bumi dan kuburan terbuka menandakan bahwa alam perlu
disembuhkan. Tubuh Anak Allah yang tak bernoda terkubur untuk menyembuhkan
luka-luka alam. Karena itu, semangat menyembuhkan alam merupakan spirit kita
semua.
Keenam,
Dia
adalah Tuhan atas orang hidup dan mati. Kematian-Nya bukan hanya untuk orang
yang hidup saja melainkan juga untuk orang mati. Amin.

Komentar
Posting Komentar