RENUNGAN : LUKAS 24:39-49
Perayaan
Paskah setiap tahun jemaat-jemaat GMIT melaksanakan pawai Paskah. Selain jemaat, di
tingkat Klasis, ada klasis tertentu yang melaksanakan pawai Paskah. Di lingkup Sinode,
pemuda GMIT melaksanakan pawai Paskah Sinode. Tahun ini pawai di lingkup sinode, suasana agak berbeda
karena kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka. Setelah
perayaan, berbagai tanggapan menghiasi jagat media sosial. Ada yang mencibir,
ada yang melontarkan kritikan, ada yang mengapresiasi, dst. Tanggapan itu datang dari berbagai pihak, baik dari masyarakat awam maupun sampai para tokoh agama. Hal biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan. Toh, ketika Yesus ditangkap,
disalibkan sampai kepada kebangkitan banyak reaksi dari berbagai pihak.
Namun
yang menarik adalah kehadiran sosok orang nomor 2 di Indonesia dalam perayaan
tersebut. Gibran tidak hanya mengikuti kegiatan pawai Paskah, namun mengunjungi
SD Ipmres Kaniti. Ia juga memberi harapan kepada P3K provinsi yang
hendak di rumahkan karena persoalan efesiensi anggaran. Gibran juga mengunjungi
Taman Agroeduwisata GMIT Tarus, yang berlokasi di Desa Mata Air, Kecamatan
Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Sebagai dari upaya memperkuat
kedaulatan pangan dan mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Hal
ini menunjukkan bahwa gereja merayakan pesta Paskah tidak hanya sebatas,
refleksi, perayaan, omon-omon, tetapi menyatakan makna Paskah dalam aksi nyata. Gereja
memberi bukti.
PEMBAHASAN
TEKS
Pertama,
ayat 36-43. Yesus hadir
saat murid-murid mengalami ketakutan yang mencekam. Kita dapat
membayangkan ketakutan murid-murid. Peristiwa penangkapan Yesus di taman
Getsemani; kemudian Yesus diperlakukan secara tidak manusiawi dan dibawa ke
Golgota untuk disalibkan, masih terbayang-bayang dalam pikiran mereka. Setelah
hari sabat menjelang pagi, beberapa perempuan ke kubur Yesus tidak menemukan jenazah
Yesus menambah ketakutan mereka. Petrus dan murid yang dikasihi Yesus (Yoh.
20:2) menyaksikan hal tersebut. Isu yang disebarkan adalah jenazah Yesus dicuri
oleh murid-murid (Mat. 28:12-13).
Dalam
bacaan ini, ketika murid-murid sedang mempercakapkan perihal hilangnya jenazah
Yesus di kubur, namun tiba-tiba Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata
kepada mereka: ”Damai sejahtera bagi kamu!” (Luk. 24:36). Mengapa Yesus menemui
mereka dengan menyapa “Damai sejahtera?" Ucapan damai sejahtera tidak hanya
sekedar ucapan, namun ada makna yang mendalam. Kita mencatat dua hal; pertama,
ucapan ini untuk menguatkan murid-murid, bukan untuk membuat mereka takut.
Apalagi secara tiba-tiba Yesus hadir dalam ruangan tertutup. Kalimat ini hanya
diucapkan oleh seorang sahabat. Sapaan kedekatan. Kedua, ucapan ini hanya
diucapkan oleh seorang rabi. Kata damai sejahtera adalah terjemahan Ibrani
yaitu shalom. Para rabi Yahudi biasanya menyapa murid-murid dengan
ucapan shalom sebelum memulai pengajaran. Jadi, sapaan damai sejahtera
bukan ucapan yang kosong melainkan mengandung makna.
Ketakutan
tersebut membuat murid-murid selalu berkumpul dalam ruangan terkunci rapat. Namun
demikian, tiba-tiba Yesus berada di tengah-tengah mereka. Hal ini menunjukkan
bahwa setelah kebangkitan-Nya, Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Selama
kurang lebih 33 tahun Dia dibatasi dalam waktu, ruangan dan konteks tertentu, namun kini
kehadiran-Nya tidak bisa dibatasi. Ruang dan waktu bisa membatasi manusia
tetapi tidak untuk Tuhan.
Reaksi
murid-murid adalah terkejut, takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
Mengapa murid-murid melihat kehadiran Yesus seperti hantu? Karena ketakutan dan kehadiran Yesus secara
tiba-tiba.
Yesus
mempersoalkan keterkejutan mereka. Mereka juga meragukan kebangkitan Yesus.
Untuk meyakinkan mereka, Yesus tidak hanya berbicara namun ia menunjukkan bukti
fisik, tubuh-Nya yang ada bekas luka. Yesus juga mengingatkan mereka apa yang
telah Ia sampaikan kepada mereka, namun mereka tidak memperhatikan hal itu. Ia
pernah berkata kepada mereka bahwa bahwa Dia akan disesah dan dibunuh, pada
hari ketiga Ia akan bangkit (band. Luk. 18:33; Mat. 20:18; Mrk. 10:33), namun
entah mengapa mereka tidak mengingat apa yang Ia pernah katakan tentang itu. Apakah
suasana ketakutan menyelimuti mereka? Atau tidak seperti yang mereka pikirkan
saat mengikuti Dia?
Namun
Yesus harus memulihkan mereka dan meyakinkan mereka. Oleh karena itu, Ia
meminta makanan untuk dimakan-Nya di depan mata mereka. Bukan karena Ia merasa
lapar, tetapi semata-mata untuk membuat para murid yakin bahwa Ia hidup dan
sekaligus mencairkan suasana yang mencekam itu. Ia ingin mereka tahu bahwa Ia
bukanlah hantu atau roh. Ia berkata kepada mereka untuk “memegang” Dia,
menyentuh Dia, dan melihat bahwa itu benar-benar Dia. Bahwa tubuh-Nya secara
fisik benar-benar telah bangkit dari antara orang mati. Sentuhan fisik tersebut
benar-benar memulihkan murid-murid yang dalam kondisi yang demikian.
Kedua,
ayat 44-46. Yesus
membuka pikiran para murid-Nya tentang isi Injil.
Setelah
Yesus menenangkan hati mereka dari rasa ketakutan, Ia kemudian “membuka”
pikiran mereka, “sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Luk. 24:45). Kata Yunani
yang diterjemahkan “membuka” di sini adalah dianoigo. Kata itu berarti to
open thoroughly (membuka secara menyeluruh).
Matthew
Henry menjelaskan: ketika Kristus “membuka pikiran mereka”, Ia memberikan
pengertian yang mendalam akan Firman Allah, yang mereka pernah dengar, dan oleh
iman mereka percaya akan kebangkitan Kristus, dan semua keraguan menjadi
terang.
Ketiga,
ayat 47-49.
Murid-murid menjadi saksi dalam memberitakan Injil. Injil harus diberitakan ke
seluruh dunia. Injil bersifat universal. Perutusan para murid untuk mewartakan
Kabar Baik kepada bangsa-bangsa adalah pemenuhan kitab Suci. Mulai dari
Yerusalem dalam arti bahwa janji-janji harus pertama-tama terpenuhi bagi Israel
sebelum bangsa-bangsa mendapatkan bagian di dalam penyelamatan. Namun sebelum
pergi dan memberitakan Injil, murid-murid diminta untuk menunggu janji Tuhan.
Roh Kudus akan dicurahkan bagi mereka melalui peristiwa Pentakosta di
Yerusalem.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Kita
mencatat beberapa pokok refleksi.
Pertama, kita masih dalam suasana
Paskah. Paskah Tuhan hadir untuk memulihkan mereka yang dalam keadaan takut,
terbeban, dst. Oleh karena itu, sebagai orang yang mengimani peristiwa Paskah
kehadiran kita kehadiran yang memulihkan.
Kedua,
kehadiran yang memberi bukti.
Yesus hadir dengan mengucapkan kata shalom. Bukan shalom yang
kosong tetapi yang bermakna. Ia menunjukkan diri-Nya dan bekas luka yang ada di
bagian tubuh-Nya sehingga murid-murid percaya. Merayakan Paskah untuk meyakinkan orang agar percaya dan membawa pemulihan, maka disertai bukti, karya nyata bukan bukan omon-omon.
Perayaan Paksah bukan hanya sekedar ritual keagamaan namun aksi nyata.
Ketiga,
Dia adalah Tuhan yang tidak bisa
dibatasi atau orang biasa bilang, katong sonde bisa kurung Tuhan. Walaupun
ruangan tertutup namun Dia hadir menampakkan diri kepada murid-murid kemudian
menghilang. Perayaan Paskah kita diingatkan bahwa kita bisa menutup segala
sesuatu, sembunyi segala sesuatu kepada manusia, tetapi tidak demikian kepada
Tuhan. Orang biasa bilang, katong bole omong kosong orang laen, karja
sambunyi-sambunyi kuku, tapi sonde bisa sambunyi deng Tuhan.
Keempat, Paskah adalah kebangkitan yang membuka hati dan pikiran kita. Murid-murid yang pikiran dan hati tertutup, ketika dengan penampakan, maka Ia membuka hati dan pikiran mereka. Merayakan Paskah harus disertai dengan membuka hati dan cakrawala berpikir kita. Keselamatan itu bersifat universal. Injil itu semua untuk makhluk, bukan kelompok tertentu. Semua orang berekspresi sesuai dengan keyakinan imannya. Katong sonde bisa klaim bahwa katong yang paling benar yang lain salah semua. Katong pemilik tunggal keselamatan. Katong sonde bisa puku dada bilang dong copy ame kita pung. Tidak, merayakan Paskah hati dan pikiran kita harus dibuka bahwa Injil bersifat universal. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar