RENUNGAN BULAN BUDAYA : MAZMUR 1:1-6

 

Budaya tercipta dari interaksi manusia yang berulang dan jadi kebiasaan bersama. Kebiasaan yang diulang-ulang dari individu jadi kolektif. Oleh karena itu, budaya sesuatu yang tidak statis, namun dinamis, terus bergerak sesuai dengan perkembangan. Kita bicara tentang budaya masa lalu, masa kini dan budaya yang akan terus berkembang di masa depan. Misalnya, kalau kita meminta orang tua yang lahir tahun 70-an, untuk menilai cara berbusana anak-anak di tahun 2000-an, maka mereka akan merasa risih. Juga cara menghormati orang, cara makan. Anak-anak di zaman sekarang, tidak mau mendengar khotbah dan nasihat panjang lebar, mereka juga tidak mau duduk berlama-lama, dst. Pengaruh globalisasi akan tercipta budaya-budaya baru yang positif maupun negatif.

Di minggu kedua bulan budaya kita belajar dari bacaan saat ini.

PEMBAHASAN TEKS

Konteks Teologis dan budaya Kitab Mazmur menjadi perbincangan yang menarik. Kitab ini merupakan bagian integral dari Alkitab, yang kaya akan himne, doa, dan pujian kepada Tuhan.

Dalam esensinya, Mazmur memberikan suara kepada berbagai aspek kehidupan rohani dan emosional umat Yahudi. Jemaat-jemaat Yahudi yang berbahasa Ibrani atau Aram menyebut Kitab Mazmur sebagai safer tehillim, artinya kitab puji-pujian, atau singkatnya tehillim.

Nilai-nilai Budaya Israel kuno tercermin dalam Kitab Mazmur, memberikan latar belakang penting untuk memahami konteks dan makna dari setiap puisi atau doa. Nilai-nilai budaya seperti penghormatan terhadap otoritas, kepatuhan terhadap hukum Taurat, dan pentingnya beribadah di Bait Suci memengaruhi pemahaman dan penyusunan Kitab Mazmur. Selain itu, tradisi musikal dan retorika juga menjadi bagian integral dari kebudayaan yang mempengaruhi gaya sastra dalam penulisan Kitab Mazmur.

Budaya kontemporer dari pesan dan nilai-nilai Kitab Mazmur tidak dapat diabaikan. Meskipun Kitab Mazmur memiliki akar yang dalam konteks teologis dan budaya kuno, pesan pesan dan nilai-nilainya tetap relevan dalam konteks kontemporer.

Teks Kitab Mazmur 1:1-6 memperkenalkan dua jalur kehidupan yang bertolak belakang jalan orang benar dan jalan orang fasik. Sebagai salah satu bagian dari Kitab Mazmur yang kaya akan nilai-nilai rohani, teks ini mengundang manusia untuk merenungkan pilihan pilihan hidup, yang dijalani saat ini.

TAFSIRAN

Pertama, 1-3 berbicara tentang orang benar (bnd. ay.6) yang hidupnya merenungkan Taurat Tuhan. Seruan "berbahagialah" termasuk bahasa orang bijak/bijaksana dalam bentuk pujian. Pujian mengandung ajakan kepada para pendengar untuk melaksanakan apa yang didengarnya. Berbahagialah adalah suatu seruan kegembiraan, pujian, ajakan dan harapan. Isinya dapat bermacam-macam, namun selalu tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Kata yang digunakan dalam ayat 1 adalah "ashera" yang berarti "betapa berbahagia" atau "betapa diberkati". Yang membuat hal ini menarik perhatian karena merupakan kata pertama dalam kitab Mazmur. Kebahagiaan yang diperoleh melalui kepatuhan dan ketaatan kepada ajaran Tuhan.

Dalam konteks ini, ada tiga aspek utama yang digambarkan sebagai ciri orang yang bahagia. Pertama, orang yang tidak berjalan, tidak berdiri dan tidak berkumpul dengan orang fasik. Pemazmur memperhadapkan kepada pembaca kepada pilihan hidup. Penegasan pada bagian kedua,

yaitu, “merenungkan Taurat Tuhan”. Orang bahagia dalam konteks Kitab Mazmur adalah mereka yang rajin merenungkan dan memperhatikan ajaran Tuhan, yang disebut sebagai Taurat. Taurat ini meliputi hukum-hukum, perintah-perintah, dan ajaran-ajaran yang diberikan oleh Tuhan kepada umat-Nya. Ketiga, orang yang bahagia adalah mereka yang meneliti dan menaati ajaran Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka menemukan kegembiraan dan keberhasilan dalam hidup mereka karena ketaatan mereka terhadap Taurat Tuhan.

Orang benar digambarkan sebagai mereka yang menikmati kedamaian dan kesuksesan dalam hidup mereka karena mereka hidup sesuai dengan ajaran Tuhan, sementara orang fasik dipandang sebagai mereka yang tidak taat dan akhirnya mengalami kegagalan dalam hidup. Orang-orang tidak berjalan, berdiri dan duduk bersama orang fasik, suka Taurat Tuhan, mereka seperti gambaran di ayat 3. Orang-orang itu “Seperti Pohon yang ditanam di tepi aliran air”. Dalam metafora ini, orang yang bahagia digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Pohon yang ditanam di sepanjang aliran air akan memiliki akses yang cukup terhadap sumber air yang penting bagi pertumbuhannya. Demikian pula, orang yang bahagia adalah mereka yang hidup dalam keterhubungan yang erat dengan Tuhan dan ajaran-Nya. Mereka mencari kehidupan rohani dan moral yang kaya dan berkembang, sebagaimana pohon yang subur di tepi aliran air. Kebahagiaan manusia dibandingkan dengan sebatang pohon yang diambil dari tempat pertumbuhannya dan ditanam kembali dekat dengan sumber air, di tanah yang lebih baik, lebih menguntungkan untuk perkembangannya.

Penegasan pada awal ayat mengindikasikan maksud penyair Mazmur untuk menyoroti perbedaan yang jelas antara mereka yang diberkati, yang diibaratkan sebagai pohon yang tumbuh subur di tepi sungai, dan mereka yang tidak memiliki iman dan menentang hukum ilahi.

Kedua, ayat 4-5, tentang hakikat orang fasik dan nasibnya. Dengan menggunakan metafora, penulis menggambarkan bahwa orang-orang jahat mudah hancur dan dihempaskan oleh angin seperti debu dan sekam. Mereka tidak akan tenang dalam kehidupan. Mereka tidak memiliki pendirian dan prinsip hidup. Mereka merasa tidak nyaman berkumpul bersama orang-orang benar. Mereka dibandingkan dengan debu, mereka tidak akan dapat berpartisipasi dalam penghakiman yang benar oleh Allah.

Ketiga, ayat 6a, pendasaran teologis sebagai kesimpulan tentang perbedaan hakikat dan nasib kedua jalan ini.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Pertama, kita hidup di zaman terus berubah, yang menghadirkan budaya-budaya baru. Budaya-budaya membawa pengaruh yang baik namun juga pengaruh yang buruk, karena itu kita diingat oleh firman Tuhan agar tidak mengikuti pengaruh-pengaruh yang buruk. Mari kita membiasakan untuk mengikuti ajaran-ajaran yang baik dan menciptakan komunitas yang menghadirkan kebaikan.

Kedua, kita membiasakan diri untuk membangun ibadah-ibadah dalam keluarga, berdoa, membaca Alkitab dan belajar. Jadikan itu sebuah kebiasaan. Jika kita membangun budaya itu dalam rumah tangga kita, keluarga kita, maka kita mampu menghadapi berbagai tantangan, berupa budaya atau kebiasaan yang merusak iman kita sebagai orang percaya.

Ketiga, kita menciptakan budaya dalam keluarga, lingkungan, yang berlandaskan firman Tuhan, maka kita dan anak-anak kita akan kuat menghadapi tentangan zaman. Kita dan anak-anak kita akan tetap berdiri teguh. Kita dan mereka tidak terhempas dari persaingan, kita dan mereka tidak kehilangan identitas, melainkan mampu menghadapi dengan kekuatan iman dan moral. Kita dan mereka tidak lari dari tanggungjawab yang dipercayakan baik kepada kita maupun mereka. Amin. (FN)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

MENJAGA DIRI DARI MINUMAN KERAS (AMSAL 31:1-9 )

TUA ADAT: HP HARUS MENGHASILKAN UANG BUKAN MENGHABISKAN UANG