RENUNGAN KENAIKAN YESUS KE SURGA: KISAH PARA RASUL 1:6-11
Tema perenungan kita
bersama dalam masa raya kenaikan Yesus ke surga adalah Yesus Terangkat, Misi Terus
Dikabarkan. Apa itu misi? Misi
diartikan sebagai pengutusan. Siapa yang mengutus? Tuhan yang mengutus melalui
gereja-Nya. Misi sebagai keseluruhan karya Allah untuk menyelamatkan dunia
yakni dengan pemeliharaan Israel, pengutusan para nabi kepada Israel dan kepada
bangsa-bangsa di sekitarnya. Kemudian pengutusan Kristus kepada dunia,
pengutusan rasul-rasul, perkabaran-perkabaran Injil kepada bangsa-bangsa. Misi
lebih luas dari pemberitaan Injil. Misi tidak boleh dipenjarakan dalam
batas-batas teritori dab budaya tertentu. Misi adalah gerakan yang “melingkar” bukan
sebuah garis lurus, melainkan garis bundar. Ia bukan sebuah gerakan linear
melainkan gerakan konsentris. Ia tidak menghakimi melainkan merangkul. Kita mencatat
beberapa model misi yang dikembangkan di NTT.
Model misi pertama adalah penanaman
gereja. Model ini kita warisi dari
misionaris yang membawa ke Kristenan di pulau Timor. Model ini menekankan
pendirian dan pengorganisasian gereja. Model misi kedua adalah model misi
penobatan. Model ini menekankan pertobatan individu yaitu penerimaan Yesus
sebagai Juruselamat pribadi. Model misi ketiga adalah introvert. Model ini terlihat bagaimana gereja-gereja menata
pelayanan untuk kesejahteraan anggotanya. Model misi ketiga ini sudah membuka
diri pada kepedulian untuk mengembangkan pelayanan yang holistik dalam gereja.
Namun pelayanan gereja masih terbatas pada anggota gereja. Model misi keempat
adalah model yang terbuka pada dunia. Model ini adalah pelayanan yang holistik
dan mengarahkan kepada mereka yang di luar persekutuan
PEMBAHASAN
TEKS
Pembicaraan
tentang kerajaan Allah itu sangat menarik bagi
murid-murid Yesus. Hal itu terlihat dari sikap antusias para murid yang segera
ingin meninggalkan Yerusalem untuk memberitakan berita tentang Yesus. Namun hal
itu dicegah oleh Yesus. Mereka harus tetap tinggal di Yerusalem untuk
menantikan janji Bapa, mereka akan dibaptis dalam Roh Kudus. Ini bermakna bahwa
saatnya akan tiba para murid itu diutus oleh Yesus dengan bekal dan penyertaan
Allah Bapa, melalui pencurahan Roh Kudus.
Pertanyaan
murid-murid Yesus, ”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi
Israel?” (ay. 6), menunjukkan bahwa murid-murid masih berpikir bahwa kerajaan
Allah itu hanyalah bagi Israel bukan untuk bangsa lain. Pemahaman itu dikoreksi
Yesus. Ia mengatakan, ”Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang
ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan
kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung
bumi.” Dengan Jawaban ini, Tuhan Yesus mengatakan bahwa kerajaan Allah tidak
hanya terbatas pada suku, bangsa dan budaya, bahkan agama tertentu. Kerajaan
meliputi seluruh bumi. Selain itu hadirnya kerajaan Allah adalah urusan Allah
sendiri! Itu bukan urusan manusia, namun yang terpenting para murid akan
menerima Roh Kudus dan menjadi saksi hingga ke ujung bumi.
Setelah Yesus berpesan demikian,
terangkatlah Ia ke surga (ay. 9). Sebelum
Tuhan Yesus berpisah dengan murid-murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka,
"kamu adalah saksi dari semuanya ini" (Luk. 24:48). Kenaikan Yesus ke surga
menjadi awal dari perutusan para murid agar menjadi saksi-Nya. Pengalaman hidup
bersama Yesus harus dipersaksikan kepada dunia karena Allah menghendaki
keselamatan semesta. Inti kesaksian para murid adalah kerajaan Allah. Kerajaan
Allah yang dimaksud bukan seperti yang dipahami oleh murid-murid, yaitu upaya
pengembalian kejayaan kerajaan Israel seperti yang telah dibangun oleh raja
Daud. Mereka berpikir dengan bisa kembali pada kehidupan seperti masa lalu
hidup ini menjadi lebih baik. Bagi Tuhan Yesus pandangan itu keliru. Kerajaan
Allah bukan pengembalian kejayaan masa lalu tetapi upaya melihat ke depan.
Kerajaan
Allah itu nyata dalam pelayanan-Nya bersama murid-murid selama ini. Pelayanan
Yesus tidak hanya lewat pengajaran namun lewat aksi nyata. Ia mengajar tentang
hal kerajaan Allah; mereka yang lemah dikuatkan, mereka yang hilang pengharapan
Yesus memberikan pengharapan, mereka yang menyimpan dari jalan kerajaan Allah
dikembalikan ke jalan yang benar. Mereka yang salah ditegur. Ia tidak segan
menegur para imam yang membelokkan kerajaan Allah dan juga berani mengkritisi
pemerintahan yang lalim pada waktu itu. Setelah mengajar Ia menyembuhkan orang
sakit, orang mati dibangkitkan, memberi makan kepada mereka yang lapar, dst.
Kemudian Ia mati dan pada hari yang ketiga Ia bangkit dan menampakkan diri kepada
murid-murid. Murid-murid menjadi saksi hidup atau saksi ahli yang melihat dan
mengetahui kejadian-kejadian tersebut. Karya yang Yesus kerjakan dan yang
paling puncak ialah kebangkitan-Nya. Kita menemukan seruan ini secara implisit kepada murid-murid:
Pertama,
Tuhan Yesus mengatakan agar para murid menjadi saksi, mulai dan Yerusalem.
Mengapa mulai dari Yerusalem? Seorang bernama Marthin Harun memberikan tafsiran
yang menarik. Di Yerusalem, Yesus ditolak bahkan di salibkan. Setelah Ia
bangkit, Yesus tidak mengutuk Yerusalem, melainkan meminta para murid menjadi
saksi dengan menjalankan misi-Nya. Dengan bahasa lain, Yesus mengatakan bahwa
misi Yesus dari Yerusalem mempunyai maksud khusus. Kepada bangsa Yahudi yang
menolak dan membunuh, Yesus ingin memberi kesempatan baru. Pemberitaan berita
pertobatan yang dimulai dari bangsa Yahudi menunjukkan ajakan rekonsiliasi oleh
Yesus. Bahwa dalam kenyataan selanjutnya bangsa ini menolak tawaran
rekonsiliasi yang ditawarkan Yesus, penolakan itu akan mempercepat misi Yesus
kepada bangsa-bangsa (Kis
13:44-49).
Di sini kita menemukan bahwa pengampunan dan semangat rekonsiliasi adalah kunci
dasar dari kehidupan bersama.
Kedua,
dari bacaan Injil kita melihat
perubahan sikap hidup dalam diri
murid-murid
Tuhan Yesus setelah naik ke surga dan memberikan berkat bagi
murid-murid-Nya. Di katakan oleh
Lukas bahwa “Lalu
mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada
di Bait Allah dan memuliakan Allah”.
Berkat
yang dinyatakan Yesus
membuat para murid pulang ke Yerusalem dengan sukacita. Kesukacitaan itu
membawa mereka ke dalam persekutuan dan
dirayakan di
dalam Bait Allah. Marthin Harun menggarisbawahi peristiwa kenaikan ini sebagai
momen penuh kegembiraan dan mendorong umat mengangkat pujian bagi Tuhan.
Dengan kedudukan-Nya di sisi kanan Bapa. Yesus menyertai, memberkati, memberi
semangat baru, membekali, mengampuni dan memberdayakan umat-Nya dalam melaksanakan misi dalam dunia ini.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama,
Yesus terangkat
ke surga disaksikan oleh para murid. Eka Darmaputera menerjemahkan kenaikan Yesus
menjadi babak baru bagi para murid untuk melanjutkan karya Allah. Anda dan saya yang hari merayakan kenaikan
yesus ke surga adalah murid-murid Yesus yang memberikan kesaksian tentang
kerajaan Allah melalui pengajaran dan karya nyata kita, baik dalam jemaat
maupun masyarakat.
Kedua, ketika murid-murid menengadah ke
langit untuk melihat Yesus yang naik, tiba-tiba berdirilah dua orang berpakaian
putih yang mengatakan agar para murid tidak hanya melihat ke langit. Yesus yang
naik itu akan kembali dengan cara yang sama seperti yang dilihat oleh para
murid. Perkataan itu bermakna bahwa Yesus tetap menyertai murid-murid-Nya. Jangan takut, malu bersaksi, berkarya menghadirkan
kerajaan Allah karena Ia menyertai kita. Roh Kudus akan memampukan kita dalam
kesaksian dan karya nyata kita. Jangan hanya terus menengadah ke langit (nam`kak)
tetapi sekarang melihat ke depan.
Ketiga, kerajaan Allah dihadirkan bagi semua suku bangsa. Yesus
merubah pemahaman murid-murid ketika berbicara tentang kerajaan Allah.
Murid-murid yang bersikap eksklusif, kini Ia membuka pikiran mereka bahwa
keselamatan untuk semesta. Misi itu bukan garis lurus melainkan melingkar yang
artinya merangkul semua orang tanpa memandang latar belakang. Kerajaan Allah itu
kepada mereka yang menolak Dia atau menerima Dia, sehingga Ia mengatakan bahwa
mulai dari Yerusalem sampai ke ujung-ujung bumi. Maka dengan demikian, kita
tidak bisa mengatakan bahwa keselamatan hanya milik kami, di luar kami tidak
ada keselamatan.
Keempat, kerajaan
Allah harus diberitakan ke ujung-ujung bumi, mau menegaskan bahwa sebagai murid Yesus harus bersikap inklusif. Pandangan
bahwa kami adalah bangsa pilihan yang menutup diri bagi bangsa lain, budaya,
ras, etnis unggulan harus ditanggalkan. Kita berada dalam bulan budaya GMIT
yang bertepatan dengan masa raya kenaikan Yesus ke surga; melalui firman Tuhan
saat ini kita diingatkan bahwa budaya dalam
liturgi bukan pertunjukan (show) atau “performance” melainkan
persembahan, pujian dan doa. Yesus yang ditinggikan bukan budaya..
Kelima, berbicara
tentang misi tidak hanya pemberitaan Injil, sebab misi
lebih luas dari pemberitaan Injil. Model misi seperti apa yang kita kembangkan?
Amin.
Selamat merayakan kenaikan Yesus ke surga.

Komentar
Posting Komentar