RENUNGAN PENTAKOSTA : KISAH PARA RASUL 2:1-13

 Perkembangan teknologi informasi dewasa ini memberikan manfaat dan kemudahan yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial merupakan salah satu dari perkembangan yang dimaksud. Meski demikian, juga tak dapat dipungkiri bahwa di balik kemudahan-kemudahan tersebut, terdapat dampak negatif dari pemanfaatan yang tidak semestinya. Banyak informasi berseliweran, informasi yang meresahkan, yang mengadu domba, yang memecah belah. Muncul ujaran-ujaran kebencian, pernyataan-pernyataan yang kasar, mengandung fitnah dan provokatif. Hal tersebut bukanlah budaya dan kepribadian yang dimiliki bangsa Indonesia.

Apakah informasi merupakan ekspresi dari kondisi masyarakat kita?

Teori yang cukup menjadi acuan adalah, bahwa bahasa merupakan ekspresi dari pikiran.  Filsuf asal Austria, Ludwig Wittgenstein,  mengatakan bahwa bahasa lahir dari suatu konteks. Konteks itu disebutnya sebagai permainan bahasa (language games). Di dalam permainan bahasa, ada aturan yang harus dipatuhi. Makna suatu kata atau suatu aktivitas selalu harus dilihat dalam konteks permainan bahasanya. Namun Wittgenstein juga menambahkan, bahwa makna dari suatu kata tidaklah melulu lahir dari konteks semata, tetapi juga dari penggunaannya.

PEMBAHASAN TEKS

Murid-murid berkumpul di Yerusalem sesudah Yesus terangkat ke sorga sangat penting. Ada kesan dalam bacaan ini bahwa mereka semua hadir dan tidak ada yang tinggal di rumah. Mereka bertekun dengan sehati dan berdoa bersama-sama.

Tiba-tiba turun dari langit tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah. Menurut J.H. Banvinck, sebenarnya tidak ada angin ribut, hanyalah satu bunyi seperti tiupan angin keras. Walaupun bunyi besar tiupan angin tersebut bersifat lembut dan satu/tunggal bukan angin- angin. Jadi, angin dalam teks ini diindikasikan bahwa tanda atau lambang dari kuasa yang Ilahi, Roh Kudus. Istilah  dalam bahasa Yunaninya pnoEs yang artinya angin, napas. Istilah ini disebutkan dua kali dalam kitab Kisah Para Rasul, yakni 2:2; 17:25. Namun, istilah ini mengalami dinamisasi dengan istilah πνεΰμα, yang berarti napas, angin, roh, yang artinya  roh, sikap, dan semangat. Lebih lanjut, Gerrit Riemer mengemukakan bahwa gejala alam angin menjelaskan arti roh secara tetap. Angin itu sendiri tidak dapat dilihat, tetapi membuat pohon  dan rumput bergerak. Ruah adalah energi, kekuatan, dan kekuasaan. “Nafas” yang membuat makhluk-makhluk (manusia dan binatang) hidup. Jadi, Roh adalah energi, kekuatan atau  kekuasaan yang tidak dapat dilihat, tetapi yang efektif untuk melakukan atau menggerakkan sesuatu, baik di tingkat yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

Sekejap kemudian tampaklah api. Nampak di kepala mereka lidah-lidah seperti nyala api melayang-layang dan hinggap di atas kepala mereka masing-masing. Banvinck mengatakan orang-orang yang dihinggapi lidah-lidah api tak merasakan hanya api yang di atas kepala temannya yang tampak olehnya. Api di atas kepala mereka berupa lidah seolah-olah Allah mau memberi isyarat bahwa mereka harus berbicara seketika itu juga. Kemudian mulailah mereka berbicara dengan bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka. Di sini hukum-hukum bahasa tidak laku; kata-kata baru kedengaran dan bukan pidato yang panjang lebar tetapi seruan-seruan yang memuliakan Allah. Api adalah lambang  Roh Kudus yang menyucikan dan memurnikan keyakinan, supaya  semakin sungguh-sungguh percaya dan hidup di dalam Yesus Kristus.

Roh  Kudus juga sering digambarkan sebagai api karena Ia berfungsi untuk menyucikan atau menguduskan kita dari belenggu dosa. Karena itu, tanda dari orang yang mempunyai Roh Kudus atau dipenuhi Roh Kudus adalah adanya perubahan hidup ke arah yang konstruktif dan positif supaya dipakai oleh Roh Kudus untuk membangun orang lain dan bukan kemampuan untuk berbahasa roh.

Yang membuat keheranan bagi para hadirin, mereka mendengar orang berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Di antara mereka ada orang-orang proselit yang berasal dari Afrika Utara dan negeri-negeri Arab; ada yang dari Asia kecil dan sebelah Timur dan dari dataran tinggi Iran. Ungkapan “dari semua bangsa di  bawah  langit”  berarti  “dari  banyak tempat,” atau dari semua bangsa di mana orang Yahudi diserakkan. Menanggapi istilah itu, Bock menyatakan bahwa penggunaan frasa ini tidak  hanya melukiskan keragaman etnis orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, namun     juga secara geografis di mana mereka secara kebetulan datang dari luar daerah ke Yerusalem. Di satu sisi, Yerusalem adalah pusat kosmopolitan di mana banyak orang Yahudi yang sudah tersebar ke segala daerah di luar Palestina datang kembali dan menetap di sana. Kata "tinggal/katoikountes biasanya berarti sesuatu yang lebih dari sekedar tinggal atau berkunjung sementara. Bagaimanapun, karena itu adalah Hari Raya Pentakosta salah satu dari tiga pesta yang diharuskan oleh tradisi untuk hadir di Yerusalem (Ulangan 16:16) dapat diyakini bahwa mungkin sebanyak satu juta orang Yahudi dari seluruh penjuru yang dikenal dunia berada di Yerusalem. Mereka adalah orang-orang yang taat dan takut akan Tuhan, tulus dalam menyembah Tuhan. Mereka akan berada di Yerusalem saat itu    dari pada saat Paskah, karena perjalanan di Laut Mediterania lebih aman pada musim itu. Mereka semua mengerti bahasa Yunani tetapi yang anehnya adalah seakan-akan bahasa mereka sendirilah yang diucapkan oleh murid-murid itu. Ini sebuah keajaiban dan melalui keajaiban itu Allah telah menyatakan bahwa yang empunya segala bahasa ialah Allah melalui Roh Kudus. Dahulu kala di Babel (Kej. 11) ketika manusia dengan keinginannya yang penuh dosa bersatu Allah mengacaukan bahasa mereka. Mereka mendirikan menara Babel dan saat itu umat manusia terbagi-bagi dalam berbagai suku dan bangsa. Frasa, “bahasa-bahasa lain,” dari kata Yunani disebut έτέραις γλώσσαις. Frasa ini diartikan sebagai bahasa-bahasa lain/asing. Istilah γλώσσαις atau glOssais terkandung makna bahwa para murid Yesus Kristus mulai berkata-kata dalam bahasa lain/asing (ay. 4) atau bahasa orang lain/bangsa lain (ay. 11) yang    bersifat lembut karena diberikan oleh Roh kepada mereka.

Dalam konteks peristiwa Pentakosta, bahasa Ibrani adalah bahasa tinggi karena dipergunakan dalam ibadah, tetapi peristiwa itu terjadi bukan di rumah ibadah melainkan di rumah biasa, hal ini menunjukkan bahwa ketika Roh Kudus dicurahkan dan mulai menggerakkan para murid untuk berbicara dalam bahasa-bahasa lain, bahasa itu adalah bahasa sehari-hari atau bahasa rendah. Hal ini menguatkan pendapat Bock yang menyatakan bahwa frasa “egennēthēmen” (tempat kelahiran), berguna untuk menegaskan bahwa yang dimaksud adalah bahasa asal atau bahasa ibu orang-orang itu. Tuhan memakai alat bahasa yang paling akrab dengan setiap kelompok bangsa untuk memastikan bahwa pesan itu sampai kepada pendengarnya dalam bentuk yang mengena bagi mereka.

Roh Kudus diberikan kepada murid agar mereka mengatakan kebenaran. Ketika Roh Kudus memberikan otoritas dan kuasa kepada seseorang untuk menyatakan kebenaran, maka apa yang diucapkan oleh orang itu tetap muncul “dengan akal yang sehat.” Dengan kata lain, terjadi sinergi antara karunia berkata-kata dari Roh Kudus dan pikiran yang jernih dari orang tersebut. Maka, ketika itu terjadi, apa pun yang keluar dari mulut orang itu akan sungguh- sungguh menjadi sebuah “bahasa lidah.” Apa yang supernatural adalah Roh Kudus itu sendiri, yang bekerja melalui cara-cara natural dan manusiawi, melalui bahasa sehari-hari. 

 

POKOK-POKOK RENUNGAN

Ada beberapa pokok refleksi:

Pertama, kabar baik harus disampaikan  menggunakan bahasa yang sederhana, bahasa ibu (bahasa daerah) dan dimengerti oleh pendengar. Bahasa yang menyembuhkan. Misalnya  seorang guru, dosen, ketika mengajar di kelas murid-murid mengerti dan semangat belajar, seorang pastor/pendeta berkhotbah memberi kesejukan dan menyembuhkan, dst. Roh Kudus bekerja melalui setiap kita yang berbicara, menulis, orang yang mendengar dan membaca mengerti dan membawa kesejukan.

Kedua, sebagai orang-orang yang dituntun oleh Roh Kudus; postingan-postingan di media sosial memberi pencerahan, menyembuhkan, mendamaikan dan memulihkan. Budaya timor sangat menjunjung tinggi persaudaraan, kerja sama, saling menghormati dan menghargai. Itu pertanda bahwa Roh Kudus sudah terlebih dahulu bekerja dalam budaya-budaya kita. Oleh karena itu, dengan semangat Pentakosta kita menghidupi kembali budaya tersebut. Roh-roh zaman yang merusak persaudaraan karena provokasi-provokasi melalui postingan-postingan media sosial harus dilawan bersama dengan menyampaikan informasi  benar.

Ketiga, Roh Kudus memberikan semangat untuk bersaksi kepada semua suku menggunakan berbagai bahasa. Berita kesaksian itu menyatukan, memberi kesejukan dan semangat. Jadi, jikalau kesaksian kita membuat jemaat terpecah, menakuti, maka kesaksian itu bukanlah pekerjaan Roh Kudus. Jika bulan Budaya yang kita rayakan hanya memperkuat egoisme dari setiap suku, mengagung-agungkan budaya tertentu maka itu bukan pekerjaan Roh Kudus.

Keempat, kawan saya bercerita bahwa dia ditugaskan di sebuah daerah yang agama dan suku berbeda dengannya. Suatu kali dia menumpang mobil bersama sekelompok orang. Dalam mobil orang-orang yang memandang dia seperti menaruh curiga karena cara berpakaian berbeda dengan rombongan tersebut. Dia melempar senyum kepada mereka tetapi tak ada yang respon. Ada tempat duduk kosong di samping sana, namun dia tidak dipersilakan duduk. Tiba-tiba seorang anak kecil menangis, kawan ini mengambil cemilan di dalam sakunya memberikan kepada anak tersebut lalu berbicara dengan dalam bahasa daerah setempat. Anak itu diam dan suasana dalam ruangan berbeda. Ada kelegaan, mereka mempersilakan duduk di kursi yang kosong tadi. Dari cerita kawan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kehadiran seseorang hanya di terima dalam sebuah masyarakat jika ia hidup bersama dalam konteks masyarakat setempat. Amin. FN.

Selamat merayakan hari Pentakosta.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

MENJAGA DIRI DARI MINUMAN KERAS (AMSAL 31:1-9 )

TUA ADAT: HP HARUS MENGHASILKAN UANG BUKAN MENGHABISKAN UANG