RENUNGAN SYUKUR PENTAKOSTA : IMAMAT 23:15-22
Hari Senin setelah perayaan
Pentakosta (hari Minggu), gereja-gereja (GMIT) melaksanakan kebaktian Syukur Pentakosta. GMIT
tidak mengenal istilah Pentakosta kedua. Jemaat-jemaat merayakannya
sebagai hari raya Syukur Panen. Jemaat membawa hulu hasil untuk dipersembahkan
kepada Tuhan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan. Hulu hasil dipersembahkan
melalui sebuah akta ibadah, setelah itu gereja mengaturnya untuk pelayanan di
gereja. Ada gereja yang menjual untuk membiayayi pembangunan gedung gereja,
membiayayi program-program pelayanan dan ada juga gereja yang berbagi dengan
orang-orang miskin sebagai persembahan diakonia.
Persembahan hulu hasil adalah sesuatu yang
dipersiapkan secara khusus. Persembahan yang diberikan adalah
dari hasil yang terbaik. Bulir jagung yang terbaik, singkaon yang
terbaik, kacang yang terbaik, dll. Diberikan dengan tujuan ucapan syukur,
mengakui kedaulatan Tuhan atas hidup manusia, tanda penyerahan diri dan janji
kepada Allah. Memberi persembahan berupa hulu hasil merupakan salah satu bentuk
tindakan iman para petani yang percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Apa pun yang
dipersembahkan kepada Allah sebenarnya berasal dari Allah.
Ada
dua bentuk persembahan di GMIT yakni: uang dan natura. Dalam pelaksanaannya,
persembahan diberikan dalam ibadah dan dikumpulkan oleh presbiter yang
bertugas, lalu diserahkan kepada bendahara majelis jemaat atau pemegang kas.
Gereja
mengelola persembahan secara profesional, tertib, terbuka, dapat
dipertanggungjawabkan, dan berkelanjutan. Profesional berarti pengelolaan
persembahan harus berdasarkan keahlian. Tertib berarti pengelolaan persembahan
didasarkan pada perencanaan yang mengacu pada sistem yang sudah baku. Terbuka
berarti dapat diakses oleh siapa saja. Dapat dipertanggungjawabkan berarti
pengelolaan persembahan harus dipertanggungjawabkan secara iman, administrasi
dan hukum. Berkelanjutan artinya persembahan dikelola dengan mempertimbangkan
pembiayaan pelayanan
PEMBAHASAN TEKS
Imamat
pasal 23 menguraikan perayaan-perayaan yang telah ditetapkan dan yang
diperintahkan kepada Israel untuk dirayakan. Perayaan-perayaan ini bukan
sekadar tradisi budaya, tetapi waktu-waktu ibadah yang ditetapkan, yang
menunjuk pada karya penebusan Allah dalam sejarah. Setiap perayaan memiliki
signifikansi pertanian, peternakan, sejarah, dan teologis.
Pentakosta
akarnya dalam PL. Hari Raya Tujuh Minggu (Ul. 16:10), juga dikenal dengan Hari Raya
Pentakosta, dirayakan pada akhir panen gandum, 50 hari (Pentakosta artinya lima
puluh) setelah Hari Raya Buah Sulung (ay. 16). Pada hari ini umat Allah
bersyukur atas berkat makanan berkelimpahan dan segala sesuatu yang menopang
mereka. Pada hari raya Pentakosta itulah Allah mencurahkan Roh Kudus atas
murid-murid Yesus (Kis 2:1-4).
Dalam
perayaan tersebut umat perlu membawa kurban (ay. 17), yaitu dua roti
unjukan, dua roti beragi dipersembahkan, melambangkan
persatuan umat Allah. Roti
ini beragi. Jika Pada perayaan Paskah mereka makan roti tidak beragi, karena
itu untuk mengenang roti yang mereka makan ketika mereka keluar dari Mesir,
yang tanpa ragi; tetapi sekarang pada Pentakosta roti itu beragi, karena itu
merupakan pengakuan akan kebaikan Allah kepada mereka dalam makanan biasa
mereka. Dengan seikat hasil pertama itu mereka hanya mempersembahkan seekor
anak domba untuk kurban bakaran, tetapi dengan roti hasil pertama ini mereka
mempersembahkan tujuh anak domba, dua ekor domba jantan, dan satu ekor lembu
jantan, semuanya untuk kurban bakaran, sehingga memuliakan Allah, sebagai Tuhan
tanah mereka dan Tuhan panen mereka, yang oleh kasih karunia-Nya mereka hidup
dan kepada pujian-Nya mereka harus hidup.
Mereka
juga mempersembahkan seekor anak kambing untuk kurban penghapus dosa, sehingga
mereka menanggung malu karena tidak layak menerima roti yang mereka makan, dan
memohon pengampunan atas dosa-dosa mereka, yang menyebabkan mereka kehilangan
rahmat panen mereka, dan yang telah mereka lakukan dalam menerimanya. Dan
terakhir, dua ekor anak domba untuk kurban persembahan damai, untuk memohon
berkat atas gandum yang telah mereka kumpulkan, yang tidak akan pasti atau
manis bagi mereka tanpa berkat itu. Inilah satu-satunya persembahan damai yang
dipersembahkan atas nama seluruh jemaat, dan persembahan ini dianggap sebagai
persembahan yang paling kudus (ay. 18). Kemudian umat juga perlu
mempersembahkan seekor kambing jantan sebagai kurban penghapus dosa, dan dua
ekor domba sebagai kurban keselamatan (ay. 19).
Israel
diingatkan oleh Tuhan untuk mengkhususkan hari bagi Tuhan (ay. 21, 24, 25).
Selain mempersembahkan kepada Tuhan hasil dari kebun, mereka juga diminta
berbagi dengan orang-orang miskin dan orang-orang asing (ay. 22). Hal itu
juga mengajarkan mereka bahwa sukacita panen harus diungkapkan dalam kasih
kepada orang miskin, yang harus mendapatkan hak mereka dari apa yang kita
miliki, seperti halnya Allah mendapatkan hak-Nya. Mereka yang benar-benar
menyadari belas kasihan yang mereka terima dari Allah akan tanpa ragu
menunjukkan belas kasihan kepada orang miskin
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama, syukur
Pentakosta adalah kita bersyukur atas berkat Allah yang dinyatakan lewat
pemberian persembahan kepada Tuhan. Persembahan merupakan tanda syukur kita
kepada Tuhan. Kita tidak lagi membawa domba atau kambing untuk dijadikan korban
bakaran di gereja sebab persembahan dalam PB berpusat pada Kristus. Karya
keselamatan melalui pengajaran dan pengorbanan Kristus mengubah konsep
persembahan yang dilakukan oleh bangsa Israel dalam PL. Ibrani 9:11-14;
10:10-18 menjelaskan Kristus sebagai imam Besar dan korban persembahan yang
dipersembahkan sekali untuk selama-lamanya sebagai persembahan yang tak
bercacat.
Kedua, syukur Pentakosta merupakan ungkapan rasa hormat
kita kepada Tuhan dan juga merupakan ungkapan ketergantungan kita kepada Tuhan.
Dari rasa ungkapan syukur dan ketergantungan tersebut, maka orang Israel ada
waktu-waktu tertentu dikhususkan untuk Tuhan. Oleh karena itu kita juga belajar
untuk menyiapkan waktu-waktu khusus untuk beribadah, karena waktu yang kita
khususkan juga merupakan persembahan kepada Tuhan.
Ketiga, Beribadah dan aksi sosial merupakan ungkapan
syukur yang nyata kepada Allah. Ungkapan sukacita panen harus diungkapkan
dalam kasih kepada orang miskin, yang harus mendapatkan hak mereka dari apa
yang kita miliki, seperti halnya kita mempersembahkan kepada Tuhan. Dalam Roma
12:1, Paulus menggunakan istilah “ibadahmu yang sejati” untuk menghubungkan
persembahan, ibadah, dan kehidupan. Artinya, persembahan harus bertolak dari
gereja untuk masuk ke dalam kehidupan masyarakat agar mampu menghadirkan kasih
Kristus secara nyata, dan memimpin jemaat untuk menyatakan karya Allah dalam
dunia. Hubungan antara persembahan, ibadah dan kehidupan menegaskan bahwa
kesaksian dan perbuatan, kesalehan dan kepedulian sosial merupakan suatu
kesatuan
Keempat, salah satu pokok ajaran GMIT tentang persembahan
mengatakan, persembahan merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. Tujuannya
adalah agar anggota jemaat memuliakan Allah dan mengimani Allah sebagai sumber
berkat yang berkuasa atas segenap ciptaan. Selain itu persembahan diadakan
untuk memelihara kehidupan sosial demi terciptanya keseimbangan dan keadilan
sosial. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar