KERENDAHAN HATI KARENA DITUNTUN OLEH ROH KUDUS (LUKAS 14:7-14)
Sebelum
kita membahas bacaan kita, sebaiknya kita melihat konteks Injil Lukas.
Pertama, Para
ahli Perjanjian Baru mengatakan bahwa Injil Lukas adalah Injil Sosial. Jemaat Penginjil Lukas adalah kelompok orang-orang
kecil, miskin dan terpinggirkan (kaum anawim) dalam lingkungan orang-orang
Kristen Yunani. Berhadapan dengan kenyataan tersebut, Lukas mengangkat beberapa
pokok, yakni Yesus sebagai Kristus/Mesias yang menderita, Yesus sebagai wajah
Allah yang penuh belaskasih dan pesan inklusif warta keselamatan Yesus
menjadikan yang outsiders (orang-orang yang berada di luar) sebagai insiders
(orang-orang yang berada di dalam). Pokok yang sangat relevan dengan bacaan kita
saat ini adalah Yesus sebagai Wajah Allah yang penuh belaskasih.
Belaskasih itu diberikan kepada semua orang, terutama
kepada mereka yang tidak mendapat belaskasih yang cukup dari sesamanya, antara
lain mereka yang miskin, terlantar, sakit, cacat dan berdosa.
Dalam konteks yang demikian, Lukas menampilkan Yesus
sebagai wajah Allah yang penuh belaskasih sesuai atau sejajar dengan cakrawala
sosial di dunia Timur Tengah pada zaman Yesus. Ada beberapa kenyataan di Timur
Tengah pada zaman ini, antara lain, yang kaya dimaksudkan untuk membantu mereka
yang miskin. Kemudian perhatian kepada hak kaum miskin adalah tugas istimewa
raja atau pemimpin.
Kedua, Allah yang berkompasio. Dalam hal ini, ada
dua pesan teologis; Pertama, Allah dalam Injil Lukas adalah Allah yang
berbelaskasih terutama bagi mereka yang miskin papa, kaum anawim. Perhatian
Allah terarah dan terutama kepada orang miskin; mereka yang betul-betul lemah
dan menderita. Kedua, Yesus menolong orang miskin, mempedulikan dan
memperhatikan nasib orang-orang lemah. Atau, dengan bahasa lain para
pengikutnya mesti berkompasio dengan sesama yang miskin dan menderita. Paus
Fransiskus menyebutnya dengan ungkapan solidaritas. Wujudnya, antara lain
membagikan kelebihan dari apa yang dimiliki seperti harta kekayaan.
Ketiga,
Yesus menjadi sahabat yang dianggap hina (Luk. 7:36-50; 19:1-10; 23:43) dan spritualitas keugaharian. Spritualitas keugaharian
adalah semangat hidup dalam kesederhanaan dan berkecukupan. Artinya di sini
kita di ajarkan untuk hidup dalam dunia kesederhanaan dan hidup berkecukupan
(Luk. 3:10-14). Dalam spiritualitas itu yang mendorong untuk bersahabat dengan
mereka yang hina.
PEMBAHASAN
TEKS
Tamu
undangan dan tuan pesta. Menurut budaya Yunani, jika seseorang mengadakan pesta
pernikahan, tamu terdiri dari berbagai kategori dan akan diatur untuk duduk di
posisi yang berbeda, dan bahkan jenis makanan akan berbeda juga, tergantung
pada tingkat kehormatan para tamu. Tuan pesta mengatur ruang penerimaan para tamu sesuai
jumlah tamu yang ia undang. Bacaan kita saat ini Yesus menghadiri sebuah pesta.
a. Tamu Undangan
Ayat 7, Yesus melihat tamu-tamu yang hadir
masing-masing mau duduk di tempat depan. Tidak ada yang mau duduk di belakang.
Kemungkinan tamu-tamu berdesakan mencari kursi yang di atur di depan. Oleh
karena itu Yesus memulai perumpamaan.
Ayat 8-10, kalau kamu pergi ke pesta jangan langsung
pergi ke tempat duduk di depan untuk duduk di sana, bersabar menunggu
sampai tuan pesta mempersilahkannya duduk di tempat yang ditunjuk oleh tuan
pesta. Karena kemungkinan tempat depan sudah disiapkan kepada orang lain.
Jangan sampai Anda telah duduk, tiba-tiba si tamu itu datang lalu Anda disuruh
berdiri dan duduk di belakang. Maka hal itu sangat memalukan diri Anda dan
menjadi perhatian dan olokan bagi orang lain. Oleh karena itu sebagai tamu
harus “tahu diri” dan memiliki kerendahan hati. Jika Anda diundang untuk
menghadiri pesta, pergilah dengan kerendahan hati, duduk di tempat yang paling
belakang, walaupun Anda mengenal diri dan status sosial Anda. Biarlah tuan
pesta yang datang dan mempersilakan Anda duduk di depan. Di situlah Anda dan
dihormati. Penghargaan dan penghormatan lahir dari kerendahan hati. Ayat 11,
Yesus menegaskan hal tersebut dan apa yang diperoleh mereka yang rendah hati.
b. Tuan Pesta
Ayat 12, Yesus menyampaikan kepada tuan pesta yang
mengundang. Apa bila mengadakan pesta jangan mengundang keluarga terdekat,
sahabat dan orang-orang kaya, karena dengan demikian engkau telah mendapat
balasan. Mengapa? Karena mengundang keluarga terdekat, sahabat dan orang kaya,
mereka adalah orang yang merasa dirinya terhormat dan penting. Mereka akan
menjaga dan mempertahankan harga dirinya dengan mengundang orang-orang yang
“setaraf” dengan dia. Kemudian ia juga dapat mengharapkan “undangan balasan”
sebagai “balas jasa” atau “balas budi” dari para undangannya agar ia makin
menegaskan kebesaran dirinya di hadapan manusia.
Ayat, 13-14, Yesus mengatakan siapa yang harus
diundang. Undanglah orang miskin, cacat, orang lumpuh dan orang-orang buta
(orang-orang tidak memiliki status sosial dalam masyarakat). Hal ini sesuai
dengan tujuan penulisan Injil Lukas, seperti yang telah dijelaskan di atas.
Undangan menunjukkan ketulusan hati tuan pesta. Tuang Pesta yang tidak menuntut
balas jasa dan mencari pujian. Tuan pesta undanglah orang-orang tidak memiliki
status sosial dan tidak memiliki apa pun untuk membalas budi atau balas jasa dari
sikap belas kasih yang mereka alami. Bagi mereka belas kasih pengundang tidak
dapat mereka bayar lunas. Tetapi mereka mati dalam berhutang kepada pengundang
sementara pengundang pun mati tanpa pernah merasa memberi piutang kepada
mereka. Tuan pesta akan memperoleh balasan pada waktu kedatangan Tuhan yaitu
keselamatan.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Dari teks ini kita mencatat beberapa pokok renungan.
Pertama, orang
yang dituntun oleh Roh Kudus adalah orang yang memiliki kerendahan hati.
Kerendahan hati tercermin dalam sikapnya sebagai undangan dan pengundang.
Kerendahan hati tidak mencari pujian, menuntut penghormatan saling menuntut
untuk membalas kebaikan. Dia tidak mencari tempat depan, kursi depan, untuk
dihormati, melainkan penghormatan tersebut datang karena kerendahan hatinya.
Hal tersebut terlihat dalam perumpamaan ini, Yesus berkata, jika engkau
diundang duduklah di tempat yang paling rendah, mungkin tuan rumah datang akan
datang dan berkata, sahabat, silahkan duduk di depan. Dan demikian engkau akan
menerima hormat. Kerendahan hati sebagai pengundang, mengundang juga
orang-orang tidak memiliki status sosial dalam masyarakat.
Kedua, orang yang dituntun oleh Roh Kudus adalah orang yang mengenal
diri (tahu diri). Dengan tahu diri, maka membuat seseorang tidak ceroboh
dalam memilih sehingga tidak memalukan dirinya; siapakah saya? Saya diundang
sebagai apa? Dst. Orang yang tahu diri akan memilih tempat belakang dan tahu
menempatkan dirinya. Dari bacaan firman Tuhan saat ini, secara implisit Yesus
mengingatkan agar ketika kita diundang duduk dahalu di tempat yang rendah. Roh
Kudus bekerja dalam hati kita untuk berefleksi mengenal siapakah diri kita
sesungguhnya. Ia tidak bekerja membuat kita dalam masyarakat secara Ajaib atau
spektakuler, melainkan ia bekerja dalam hal-hal biasa dan kebiasaan kita agar
kita mengenal diri kita.
Ketiga, Roh Kudus menuntun kita sebagai pengundang untuk mengundang mereka
yang tidak terpandang dalam masyarakat. Mereka dilayani dan memberi tempat bagi
mereka. Pengundang menunjukkan wajah Allah
yang berkompasio. Allah yang berbelaskasih terutama bagi mereka yang miskin
papa, kaum anawim. Perhatian Allah terarah dan terutama kepada orang miskin;
mereka yang betul-betul lemah dan menderita. Catatan refleksi bagi gereja. Jika
kegiatan gereja yang kita selenggarakan, yang diundang adalah para pejabat maka
gereja mengeluarkan segala potensi baik daya maupun dana untuk menyambut.
Kegiatan tidak akan berjalan jika si pejabat yang diundang belum hadir. Semua
kegiatan terarah kepada si pejabat. Namun diakonia bagi si miskin, gereja
melakukan berbagai perhitungan. Apa yang dicari gereja? Balas jasa atau cari
muka? Atau gereja menolong orang karena ada maunya. Firman Tuhan mengingatkan
kita sebagai pengundang menunjukkan wajah Allah berbelaskasih. Wajah Allah yang
berbelaskasih tanpa menuntut balas budi.
Keempat, penghargaan,
penghormatan dan kedudukan bukan diperoleh karena “cari muka” melainkan
melayani orang kecil. Namun ironis, mereka yang sudah memperoleh penghargaan
dan jabatan lupa orang kecil yang telah membesarkan mereka. Mungkin sementara
mereka menggenapi pepatah tua ini, "Jika ingin melihat karakter asli
seseorang, berilah dia kekuasaan".
Melayani orang kecil apa yang Anda dan saya dapat?
Banyak orang besar karena dibesarkan oleh orang-orang kecil. Namun
pertanyaannya bukan itu, karena sebagai orang yang percaya kepada Kristus,
layanilah dengan syukur, gembira, sebab kita telah memperoleh kehidupan kekal.
Roh Kudus menolong kita Amin. FN

Komentar
Posting Komentar