Renungan Hari Minggu Terakhir thn. 2025 : YUDAS 1: 17 - 23
PENGANTAR
Iman menurut Harun Hadiwijono, dari kata kerja aman yang berarti
memegang teguh. Misalnya memegang teguh pada janji seseorang karena janji itu
dianggap teguh atau kuat sehingga dapat diimani, dipercaya. Beriman kepada
Allah berarti mengimani, bukan hanya dengan akalnya, melainkan dengan segenap
kepribadian dan cara hidup. Beriman kepada Yesus final, namun iman harus terus menerus diperbaharui
untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Hari ini kita berada di hari Minggu
terakhir di tahun 2025, renungan kita tentang nasehat Yudas untuk jemaat
meneguhkan iman. Ada persoalan yang terjadi pada waktu itu sehingga Yudas
menulis surat ini kepada jemaat. Mari kita memperhatikan.
PEMBAHASAN TEKS
Surat Yudas ditulis oleh Yudas, saudara Yesus Kristus (adelphos
tou Iēsou Christou). Jemaat yang menjadi penerima surat Yudas hidup dalam
situasi sosial-keagamaan yang kompleks. Mereka berada di antara
masyarakat Yahudi dan pagan, serta menghadapi tekanan budaya yang
berbeda-beda. Beberapa anggota jemaat mulai meniru pengajar palsu, hidup
menurut hawa nafsu (epithumia sarkos kai anomia), dan mengandalkan diri
sendiri tidak memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus.
Kemudian hadirnya para “pengejek” (mōmos) dan pengajar palsu yang
meremehkan iman dan menimbulkan ancaman terhadap keteguhan rohani
jemaat. Situasi ini membuat jemaat rentan terhadap ajaran sesat dan
perpecahan, sehingga mereka membutuhkan pengingat agar tetap berakar pada
firman Tuhan dan hidup dalam kasih Allah. Kita mencatat beberapa persoalan
yang terjadi.
Pertama, munculnya pengajaran palsu. Beberapa anggota
jemaat mulai mengikuti pengajar yang menyesatkan, yang menekankan dorongan hawa
nafsu dan menolak hukum Allah. Ada orang-orang tertentu yang telah menyusup ke
dalam jemaat dan menyalahgunakan kasih karunia Allah demi kesenangan sendiri
(1:4). Ajaran mereka disebut “antinomianisme” (anti hukum). Kelompok antinomian
memahami kebebasan Kristiani secara keliru, dan memakainya demi kenikmatan
duniawi: uang, makanan, dan pelampiasan nafsu (1:12, 16, 19). Kedua, ancaman
rohani. Kehadiran pengejek dan pengajar palsu mengancam kesatuan dan iman
jemaat, serta bisa menjerumuskan mereka ke dalam perilaku yang tidak kudus.
Dalam konteks yang demikian, Yudas mengingatkan jemaat
agar berpegang pada ajaran para rasul. Oleh karena itu, yang
penting iman yang kudus, doa dalam Roh Kudus, dan kasih Allah yang aktif. Kemudian
ia memberikan panduan bagaimana menunjukkan belas kasihan dengan
bijaksana sesuai kondisi setiap orang dalam jemaat.
Kita mengelompokkan bacaan ini dalam beberapa poin.
Pertama, ayat 17–18. Yudas mengajak jemaat untuk mengingat
perkataan rasul-rasul, yang telah menubuatkan bahwa pada zaman akhir akan
muncul pengejek yang hidup menuruti hawa nafsu (epithumia sarkos kai anomia).
Mereka digambarkan sebagai pengikut ajaran palsu yang menolak hukum Allah dan
hidup menurut dorongan duniawi, bukan Roh Kudus. Oleh karena itu, Yudas
berpesan, jemaat harus tetap waspada, tidak terpengaruh oleh hawa nafsu
orang lain, dan memelihara diri dalam kasih Allah (agapē).
Pengajar-pengajar palsu sudah dinubuatkan. Jemaat tidak usah kaget. Mereka
hanya perlu menjaga kemurnian ajaran dan kekudusan.
Kedua, ayat 19. Yudas ingin menambahkan sedikit
deskripsi karakter pengajar palsu yang memiliki ciri khas, memecah
belah (diakrinō), mengandalkan diri sendiri (hupostrephō),
pencemooh atau pengolok-olok. Mereka mengikuti hawa nafsu mereka, yaitu sering
kali menyimpang secara seksual, tidak saleh, mereka mengikuti keinginan sensual
mereka sendiri. Mereka "memisahkan diri, sensual, tidak mempunyai
Roh." Konsep "memisahkan diri" berarti bahwa mereka menciptakan
perpecahan dan perselisihan. Oleh karena itu, Yudas mengatakan kepada jemaat, kehidupan
tanpa Roh Kudus membuat iman dan kasih tidak berkembang. Jemaat harus memelihara
diri dalam kasih Allah, hidup dipimpin Roh, menjaga kesatuan, dan menolak
pengaruh yang merusak komunitas iman.
Keempat, ayat 20–21.
Yudas memberi instruksi praktis untuk jemaat membangun iman yang suci (hagnē
pistis), menjadi pondasi kehidupan rohani. Berdoa dalam Roh
Kudus (en pneumati hagiō) untuk mendapatkan kekuatan rohani dan
bimbingan. Memeliharalah diri dalam kasih Allah (agapēn), menjaga
diri dan orang lain sambil menantikan rahmat Tuhan untuk hidup
kekal. Perpaduan iman, doa, dan kasih aktif ini membentuk kedewasaan
rohani, memampukan jemaat menghadapi godaan dunia dan pengajaran sesat. Doa
yang dipimpin Roh Kudus, sebagai sumber kekuatan rohani. Kasih yang aktif
dan bijaksana, menolong sesama tanpa menoleransi dosa. Kasih Allah yang
memelihara diri bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga
sarana meneguhkan iman, menjaga komunitas rohani, dan menyelamatkan orang
lain dari perpecahan dan pengajaran palsu.
Kelima, ayat 22–23. Berbicara tentang orang-orang yang
sudah terpengaruh dengan ajaran sesat. Ada tiga tahapan; pertama, mereka
yang ragu-ragu. Mereka baru pada tahap meragukan kebenaran dari
ajaran yang lama. Jika tidak segera ditolong, keraguan bisa menjadi
ketidakpercayaan. Ini tidak boleh dibiarkan. Kelompok yang kedua adalah mereka
yang sudah dekat dengan penghukuman (ayat 23a). Gambaran yang digunakan di
ayat 23 sangat mungkin bersumber dari Zakaria 3:1-5. Ada tiga kesejajaran
antara dua teks ini: (a) konteks penghakiman/penghukuman; (b) ditarik dari api;
(c) pakaian kotor. Yang terakhir adalah mereka yang sudah sangat terikat
dengan kesesatan (ayat 23b). Pakaian mereka sudah tercemar oleh keinginan-keinginan
dosa. Dalam teks Yunani, kata “pakaian” (chitōn) di sini merujuk pada
jubah dalam yang langsung bersentuhan dengan kulit. Seperti kita ketahui,
orang-orang pada zaman itu biasa mengenakan dua helai baju, dalam dan luar.
Jubah dalam ini tercemar oleh kedagingan (sarx = keinginan-keinginan
dosa). Sarx (daging) menyiratkan kedekatan yang begitu lekat.
Dengan kata lain, kebobrokan mereka sudah “mendarah-daging”. Bukan sekadar
perilaku. Bukan sekadar ikut-ikutan. Mereka sudah sedemikian terhisap di dalam
kesesatan dan kepuasan daging yang begitu dalam. Orang-orang ini mungkin sudah
menjadi sama dengan para pengajar yang menyesatkan mereka (1:8 “mencemarkan
tubuh mereka).
Apa dilakukan terhadap mereka yang tersesat? Wujud kasih seperti apa
yang patut tunjukkan?
Yang pertama, berbelas-kasihan (eleaō,). Hanya oleh
belas-kasihan-Nya manusia dapat menghadap Dia kelak dalam keyakinan dan
keberanian. Yudas menekankan praktik kasih yang bijaksana dengan menunjukkan
belas kasihan (eleeo) kepada mereka yang ragu-ragu. Menyelamatkan mereka
dari kebinasaan (apokteinomai). Dan bagi yang hidup dalam
dosa, tetap tunjukkan kasih sambil menjaga kewaspadaan dan menolak noda dosa (bdelugma).
Sebab kasih Allah yang memelihara diri bukan pasif; ia bersifat adaptif,
menyelamatkan, menjaga kekudusan pribadi, dan menolong sesama
Yang kedua, menyelamatkan (ayat 23a). Menyelamatkan mereka dengan
cara merampas mereka dari api. Kata “merampas” (harpazō) bukan sekadar
tindakan asal-asalan. Bandingkan Filipus dilarikan oleh Roh
Kudus di Asdod (Kis. 8:39). Paulus pernah diambil secara paksa
oleh pasukan Romawi tatkala terjadi kerusuhan yang membahayakan nyawanya (Kis.
23:10). Paulus juga pernah diangkat ke surga (2Kor. 12:2, 4).
Semua kata kerja yang berhuruf miring di atas menggunakan kata kerja harpazō.
Dengan kata lain, kata ini merujuk pada tindakan mengambil sesuatu dengan
disertai kekuatan atau paksaan. Ada upaya yang
lebih keras yang harus dilakukan. Jika tidak demikian, daya tarik kesesatan
akan lebih kuat menjerumuskan mereka ke dalam penghukuman.
Wujud kasih yang terakhir adalah berbelas-kasihan tetapi disertai
ketakutan (ayat 23b). Perlu menunjukkan belas-kasihan kepada semua orang.
Namun, khusus untuk mereka yang memang sudah sedemikian terhisap dalam
keberdosaan, harus menambahkan sesuatu yang lain pada belas-kasihan
menyertainya dengan ketakutan. Apa maksud dari “disertai ketakutan” di ayat
ini? Mengapa dalam kasus ini belas-kasihan patut ditambahi ketakutan? Walaupun
kata “ketakutan” (phobos) dapat memiliki beragam arti, tetapi dalam
konteks Yudas 1:23, kita lebih baik menafsirkannya dalam arti ketakutan
terhadap pengaruh dosa. Takut terjebak pada dosa yang sama. Penafsiran di atas
didukung oleh bagian terakhir dari ayat 23: “membenci pakaian mereka yang
dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa”. Dengan kata lain, kita dinasihati
untuk mengasihi orangnya, tetapi membenci perbuatannya.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama,
di minggu terakhir tahun 2025 kita diingatkan oleh firman Tuhan agar tidak
terpengaruh dengan berbagai ajaran yang tidak benar, sesat, apalagi meniru.
Untuk menghadapi ajaran-ajaran tersebut, kita diingatkan oleh jangan mengandalkan
diri sendiri melainkan memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus.
Kedua,
kita hidup di era digital, berbagai ajaran berterbangan di media sosial. Ada
ajaran yang menyesatkan umat, bahkan sampai menghina dan mengolok-olok ajaran
kepercayaan agama lain. Melalui firman Tuhan kita diingatkan agar tidak
terpengaruh. Menjaga diri dari berbagai pengaruh yang merusak iman. Oleh karena
itu, iman kita harus terus diperbarui
dalam persekutuan orang beriman. Surat Ibrani mengingatkan kita agar tidak menjauhkan
diri pertemuan/persekutuan orang percaya (Ibrani 10:25). Berdoa dan meminta
tuntunan Roh Kudus sehingga dalam persekutuan tersebut kita saling menjaga
dalam kasih
Ketiga,
bagi mereka yang terpengaruh dengan berbagai ajaran sesat dan hidup dalam
dosa, tugas kita sebagai orang Kristen mendoakan, menasihati mereka sambil
menjaga diri agar kita tidak terpengaruh. Kita menolak perbuatan, dosa, namun
tidak menolak mereka sebagai sesama manusia dalam persekutuan sebagai orang
beriman. Kita tetap menunjukkan kasih kita kepada mereka. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar