RENUNGAN AKHIR TAHUN tgl. 31 DESEMBER: MAZMUR 90

 

Siapakah yang selama tahun 2025, sejak 1 Januari sampai dengan 31 Desember tidak pernah mengalami persoalan; sakit? Duka? Rugi? Gagal? Celaka? Rasa takut? Dst.? Pasti kita semua mengalami. Realita tersebut menunjukkan sisi kefanaan manusia.

Mazmur 90 adalah ratapan komunitas Israel pasca-pembuangan. Setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan mereka mengalami krisis dalam berbagai aspek kehidupan. Alur lahirnya Mazmur 90 dimulai dengan doa-doa yang meratapi kehancuran Yerusalem, yang terlihat dalam Mazmur 73-89, mengakhiri bagian itu dengan permohonan yang kuat dalam menghadapi penolakan Allah terhadap perjanjian Daud dan Yerusalem sebagai pusatnya.

Mazmur 90 adalah mazmur yang dikaitkan dengan Musa. Mengapa Musa? Karena Musa adalah figur pemimpin spiritual dalam krisis kehidupan umat Israel di padang gurun. Keterkaitan dengan Musa mengingatkan bangsa itu pada masa lalu dalam sejarah Israel mengenai perjalanan spiritualitas.

Mazmur 90 merupakan semacam tanggapan terhadap masalah pengasingan yang diungkapkan di akhir Mazmur 89 (baca Mazmur 89).

Ada dua bagian besar dalam Mazmur ini. Pertama, ayat 1-12. Dalam doa Pemazmur membandingkan kekekalan Allah dengan singkatnya kehidupan manusia. Kemudian beralih bagian kedua, yaitu ratapan dan permohonan dalam ayat 13-17).

Pertama, ayat 1-12.

 Ayat 1. “Tuhan, Engkau telah menjadi tempat kediaman kami di sepanjang generasi”. Ungkapan ini menunjukkan keterikatan dengan Musa di padang gurun. Tidak hanya sampai di situ, namun sejak dari keluarnya Abraham dan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Perjalanan nenek moyang bangsa Israel tidak memiliki tempat tinggal yang tetap sehingga mereka hanya berharap dan berlindung kepada Tuhan. Dalam situasi seperti itu, Pemazmur menyapa Tuhan dan memuji Tuhan sebagai tempat kediaman dari generasi ke generasi. Tuhan "Tempat kediaman" mengandung arti tempat seseorang dapat bersembunyi dan menemukan pertolongan atau perlindungan.  Tempat kediaman menunjuk kepada mereka yang tak memiliki tempat berlindung.

Ayat 2-5. Tuhan adalah pencipta waktu serta ruang dan semua hal yang ada di dalam waktu dan ruang. Namun Ia melampaui ruang dan waktu. Manusia hidup dalam ruang dan waktu yang terbatas.  Sebelum gunung, tanah, bumi semuanya terjadi Allah sudah hadir. Dia tidak mengukur waktu dengan jam, hari dan tahun seperti manusia. Kemudian muncul penegasan dari Pemazmur bahwa manusia diciptakan dari debu tanah oleh Allah sehingga fana. Pemazmur mengajak umat melihat kembali kepada masa-masa di manusia dijadikan oleh Tuhan. Selain sebuah pengakuan yang jujur di hadapan Tuhan tentang kelemahan manusia yang diciptakan dari debu tanah. Oleh karena itu, manusia nanti akan kembali menjadi debu. Kontras antara kekekalan ilahi dan kerapuhan manusia merupakan inti dari ayat-ayat pembuka ini.

Allah memiliki perspektif jangka panjang, di mana seribu tahun seperti satu hari atau satu malam. Namun manusia, hanya seperti mimpi atau rumput yang diperbarui oleh embun pagi, untuk layu dan terkulai di malam hari sehingga hanya bertahan sehari.

Dalam konteks kehidupan manusia yang fana, terjadi pengeluhan dari manusia bahwa mereka dimurkai oleh Allah. Hal itu disebabkan karena dosa manusia.  Karena manusia hidup dalam dosa maka Allah memandang manusia dengan wajah yang muram. Murka-Nya dalam sebuah perjalanan waktu yang panjang. Dalam periode pembuangan yang lama. Dalam ayat 9, perjalanan waktu kembali muncul. Kehidupan manusia berlalu di bawah  murka Allah sehingga tahun-tahun terasa seperti hanya rintihan atau desahan. Beratnya murka Allah, rasanya satu hari seperti seribu tahun, namun wajah Allah yang penuh kasih bisa menghapusnya dengan sekejap. Seribu tahun sama seperti satu hari.

Ayat 10, kefanaan manusia membuat si Pemazmur mengukur panjang umur manusia paling lama tujuh puluh atau delapan puluh tahun, dan tahun-tahun itu penuh dengan kesulitan dan kesengsaraan. Tahun-tahun itu berlalu dalam sekejap mata. Gambaran tersebut mengharukan tentang singkatnya kehidupan manusia. Karena itu, Pemazmur mengarahkan manusia pada permohonan akan kebijaksanaan untuk dapat merenungkan kehidupan. Si Pamzmur mengajak umat untuk memperoleh hati yang bijak. Hati adalah tempat bersemayamnya kebijaksanaan atau kehendak. Hati yang bijaksana akan membawa kearifan dalam menghadapi kerapuhan hidup yang dihadapi oleh individu dan komunitas.

Hikmat di sini bukanlah soal teknik, keterampilan, atau bahkan informasi atau kendali. Melainkan kemampuan untuk mengakui pengaruh Sang Pencipta yang menentukan dalam kehidupan. Jika kita baca dalam mazmur ratapan, tidak jarang menyertakan ajaran hikmat sebagai refleksi umum tentang kehidupan.

Kedua, ayat 13-17. Tanggapan orang percaya terhadap perlindungan Allah

Permohonan agar “Tuhan kembali” kepada hamba-hamba-Nya (ay.13). Sebuah permohonan (dalam bentuk desakan, segera) yang meminta Tuhan untuk tidak menahan dalam waktu kemurahan Allah. Seperti seorang yang tenggelam dalam air dan secepatnya ada tangan yang segera menariknya.   Tuhan segera menunjukkan belas kasih seperti masa lalu dan menyegarkan hidup mereka (ay. 14). Mereka meminta kesempatan lagi kepada Allah. Kepercayaan yang akan berikan oleh Tuhan dimanfaatkan untuk bersyukur dan bersukacita (bersorak karena kebaikan Tuhan). Mereka mengharapkan agar Tuhan kembali menunjukkan kasih-Nya. Wajah Allah yang muram diganti dengan wajah senyum penuh dengan belas kasih kepada umat-Nya.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Dari pembahasan tersebut kita mencatat beberapa pokok refleksi dalam kebaktian akhir tahun (bisa ditambah atau dirubah).

Pertama, tinggal beberapa jam lagi kita akan masuk tahun 2026. Mari kita duduk sejenak dan merenungkan perjalanan kehidupan kita di tahun 2025. Ada saat di mana kita merasa seperti Tuhan menunjukkan wajah muram kepada kita dalam menghadapi berbagai persoalan. Tuhan seolah jauh dari kita. Namun demikian, kita tidak pernah putus asa. Ada jalan keluar. Ada perlindungan dan pertolongan. Kita bisa belajar dari semua kegagalan, persoalan yang kita alami sejak tahun 2025. Namun ada saat di mana kita merasa Tuhan sangat dekat dengan kita. Allah menatap kita dengan wajah yang penuh belas kasih bahkan senyuman. Ada berkat yang kita terima, perlindungan yang kita peroleh sehingga kita berkata, “Perlindungan datangnya dari Tuhan. Suka dan duka membuat kita bersama-sama bersyukur dalam kebaktian akhir tahun ini.

Kedua, mari kita mengakui kemahakuasaan Allah, termasuk dalam hidup Anda dan saya. Tuhan yang mengatur segala sesuatu. Dia ada di dalam dan di atas sejarah kehidupan umat manusia. Dia tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia mengetahui duduk, berdiri dan berjalan, hati, pikiran Anda dan saya. Segala kehidupan kita yang baik dan tidak baik terbuka di hadapan-Nya, dosa Anda dan saya selamat tahun 2025 tidak tersembunyi di hadapan-Nya. Dia menaruh kesalahan kita di hadapan-Nya. Oleh karena itu, mari kita berdoa seperti Pemazmur, “Sayangilah kami, buatlah kami bersukacita, kenyangkanlah kami dan kiranya kemurahan Tuhan turun atas kita”. Tuhan mengasihi Anda dan saya!

Ketiga, persoalan yang kita alami menunjukkan realita kefanaan manusia. Hidup manusia ada batasan waktu dan umur. Manusia tidak kekal, hanya Allah yang kekal. Oleh karena itu, mari kita bersandar kepada Allah yang kekal, yang menjadi tempat perlindungan kita. Jangan bersandar kepada kekuatan kita atau kekuatan yang tidak berasal dari Tuhan, sebab kekuatan lain tersebut terbatas adanya. Malam ini kita mengakhiri tahun 2025 dan kita akan memasuki tahun 2026, mari kita bersandar kepada Tuhan.

Keempat, karena kehidupan manusia terbatas, maka mari kita meminta kebijaksanaan dari Tuhan. Biar Tuhan mengaruniakan kebijakan dalam hati kita untuk mengatur waktu dengan baik. Persoalan bukan pada umur 70-80 tahun, kesukaran dan penderitaan, melainkan kepada hati yang bijak. Bijak menimbang dan mengatur waktu. Hati adalah dapur kehidupan manusia. Orang yang memiliki hati bijak adalah orang yang menimbang dalam hati dan mengatur waktu dengan baik. Amin. FN.

Selamat menyongsong Tahun Baru 2026.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Minggu Sengsara Kedua: YESUS MENDERITA AKIBAT DOSAKU (1 Petrus 2:18-25)

Renungan Minggu Sengsara Pertama: KASIH BAPA DALAM PENGORBANAN ANAK TUNGGAL ALLAH (MAT. 21:33-46)

Renungan Bulan Budaya: YESUS MEMBARUI PRAKTEK BUDAYA YANG TIDAK ADIL (Yohanes 20:11-18)