RENUNGAN SYUKUR NATAL tgl. 26 DESEMBER: LUKAS 2 : 21 - 40
Tanggal
26 Desember gereja-gereja (GMIT) melangsungkan kebaktian syukur Natal. Dalam kebaktian
tersebut biasanya dilaksanakan sakramen baptisan Kudus bagai anak-anak (baptisan
anak). Ada juga gereja yang melaksanakan peneguhan sidi bagi anak-anak
katekumen yang dinyatakan lulus mengikuti proses belajar di gereja.
Dalam
kebaktian syukur Natal saat ini, mari kita memperhatikan bacaan firman Tuhan
Pertama,
ayat 21-24. Yesus memenuhi hukum agama Yahudi. Dalam bacaan ini, Maria dan
Yusuf sebagai orang tua membawa anak sulung mereka ke bait Allah. Mereka melaksanakan kewajiban agama mereka,
di mana setiap anak laki-laki umur delapan hari harus disunat (bdk; Im. 12:3).
Sunat mengidentifikasi Yesus dengan umat perjanjian memenuhi persyaratan hukum
Taurat. Sunat merupakan tanda dan meterai perjanjian anugerah Allah yang
dilaksanakan bagi anak-anak Israel (Kej. 17:10-14). Yesus disunat umur delapan
hari di Bait Allah menunjuk pada peristiwa di mana Yesus disatukan dalam
persekutuan umat Allah sebagai anggota umat perjanjian. Tidak hanya melakukan
kewajiban Agama, namun mereka menyerahkan anak itu kepada Tuhan (ay. 22).
Seperti yang tertulis dalam hukum Tuhan, setiap anak laki-laki sulung yang
lahir dari rahim akan disebut kudus bagi Tuhan Keluaran 13:2, 12.
Kemudian
penyucian Maria dan persembahan di hadapan Tuhan di Bait Suci di Yerusalem.
Bagi seorang wanita yang melahirkan anak laki-laki, ia akan dianggap najis
secara ritual selama 7 hari. Anak sunat dilakukan pada hari ke-8. Kemudian
dibutuhkan 33 hari lagi sebelum ia dapat memasuki tempat kudus atau menyentuh
benda-benda suci.
Lukas
dengan menggabungkan pelaksanaan kewajiban-kewajiban PL ini ke dalam satu
narasi, yang menunjukkan Yesus dibesarkan sesuai dengan kewajiban-kewajiban
tersebut. Persembahan burung sebagai pengganti domba menunjukkan bahwa ia lahir
dalam keluarga miskin. Mempersembahkan kurban sesuai dengan apa yang tertulis
dalam hukum Tuhan, “Sepasang burung merpati, atau dua ekor burung dara muda”. Persembahan
ini mencerminkan kondisi ekonomi Maria dan Yusuf (Imamat 12:8)
Kedua,
ayat 25-38. Kesetiaan dan Iman dua orang lansia, Simeon dan Hana. Lukas
menggambarkan Simeon memiliki karakter pribadi yang luar biasa, baik dalam cara
memperlakukan orang lain maupun dalam cara beribadah kepada Tuhan. Apa orientasinya?
“Mencari penghiburan Israel”. Sebagian besar orang Yahudi mencari seorang
pemimpin militer untuk membebaskan mereka dari penindasan pemerintah Romawi,
namun Simeon dan Hana memiliki orientasi spiritual yang memberi mereka
perspektif berbeda terhadap kedatangan Mesias. Mereka dituntun oleh Roh Kudus. Dalam
PL, Roh Kudus yang datang kepada orang-orang pada kesempatan-kesempatan khusus,
tetapi kehadiran yang terus-menerus jarang terjadi. Namun karunia yang diterima
Simeon adalah sesuatu yang istimewa. Roh Kudus menyatakan kepada Simeon bahwa
ia tidak akan melihat kematian sebelum ia melihat Kristus Tuhan. Pada akhirnya
Dia bertemu dengan apa yang telah dinyatakan kepadanya. Kesetiaan iman yang
mendatangkan buah.
Ketikan
melihat Yesus memeluk Anak itu, dan memuji Allah. Ayah dan ibu-Nya takjub akan
hal-hal yang dikatakan tentang Bayi itu. Kata-kata Simeon mengenai maksud dan
makna universal dari penebusan yang dilakukan Allah melalui Yesus, membawa
kepada Yusuf dan Maria pemahaman yang lebih jelas tentang keagungan ilahi Sang
Anak. Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu-Nya, “Lihatlah,
Anak ini ditetapkan untuk kejatuhan dan kebangkitan banyak orang di Israel, dan
sebagai tanda yang akan ditentang dan pedang akan menembus jiwamu sendiri agar
pikiran dari banyak hati dapat dinyatakan”. Sebuah nubuatan bahwa, Ia akan dipaku
di kayu salib dengan kalimat “pedang menembus jiwanya.”
Simeon
memberkati mereka dengan kata-kata yang aneh. Anak ini akan menjadi terang,
tetapi ia akan menjadi jenis terang yang menyingkap. Karena ia menyingkap, Ia
akan menghadapi perlawanan. Perlawanan itu akan berupa tusukkan yang keras dan
sebagai orang ibu tusukkan akan menembus hati ibunya. Hal yang paling
mengejutkan dari perkataan Simeon adalah bahwa untuk pertama kalinya perkataan
itu memasukkan nuansa kesedihan ke dalam kisah kelahiran Yesus (ayat 34-35).
Hana
adalah seorang nabiah, putri Phanuel, dari suku Asyer. Dia sudah lanjut
usia, setelah hidup bersama seorang suami selama tujuh tahun setelah
pernikahannya, dan kemudian sebagai janda hingga usia delapan puluh empat
tahun. Dalam waktu yang sangat lama dan telah mengabdikan dirinya untuk
melayani Tuhan; ia pasti sudah kelelahan saat ini, namun api harapan
mesianiknya tetap menyala. Dia hamba yang setia. Itu ditegaskan bahwa “Dia
tidak pernah meninggalkan bait suci, melayani siang dan malam dengan berpuasa
dan berdoa.”
Setelah
melihat anak itu, ucapan syukur dan kesaksian yang tak henti-hentinya tentang peran
penebusan dari Mesias yang telah lama dinantikan (ay. 38). Di masa tuanya ia
menjadi saksi, yang terus berbicara tentang Dia kepada semua orang yang
menantikan penebusan Yerusalem.”
Ketiga,
ayat 39-40. Yesus bertumbuh dalam asuhan kedua orang tua-Nya. Setelah menyelesaikan
segala sesuatu sesuai dengan hukum Tuhan, mereka kembali ke Galilea, ke kota
mereka sendiri, Nazaret. Yesus mengalami perkembangan fisik seperti manusia
pada umumnya. “Anak itu terus tumbuh dan menjadi kuat.” Pengembangan kebijaksanaan
“bertambah hikmatnya;” serta pengembangan spiritual “dan kasih karunia Allah
ada pada-Nya”.
Alkitab
tidak menceritakan masa bayi Yesus dan apa yang diperbuat-Nya. Pertumbuhan masa
kecil Yesus seperti manusia pada umumnya. Ada tiga kali masa kecil Yesus
disebutkan, yaitu ketika Yesus masih bayi (yeled), Yesus berbaring di
palungan, kemudian masa bayi Yesus (gemul) diserahkan di Bait Allah dan
diterima oleh Simeon, kemudian ketika Yesus berumur 12 tahun (bahar) dibawa
oleh orang tua-Nya ke Yerusalem.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama,
sunat
diganti dengan baptis. Sunat merupakan tanda dan meterai perjanjian
anugerah Allah yang dilaksanakan bagi anak-anak Israel (Kej. 17:10-14). Yesus
disunat umur delapan hari di Bait Allah menunjuk pada peristiwa di mana Yesus
disatukan dalam persekutuan umat Allah sebagai anggota umat perjanjian. Makna
sunat terkandung dalam baptisan, hal itu diungkapkan oleh Rasul Paulus, “Dalam
Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi
dengan sunat Kristus,,,,, dalam baptisan (Kol. 2:11-12). Paulus menyamakan
baptian dengan sunat. Dengan pemahaman bahwa sunat merupakan tanda dan meterai
perjanjian anugerah Allah. Demikian pula dengan baptisan yang dilakukan oleh
gereja pada masa kini. Ketika anak dibawah oleh orang tuanya untuk dibaptiskan
maka kita menyerahkan kepada Tuhan. Dia menjadi milik Tuhan. Jika anak menjadi
milik Tuhan, maka orang tua wajib membawa anak-anak ke rumah Tuhan. Orang tua bertanggungjawab
secara penuh sampai kepada ia dewasa. Sebagaimana bunyi nasehat dalam liturgi
baptisan, sebagai orang tua dan saksi diwajibkan
mengajar anak-anakmu sampai kepada mereka dewasa secara iman.
Kedua,
mengapa
baptis percik, bukan selam? Baptisan selam Yesus di sungai Yordan tidak bisa
dijadikan model bagi pelaksanaan baptisan di dalam gereja. Ada tiga alasan
untuk hal itu. Pertama, baptisan
dalam gereja merupakan penyatuan seseorang ke dalam gereja. Melalui baptisan
seseorang diterima sebagai anggota atau warga dari umat Allah. Baptisan Yesus
di sungai Yordan tidak menunjuk kepada hal itu. Peristiwa di mana Yesus
disatukan dalam persekutuan umat Allah sebagai anggota umat perjanjian bukanlah
baptisan di sungai Yordan melainkan sunat di Bait Allah pada waktu Ia berumur
delapan hari (Luk. 2:22). Kedua,
baptisan Yesus di sungai Yordan menunjuk kepada penugasan khusus untuk
menjalankan tugas kemesiasan yang Ia terima dari Allah. Baptisan Ysesus di
sungai Yordan merupakan saat pelantikan-Nya ke dalam jabatan Mesias yang
menderita sebagai tebusan bagi banyak orang. Dalam gereja, seseorang dibaptis
bukan untuk menjadi mesias, melainkan menjadi tanda dan meterai sebagai warisan
yang sudah dikerjakan oleh sang Mesias. Ketiga,
baptisan yang diterima Yesus menunjuk kepada peristiwa penyaliban-Nya di
Golgota. Di bukit itulah Allah membuat sebuah perjanjian yang baru, yaitu
rekonsiliasi atau perdamaian hubungan Allah dan manusia. Oleh karena itu gereja
mengakui baptisan percik dan melaksanakannya.
Ketiga,
membawa
anak-anak sedini mungkin kepada Tuhan. Melakukan kewajiban sebagai orang tua
yang beriman dan taat kepada aturan agama. belajar dari Maria dan Yusuf, contoh
orang tua yang taat beragama dan taat kepada firman Allah.
Keempat,
taata dan beriman sampai masa putih rambut. Orang yang beriman dan taat
membuat Roh Kudus memberikan petunjuk untuk menyampaikan rahasia-Nya kepada
mereka. Belajar dari Simeon dan Hana.
Kelima,
pengharapan
orang-orang yang taat dan beriman tidak akan sia-sia. Simeon dan Hana memiliki
pengharapan untuk bertemu Mesias dan melihat Mesias, apa yang mereka harapkan
terjawab.
Keenam,
pertumbuhan
intelegensi dan IQ anak, fisik, emosional dan spiritual tidak hanya secara alami
melainkan asuhan dan bimbingan orang tua. Tuhan bekerja melalui kedua orang
tua-Nya. Yesus bertubuh baik secara fisik, intelegensi dan IQ, emosional dan spiritualitas
karena juga asuhan dan didikan kedua orang
tuan-Nya. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar