RENUNGAN TAHUN BARU : FILIPI 4 :1-9
PENGANTAR
Kita semua tidak asing lagi
dengan doa ini:
“Tuhan, jadikanlah aku pembawa
damai, bila terjadi kebencian. Jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi
penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan jadikan aku pembawa
kepastian. Bila terjadi kesesatan jadikanlah aku pembawa kebenaran. Bila
terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku
pembawa terang. Tuhan semoga aku ingin menghibur daripada dihibur, memahami
daripada dipahami, mencintai daripada dicintai, sebab dengan memberi aku
menerima, dengan mengampuni, aku diampuni.”
Doa ini adalah doa st.
Frasiskus Asisi yang ada dalam tatanan doa harian Katolik. Doa ini biasa
dipanjatkan oleh umat Katolik untuk perdamaian bangsa dan juga ketika mengalami
kesusahan. Doa ini merupakan penegasan dan permohonan agar umat dalam situasi
apa pun tetap hadir membawa damai sejahtera.
PEMBAHASAN TEKS
Surat Filipi adalah surat yang ditulis
dengan penuh ucapan syukur. Gerral
W. Peterman, mengatakan bahwa surat
Filipi dituliskan sebagai tanggapan
atas persahabatan dan rasa syukur. Filipi adalah jemaat yang dibangun
sendiri oleh Paulus.
Dia mempunyai hubungan yang baik dengan orang-orang yang
dilayaninya. Ada sapaan-sapaan yang menunjukkan kedekatan yang begitu indah. “Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga
dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!” (ay.1). Bahkan ketika Paulus mengalami
kekurangan, jemaat mengutus beberapa orang untuk melayani kebutuhan Paulus. Mereka memberikan pemberian-pemberian pada saat
jemaat-jemaat lain tidak ada yang memedulikannya.
Ada beberapa pokok dalam
pembahasan perikop ini:
Pertama, bersukacitalah senantiasa (ay. 4-5)
Sukacita menjadi tema utama dalam surat Filipi, kata ini
digunakan dalam sebelas ayat (Flp.
1:4; 1:18; 1:25; 2:2; 2:17-18; 2:28; 2:29;
3:1; 4:1; 4:4; 4:10). Sukacita dalam bahasa Yunani khara. Namun secara khusus
menggunakan istilah khairete, yaitu
“teruslah kalian bersukacita.” Adina Chapman, mengatakan bahwa
ungkapan ini merupakan sebuah paradoks
yang sukar dipikirkan, khususnya di mana orang percaya harus bersukacita
sementara mengalami kesusahan dan kesulitan. Walaupun dalam diri manusia tidak ada
kesanggupan untuk bersukacita saat mengalami penderitaan, namun ada sumber yang memberikan kesanggupan, dan itu hanya ada di dalam Tuhan Yesus.
Sukacita yang bersumber dari Allah tidak dapat dipengaruhi oleh
lingkungan sekitar. Bahkan keadaan fisik atau finansial juga tidak mampu
mempengaruhi sukacita ini. Kondisi
ini hanya bisa diperoleh melalui hubungan yang berkualitas dengan Allah.
Paulus telah menjadi teladan
tentang bersukacita. Kondisinya seharusnya tidak memungkinkan dia untuk bersukacita. Dia mengalami penganiayaan, pemenjaraan, bahkan ancaman kematian. Namun, dia memiliki kehidupan batin yang penuh
sukacita. Paulus tidak meminta
jemaat untuk berbahagia, tetapi bersukacita, terus bersukacita dalam Tuhan. Sukacita itu berada di dalam hati, tidak terlihat namun hasilnya (kebaikan hati) bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Rasul Paulus menggunakan
kata to epieikhes untuk
menerangkan kata kebaikan hati. Kata
ini merupakan kata sifat, yang berarti “kelembutan”. W.E. Vine menerjemahkan kata ini dengan “lemah lembut”
yang digunakan untuk menggambarkan tindakan
seorang perawat merawat
pasien, guru
dengan murid dan orang tua kepada anak- anaknya. Paulus menggunakan kata ini untuk
menjelaskan contoh tindakannya kepada
orang-orang yang dilayaninya.
Sukacita adalah kualitas
batin terlihat ketika seseorang memberi respon terhadap orang lain dan diperhatikan oleh
orang lain. Bagi Paulus, seseorang akan mampu terus bersukacita kalau dia bisa memberikan reaksi yang benar (kelembutan) terhadap
keadaan yang dialaminya.
Kedua, berhentilah kuatir (ay. 6)
Sukacita terjadi bila menghentikan kekuatiran. Salah satu perintah penting dalam Alkitab
adalah jangan kuatir. Perintah ini setara penegasannya dengan
perintah-perintah yang lain. Bahkan
Yesus sendiri dalam khotbahnya di bukit
(Mat. 6:25, 27, 28, 31 dan
34), memperingatkan para murid untuk tidak kuatir.
Kekuatiran tidak memberikan keuntungan apa pun dalam hidup, tetapi justru membawa
kepada sikap dan tindakan yang salah, kekuatiran merampas damai sejahtera. Webster’s New World College Dictionary memberikan
penjelasan tentang kekuatiran: pertama:
keadaan gelisah, kuatir, atau kuatir
tentang apa yang mungkin terjadi, kekuatiran tentang kemungkinan kejadian
di masa depan; kedua: keadaan
abnormal yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan tidak mampu
mengatasi peristiwa yang mengancam, biasanya khayalan, ketegangan fisik yang ditandai dengan berkeringat, dan gemetar; ketiga: keinginan yang bersemangat
tetapi seringkali merasa tidak nyaman.
LAI menerjemahkan ay. 6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang
apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam
segala hal keinginanmu kepada Allah
dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Dalam teks bahasa Yunani, kalimat “janganlah
hendaknya kamu kuatir” menggunakan satu kata saja yaitu
merimnate, yang artinya memiliki kecemasan,
cemas, menjadi (terlalu) kuatir, mengkuatirkan
dirinya sendiri.
Strategi tepat untuk menghentikan kekuatiran adalah bangunlah
komunikasi yang indah dengan Tuhan, dengan
kata lain bawalah semua permintaanmu kepada Tuhan.
Ketiga, damai sejahtera
(ay. 7).
Damai sejahtera atau dalam bahasa
Yunani he eirene, yang artinya bukan
suatu keadaan tetapi sesuatu yang bisa didapatkan. Kata eirene ini adalah kata yang sama
yang digunakan dalam Galatia 5:22-23 yang berbunyi: “Tetapi buah Roh
ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Damai sejahtera yang dimaksud adalah damai
sejahtera yang diperoleh karena adanya persekutuan dengan Tuhan, bukan karena hal-hal
materi.
Bagi Paulus, damai sejahtera
bersumber dari Allah, karena Allah sendirilah damai sejahtera itu. Damai sejahtera itu tidak bisa terpisah dari pribadi Allah. Hal itu berarti
juga bahwa hanya orang-orang yang telah memiliki
hubungan pribadi dengan Allah yang memiliki damai sejahtera.
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui
segala akal, akan memelihara hati dan
pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Kata “memelihara” diterjemahkan: menjaga, menahan,
melindungi. Seperti sepasukan
tentara yang ditugaskan menjaga gerbang kota. Artinya,
Allah yang adalah damai sejahtera akan menjaga, menahan,
melindungi dengan aktif dan siaga umat-Nya. Paulus sendiri mengungkapkan
bahwa yang dialaminya bukan sekedar damai sejahtera tetapi “damai sejahtera yang melampaui segala
akal.”
Keempat, pikirkanlah hal-hal yang terpuji (ay. 8).
Sukacita melibatkan hati dan pikiran yaitu berpikirlah terpuji. Paulus menasihati jemaat di Filipi untuk memikirkan hal-hal yang terpuji
dan berharga. Kata memikirkan Paulus menggunakan kata logizesthe, kata ini lebih baik diterjemahkan teruslah
berpikir, teruslah perhitungkan, teruslah pertimbangkan atau teruslah renungkan
dengan cermat. Ini merupakan tindakan
untuk menjadikan hal-hal
yang masuk ke dalam pikiran
dipertimbangkan dengan bijaksana
atau direnungkan dengan hati-hati. Dave Hagelberg, memberikan definisi kata kerja
logizomai sebagai berikut: pertama,
menemukan lewat proses sistematis atau menghitung;
kedua, “menimbang suatu persoalan dengan seksama,” mempertimbangkan, menaruh pikiran pada suatu persoalan:
Kelima, hiduplah konsisten (ay. 9).
Paulus telah memberikan teladan
kehidupan yang baik bagi jemaat di Filipi. Dia bukan
sekedar mempunyai keyakinan, gagasan dan pengajaran, tetapi dia sendiri telah menjadi
pelaku dari apa yang diyakininya.
Dalam Filipi 3:17 dia mengatakan: “Saudara- saudara, ikutilah teladanku
dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang
menjadi teladanmu.”
Kata teladan digunakan kata summimetai imitasi atau peniru, atau lengkapnya “jadilah imitasiku” atau
“jadilah peniruku.”
Paulus dengan lantang mengajak untuk
mengikuti teladan kehidupannya. Dengan tegas dan berani
dia mengatakan: “Ikutilah teladanku.”
Apa yang Paulus harapkan untuk jemaat
Filipi meniru kehidupannya? Dia menggunakan empat kata kerja yang berbeda untuk
menjelaskan instruksinya. Dan apa yang telah kamu pelajari, (hematete) dan apa yang telah kamu terima (parelabete), dan apa yang telah kamu dengar (ekousate) dan apa
yang telah kamu lihat (eidete) padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu (ay. 9).
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama, sukacita itu
bersumber dari Allah oleh karena itu berilah diri dipimpin oleh Allah dalam
tuntunan Roh Kudus di tahun 2026. Sukacita itu adalah buah Roh Kudus. Hal itu
hanya bisa diperoleh dengan membangun persekutuan yang erat bersama Tuhan
melalui doa. Sebab dengan demikian kita membawa sukacita kepada sesama kita apa
pun situasinya. Persekutuan kita yang erat dengan Tuhan menghilangkan rasa
kuatir dan cemas dalam menghadapi persoalan hidup. Kita tidak dipengaruhi
tetapi mempengaruhi (doa st. Fransiskus).
Kedua, menyebarkan
sukacita dengan berbagi kebaikan
kepada sesama kita, tanpa memandang latar belakang dalam kehidupan bersama di
tahun 2026. Orang yang bersukacita tidak diukur dengan setiap saat tertawa,
tidak pernah mengeluh, sehat, kaya, semua tercukupi, namun berbagi dan melayani
sesama. Seperti seorang perawat yang merawat pasien dengan penuh kasih, seorang
guru yang mengajar murid-muridnya dan orang tua yang mengasihi anak-anaknya.
Ketiga, untuk
menghadirkan suasana penuh sukacita, maka sebelum bertutur kata, mengambil
kesimpulan dan bertindak, harus berpikir dengan baik, merenungkannya, sehingga
perkataan dan tindakan kita yang nyata terpuji.
Keempat, orang yang
percaya kepada Kristus dituntut untuk menjadi teladan dalam menyebarkan
sukacita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbuatan dan tutur kata yang
baik apa yang ditiru oleh generasi milineal. Generasi yang suka meniru hal-hal
yang baru melalui konten-konten media sosial. Tokoh yang diidolakan? Teladan
apa yang kita berikan kepada orang-orang yang hidup tidak seiman dengan kita di
tahun 2026? Amin. FN.
SELAMAT
TAHUN BARU

Komentar
Posting Komentar