Renungan tgl. 8 Februari: 2 Korintus 12:1-10
Ada seorang raja yang
mengadakan sayembara, yakni mencari bagi putra mahkota seorang permaisuri. Salah
satu syarat adalah cari seorang perempuan yang tidak memiliki kelemahan fisik; tidak
tanda apapun dalam tumbuhnya. Jika ada menemukan untuk menjadi istri sang putra
mahkota maka sebagai kekayaan akan diberikan kepada orang tersebut. Semua orang
dalam istana keluar mencari, namun tidak ada yang menemukan perempuan yang sempurna.
Berbulan-bulan tidak ditemukan. Suatu kali putra mahkota berjalan-jalan di pinggir
sungai. Dia melihat seorang perempuan yang sangat cantik. Dia jatuh cinta
kepada si perempuan. Ia segera menyuruh dayang-dayang untuk memeriksa fisik si
perempuan, mereka menemukan tanda bekas luka dibagian pelipis. Tanda itu tidak
bisa ditutup dengan apapun. Dayang-dayang ini membawa berita kepada putra
mahkota bahwa ada kelemahan fisik. Namun si putra mahkota berkata kepada
dayang-dayang tersebut, manusia dilahirkan dalam ketidaksempunaan namun cinta
menutupi kekurangan dan kelemahan. Berjalannya waktu mereka hidup bersama
sebagai suami dan istri. Mereka saling menemukan kekurangan dan kelemahan masing-masing,
namun dalam kelemahan dan kekurangan mereka saling melengkapi. Kekuatan cinta
di antara mereka berdua karena kekurangan dan kelemahan mereka (anonim).
PEMBAHASAN TEKS
Bacaan ini Paulus
berusaha untuk mempertahankan diri dan berapologi, bahwa ia benar-benar rasul
yang sebenarnya. Ia memberitahukan kepada jemaat bahwa ia mendapat visi
dari Allah. Peristiwa itu terjadi pada tahun 41 di Antiokhia, sebelum konsili
Yerusalem. Melalui visi inilah, maka ia memulai perjalanan misinya.
Dalam ayat 6, sebelum
memberitahukan penglihatan, Paulus menyampaikan kepada pembaca tentang alasan
mengapa ia perlu untuk memberikan satu penglihatan yang pernah ia terima. Ia sebenarnya
bisa bermegah di hadapan jemaat Korintus, yang lebih melihat kepada hal-hal
yang spektakuler. Tetapi ia bermegah atas dasar apa? Oleh karena itu, dalam
uraian berikutnya, menampilkan dua alasan Paulus bermegah atas kehebatan atau
atas kelemahan. Kata penglihatan atau penyataan di sini dalam bentuk jamak,
yang menandakan bahwa penglihatan itu dia terima berulang-ulang kali.
Mari kita membagi bacaan
dalam beberapa pokok.
Pertama,
ayat 2-4. Paulus memulai dengan pernyataan perkenalan tentang tokoh di dalam
penglihatan tersebut, yaitu seorang Kristen. Meskipun Paulus mengenalkan tokoh
tersebut sebagai orang ketiga, tetapi sebenarnya ia berbicara tentang dirinya.
Jadi kata seorang Kristen di sini adalah diri Paulus sendiri. Dalam penglihatan
ini, Paulus diangkat ke langit tingkat ketiga. Itu adalah tingkatan tertinggi
dalam sorga. Paulus berkata, baca ayat 2…. Maksud dari pernyataan tersebut
adalah, memang ia benar-benar terangkat ke sorga atau hanya penglihatan saja, namun
Allah yang tahu. Yang pasti ia mendapatkan penglihatan tersebut. Ayat 4
menyatakan bahwa “ia tiba-tiba terangkat ke Firdaus.”
Pengalaman yang dia alami
yang merupakan kegerakkan misi besar-besaran dan kegigihannya untuk mewartakan
Injil. Paulus hendak memberi pesan melalui cerita penglihatan itu bahwa jabatan
kerasulan yang ia emban berasal dari Tuhan sendiri. Jemaat tidak boleh mengatakan
bahwa dirinya adalah rasul palsu dan Injil yang beritakan adalah Injil palsu
karena Tuhan sendiri yang mengutusnya.
Kedua,
ayat 5. Paulus memegahkan diri atas kelemahannya.
Kata “atas orang itu”
dalam bahasa Yunaninya secara harafia adalah “atas itu”. Makna dari kata ini
penting. Kata “atas itu” memiliki dua makna, pertama atas peristiwa penglihatan
itu atau kedua atas orang dalam penglihatan itu. Memang Paulus dapat bermegah
atas peristiwa itu tetapi Paulus memutuskan untuk tidak memegahkan diri atas
peristiwa itu, melainkan ia lebih memegahkan diri atas kelemahan-kelemahannya.
Ketiga,
ayat 6-9. Penyebab mengapa Paulus lebih bermegah atas kelemahannya. Pertama,
supaya jemaat tidak menyanjung berlebihan atas kehebatan Paulus. Paulus tidak
mau bermegah atas kehebatan dirinya yang lahiria. Oleh karena itu dari awal ia
datang di Korintus, ia tidak menceritakan penglihatan-penglihat tersebut. Jika
ia menceritakan penglihatan-penglihatan itu maka jemaat akan memegahkan
kehebatannya. Kedua, supaya dirinya tidak memegahkan diri. Paulus tidak
mau supaya ia terjerumus dalam dosa kesombongan. Karena itu kita bisa membaca
ayat 7. Yang menjadi perdebatan para ahli adalah apa itu “duri di dalam
daging”. Ada dua pendapat besar, yakni pertama bahwa duri di dalam daging
adalah sebuah penyakit malaria yang menyebabkan gangguan mata dan pembicaraan. Duri
dialihbahsakan dalam bahasa Yunaninya adalah “pasak”. Sebab yang dirasakan oleh
Paulus bukan hanya seperti duri yang menusuk melainkan lebih mirip pasak yang
dipancangkan dan dibolak balikan di dalam dagingnya. Hal itu pernah ia
ceritakan kepada jemaat Galatia (Gal. 4:14-15). Salah satu dugaan lama
menurut W. Barclay, pasak dalam daging
Paulus ialah bahwa ia menderita sakit kepala yang hebat sehingga berdampak pada
penglihatannya (Gal. 6:11).
Kemudian pendapat kedua duri
yang dimaksud Paulus adalah guru-guru
palsu yang mengganggu pemberitaan Injil. Mereka adalah utusan iblis (11:14). Paulus
menganalogikan guru-guru palsu dengan analogi di Bilangan 33:35, yaitu sebagai
duri dalam daging. Di mana terdapat perintah bagi Israel untuk menghalau penduduk negeri Kanaan. Jika dibiarkan
hidup maka mereka akan menjadi duri-duri dalam lambung bagi bangsa Israel. Dalam renungan ini kita tidak mencari tahu mana
yang benar, tetapi fokus pada diri Paulus sebagai seorang rasul yang hebat walaupun
ada kelemahan dirinya. Kelemahan itulah yang membuat dia tidak menjadi orang
yang sombong rohani.
Untuk kelemahan itu,
Paulus sudah berdoa kepada Tuhan supaya hal itu diangkat, tetapi Tuhan menjawab-Nya
dalam ayat 9 (baca). Frasa “Cukuplah kasih karunia-Ku” bukan berarti “Kasih
karunia-Ku sudah cukup sampai di sini”
melainkan “Aku mengasihi engkau dan itu sudah cukup untukmu”. Atau dengan kata
lain, “Tuhan mengasihi dan setia menyertaiku”. Yang terpenting dalam pelayanan
adalah kasih Tuhan. Jika Tuhan bersamaku walaupun aku lemah Dia menguatkanku,
ketika aku jatuh karena kelemahan Dia mengangkatku. Paulus menjadikan kelemahan
dan tantangan untuk tidak meninggikan diri sebagai rasul dan sangat
berpengaruh.
Keempat,
ayat 10. Setelah ia menguraikan mengapa ia lebih suka bermegah atas kelemahan,
maka Paulus menyimpulkan, bahwa ia lebih senang di dalam kelemahan, siksaan,
kesukaran dan kesesakan oleh karena Kristus, sebab dengan demikian Kristus akan
menguatkannya.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama,
setiap kita memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan, namun jangan sampai
pengalaman pribadi membuat seseorang menjadi sombong rohani. Pengalaman rohani
harus menjadi spirit, yakni sebuah gerakan dalam melayani Tuhan. Dalam bacaan
kita, Paulus memiliki pengalaman rohani yang luar biasa, namun dia tidak
memegahkan diri dengan itu, melainkan hal itu menjadi semangat bagi dia untuk
terus melayani.
Kedua, setiap
kita memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahan yang kita miliki bukan untuk
ditiadakan namun kelemahan menjadi alat untuk tidak memegahkan diri. Oleh karena
itu, kita diminta untuk mengenal kelemahan kita masing-masing. Jika kelemahan
kita masalah kondisi fisik; sakit, kekurangan, kelemahan fisik, dst. itu tidak
menjadi hambatan untuk kita melayani Tuhan. Orang yang hebat adalah orang yang
dapat mengatasi kelemahan fisiknya. Namun jika itu merupakan guru-guru palsu
buktikan melalui pelayanan Anda dan saya bahwa kita bukan guru-guru palsu.
Ketiga, jika
Anda dan saya setia melayani Tuhan dan berdoa terus agar kelemahan fisik dilepaskan,
namun sampai saat ini masih tetap ada, ingat, bahwa Tuhan mengasihi kita dan
setia menyertai kita. Ketika Tuhan
bersamaku walaupun aku lemah Dia menguatkanku, ketika aku jatuh karena
kelemahan Dia mengangkatku. Bagi Paulus, lebih senang di dalam kelemahan,
siksaan, kesukaran dan kesesakan oleh karena Kristus, sebab dengan demikian
Kristus akan menguatkannya. Amin.

Komentar
Posting Komentar