Renungan Minggu Sengsara Kedua: Keluaran 14:15-31
PENGANTAR
Tentu kita tahu nyanyian rohani “Dia Buka Jalan”(God Will Make a Way) . Saya mengutip sebagian lirik lagunya untuk kita (bisa dinyanyikan sebelum mulai khotbah)
Dia buka jalan
saat tiada jalan
dengan cara yang ajaib
dibukanya jalanku
Dia menuntunku
dan memeluk diriku
dengan kasih dan
kuasa-Nya
Dia buka jalan (2x)
Lagu yang dipopulerkan
oleh Don Moen ini sering menjadi penguat bagi mereka yang
mengalami keputusasaan agar tetap teguh percaya bahwa Tuhan akan bertindak.
PEMBAHASAN TEKS
Tuhan membawa bangsa
Israel dari Mesir, tidak memilih jalan pintas melalui negeri Filistin, melainkan
Tuhan menuntun mereka melalui jalan yang berputar, sebab jika mereka melalui
rute tercepat maka akan memicu konflik dalam perjalanan. Mereka akan menemui
rintangan karena bangsa Filistin menganggap mereka sebagai budak-budak yang
melarikan diri dari majikannya. Mereka tidak akan segan-segan berperang dengan bangsa
Israel. Kondisi bangsa Israel sama
sekali tidak siap untuk berperang. Mereka tidak bersenjata dan tidak bisa
berperang, sebab semangat mereka
benar-benar tertekan oleh masa perbudakan yang lama di Mesir. Dan juga, mereka
keluar dari Mesir bersama keluarga dan kawanan kambing domba. Tuhan mengetahui kondisi ini sehingga Dia harus
menuntun bangsa ini melalui jalan yang berputar. Tuhan menuntun mereka melalui
tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari.
Jalan yang berputar itu, mengambil rute
berbalik arah, namun perjalanan ini cukup berbahaya, karena di hadapan mereka
ada laut Teberau. Selain perubahan arah perjalanan, Firaun pun merubah
pemikirannya dan berkata, (baca ay. 5). Ia menyiapkan 600 keretanya yang
terbaik, masing-masingnya dengan seorang komandan dan prajurit-prajuritnya untuk
memburu orang Israel. Orang Mesir memburu mereka dengan kereta dan menyusul mereka
sementara orang Israel berkemah di pantai Laut Merah.
Orang Israel yang mengalami kepanikan yang
cukup hebat. Namun respons Musa terhadap situasi ini cukup tenang. Musa cukup
percaya bahwa Tuhan akan melepaskan mereka dari tangan orang Mesir. Itu
sebabnya Musa berkata “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah
keselamatan dari Tuhan, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu…Tuhan akan
berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Kel 14:13-14).
Ayat,
15-31. Menyeberang laut Merah.
Pertama,
ayat 15-20. Seruan Musa kepada
Tuhan. Tuhan berkata kepada Musa, mengapa
engkau berseru kepada-Ku? Dalam terjemahan lainnya mengatakan, "mengapa
engkau berdiri dan berdoa di hadapan-Ku?'' Seruan ini dimaksudkan sebagai doa;
doa yang diam-diam. Seruan tanpa suara. Kemudian Tuhan mengatakan kepada Musa, berbicaralah
kepada anak-anak Israel, agar mereka maju; sedikit lebih jauh. Musa disuruh mengangkat tongkat. Dalam situasi
yang genting, di depan laut yang menakutkan, orang Israel disuruh maju lebih jauh
ke dalam. Di sini membutuhkan keberanian iman dan kepasrahan diri.
Di dalam kegelapan awan ini secara ajaib melindungi Israel dengan pindah antara orang Mesir dan mereka. Pada saat yang sama tiang api Allah menerangi jalan melintasi laut itu sehingga orang Israel dapat menyeberang. Malaikat Allah dan tiang awan pindah dari depan orang Israel ke belakang mereka. Tiang awan itu menjadi kegelapan yang memisahkan orang Israel dari orang Mesir sehingga mereka tidak bisa saling melihat dan saling mendekati.
Kedua,
ayat 21-22. Musa mengulurkan tangannya ke atas laut. Dengan tongkatnya di
dalamnya, seperti yang diperintahkan. Tuhan membuat laut itu surut dengan angin
timur yang kuat sepanjang malam. Dengan cara yang ajaib, terangkat gelombang
laut menjadi timbunan sehingga orang Israel dapat melaluinya seolah-olah di
tanah kering. Terang dari tiang api Allah itu bersinar-sinar menerangi jalan
yang membujur seperti satu garis besar menembusi air laut, yang kemudian hilang
dalam kesamaran di pantai seberang.
Kata “terbagi” di sini
adalah baqa . Ini adalah kata umum yang berarti “membelah”
tetapi sering digunakan dalam bagian-bagian yang paling tidak lazim .
Sejauh ini kata ini telah digunakan dalam peristiwa terbelahnya mata air di
kedalaman bumi dalam Kejadian 7 dan dalam peristiwa membelah kayu oleh Abraham
sebagai persiapan untuk membakar putranya Ishak di atas mezbah kurban dalam
Kejadian 22. Sekarang kata ini digunakan dalam bagian ketiga yang luar biasa
ini, yaitu dalam peristiwa terbelahnya air laut Merah.
Dalam penggunaan kata ini
bukanlah sekadar bahwa Allah memiliki kuasa yang begitu dahsyat sehingga mampu
membelah batu dan air, dll., tetapi bahwa pemilik kuasa tersebut mampu menebus
ciptaan yang hilang. Misalnya, Nuh diselamatkan dari kehancuran bumi
oleh air; Ishak diselamatkan dari kehancuran api dan penggantinya
diberikan; dan sekarang Israel diselamatkan dari kehancuran oleh
Mesir melalui pembelahan air dan kehancuran Mesir sebagai gantinya.
Sungguh menakjubkan.
Dalam kisah ini, air telah terbelah, tanah telah menjadi kering, dan jalan raya
telah dibuka bagi umat tebusan Allah untuk berjalan menuju keselamatan dan
kebebasan.
Dalam ayat 21, kata yang
digunakan adalah kharavah . Kata ini menunjukkan tanah yang
bebas dari air, atau telah dikeringkan. Selain itu ada kata adalah yabashah .
Kata ini berasal dari kata yabesh , yang berarti
"kering" atau "layu". Oleh karena itu, dikatakan bahwa
tanah tersebut benar-benar bebas dari kelembapan, atau benar-benar kering.
Kata yang diterjemahkan
sebagai "tembok" di sini adalah khomah dan artinya
persis seperti itu, tembok, seperti tembok kota. Namun, kata ini juga dapat
digunakan secara metaforis untuk berarti "perlindungan." Salah satu contoh
terdapat dalam 1 Samuel 25:14-16.
Orang Israel berjalan
lewat laut di tanah kering, dengan dinding air di kedua sisinya. Tuhan bekerja
menuntun bangsa Israel dapat dilihat dalam tindakannya dengan cara: Pertama,
Tuhan mengendalikan seluruh alur cerita untuk kebaikan bangsa Israel. Kedua,
Tuhan bergerak ke depan dan ke belakang untuk melindungi bangsa Israel. Semua
jalan-jalan Tuhan yang tidak terselami memang tidak masuk akal bagi orang-orang
Israel, bahkan Musa.
Kemudian, bagian lain
dari keajaiban terlihat dalam kata-kata ini. Musa mengulurkan tangannya dan air
terbelah, lalu ia mengulurkannya lagi dan air kembali ke tempatnya semula.
Tidak ada air surut yang begitu patuh seperti ini, meskipun waktunya ditentukan
oleh pergerakan bumi dan bulan. Ini adalah akhir yang tepat untuk sebuah
keajaiban sejati.
Ketiga,
ayat 23-29. Tuhan menghukum Firaun dan pasukannya. Orang Mesir mengejar dan
menyusul orang-orang Israel sampai ke tengah-tengah. Tetapi Tuhan mengacaukan
pasukan tentara Mesir sehingga roda kereta mereka berjalan miring dan maju
dengan berat.
Musa diminta untuk
mengulurkan tangannya ke atas laut untuk mengembalikan air ke keadaan normal.
Ia melakukan seperti yang diperintahkan, namun di sini tertulis, “Maka Tuhan menumbangkan
bangsa Mesir.” Makna kata “menumbangkan” menunjukkan kepada sesuatu yang tinggi
kedudukan, keangkuhan dan kemudian dirubuhkan. Firaun yang sombong, gagah
perkasa, dirubuhkan oleh tangan Tuhan yang penuh keajaiban.
Keempat,
ayat 30-31. Keajaiban Tuhan yang membuat kita rasa hormat dan takut akan Tuhan.
Dengan adanya peristiwa yang maha dasyat itu, maka bangsa itu takut akan Tuhan.
Mereka merasakan ketakutan akan kuasa
dan kebesaran-Nya. Mereka takut kepada-Nya dengan ketakutan yang seperti
seorang anak takut kepada ayahnya karena melawan perintah ayahnya. Ketakutan di
sini menurut beberapa penafsir adalah ketakutan saleh atau kudus. Orang Israel
mempercayai Tuhan dan hamba-Nya Musa. Mereka percaya bahwa Tuhan dan Musa
adalah utusan Tuhan yang akan membawa mereka keluar dari perbudakan.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama, Tuhan
terkadang menuntun jalan hidup kita melalui jalan yang berputar. Ia tidak
menghendaki anak-anak-Nya melalui rute yang cepat, instan, sebab Dia tahu
siapakah kita dan apa yang hendak kita alami. Setiap kita memiliki pengalaman
hidup, jalan hidup masing-masing yang memiliki ceritanya. Tuhan yang bekerja mengendalikan
alur cerita kehidupan kita. Jalan berliku-liku itu yang dialami Yesus ketika Dia
menuju ke bukit Golgota. Jalan itu Dia telah lalui sehingga kita sebagai
anak-anaknya tak perlu takut melewati jalan yang berliku-liku.
Kedua, terkadang
kita mengalami kepanikkan karena situasi yang kita alami. Maju dan mundur serba
salah, namun situasi membuat kita terus maju untuk menghadapinya. Melalui firman
Tuhan saat ini, kita belajar jika Tuhan yang menyuruh kita maju maka Dia akan menyertai
kita. Persoalan di depan kita merupakan jalan untuk kita keluar dari kesulitan.
Dia akan bersama kita di belakang, di samping dan di depan kita. Di minggu
sengsara kedua kita belajar dari jalan penderitaan Yesus. Bagaimana Ia bergumul
untuk menghadapi penderitaan.
Ketiga, tidak
takut, panik, ketika dalam situasi sulit dan mendesak. Mari kita berseru kepada
Tuhan. Ada Tuhan yang menyertai kita. Dia akan membela anak-anak-Nya dari
segala macam ancaman yang mengancam kehidupan kita. Dia membela kita dari ancaman
perbudakan oleh manusia. Ancaman dari kekuatan alam yang menakutkan, namun yang menarik,
alam yang menakutkan Dia merubahnya menjadi alat untuk menolong manusia. Itulah
yang kita belajar dari firman Tuhan saat ini. Penderitaan Kristus telah
mengalahkan semua kekuatan yang mengancam kehidupan manusia. Oleh karena itu Dia memampukan kita untuk berjalan melewati. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar