RENUNGAN MINGGU SENGSARA KELIMA: YOHANES 12:20-36
PENGANTAR
Kita
semua pasti tahu nyanyian KJ. 183 "Menjulang
Nyata Atas Bukit Kala."
Nyanyian ini merupakan salah satu syair lagu yang syahdu dan menyayat hati.
Tetapi, tahukah Anda bahwa lagu ini sejatinya bukanlah lagu gerejawi? Lagu
aslinya berjudul "Above the Hills of Time the Cross Is Gleaming"
(salib bersinar di atas bukit), merupakan lagu
tradisional rakyat
Irlandia yang sangat popular dengan nama Londonderry Air. Salah satu versi lagu
ini sering dinyanyikan oleh tim olah raga Irlandia Utara dalam setiap
pertandingan di Commonwealth Games. Lagu tersebut dinyanyikan untuk membakar
semangat para atlet yang berlaga sampai meraih kemenangan.
PENJELASAN
TEKS
Yohanes
pasal 12 sendiri berada dalam konteks waktu kurang dari seminggu sebelum Yesus
disalibkan (12:1). Di awali dengan pengurapan Yesus oleh Maria di Betania yang
bernuansa kematian-Nya (12:1-8), pasal 12 dilanjutkan dengan rencana pembunuhan
Lazarus (12:9-11), sambutan penuh sorak kepada Yesus di Yerusalem (12:12-19),
pemberitaan kematian-Nya (12:20-36), ketidakpercayaan orang Yahudi (12:37-43),
dan pesan Yesus untuk percaya kepada firman-Nya agar beroleh hidup kekal
(12:44-50).
Hari
raya Paskah akan ditandai dengan banyaknya orang yang pergi ke Yerusalem untuk
menyucikan diri sebelum hari perayaan tiba (11:55). Orang-orang Yahudi Diaspora
umumnya akan datang lebih awal bahkan satu minggu sebelum hari raya, dan semua
dalam suasana perjalanan yang penuh sukacita. Dalam perayaan ada satu sosok
menjadi daya tarik, yaitu Yesus. Orang-orang berdatangan juga berusaha untuk
mencari Yesus karena berita tentang berbagai tanda yang diperbuat Yesus.
Kita
dapat membagi bacaan dalam beberapa bagian.
Pertama, ayat 20-22, kedatangan orang Yunani yang
ingin bertemu Yesus kemudian disampaikan oleh Andreas dan Filipus. Di tengah
suasana perayaan yang penuh sukacita, sekelompok orang-orang Farisi gusar
karena melihat “seluruh dunia datang mengikuti Yesus” (12:19). Kegusaran
orang-orang Farisi menjadi kontras dengan perikop 12:20-36, karena saat itu ada
orang-orang Yunani yang turut dalam perayaan (ay.20), yang justru ingin bertemu
Yesus (ay. 21).
Kedua, ayat 23-26, berisi ucapan Yesus. Yesus
memulai cerita-Nya dengan menyatakan tentang kemuliaan anak Manusia, diawali
kedatangan beberapa orang Yunani yang mencari Yesus. Kedatangan mereka menjadi
indikasi bahwa waktu penyaliban Yesus telah tiba.
Yesus
menyebut kematian-Nya menggunakan perumpamaan biji gandum (baca ay. 24). Kata
‘mati’ (apothane) disebut sebanyak dua kali. Hal ini menekankan bahwa tidak
akan ada kehidupan kecuali ada benih yang jatuh ke dalam tanah. Demikian juga
Yesus harus mati. Tujuan kematian ini adalah untuk ‘menghasilkan banyak buah’.
Ada beberapa makna; pertama kematian untuk memberikan hidup yang kekal, kedua
melahirkan sebuah komunitas baru dan ketiga memberikan kehidupan baru yang
memuliakan Allah.
Ayat
25-27 menjelaskan perspektif pelayan Tuhan mengenai hidup. Ada dua jenis orang,
yakni `barangsiapa mencintai nyawanya’ dan ‘barangsiapa tidak mencintai
nyawanya.’ Teks Yunaninya memakai frasa (ho philon ten psuken) dan (ho mison
ten psuken). Kata (mison) berarti ‘membenci.’ Tampaknya Yesus memakai bahasa
kiasan di sini. Maknanya adalah kesiapan menghadapi penganiayaan demi Kristus.
Membenci `hidup` artinya membenci kemauan sendiri lebih dari kehendak Tuhan.
Menyerahkan diri kepada Kristus adalah bentuk penyangkalan seseorang terhadap
kecintaan akan hidupnya sendiri. Seseorang harus melepas hidupnya untuk
diabdikan kepada Tuhan dan orang lain.
Ayat 26,
memuat beberapa prinsip dalam melayani Tuhan. Prinsip yang pertama, seorang
pelayan harus bersedia mengikut Yesus. Yesus mengatakan, “Barangsiapa melayani
Aku, ia harus mengikut Aku,” (ean emoi tis diakone, emoi akoloutheito). Penggunaan
kata akoloutheito dalam konteks tersebut tidak dimaknai secara
literal yakni membuntuti di belakang seseorang, tetapi mengikut sebagai seorang
murid. Seorang pelayan harus meniru perbuatan Sang Guru dan mematuhi segala
yang dikehendaki-Nya.
Ketiga, ayat 27-36, memulai dengan mencerminkan kedalaman
hati Yesus (baca ay. 27). Perkataan ini merupakan gambaran yang menggugah
tentang kemanusiaan Yesus. Ia sepenuhnya memahami rasa takut dan
penderitaan-Nya, tetapi dengan tegas memilih untuk tetap menjalani jalan salib
demi ketaatan kepada Bapa dan kasih bagi dunia. Saat suara dari surga
terdengar, hal ini mau menegaskan bahwa jalan yang Yesus pilih adalah jalan
untuk memuliakan Allah.
Dalam
doa-Nya di ayat 28, `kemuliaan Bapa` merupakan atribut yang sudah ada sejak
kekekalan masa lampau. Kemuliaan yang dimaksud Yesus terkait dengan karya
penyelamatan melalui penyaliban Yesus.
Dalam
Ayat 31-32 terdapat inti pengajaran Yesus. Melalui saliblah penghakiman atas
dunia akan terjadi dan penguasa dunia ini akan dikalahkan. Semua orang akan
ditarik kepada-Nya. Salib yang sering dipandang sebagai tanda kehinaan menjadi
alat kemenangan dan pemulihan.
Memang,
kemuliaan salib sering kali sulit diterima, terutama karena bertentangan dengan
ekspektasi manusia akan Mesias yang berkuasa. Saat mendengar perkataan Yesus,
ada yang tidak memahami, ada pula yang tetap keras kepala dalam
ketidakpercayaan. Namun Yesus mengajak setiap orang untuk berjalan dalam
terang.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama, penderitaan Yesus memampukan kita sebagai orang
Kristen untuk tidak takut kepada penderitaan dalam menegakkan kebenaran.
Mengapa? karena penderitaan adalah karya penebusan. Oleh karena itu, kita telah
ditebus supaya menyatakan kebenaran. Menderita karena kebenaran adalah
mengikuti jalan salib Yesus. Salib yang berat dan menakutkan kini bukan lagi
beban bagi pengikut Kristus, melainkan kemenangan yang terpancar. Kini orang
Kristen mengikut Yesus sambil memikul salibnya (bdk. Mat. 16:24). Mengikut
Yesus tidak berarti membuntuti dari belakang, tetapi mengikut sebagai murid
(ay. 26). Mengikut Yesus meniru perbuatan Sang Guru dan mematuhi segala yang
dikehendaki-Nya sehingga kita memancarkan karya-karya Kristus.
Kedua, penderitaan dan kematian Yesus memberi kita
kehidupan baru. Seperti biji gandum yang mati dan tumbuh yang baru. Tumbuh yang
baru dalam diri Kristus memberikan hidup yang kekal, melahirkan sebuah
komunitas baru dalam sejarah kekristenan, namun juga memberikan kehidupan baru.
Penderitaan dan kematian Yesus hanya bisa bermakna bagi kita jika kita
meresponsnya dengan pertobatan. Pertobatan berarti meninggalkan kehidupan yang
penuh dengan dosa, namun juga meninggalkan pemahaman kita yang lama, yaitu
tidak mau menerima perubahan dan perkembangan. Tidak mau membuka diri dan
memberi kesempatan kepada orang-orang muda menjadi pemimpin bagi kita. Memberi
kesempatan untuk tumbuh tunas yang baru berarti memberi kesegaran, kesejukan, dan
hal-hal baru bagi perkembangan organisasi tanpa kehilangan identitas sebagai
pengikut Kristus. Oleh karena itu, marilah kita terus memperbaharui hidup kita,
hati kita dan pikiran kita agar nama Tuhan terus dipermuliakan. Perayaan minggu
sengsara Yesus harus menampakkan sinar harapan baru melalui kehidupan orang
Kristen.

Komentar
Posting Komentar