RENUNGAN MINGGU SENGSARA KEEMPAT: FILIPI 2:1-11
PENGANTAR
Dunia
kini lagi tidak baik-baik; dunia sementara terluka karena keegoisan manusia. Catatan
kelam perang AS-Israel vs Irak, Ukraina vs Rusia, Afganistan, dll., menunjukkan
bahwa dunia ini lagi tidak baik-baik. Salah satu faktor penyebabnya karena
masing-masing pemimpin hendak menunjukkan superioritas untuk menjajah negara
yang lain dari berbagai aspek. Perang antara AS-Israel vs Irak pecah bertepatan
dengan umat Kristen di seluruh dunia merenungi minggu-minggu sengsara Kristus.
Dalam perayaan minggu sengsara ini; mari kita membayangkan dan mendoakan mereka
yang hidup di negara yang lagi berperang. Mereka kehilangan segala-galanya.
PEMBAHASAN
TEKS
Kota
Filipi tergolong kota imperium Roma. Kota strategis ini menjadi daya tarik
banyak orang bermukim di sana. Secara geografis, letak kota Filipi sebagai kota
provinsi Romawi di bagian barat Asia Kecil.
Surat
ini merupakan surat Paulus kepada jemaat di Filipi. Paulus menulis surat ini
ketika ia berada dalam penjara di Roma. Pada waktu itu Epafroditu datang membawa
barang kiriman dari jemaat di Filipi untuk Paulus (Filipi 4 : 18 dan 2 : 25). Paulus merasa terharu melihat kasih mereka,
sehingga ia menyebut kiriman itu suatu persembahan yang harum suatu kurban yang
disukai dan berkenan kepada Allah.
Ketika
Epafroditus di Roma, dia sakit keras nyaris mati. Kabar sakit itu sampai juga
kepada jemaat di Filipi, karena itu jemaat di Filipi sangat bersusah hati
karenanya (Filipi 2 : 25 – 30). Setelah Epafroditus sembuh, ia menyuruhnya
kembali karena kerinduannya kepada jemaat di Filipi. Paulus memberikan banyak
nasehat yang salah satunya adalah bacaan kita saat ini.
Di samping kebaikan jemaat di Filipi itu, ada satu kekurangan yakni mereka kurang kasih-mengasihi. Karena itu, Paulus mengatakan betapa perlunya kasih dalam hidup (baca: ayt. 2-4). Kasih di dalam Kristus ada nasehat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan ayt. 1.
Kita
dapat membagi Filipi 2:1-11 terdiri dari dua bagian. Pertama, Paulus
berbicara tentang bagaimana merawat persatuan. Merawat persatuan bagi Paulus
dimulai dengan teladan kerendahan hati. Tanda kerendahan hati adalah menganggap
orang lain lebih utama dari dirinya sendiri. Kata rendah hati dalam LAI (TB)
berasal dari kata Yunani: “tapeinophrosyne” yang berarti “kerendahan pikiran,” hal
ini bermakna “menganggap” atau “mempertimbangkan”. Jadi rendah hati itu
merupakan sebuah perjuangan dalam pikiran. Pikiran yang bertabrakan dengan
sifat alami manusia yang sudah tercemar oleh watak keberdosaannya. Kerendahan hati
yaitu tahu menghargai orang lain atau menganggap seseorang lebih utama, lebih
baik, kalau seandainya dia memiliki kelebihan dari kita. Kerendahan hati yang
benar adalah perjuangan dalam pikiran untuk menganggap semua orang lebih utama
dari dirinya sendiri. Orang yang rendah hati tidak mencari kepentingan diri
sendiri. Kalau dalam ayat 3 Paulus
seolah-olah menganjurkan hanya peduli dengan kepentingan orang lain dan
mengabaikan diri sendiri, namun dalam ayat 4, tidak hanya memperhatikan
kepentingannya sendiri tetapi kepentingan orang lain juga. Kepentingan yang
mungkin bersifat material tetapi juga menyangkut masalah intrest orang lain. Bukan
berarti memperhatikan kepentingan orang lain tanpa memperhatikan kepentingan
diri sendiri. Namun bagaimana menyeimbangkan kepentingan diri sendiri dan
kepentingan orang lain.
Kedua,
ayat 5-11. Paulus berbicara tentang Pribadi Kristus. Pribadi Kristus dalam
tulisan Paulus ini juga dibagi dua. Pertama, tentang Keilahian Kristus. Yesus
Kristus adalah Penguasa alam semesta. Dia Tuhan dan Sang Penebus. Dia adalah
Allah yang turun ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia. Bahkan Namun
berkenan melepaskan semua hak milik-Nya ketika Ia menjadi Manusia.
Dia
turun dari surga untuk mendatangi umat-Nya. Yesus kekuasaan mengampuni dan
memenuhi hati mereka dengan damai surgawi. Kata “dalam rupa Allah” adalah
(eksistensi/keberadaan) sebelum Yesus dilahirkan oleh Maria Ia adalah Allah.
Demi mengutamakan manusia, Dia rela meninggalkan tahta-Nya, kerajaan-Nya dan
menjadi manusia dan mati di kayu salib supaya manusia ditebus dari dosa-dosanya
dan diselamatkan
Kedua,
mengenai kerelaan Kristus untuk merendahkan diri (Kenosis) atau yang disebut
status kerendahan-Nya, yang bisa juga disebut kemanusiaan Kristus.
Allah
yang Mahamulia berkenan turun ke dalam dunia guna mengambil posisi yang sama
dengan manusia. Ia telah mengosongkan diri-Nya sejajar dengan manusia. Yesus
menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus manusia dari hukuman dosa. Yesus
benar-benar melepaskan segala atribut Ke-Allah-an-Nya. Dalam ayat 7, dipakai
kata kerja ekenosen (yang berasal dari kenoo yang diterjemahkan
mengosongkan diri sendiri). Yesus mengosongkan diri segala atribut
Ke-Allah-an-Nya yang melekat kuat pada diri-Nya. Selama 33 tahun, Yesus telah
mengosongkan atau membatasi diri-Nya dari kedudukan dan kemuliaan-Nya yang
dimiliki oleh Anak Allah sebelum berinkarnasi.
Kata “pengosangan diri” adalah menanggalkan diri dan turun sampai
ke tingkat di mana Ia dianggap tidak memiliki apa-apa. Ia
mengosongkan semua itu, bertindak seolah-olah Ia tidak mempunyai apa-apa. Inkarnasi
Yesus Kristus bukan hanya membuat Ia rela untuk mengesampingkan hak diri-Nya,
merendahkan diri-Nya dan menjadi pelayan bagi semua melainkan juga mengorbankan nyawa-Nya. "Kristus
mengambil rupa seorang hamba" yang menggambarkan bagaimana Yesus, walau
dalam rupa Allah, rela mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba,
menjadi sama dengan manusia, serta taat sampai mati di kayu salib (ay. 8).
Secara ilmiah dan teologis, tindakan ini menunjukkan inkarnasi dan kenosis
(pengosongan diri) Kristus sebagai inti dari pelayanan-Nya. Yesaya menubuatkan Yesus sebagai hamba yang
menderita (Yes 5213-53:1-12.). Matius juga menyebut Yesus sebagai Hamba Allah,
yang dipilih dan dikasihi oleh Allah. Mat 12:15-21. Sebagai hamba, Ia datang ke
dalam dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani Mark 10:45.
Pelayanan itu bukan hanya simbolis. Pelayanan ini melibatkan tugas-tugas
berstatus rendah seperti membasuh kaki (Yoh 13: 1- 17). Oleh karena itu, ayat
9-11 Paulus melantungkan pujian kepada Kristus.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama, di minggu
sengsara keempat, kita belajar dari teladan Yesus merendahkan diri seperti
Kristus. Spiritualitas kerendahan hati yang harus
mewarnai pelayan-pelayan kita dan kehidupan kita sebagai orang percaya.
Kedua,
sebagai pengikut Kristus harus mengutamakan kepentingan bersama dari kepentingan
pribadi, kepentingan politik, kepentingan agama. Jika memikirkan kepentingan
bersama maka konflik tidak akan terjadi. Kristus tidak mengutamakan
kepentingan-Nya tetapi mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba.
Ketiga,
sebagai pengikut Kristus, peristiwa kenosis Allah mengosongkan
diri-Nya, dengan melihat ke bawah bukan ke atas. Maka dengan demikian, kita
juga harus melihat ke bawah, maksudnya melihat sesama kita yang miskin.
Keempat,
konsep kenosis Yesus berbeda dengan konteks dunia. Dunia menekankan
keegoisan dan pementingan diri sendiri, sebaliknya Yesus telah mengosongkan
diri demi melayani kepentingan umut-Nya. Mari kita menanggalkan keegoisan kita
untuk melayani sesama kita. Kita harus memiliki jiwa pengorbanan seperti Yesus dalam
hidup bersama.
Kelima, tinggallah
di dalam kasih Kristus. Orang yang tinggal di dalam Kristus saling menasihati,
menghibur dan kasih mengasihi. Orang-orang tinggal di dalam Kristus mereka menaruh
pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus. Apa pikiran dan perasaan
Kristus? Saling mengasihi, rendah hati, hidup tidak untuk dirinya sendiri dan
berkorban bagi sesama. Jika demikian orang akan memuliakan memuliakan Allah. Amin.
(FN)

Komentar
Posting Komentar