RENUNGAN SYUKUR PASKAH: KOLOSE 3:1-17
Kita
masih dalam suasana Paskah. Semarak Paskah masih terasa. Pawai Paskah pun masih
diselenggarakan di berbagai tempat. Hari ini kita merayakan kebaktian syukur
Paskah. Bacaan kita terambil dari Kolose 3:1-17.
PEMBAHASAN
TEKS
Kita
membagi bacaan ini dalam beberapa bagian.
Pertama,
ayat 1-4. Ada dua kata kerja yang sangat kopleks dalam bagian pertama ini,
yaitu “carilah” (zêteite” dan “pikirkanlah” (phroneite). Kedua kata kerja
tersebut berbentuk perintah. Artinya, kedua perintah yang sejajar ini harus
dilakukan terus menerus tanpa henti. Jadi hidup baru dalam Kristus Yesus adalah
hidup yang tidak lagi terpengaruh oleh kehidupan duniawi melainkan hidup di dalam
keselamatan yang Yesus berikan kepada setiap orang percaya. Paulus juga
mengingatkan kepada jemaat Kolose agar berhati-hati terhadap ajaran yang tidak
sesuai dengan ajaran Yesus Kristus.
Kedua, ayat
5-9. Menanggalkan manusia lama. Rasul Paulus meminta jemaat agar menanggalkan
manusia lama serta hidup sebagai manusia baru yang sudah datang bersama Yesus (bdk.
Efesus 4:22). Menanggalkan manusia lama bukan hanya sekadar perubahan perilaku
lahiriah, melainkan sebuah keputusan untuk tidak lagi hidup dalam cara hidup
yang lama. Kedua kata kerja “menanggalkan” dan “mengenakan” menunjukkan adanya
transformasi total yang terjadi pada saat pertobatan, yaitu peralihan dari
identitas lama yang dikuasai dosa menuju identitas baru yang serupa dengan
Kristus. Namun, Paulus tidak berhenti di sana. Ia juga menambahkan kata kerja
lain, yaitu “dibaharui”, yang menekankan bahwa perubahan hidup orang percaya
bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan proses yang berlangsung
terus-menerus.
Menanggalkan
manusia lama juga mencakup dimensi yang lebih dalam dari sekadar perbuatan
lahiriah. Hal itu merujuk pada seluruh orientasi hidup seseorang, cara pandang,
sikap, prioritas, perasaan, hingga tindakannya. Oleh sebab itu, pembaruan yang
dikerjakan Roh Kudus tidak hanya menyentuh perilaku, tetapi juga mengubah
motivasi terdalam dan arah hidup orang percaya agar semakin serupa dengan
Kristus.
Dalam
hal ini, Paulus menasihati jemaat di Kolose agar mematikan segala perbuatan
daging yang bersumber dari dunia. Kata "matikanlah" dalam ayat 5
berasal dari istilah Yunani nekrosate (νεκρώσατε), yang secara harfiah
berarti "membuat mati" atau "mematikan." Istilah ini
menegaskan sebuah tindakan yang radikal dan tegas: orang percaya tidak hanya
diminta untuk menghindari, tetapi benar-benar meniadakan kuasa dosa dalam
hidupnya, sehingga hidup mereka benar-benar mencerminkan identitas sebagai
manusia baru dalam Kristus. Oleh karena itu, semua hal yang telah didaftarkan
oleh Paulus dalam ayat tersebut, yaitu pergaulan bebas, kelainan, hasrat
duniawi, nafsu berdosa, serta keserakahan, sama seperti penyembahan berhala, tidak hanya perlu dikendalikan atau
dipertahankan, melainkan harus dihilangkan secara tuntas dari kehidupan orang
percaya.
Ketiga,
ayat 10-17. Mengenakan manusia baru. Setelah menanggalkan manusia lama, jemaat
harus dibaharui dalam roh dan pikiran. Dengan demikian, tujuan utama dari
proses menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru adalah agar
pembaruan hidup, baik dalam motivasi, pola pikir, maupun tindakan, dapat
berlangsung tanpa hambatan. Paulus memberikan arahan praktis mengenai bagaimana
seharusnya hidup sebagai umat pilihan Allah. Ia menekankan bahwa kehidupan
tersebut harus ditandai dengan sikap penuh belas kasihan, kemurahan hati,
kerendahan, kelemahlembutan, serta kesabaran. Paulus juga menyoroti pentingnya
sikap saling mengampuni, sebagaimana Kristus telah lebih dahulu mengampuni
manusia dari dosa-dosa mereka. Lebih jauh, Paulus menegaskan bahwa di atas
semua hal tersebut, kasih harus dikenakan sebagai ikatan yang menyatukan dan
menyempurnakan kehidupan orang percaya, yang diwujudkan dalam ucapan syukur
kepada Tuhan. Allah menghendaki semua umat manusia saling mengasihi serta hidup
di dalam kasih Allah. Paulus memakai kata agapao atau agape. Agapao adalah
kasih tanpa syarat. Kasih tanpa pamrih, kasih rela berkorban.
Dalam
nasihatnya, Paulus menekankan pentingnya hidup sebagai umat pilihan Allah yang
mencerminkan karakter Kristus. Pada bagian ini, Paulus secara khusus
menyinggung tentang sikap kemurahan dalam kehidupan sehari-hari, yang dalam
bahasa Yunani disebut chrestotes. Istilah ini secara literal berarti
kebaikan, namun dalam berbagai terjemahan juga dimaknai sebagai kemurahan hati.
Dengan demikian, konsep kemurahan yang dimaksud bukan sekadar sikap baik secara
moral, melainkan lebih dalam, yakni mencerminkan kebaikan Allah sendiri yang dinyatakan
kepada manusia. Chrestotes menggambarkan tindakan aktif Allah yang
berbelas kasih, penuh kesabaran, dan murah hati terhadap ciptaan-Nya, meskipun
manusia seringkali jatuh dalam kelemahan dan dosa. Oleh karena itu, Paulus
mendorong jemaat Kolose untuk hidup dengan chrestotes, ia sejatinya
mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya harus menjadi saluran kebaikan
Tuhan, di mana kemurahan Allah yang telah mereka terima diwujudkan kembali
dalam relasi dengan sesama, baik dalam kasih, kesabaran, maupun sikap saling
mengampuni. Dengan cara inilah identitas sebagai manusia baru dalam Kristus
dapat terlihat secara nyata dalam perilaku sehari-hari. Yesus Kristus menjadi
teladan utama dalam mengajarkan bagaimana manusia seharusnya hidup dengan kerendahan
hati.
POKOK-POKOK
RENUNGAN
Pertama,
menjadi
manusia baru/hidup baru yang terus menerus. Hidup baru bukan hanya saat perayaan Paskah,
atau saat Natal atau hanya di dalam rumah ibadah, melainkan nyatakan dalam
kehidupan kita sehari-hari setiap saat. Perayaan Paskah hanya bisa bermakna
jika kita hidup baru. Hidup yang lama kita tinggalkan, kini kita mengenakan
hidup baru. Hidup baru adalah hidup yang tidak terpengaruh dengan tindakan-tindakan yang tidak bermoral, dan ajaran-ajaran yang tidak sehat. Selain itu, hidup baru berarti pembaharuan orientasi hidup, cara pandang, sikap, prioritas, perasaan dan motivasi.
Kedua,
menjadi manusia baru bukan sekali jadi melainkan terus menerus diperbaharui. Pembaharuan mengandung arti kita terus belajar untuk
menjadi lebih baik setiap hari dan berjuang melawan dosa di dalam diri. Dosa harus dilawan. Kristus telah bangkit
dan menang, maka Dia memampukan kita untuk berjuang melawan dosa dan Roh Kudus menuntun kita terus belajar menjadi lebih baik.
Ketiga,
manusia baru tidak hanya menekankan kepada kehidupan pertobatan, bermoral,
melainkan nyatakan dalam tindakan kasih yang aktif dengan menolong sesama. Hidup
dalam kasih merupakan karakter Kristus. Sebagai orang yang mengimani Kristus
yang telah bangkit maka kehidupan kita mencerminkan karakter Kristus.
Keempat,
dalam kebaktian syukur Paskah kita belajar tentang tindakan aktif Allah yang
berbelas kasih, penuh kesabaran, dan murah hati terhadap ciptaan-Nya, meskipun Anda dan saya seringkali jatuh dalam kelemahan dan dosa. Sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah, maka Anda dan
saya harus menjadi saluran kebaikan Tuhan dalam relasi dengan sesama, baik
dalam kasih, kesabaran, maupun sikap saling mengampuni. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar