RENUNGAN : YEHEZKIEL 34:1-16
Sebutan
gembala sendiri diambil dari bahasa Yunani yang menggunakan kata poimen
dan dipakai sebanyak 17 kali dalam Perjanjian Baru. Kata poimen memiliki arti secara harafiah yaitu gembala,
namun juga memiliki arti secara kiasan yaitu pejabat kepala (presiding
officer), manajer dan direktur. Jadi istilah gembala berkaitan erat dengan
kepemimpinan. Gembala bisa disematkan hanya untuk satu orang atau beberapa
orang, atau juga bisa dipakai istilah yang telah dijelaskan di atas untuk
menjalankan fungsi penggembalaan.
PEMBAHASAN TEKS
Nabi Yehezkiel memulai
pelayanannya pada tahun kelima sesudah raja Yoyakhin. Yehezkiel berada di Babel
sekitar tahun 593/2 SM. Nabi yang lain yang sezaman dengan Yehezkiel ialah
Daniel, yang juga bernubuat di luar Yerusalem. Sebagai nabi, Yehezkiel
menubuatkan hukuman (3:22-32:32), serta nubuat tentang pemulihan di masa yang
akan datang (33:1-48:35).
Pelayanan Yehezkiel kepada orang-orang buangan
di Babel tidaklah mudah, banyak tantangan yang dihadapi oleh Yehezkiel. Walaupun
mereka telah berada dalam pembuangan, namun mereka masih keras kepala. Hati
bangsa itu masih melekat kepada berhala, sehingga kehidupan makin bertambah
merosot ke alam takhyul dan kejahatan.
Di samping pergumulan menghadapi bangsa yang
keras kepala itu, Yehezkiel pun menghadapi nabi-nabi palsu dan nabiah-nabiah
palsu yang ada di antara orang-orang buangan. Nabi-nabi palsu inilah yang
menyebarkan tipu dusta kepada orang-orang buangan (13:1-13).
Kita dapat mengelompokkan
bacaan ini dalam dua bagian.
Pertama, ayat 1-10.
Teguran kepada gembala yang jahat. Teguran ini sangat tajam. Hal tersebut
ditandai dengan ucapan “celakalah!” (yAh). Kata “celaka” adalah kata yang
sering diserukan oleh orang-orang Israel kuno bilamana menghadapi bencana atau
kematian atau dalam perkabungan.
Berita celaka ini, baik
secara nyata atau pun tersirat, mengandung tiga unsur, yakni suatu pengumuman
mengenai malapetaka, alasan untuk
malapetaka itu, dan nubuat mengenai kebinasaan. Namun kata tersebut menunjukkan
bahwa hati Tuhan sangat terluka terhadap para gembala Israel karena mereka
telah menggembalakan diri mereka sendiri!
Lebih tepat, para gembala
ini tidak mementingkan kesejahteraan domba-domba, tetapi malahan menggemukkan
diri mereka sendiri. Memang, memetik hasil dari para domba—susu, bulu dan
dagingnya— tampaknya adalah hal yang wajar. Namun, para gembala tersebut dikecam
karena mereka tidak menggembalakan domba-domba tersebut. Mereka hanya menunggu
hasil dan menikmati bahkan mereka memeras domba-domba tersebut. Sehingga mereka
dikatakan gembala yang jahat. Ciri-ciri gembala yang jahat (yang dicatat dalam
ayat-ayat yang berikutnya).
Hal ini nampak jelas
bagaimana dalam bagian terakhir ayat 2, “Bukankah para gembala seharusnya
memberi makan kawanan domba?” Kata “bukankah” kata tanya. Bentuk tanya dipakai untuk menekankan
yang dalam beberapa kasus, tidak perlu memperoleh jawaban. Dalam kasus seperti
itu hakikat jawaban itu dengan jelas telah diketahui oleh si penanya dan
penekanannya ada pada isi jawaban itu. Sehingga sebenarnya ketika Tuhan
bertanya kepada para gembala yang jahat itu, Dia sudah tahu jawabannya karena
dalam kalimat berikutnya nyata sekali tindakan gembala yang jahat itu terhadap
domba-dombanya. Bagi para gembala sendiri pertanyaan ini sebenarnya merupakan
sindiran Tuhan terhadap mereka, karena mereka sebenarnya tahu apa yang harus
mereka lakukan sebagai seorang gembala/pemimpin.
Kemudian dalam ayat 3,
menunjukkan bagaimana para gembala itu menggembalakan dirinya sendiri, dan
dalam ayat 4 menunjukkan bagaimana mereka tidak mempedulikan domba-domba itu.
Juga melalui ayat 3-4 ini yang mendapat penekanan, yaitu: lemak, bulu, (domba)
yang gemuk, yang lemah, yang sakit, yang hancur, yang tercerai-berai dan yang
terhilang. Perbuatan ini sedang berlangsung, baik sekarang maupun pada waktu
yang lalu; demikian juga perbuatan ini terus-menerus dilakukan pada waktu itu
(bnd. tindakan para pemimpin politik dan rohani khususnya pada masa
pemerintahan Kerajaan Utara yang mengakibatkan bangsa Israel dibuang).
Kita dapat mencatat ciri-ciri gembala yang
jahat. Pertama, menikmati susunya (3a). “Kamu menikmati susunya”. Dalam
bahasa Ibraninya diterjemahkan “Kamu sekalian makan lemaknya”. Dalam teks ini, para gembala itu memakan segala
lemak yang seharusnya bagi Tuhan, namun mereka mengambilnya untuk kepentingan
diri mereka sendiri. Hal ini menunjukkan persembahan kurban dalam Bait Allah. Kedua,
bulunya dibuat pakaian (3b). Terjemahan Lama LAI menerjemahkannya: “Dan kamu
berpakainkan dirimu dengan bulunya”.
Memang salah satu bagian penting lainnya dari domba adalah dari bulunya
dapat dibuat pakaian. Setelah dipintal bulu itu ditenun menjadi kain yang
dikenal sebagai wol, dalam hal ini adalah biasa dilakukan oleh seorang gembala
terhadap domba-dombanya sebagai upah atas tugasnya itu. Namun maksud adalah tindakan jahat dari para gembala
itu, mereka selalu berorientasi demi keuntungan diri mereka sendiri.
Ketiga,
yang gemuk disembelih (3c). Nampak jelas motivasi jahat mereka dalam ungkapan
berikutnya. Para gembala jahat itu bukannya memelihara domba-domba dengan rasa
tanggung jawab, tetapi justru menyembelih mereka dan memakannya. Keempat,
yang lemah tidak dikuatkan dan tidak diobati (4b). Kekejaman dari gembala yang
jahat ini terhadap domba-dombanya tidak hanya sampai di situ, tetapi mereka
terus-menerus tidak mempedulikannya. Sehingga terjemahan secara bebas dalam
pengertian kalimat ini adalah: “Dan yang sedang sakit itu kamu tidak
menyembuhkan.”
Kelima,
yang luka tidak dibalut (4c). Ciri
selanjutnya dari gembala yang jahat adalah “yang luka tidak kamu balut.” Namun
dalam beberapa terjemahan lain kata “luka” di sini diterjemahkan lebih keras,
antara lain: dengan “broken” (hancur). Sedangkan istilah “membalut” di sini
adalah kebiasaan di Timur Tengah jikalau seekor anak domba itu patah tulangnya
atau luka-luka yang disebabkan oleh serangan serigala-serigala, maka gembala
itu harus membalutnya sampai sembuh. Oleh karena anak domba itu tidak dapat berjalan,
maka gembala tersebut harus selalu menggendong domba itu di atas bahunya
sendiri. Dengan demikian domba itu ada dekat sekali dengan gembalanya sampai
sembuh, sebab itu ia tidak mau meninggalkan gembalanya lagi.
Keenam, yang tersesat tidak dibawa pulang
(4d). Mereka tidak membawa pulang domba-dombanya yang tersesat. Dalam bahasa
Ibraninya kata “yang tersesat” di sini lebih tepat dalam kalimat ini adalah: “Kawanan
domba yang terusir atau terbuang tidak kamu bawa pulang.” Ketujuh, yang hilang
tidak dicari (4e). Mereka membiarkan domba-dombanya hilang.
Selain itu, para gembala
Israel memerintah dengan kejam. Akhir ayat 4 ini mengungkapkan
kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh para pemimpin-pemimpin Israel. “Melainkan
kamu menginjak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman”. Akibatnya domba-domba berserak (5a) Istilah
“berserak” dalam pasal ini sering muncul dan tercatat sebanyak 6 kali, antara
lain ayat 5 (dua kali), 6, 12 (dua kali) dan ayat 21.
Dalam ayat 5 di sini yang
menyebabkan domba-domba itu berserak adalah karena tidak ada gembala: sehingga domba
menjadi mangsa segala binatang di hutan akibat. Dalam konteks kitab Yehezkiel,
salah satunya adalah melalui pembuangan, sehingga yang dimaksudkan dengan
kalimat kiasan ini adalah bahwa ketika Israel dibawa ke pembuangan, mereka
menjadi mangsa bangsa-bangsa lain seperti Siria, Amon, Moab dan Asyur.
Akibat perlakukan para
gembala yang jahat tersebut terhadap domba-domba Tuhan, maka Tuhan murka
terhadap mereka, “Aku sendiri…,” ini berarti bahwa yang bertindak untuk melawan
gembala itu adalah Tuhan sendiri. Penegasan di atas ditujukan kepada para gembala
yang jahat karena ketidaktaatan mereka menjaga kawanan domba milik Allah. Tuhan
menjadi lawan mereka. Dengan demikian Allah meminta pertanggungjawaban dari
para gembala tersebut. Berikut ini adalah tindakan Allah terhadap
gembala-gembala yang jahat.
Pertama,
Tuhan akan menuntut mereka (10b). Akibat pertama yang dialami oleh para gembala
yang jahat itu adalah Tuhan sendiri akan menuntut domba-domba-Nya dari tangan
mereka karena domba-domba tersebut telah terserak, tersesat, menjadi mangsa
binatang hutan dan terhilang, yang disebabkan oleh kesalahan para gembala. Dalam
pengertian mengambil alih tanggung jawab yang tadinya di tangan para gembala
yang jahat itu. Terjemahan yang tepat adalah “Dan Aku akan menuntut kembali
domba domba-Ku dari tangan mereka.”
Kedua, Tuhan akan memberhentikan mereka (10c). Dalam
ayat ini disebutkan “Dan Aku akan memberhentikan mereka menggembalakan
domba-domba-Ku.” Allah sebagai subjek yang berotoritas yang mempunyai hak untuk
mengangkat dan memberhentikan para gembala. Allah adalah tuan dari para gembala
itu, untuk menggembalakan domba-domba yang adalah milik-Nya sendiri. Itu
sebabnya para gembala seharusnya tidak boleh bertindak sewenang wenang. Dengan
demikian Allah sendirilah yang turun tangan memberhentikan dan memecat para
gembala itu dari tugasnya.
Ketiga, Tuhan
akan melepaskan domba-domba-Nya dari mulut mereka (10d). Akibat terakhir yang
dialami oleh para gembala jahat itu adalah Tuhan sendiri yang akan melepaskan
domba-domba milik-Nya dari mulut mereka. Istilah “melepaskan” dalam ayat ini
tepat jika diterjemahkan dengan “merampas.” Kalimat selanjutnya ditulis “dari
mulut mereka” Sedangkan kata ganti “mereka” yang dimaksud di sini menunjuk
kepada para gembala yang jahat. Dan memang secara jelas dalam teks ini
menunjukkan kepada para gembala yang jahat itu, yang digambarkan sebagai
“binatang-binatang yang rakus,” dengan demikian, ayat ini merupakan penjelasan
lanjut dari ayat 3, yang mana para gembala itu mementingkan diri mereka sendiri
dengan mengambil keuntungan dari domba-domba yang digembalakannya, sehingga
dalam hal ini Allah sendiri yang bertindak mengambil alih domba-domba milik-Nya
dari mulut mereka.
Kedua, ayat 11-16.
Gembala yang baik. Untuk mengerti pribadi dan ciri-ciri gembala yang baik dalam
pasal 11-16 ini, maka pertama,
kita perlu mengenal pribadi Gembala yang baik dalam ayat 11. Dikatakan: “Sebab
beginilah firman Tuhan Allah: Dengan sesungguhnya Aku sendiri….” kalimat ini
menekankan pribadi Tuhan sendiri: “Lihatlah, Aku, Aku sendiri…,” ini berarti
bahwa yang bertindak untuk menggembalakan domba-domba itu adalah Tuhan Allah
sendiri. Penegasan ini ditujukan kepada para gembala Israel yang tidak setia
dalam menjalankan tugasnya sehingga Allah sendirilah yang turun tangan dalam
menggembalakan domba-domba
Kedua,
ciri Gembala yang baik memperhatikan domba-domba. Karena para gembala tidak mempedulikan
domba-domba mereka, sehingga domba domba itu berserak tanpa seorang pun
memperhatikan, maka Allah sendiri yang akan memperhatikan mereka. Sehingga
kalimat ini lebih tepat jika diterjemahkan: “Aku sendiri akan menanyakan
perihal domba-domba-Ku,” Maksud dari “bertanya perihal” di sini dalam
pengertian memperhatikan domba-domba yang terserak itu sesuai dengan
konteksnya.
Ketiga,
ciri Gembala yang baik mencari domba-domba. Ungkapan “mencari domba” Muncul
tiga kali berturut-turut di dalam ayat 11 dan 12. Dalam ayat 12 dikatakan:
“Seperti seorang gembala mencari dombanya. Pada waktu domba itu tercerai dari
kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku…” Seharusnya
dilakukan oleh seorang gembala, namun para gembala tersebut tidak melakukannya
sehingga Tuhan mengambil alih tugas mereka: “… Aku akan mencari domba-domba-Ku”.
Tindakan Allah ini merupakan perlawanan dari ayat 4 yang mana para gembala yang
jahat itu tidak mencari domba-domba yang hilang. Dalam ayat 12 ini istilah “mencari” mana Tuhan
mencari umat-Nya untuk menyelamatkan/melepaskan domba-domba.
Konsep Alkitab mengenai pelepasan atau
pembebasan acap kali dilatar-belakangi oleh situasi penahan dalam penjara atau
juga masalah perbudakan dan pembuangan. Dalam Kejadian 39:20 para penguasa
memenjarakan orang-orang yang dipandang bersalah; demikian juga suatu bangsa
yang dikalahkan dalam peperangan akan menjadi budak oleh bangsa yang
mengalahkannya. Sehingga jika Alkitab berbicara mengenai pelepasan atau
pembebasan maka di dalamnya terdapat pengertian tentang pembebasan dari
perbudakan atau juga dari penahanan di penjara. Bangsa Yehuda pada masa
Yehezkiel melayani berada dalam pembuangan akibat ketidaksetiaan bangsa itu
terhadap Tuhan.
Keempat,
ciri Gembala yang baik membawa keluar dari pembuangan dan mengumpulkan kembali.
Tindakan Allah setelah melepaskan/menyelamatkan domba-domba Nya dilanjutkan
dengan tindakan membawa keluar dari tengah-tengah bangsa dan mengumpulkan
kembali dari negeri-negeri mereka.
Kelima, menggembalakan. Dalam ayat
13-16 ada empat kali muncul kata “Aku akan menggembalakan,” walaupun dalam
bentuk kata yang berbeda. Bahkan dalam ayat 15 diterjemahkan “Aku sendiri, Aku
akan memberi makan kawanan domba Ku.” Memberi makan, karena salah satu tugas
penting seorang gembala adalah memberi makan domba dombanya, dengan makanan
yang sehat dan segar.
Allah sendiri mengambil
alih tugas ini karena Dia melihat bahwa tugas yang telah Dia berikan kepada
pemimpin politik dan pemimpin rohani Israel tidak dilaksanakan dengan baik,
melainkan mereka membiarkan domba-domba tersebut. Adapun tanggung jawab menggembalakan
domba-domba tersebut dijelaskan dalam ayat 15b-16, yang mana dalam hal ini
merupakan satu pertentangan dalam ayat 3d-4, yakni tentang tanggung jawab yang
seharusnya dilakukan oleh para gembala itu, yaitu: membiarkan mereka berbaring
dengan rileks, mencari yang hilang, membawa pulang yang terbuang, membalut yang
hancur dan menguatkan yang lemah (bnd. tindakan Tuhan sebagai Gembala yang baik
dalam Mazmur 23 dan Yohanes 10). Secara
geografis Israel, maka daerah Palestina merupakan daerah yang berpegunungan dan
subur. Dan dalam bagian ini berarti bahwa Tuhan akan membawa mereka kembali ke
tanah yang Tuhan telah janjikan kepada mereka.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama, kita berada di minggu keempat masa raya Paskah. Dari firman Tuhan tentang gembala yang baik dan gembala yang jahat. Gembala yang baik menunjuk kepada Tuhan sendiri. Ia menggembalakan umat-Nya dengan kasih. Gembala yang jahat menunjuk kepada para pemimpin agama, pemimpin politik yang memikirkan diri sendiri dan mengabaikan umat. Umat dimanfaatkan oleh mereka untuk kepentingan mereka sendiri.
Kedua, jika para pemimpin agama, politik, kita tidak menjadi gembala yang baik bagi umat, maka Tuhan akan mengambil alih tanggungjawab sebagai gembala. Sebab Tuhan tidak menghendaki umat-Nya tersesat. Semangat Paskah harus membuat kita memaknai panggilan kita sebagai gembala untuk melayani umat dan masyarakat dengan meneladani Gembala Agung kita yaitu Yesus Kristus.
Ketiga, mengikuti teladan Gembala Agung yakni Yesus Kristus. Jadilah gembala memperhatikan umat, mencari yang hilang, menuntun mereka keluar dari persoalan, menggembalakan dan membalut mereka yang terluka. Ketika Yesus bangkit, selama empat puluh hari Dia melaksanakan tugas gembala dengan menemui murid-murid. Ciri-ciri gembala yang baik dan yang jahat seperti yang telah dibahas dalam pembahasan teks.
Keempat, dari bacaan ini kita menemukan kekuatan pastoral dari gembala seorang gembala. Kita belajar dari firman Tuhan bahwa menjadi seorang gembala yang baik tidak hanya berkhotbah dan memimpin sakramen, namun kedekatan dengan umat. Berani berkorban bagi umat gembalanya.
Kelima, Tuhan tidak
menghendaki umatnya dimanfaatkan oleh para pemimpin untuk kepentingan mereka.
Tuhan tidak menghendaki untuk umat umat-Nya diterlantarkan. Yang tersesat dicari, yang terluka harus dirawat dengan
kasih, dst. Jika ada pemimpin/gembala yang jahat maka Tuhan sendiri akan
membela umat-Nya dan menghukum gembala yang jahat tersebut. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar