RENUNGAN : 2 KORINTUS 13:11-13


Selama bulan Mei, setiap minggu ibadah dalam gereja menggunakan liturgi dari berbagai etnis. Kita berharap tarian-tarian, busana, bahasa yang digunakan dalam liturgi bukan sebagai pertunjukan atau “performance” saat bulan budaya melainkan sebuah devosi. Setelah perayaan bulan budaya kita hidup sebagai orang-orang berbudaya dalam gereja dan masyarakat. Bagi GMIT,  ibadah Kristen mencakup dua aspek, yaitu ibadah ritual dan ibadah karya, yang tidak terpisahkan. Hal itu tertuang dalam salah satu pokok ajaran tentang ibadah. Ritual ibadah di dalam gereja harus dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang-orang yang beriman dan berbudaya.

PEMBAHASAN TEKS

Kita dapat membagi bacaan ini dalam beberapa pokok.

Pertama, ayat 11. Bagian kesimpulan. 

Berisi nasehat-nasehat Paulus yang sebaiknya dilakukan oleh jemaat, yaitu: Pertama, bersukacitalah. Paulus menasihati agar jemaat tetap bersukacita meskipun terjadi konflik yang sangat tajam antara jemaat dan Paulus. Paulus berharap agar konflik ini tidak menjadikan suasana kehidupan jemaat menjadi terenggut sukacita. Kedua, usahakan dirimu supaya sempurna. Dalam bahasa Yunaninya hanya menggunakan satu kata katartizo yang berarti jadilah sempurna. Yang dimaksud adalah jemaat harus dewasa dalam iman. Ketiga, terimalah segala nasihatku.  Dalam bahasa Yunaninya parakaleo yang berarti “hiburkanlah aku”. Paulus menghendaki agar jemaat mengikuti nasehat-nasihatnya, karena di dalam nasehat itu terkandung nasehat Tuhan. Dengan jemaat mau menurut apa yang dikatakan oleh Paulus serta mau menerima Paulus sebagai bapak Rohani mereka, maka hal ini dapat menghibur hati Paulus. Keempat, sehati sepikirlah kamu. Oleh karena kehidupan di dalam jemaat  terjadi konflik yang besar, maka Paulus menasihati agar jemaat bersatu di dalam pikiran. Kelima, hiduplah dalam dami sejahtera. Jika nasehat keempat dapat tercipta dalam kehidupan jemaat, maka nasehat terakhir ini, yaitu supaya kehidupan jemaat dapat menciptakan damai akan terwujud. Untuk melengkapi atau menyempurnakan nasehat-nasehat tersebut, maka Allah akan menyertai umat dan membantu jemaat mewujudkan kelima nasehat ini, karena Allah adalah sumber kasih dan damai sejahtera, yang akan mengaruniakan kasih-Nya.

Kedua, ayat 12. Saran.

Saran Paulus bagi jemaat adalah agar melakukan sebuah budaya dalam kehidupan jemaat yang sedang dalam kehidupan konflik ini, yaitu dengan membiasakan dengan budaya cium kudus. Yaitu memberikan cium kudus satu sama lain dalam persekutuan jemaat. Nampaknya ini dilakukan oleh jemaat setelah ibadah. Refrensi budaya cium kudus ini terdapat juga pada surat Paulus lainnya, yaitu Roma 16:16; 1 Korintus 16:20; 1 Tesalonika 5:26 dan juga yang di luar surat-surat Paulus 1 Petrus 5:14. Tradisi ini mungkin menjadi tradisi gereja mula-mula setelah ibadah. Meskipun dilakukan setelah salam penutup dan doa berkat setelah ibadah, namun cium kudus ini bagian dari liturgi ibadah. Dengan cium kudus ini Paulus menginginkan sebuah rekonsiliasi besar-besaran dalam kehidupan jemaat Korintus.

Ketiga, ayat 13. Salam berkat.

Biasanya Paulus mengucapkan salam berkat dengan formulasi hanya Kristus saja, yaitu “kasih karunia Tuhan Yesus Kristus…” seperti yang terdapat dalam Roma 16:20; 1 Korintus 16:23; Galatia 6:18; Filipi 4:23; 1 Tesalonika 5:28. “Kasih karunia” atau Kharis berasal dari bentuk salam Yunani khariein. Ini merupakan bentuk doa Paulus kepada jemaat, bahwa pusat iman Kristen terletak pada pengorbanan Yesus Kristus bagi umat manusia, dan siapa yang beriman kepada-Nya akan memperoleh kehidupan kekal. Berita Injil ini ditekankan oleh Paulus, karena terdapat hasutan dari musuh-musuh Paulus kepada jemaat dan sudah ada yang terhasut sehingga menimbulkan konflik. Oleh karena itu Paulus berdoa agar jemaat tidak meninggalkan pokok iman ini. Paulus tidak hanya sampai di doa berkat ini saja, melainkan Paulus menyebut tiga bagian berkat. Bagian doa berkat kedua adalah “kasih Allah”.  Paulus sebelumnya menyebut bahwa Allah adalah sumber kasih. Kasih adalah dasar utama dalam kehidupan jemaat. Tanpa kasih maka kehidupan jemaat sia-sia. Untuk Paulus berdoa  bahwa kasih Allah selalu menyertai jemaat sehingga jemaat hidup dalam kasih Allah. Bagian ketiga dari berkat ini adalah “dan persekutuan Roh Kudus”. Kata Yunani yang dipakai untuk “persekutuan” adalah koinonia. Persekutuan jemaat masih terpecah belah. Paulus berdoa agar persekutuan yang terpecah ini dapat bersekutu kembali dalam jalinan yang dipersekutukan oleg Roh Kudus. Paulus berdoa, agar ketiga doa Paulus ini senantiasa menyertai jemaat sekalian dan doa-doa tersebut terwujud dalam kehidupan mereka.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Pertama, jadilah jemaat yang dewasa dalam iman dan berbudaya. Ibadah-ibadah setiap minggu menggunakan liturgi dari berbagai etnis harus membuat kita semakin dewasa dalam iman ketika menghadapi berbagai persoalan, semisalnya ajaran-ajaran yang keluar dari kebenaran firman Tuhan. Kita hidup di era post-truth, di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini dibandingkan emosi dan keyakinan personal. Masyarakat kita lebih muda menerima informasi yang sesuai dengan perasaan dari pada data atau bukti yang akurat. Akhirnya nilai-nilai kebenaran firman Tuhan kita abaikan, nilai budaya-budaya yang baik kita abaikan. 

Kedua, membudayakan kembali budaya saling mendengar. Tantang di masa kini adalah anak-anak dan orang muda susah duduk mendengar nasehat orang tua. Di era digital, anak lebih sulit mendengar nasihat orang tua arena terbiasa dengan stimulasi instan dari gadget yang memicu dopamin. Hal ini membuat komunikasi verbal satu arah dari orang tua terasa membosankan. Nasehat yang baik terkandung firman Allah. Nilai-nilai budaya yang baik mengandung kebenaran firman Allah.

Ketiga, menghidupkan terus budaya saling menyapa, memberi salam, tanonop (gotong royong), henge`do (cium hidung), orang Timor bertemu dengan sesama di jalan atau di pasar selalu menyuguhkan sirih dan pinang, dst. Budaya ini haru dihidupkan untuk membangun persekutuan sebagai orang percaya.

Keempat, hidup dalam budaya tradisional dan budaya modern. Refleksi kita di bulan budaya dan yang ditonjolkan dalam liturgi-liturgi kita adalah budaya tradisional dalam bentuk seni kreasi. Namun kita diingatkan bahwa kita hidup dalam dunia modern sehingga hidup dalam budaya yang modern. Jangan sampai budaya modern membuat kita meninggalkan nilai-nilai budaya tradisional baik sesuai dengan kebenaran iman Kristen.

Kelima, jemaat-jemaat GMIT terus saling mendoakan agar kita tidak meninggalkan iman kita, bersatu dan selalu hidup dalam persekutuan kasih. Amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

MENJAGA DIRI DARI MINUMAN KERAS (AMSAL 31:1-9 )

TUA ADAT: HP HARUS MENGHASILKAN UANG BUKAN MENGHABISKAN UANG