RENUNGAN : 1 KORINTUS 3 : 1 - 9

 

“Jemaat mekar atau mandiri bukan karena konflik melainkan pertumbuhan,” itulah salah satu pernyataan yang diungkapkan oleh seorang tokoh gereja ketika masih melayani di Klasis Amanuban Timur. Observasi yang kami lakukan terhadap jemaat-jemaat yang mekar dan mandiri menunjukkan bahwa sebagian besar jemaat-jemaat mekar atau mandiri karena terjadi konflik dalam gereja bukan pertumbuhan gereja. Apa penyebabnya? Karena terjadi benturan antar pelayan dengan mereka yang menganggap diri “tuan gereja” (klei tuaf). Klei tuaf adalah seorang yang terpandang, terhormat dalam jemaat/mata jemaat tersebut.

Klei tuaf seorang yang memiliki jasa dalam pembangunan gereja, misalnya  tanah tempat gedung gereja dibangun adalah miliknya, seorang pendiri gereja, atau bapaknya sebagai pendiri gereja setempat. Mereka memiliki “tempat khusus” dalam gereja. Mereka sebagai pemimpin tunggal dalam gereja, akibatnya jemaat tidak memiliki inisiatif sendiri untuk melayani. Ketika ada perkembangan baru, budaya baru yang dibawa oleh orang-orang muda atau pemimpin yang diutus datang melayani di tempat tersebut maka akan terjadi benturan dengan klei tuaf dan orang-orangnya.

PEMBAHASAN TEKS

Apa yang terjadi jemaat Korintus? masalah yang terjadi di Jemaat Korintus sesuatu yang sangat ekstrim. Banyak orang yang gemar berpidato dan membangga-banggakan guru mereka (ay. 4) bahkan ada yang melunakkan ajaran yang keras sesuai dengan zaman dan keinginan mereka (bdk. I Kor. 1: 12). Dalam persekutuan jemaat Korintus ada yang membuat diri seolah-olah arif dan mulia  namun tidak banyak orang bijak atau pandai ( I Kor. 1:26). Jemaat terpecah menjadi empat kelompok yang berlainan, yang disebut Paulus dalam I Korintus 1:10-17.

Beberapa orang mengatakan bahwa mereka berkiblat secara rohani kepada Paulus, yang lain kepada Apolos, yang lain lagi kepada Kefas, sedangkan ada lagi mengatakan bahwa mereka hanya milik Kristus. Golongan yang kaya menghina yang miskin (I Kor. 11:22). Ada yang menganggap dirinya orang rohani secara khusus (I Kor. 14:37). Lagi pula mereka mengalami karunia-karunia roh termasuk nubuatan yang paling mereka sukai adalah bahasa lidah (I Kor. 14). Paulus melihat bahwa kondisi yang demikian menjadikan gereja terpecah tidak memiliki fokus dan orientasi yang sama.

Namun demikian, dalam ayat 1 Paulus tetap menyebut mereka sebagai saudara (aku saudara-saudara). Dalam ayat ini kelanjutan dari pasal dua menggunakan kata ganti “aku” yang menunjukkan bahwa Paulus menjelaskan kehidupan orang Kristen yang benar. Permasalahan dalam kehidupan seperti iri hati, perselisihan, dan suka mengelompokkan diri adalah manusia lama bukan orang Kristen dewasa. Sehingga Paulus mengatakan bahwa “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya” (ay. 2).

Kemudian Paulus menjelaskan bahwa setiap orang Kristen adalah hamba (ayat 5). Baik Apolos, dirinya dan Kefas, hanyalah seorang pelayan yang dipakai Tuhan. Jika demikian tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Rasul-rasul ini menjalankan pelayanan yang dipercayakan kepada mereka tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan (ay. 6). Bukan Paulus, Apolos dan Kefas yang menjadi fokus, perhatian dan pelayanan, tetapi kepada Tuhan yang memberi pertumbuhan. Orang bisa menanam dan menyiram tetapi Tuhan yang menumbuhkan. Apa gunanya jika menanam lalu menyiram namun tidak tumbuh.

Supaya jemaat tidak membanding-bandingkan mereka sehingga menimbulkan perpecahan maka Paulus mengatakan bahwa mereka adalah  kawan sekerja Allah. Kawan sekerja adalah mereka yang bekerja sama dengan Allah. Kata “Allah” dalam kalimat Yunaninya mendapat tekanan istimewa karena tiga kali diulang sebagai kata pertama dari tiga ungkapan (Kawan sekerja Allah, ladang Allah, bangunan Allah). Paulus mengubah gambarannya dari bekerja di ladang menjadi bekerja untuk bangunan Allah (ay. 9).

Jika kita membaca keseluruhan surat kepada jemaat Korintus, Paulus mengingatkan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dan terus bekerja memberi pertumbuhan (ay. 6). Manusia diciptakan sebagai partisipan Allah untuk terus menciptakan suatu yang baru di bumi yang tertib, indah dan berdaya guna bagi kelestarian bumi, bagi segala mahkluk termasuk manusia. Ketika manusia sebagai partisipan dalam karya Allah menyimpang dari panggilannya sebagai partisipan dan berubah menjadi lawan, manusia jatuh dalam dosa. Allah sendiri berinisiatif mengutus Putra-Nya untuk menebus manusia dari kecendrungan memberontak dan menjadikan manusia partisipan dalam karya Allah dan mempersatukan semua partisipan Allah dalam Kristus sebagai gereja.

Paulus mengingatkan kepada Jemaat Korintus bahwa mereka adalah rekan sekerja Allah, sahabat-sahabat Allah. Rekan sekerja Allah dipanggil untuk menyatukan kerja mereka suatu karya agung bagi dunia dan gereja Tuhan “….aku menanam, Apolos menyiram Allah yang memberi pertumbuhan….” Penegasan ini menunjukan bahwa Paulus menghubungkan pekerjaannya dan pekerjaan Apolos, buka mempertentangkan. Selanjutnya Paulus menghubungkan pekerjaannya pekerjaan Apolos dan pekerjaan Allah. Mereka adalah kawan sekerja. Suatu kebanggaan dan keistimewaan karena menjadi kawan sekerja Allah.  

POKOK-POKOK RENUNGAN

Pertama, jemaat yang dewasa adalah jemaat yang sama-sama mengerjakan pekerjaan Allah dan melihat yang lainnya sebagai saingan. Tidak merasa bahwa pelayan yang datang atau orang baru yang datang adalah saingan melainkan sahabat kerja. Kawan sekerja. Kawan sekerja adalah menjadikan pekerjaannya sebagai bagian dari pekerjaan kawan lain. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita adalah kawan sekerja Allah, jika di antara kawan sekerja masih merasa satu dengan yang lainnya saingan, kemudian saling menjatuhkan, ada rasa iri dendam, mengotak-kotakkan pertanda bahwa kita belum dewasa. Itulah yang menghambat pertumbuhan gereja dan menciptakan perpecahan.

Kedua, tidak saling membanding-bandingkan sesama jemaat dan sesama pelayan. Membanding-bandingkan adalah naluri manusia, namun ada sisi yang sehat dan sisi yang merusak. Sisi yang merusak adalah membuat jemaat terpecah dan terjadi kelompok-kelompok dalam gereja. Jemaat atau pelayan menjadi sombong. Sisi ini menunjukkan bahwa jemaat masih kekanak-kanakan. Sisi yang baik, jika perbandingan itu memotivasi jemaat untuk bertumbuh, membangun dan berkembang. Motivasinya ialah belajar dari yang lain sebagai kawan kerja Allah untuk bertumbuh bersama. Sisi ini menunjukkan bahwa jemaat dewasa dan bertumbuh.

Ketiga, kita tidak bekerja dan melayani sendirian. Allah ada bersama-sama dengan kita karena kita adalah kawan sekerja-Nya. Kita masing-masing mengerjakan bagian kita, yang satu menanam, satu menyiram dan Allah yang memberi pertumbuhan, melalui karya Roh Kudus. Dalam gereja tidak yang klei tuaf, sebab tuan gereja adalah Tuhan.  Oleh karena itu, pertumbuhan jemaat bukan karena kita melainkan Allah, sehingga di antara kita jangan ada yang menyombongkan diri. Tidak ada anggapan bahwa untung karena saya”. Jika ada anggapan yang demikian maka yang ada ialah perpecahan jemaat.

Keempat, jadilah jemaat yang dewasa yang bertumbuh. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jemaat yang tidak dewasa adalah jemaat suka iri hati, menciptakan perselisihan, suka mengelompok diri (tertutup), suka membanding-bandingkan dan tidak bertahan, dan ketika menghadapi berbagai tantangan zaman. Tetapi jemaat yang dewasa dan bertumbuh sebaliknya. Jemaat yang siap menghadapi berbagai tantangan zaman serta terbuka untuk menerima perbedaan dan hal-hal yang baru untuk kemajuan jemaat.  Amin. FN.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

MENJAGA DIRI DARI MINUMAN KERAS (AMSAL 31:1-9 )

TUA ADAT: HP HARUS MENGHASILKAN UANG BUKAN MENGHABISKAN UANG