RENUNGAN BULAN PENDIDIKAN : YAKOBUS 1 : 2- 8
Yuval Noah Harari,
seorang sejarawan dari Universitas Ibrani Yerusalem, meluncurkan karya yang
menjadi bahan perbincangan di ruang publik. Karya tersebut adalah Homo Deus
(2015) mencoba menjelaskan “Kemana peradaban manusia akan menuju”. Harari mengajak
kita untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi di masa depan berdasarkan apa
yang terjadi saat ini. Nasib agama, struktur sosial politik, etika dan segala
aspek kehidupan.
Menurut Harari, ada dua kemungkinan yang akan
terjadi kedepannya berdasarkan perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi dan
penelitian saintifik saat ini. Pertama, peran manusia dalam mengatur kehidupan
di bumi akan digantikan oleh mesin pemroses data. Tugas kosmis Homo Sapiens
telah berakhir, dan akan digantikan oleh data. Hal ini dimungkinkan apabila
kita melihat perkembangan artificial intelligence (IA) dan big
data saat ini. Kedua, tubuh biologis Sapiens akan bersatu dengan mesin.
Algoritma elektronik, akhirnya bisa bersatu dengan algoritma biokimiawi. Hal
ini akan meningkatkan kemampuan fisik maupun kognitif Homo Sapiens, agar
kehidupan bumi tidak didominasi oleh mesin. Homo Sapiens akan berevolusi menjadi
Homo Deus (Manusia Dewa) lewat bantuan teknologi.
Harari mampu memengaruhi
orang yang membaca bukunya bahwa pada masa depan itu manusia ada di tangan
teknologi, AI dan Internet of Things. Asalannya jelas bahwa teknologi
akan bekerja lebih efisien daripada manusia. Teknologi meramal secara lebih
pasti apa yang akan terjadi di masa depan, secara ekstrim manusia tidak relevan
lagi. Sains dan teknologi akan sangat berpengaruh bagi manusia pada hampir
semua lini kehidupan. Bahkan, secara harafiah frasa Homo Deus adalah manusia
Allah, manusia sebagai Allah, dan bila dikalimatkan, maka bunyi kalimat itu
adalah homo est deus, manusia adalah Allah.
Konteks Yakobus.
Penerima surat Yakobus adalah
kedua belas suku di perantauan, yaitu orang-orang Yahudi yang hidup mengembara
di luar Palestina. Yakobus menulis surat ini pada masa pemerintahan Kaisar
Claudius. Di masa pemerintahannya banyak orang Kristen dianiaya bahkan orang
Kristen dilarang untuk beribadah baik di Yerusalem maupun yang berada di
perantauan. Ia menetapkan Herodes Agripa II sebagai raja daerah Palestina.
Herodes Agripa II menindas orang Kristen dan rasul Yakobus merupakan martir
pertama yang terbunuh pada masa pemerintahannya, dan rasul Petrus dipenjarakan.
Pada waktu itulah orang Kristen tersebar di seluruh daerah karena terjadinya
penganiayaan di Yerusalem.
Selain itu orang Kristen diperhadapkan
dengan kemiskinan. Kemiskinan mendorong mereka untuk lebih konservatif dalam
hal agama, politik dan budaya.
Dalam kehidupan sosial, hubungan
orang Kristen dengan orang sekitar tidak harmonis bahkan di antara sesama
Yahudipun tidak hidup rukun. Kehidupan kerohanian sangat merosot. Latar
belakang yang mendorong Yakobus menulis surat ini dengan memfokuskan kepada
masalah-masalah yang terjadi pada waktu itu.
Tafsiran Teks.
Ayat 2,
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke
dalam berbagai-bagai pencobaan.” Dalam ayat ini, Yakobus secara tegas
menyatakan bahwa orang Kristen harus bergembira dalam menghadapi cobaan dan
penderitaan. Bahasa Yunani yang digunakan untuk 'bergembira' adalah chairete
yang menunjukkan bahwa Yakobus menginstruksikan para pembacanya untuk tidak
hanya menerima cobaan secara pasif, tetapi juga untuk mengadopsi sikap aktif
dalam menghadapinya. Sikap aktif yang dimaksud adalah dengan bergembira atau
bersyukur.
Ungkapan mengenai
“pencobaan” menggambarkan suatu tekanan atau penganiayaan yang sangat membebani
kehidupan orang-orang Yahudi yang percaya Tuhan Yesus. Kata “cobaan” atau “tes”
atau “ujian” adalah kata kunci dalam masalah “ketekunan”. Pencobaan memiliki
dua arti dasar, pertama, ujian dengan suatu tujuan, yaitu ujian atas
ijin Tuhan (band. Yak. 1:12; Luk. 22:28; Kis. 20:19; 1Pet. 1:6; 4:12; 2Pet.
2:9). Kedua, dengan maksud baik atau netral (band. Gal. 4:14). Ketiga,
dengan berbagai sifat atau karakter. Artinya Allah berkehendak untuk membawa
manusia pada tindakan melalui ujian itu (band. Yak. 1:13-14; Luk. 4:13; 8:13).
Ujian atau cobaan berasal dari bahasa Yunani dari akar kata dokime.
Artinya, pengalaman yang mengandung dua makna. Pertama, proses pencobaan (band.
2Kor. 8:2). Kedua, akibat pencobaan (band. Rm. 5:4).
Sedangkan ketekunan dalam
ayat 3 lebih menunjukkan pada hasil dari suatu pengalaman. Hasil tersebut
dipakai melalui proses berbagai tahapan untuk tetap berbahagia dalam segala
pencobaan atau tabah dalam pencobaan. Proses tersebut menghasilkan ketekunan
yang diharapkan oleh setiap orang percaya dalam kehidupan rohani setiap orang. Alasan
berbahagia bukan karena penderitaan yang sedang dialami, tetapi berbahagia
karena buah yang akan dihasilkan setelah penderitaan ini berlalu
Ayat 3, “Sebab kamu tahu,
bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Dalam ayat ini,
Yakobus menjelaskan bahwa cobaan yang dialami dapat menghasilkan ketekunan
dalam iman. Kata Yunani untuk 'ketekunan' adalah hupomone, yang
menunjukkan sikap tekun yang mampu bertahan dan berjuang melewati cobaan, serta
kedewasaan yang muncul sebagai hasilnya. Oleh karena itu, cobaan menjadi
sesuatu yang baik bagi orang percaya.
Ayat 4: " Dan
biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi
sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." Dalam ayat ini,
Yakobus mendorong para pembacanya untuk memperkuat ketekunan mereka sehingga
dapat mencapai kesempurnaan dalam iman dan hidup. Kata Yunani untuk 'sempurna'
adalah teleioi, yang mengindikasikan kesempurnaan dan kemurnian yang
dicapai oleh para pemeluk agama Kristen melalui ketekunan dalam menghadapi
cobaan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tanpa ketekunan maka kesempurnaan tindakan
akan tercapai.
Ayat 5, " Tetapi
apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya
kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan
tidak membangkit bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya." Dalam
ayat ini, Yakobus menekankan pentingnya memohon hikmat dari Tuhan dalam
menghadapi cobaan dan kesulitan. Hikmat yang dimaksud oleh Yakobus adalah
kebijaksanaan dan pengertian yang menguatkan iman para pemeluk agama Kristen
dan memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan. Hikmat tersebutlah yang akan
menolong orang Kristen dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Dikatakan
demikian karena terdapat pengulangan kata λείπω (kekurangan) pada ayat 4 dan 5,
yang mana menunjukkan adanya hubungan yang disengaja. Dengan demikian, hal ini
bukanlah nasihat yang terpisah melainkan melengkapi apa yang sudah diterangkan
Yakobus sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa hikmat adalah hal yang krusial dan
diperlukan saat menderita. Hikmat diartikan sebagai kemampuan khusus untuk
mencerna, serta memutuskan perkara di tengah kondisi yang kurang baik seperti
penderitaan. Hikmat juga dipahami sebagai pengetahuan. Hikmat selalu
diidentikkan dengan pemahaman intelektual berupa kecerdasan dan kepintaran.
Namun, Yakobus tidak berbicara hikmat dalam ranah intelektual, melainkan moral
dan etis.
Yakobus cenderung
mengarahkan pembacanya agar bertindak dengan hikmat, termasuk ketika dalam
penderitaan ia mengarahkan umat agar dapat memohon hikmat kepada Allah (ay. 5).
Ayat 6, " Hendaklah ia memintanya dalam
iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan
gelombang laut, yang diombang ambingkan kian ke mari oleh angin." Dalam
ayat ini, Yakobus menegaskan bahwa doa untuk memohon hikmat harus disertai
dengan kepercayaan yang kuat dan tanpa keraguan. Keraguan dalam doa dapat
menggoyahkan keyakinan seseorang dan membuatnya kehilangan fokus dalam
memperoleh hikmat dari Tuhan. Dengan begitu, keraguan tidak menambah hal baik
dalam hidup orang Kristen.
Hikmat bukanlah sesuatu
yang bisa diusahakan sendiri oleh manusia, melainkan perlu hasrat dari pendoa
dan intervensi Allah. Dalam kondisi yang menderita, doa berperan untuk
mendatangkan hikmat kepada umat yang meminta. Gagasan mengenai “hikmat” dan
“meminta kepada Allah” sepenuhnya terkoneksi dengan pemahaman Yahudi. Pertama,
gagasan ini ditemukan dalam kitab Amsal (1:1-7 dan 2:6-8). Secara garis besar,
kitab ini menyebutkan bahwa hikmat adalah pemberian dari Allah dan orang benar
haruslah memintanya. Lebih daripada itu, hikmat juga dipandang sebagai suatu
hal supranatural yang diminta oleh umat dan diberikan oleh Allah (Ams. 2:6).27
Kemudian gagasan ini ditemukan juga dalam kitab 1 Raja-raja 3:4-15. Bagian ini
merupakan pengalaman Salomo yang meminta hikmat kepada Allah.
Analogi yang digunakan
Yakobus dalam memberikan penekanan tentang orang yang bimbang yaitu dengan
ombak. Ombak di sini pahami sebagai ombak di tengah laut yang selalu berubah
bentuknya sesuai dengan kekuatan angin, bukan ombak yang dipahami sebagai air
yang memukul tepi pantai. Sejalan dengan hal itu, Yakobus menambahkan bahwa
orang yang bimbang akan merasakan didorong angin dan diombang-ambingkan.
Seperti yang dipahami, bahwa dinamika ombak di lautan tidak dapat diprediksi
dan dapat berubah-ubah sepanjang waktu, tergantung dengan angin yang
mengarahkan air tersebut. Kedua, kata kerja ini ditulis dengan participle
pasif, ini menunjukkan bawah orang yang bimbang tersebut secara pasif akan
didorong angin dan diombang-ambingkan
Ayat 7, " Orang yang
demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."
Dalam ayat ini, Yakobus memberikan jaminan bahwa Tuhan akan memberikan hikmat
kepada mereka yang memohon dengan kepercayaan yang tulus. Pesan Yakobus adalah
bahwa keyakinan yang kuat dalam Tuhan menjadi kunci dalam memperoleh hikmat
yang diperlukan bagi para pemeluk agama Kristen Yahudi untuk dapat menghadapi
cobaan dan tekanan dari masyarakat dan pemerintah Romawi.
Ayat 8, "Sebab orang yang mendua hati
tidak akan tenang dalam hidupnya." Dalam ayat ini, Yakobus mengingatkan
para pembacanya untuk memperkuat kepercayaan mereka dan menjauhi keragu-raguan
dalam hidup mereka. Keraguan dalam hidup dapat mengakibatkan kebingungan dan
ketidakpastian dalam menghadapi kehidupan, terutama dalam menghadapi cobaan dan
penderitaan.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Kita berada di minggu
kedua Bulan Pendidikan.
Pertama,
perkembangan IPTEK menjadi tantangan bagi kita ke depan (prediksi Herari). Kita
bisa mengatakan bahwa hal itu merupakan ujian di masa kini dan masa depan.
Anak-anak kita harus tekun belajar. Berbagai kesulitan yang dihadapi oleh orang
tua untuk menyekolahkan anaknya. Kesulitan diakibatkan karena berbagai faktor. Kesulitan
adalah kesempatan baik menguji iman dan meningkatkan ketekunan untuk terus
berjuang menyekolahkan anak-anak. Buah dari ketekunan adalah kematangan hidup.
Hasilnya bukan hari ini kita rasakan namun belasan tahun ke depan kita. Anak-anak
kita akan mampu menghadapi berbagai tantangan.
Kedua,
meningkatkan ketekunan dan daya tahan. Kita sadar bahwa kini kita hidup yang
dalam kesulitan bukanlah sesuatu, namun mari kita melihat kesulitan tersebut
bukan sesuatu yang aneh atau buruk. IA bukan sesuatu yang buruk. Sebaliknya,
harus belajar untuk bertahan dalam menghadapi masalah dan tidak mudah menyerah.
Harus bijak menghadapi. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk sikap belajar
untuk berserah kepada Tuhan dan mengandalkan kekuatan-Nya. Kita diminta untuk
waspada jangan sampai karena IPTEK menjadikan manusia homo est deus,
manusia adalah Allah.
Ketiga,
selain belajar untuk mendapat pengetahuan dan menguasai teknologi, firman Tuhan
mengingatkan kita untuk berdoa sungguh-sungguh meminta hikmat dari Tuhan.
Hikmat tidak jatuh sama dengan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan
belajar namun hikmat diberikan oleh Tuhan. Tekun berdoa meminta kepada Tuhan.
Hikmat dan pengetahuan penting. Jika kita memiliki pengetahuan dan hikmat, maka
kita memiliki prinsip hidup, berintegritas dan memiliki ketenangan untuk
menghadapi berbagai persoalan di masa depan. Namun orang yang tidak memiliki
pengetahuan dan hikmat, dia menjadi orang yang pasif dan gampang diombang
ambingkan. Mari berdoa dan belajar dengan tekun. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar