RENUNGAN : LUKAS 10 : 25 - 37
Injil Lukas 10: 25-37 adalah percakapan
Yesus dengan seorang ahli Taurat tentang “orang Samaria yang baik hati.” Inti
percakapan itu, “Siapakah sesamaku manusia?”
Pertanyaan ini bertitik tolak dari hukum kasih, “kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri” (Luk. 10: 27). Sekalipun bertujuan untuk mencobai Yesus. Bagi orang Yahudi, sesama adalah satu
agama dan satu bangsa.
Penulis Injil Lukas menulis jawaban Yesus, bahwa sesama tidak dibatasi
oleh bentuk identitas
apa pun. Lukas menonjolkan, bahwa Yesus sangat peduli
terhadap orang-orang yang terpinggirkan karena aturan agama dan budaya. Itu sebabnya,
dalam percakapan tersebut, Lukas menekankan, “sesama manusia” adalah semua orang, sekalipun berbeda, bahkan
orang yang dianggap musuh atau memusuhi harus dikasihi dan ditolong.
Kata “sesama” yang dipakai dalam Lukas 10: 25-37 adalah plesion. Dalam Septuaginta (LXX), kata plesion, dipakai untuk menerjemahkan rea,
yakni teman, rekan, kawan setanah air, sesama, keluarga dan saudara.
Dalam kitab PB, ada tiga kata yang
dipakai untuk menerjemahkan kata “sesama,” yaitu: geiton, perioikos dan plesion. Kata geiton
adalah setanah air dan tetangga. Kata ini terdapat
dalam Lukas 14: 12; 15: 6, 9. Arti kata perioikos adalah tetangga, orang yang berada di sekeliling tempat tinggal. Mereka yang di sekitar adalah orang terdekat
yang menjadi keluarga. Kata ini terdapat dalam Lukas 1: 58. Arti
kata plesion adalah sesama, tetangga,
teman, saudara sebangsa. Kata ini
terdapat dalam Matius 5: 43; 19: 19; 22: 39; Markus 12: 3131, 33; Lukas 10: 27,
29, 30.
Ketiga kata Yunani tersebut memiliki arti dan makna,
bahwa sesama adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan orang lain dalam ikatan keluarga, persahabatan, teman,
tetangga dan sebangsa. Namun dalam
Lukas 10: 25-37, Yesus memberi arti
“sesama” yang tidak dibatasi oleh ikatan hubungan apa pun, bahkan orang yang dianggap
musuh dan memusuhi adalah
sesama.
Judul
perikop Lukas 10: 25-37 adalah “Orang Samaria Yang Baik Hati.” Teks ini dibagi dalam beberapa
bentuk:
Kita
dapat membaginya dalam beberapa pokok: pertama,
ayat 25-28, mengasihi sesama untuk memperoleh hidup kekal.
Bagian ini adalah teks paralel dari Markus 12: 28-34 dan Matius 22: 34-40 yang
berisikan tentang hukum yang terutama dan pertama. Dalam ayat 25 disebutkan bahwa penulis
injil Lukas memakai kata nomikos
untuk menyebut seorang ahli Taurat.
Seorang
ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, “Guru, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Konsep hidup kekal bagi ahli Taurat itu
adalah hidup tanpa akhir. Tetapi hidup kekal yang dimaksud pada
bagian ini bukanlah seperti yang dipahami oleh
ahli Taurat tersebut, melainkan keselamatan di dalam kehidupan dengan
Allah pada saat ini dan saat yang
akan datang, yaitu hidup sejati (hidup kekal yang dimaksud bukan hanya dalam arti kuantitas hidup, tetapi
juga dengan kualitasnya).
Respons
Yesus terhadap pertanyaan ahli Taurat itu dengan bertanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di
sana?” (ayat 26). Pada ayat 27, ahli
Taurat itu menggabungkan Ulangan 6: 5
(mengasihi Tuhan Allah) dan Imamat 19: 18 (mengasihi sesama manusia), dengan alasan karena inilah inti
dari seluruh hukum Taurat. Dalam teks, kata “sesama” yang dipergunakan dalam injil Lukas adalah plhsion (Luk. 10: 29, 36; Kis. 7: 27).
Menurut
orang Yahudi, “sesama” adalah orang yang satu komunitas agama dan bangsa. (band. Mat. 5: 43-48). Ada kemungkinan juga orang asing yang ada
dalam lingkungan orang Yahudi yang
sudah menjadi satu komunitas dengan orang Yahudi dalam agama, itu yang disebut proselit/bukan orang Yahudi yang memeluk agama Yahudi. Bagi Yesus, plhsion
tidak terbatas pada ikatan hubungan apa pun.
Kedua,
Ayat 29: Siapakah sesamaku
manusia? Pada ayat 28, Yesus membenarkan jawaban ahli Taurat itu. Itu sebabnya, Yesus berkata kepada ahli Taurat itu, “perbuatlah demikian,
maka engkau akan hidup” (ayat 28). Untuk
membenarkan dirinya, ahli Taurat itu
berkata kepada Yesus, “Siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan ahli Taurat
untuk mencobai Yesus. Dia mengharapkan jawaban Yesus menyimpang dari ketentuan para rabbi Yahudi.
Ketiga,
Ayat 30-35: Perumpamaan, Yesus menjelaskan, “siapakah sesamaku manusia”
dalam bentuk perumpamaan. Bentuk pengajaran dengan menggunakan perumpamaan untuk mempermudah
memahami inti dan arti yang sedang
diajarkan, karena dalam perumpamaan itu terdapat
kebenaran yang nyata. Dengan
demikian, pendengar diajak berpikir untuk menemukan kebenaran itu.
Yesus
memulai perumpamaan itu, ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho (ay. 30), dia adalah seorang Yahudi. Seseorang itu jatuh ke tangan
penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya
habis-habisan, tetapi juga memukulnya sampai setengah mati, sesudah itu
para penyamun itu meninggalkannya.
Dalam
perumpamaan ini, Yesus menempatkan korban itu sebagai seorang yang harus ditolong. Yesus menyebutkan ada beberapa orang yang
berjalan melalui jalan itu, yaitu jalan tempat si korban yang sedang terkapar
setengah mati. Orang pertama yang lewat
adalah imam dan kedua seorang Lewi.
Kedua orang itu adalah pejabat bait Allah. Imam dan orang Lewi adalah orang Yahudi yang memegang
teguh Torah dan mempertahankan kekudusannya dari perbuatan yang najis. Disebutkan, seorang imam dan seorang Lewi itu melewati si korban itu
dari seberang jalan (ayat 31, 32).
Dalam
ayat 33-35 disebutkan, lalu datang
seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya
oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Ketika orang Samaria, berjumpa dengan orang yang dirampok
dan dipukul hampir mati oleh perampok dan ditinggalkan di tengah jalan itu, ia
tidak bertanya kepada korban itu, apa agamamu? Apa bangsamu? Apa aliranmu?
Tidak. Pertanyaan seperti itu ia abaikan dan ia langsung turun dari
keledainya dan menolong korban. Karena ia tau bahwa korban adalah sebagai
sesama ciptaan Tuhan, yang patut ditolong. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya
sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya
ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah
dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
Mengapa
dalam perumpamaan ini Yesus menampilkan orang ketiga yang lewat jalan itu seorang Samaria? Sejak lama, orang Yahudi dan Samaria terlibat permusuhan etnis
dan agama. Daerah Samaria terletak di
antara Yudea dan Galilea. Bangsa
Samaria muncul sekitar tahun 400 SM.
dari perkawinan campur antara bangsa
Yahudi dan bangsa lain. Hal ini
membuat orang Yahudi menganggap mereka lebih hina daripada orang kafir. Dikatakan, bahwa setiap orang
disentuh atau ditumpangi oleh orang
Samaria adalah sudah najis, sama halnya rumah penginapan juga najis, apabila orang Samaria menginap di tempat itu. Bahkan orang yang bergaul dengan orang Samaria dianggap sudah najis. Kejahatan yang sering dilakukan oleh orang
Samaria adalah menyerang orang Yahudi yang berziarah
ke Yerusalem. Yesus memperlihatkan
orang Samaria itu bermurah hati terhadap korban yang tidak berdaya
yang setengah mati itu. Sekalipun
si korban adalah seorang Yahudi yang adalah musuhnya
dan yang memusuhinya, bahkan kaum si korban menganggap orang Samaria hina dan najis.
Sepertinya
menjadi kebiasaan, pejalan jauh atau saudagar membawa anggur dan minyak zaitun.
Biasanya benda-benda tersebut dipergunakan untuk menghangatkan tubuh atau untuk bahan bakar lampu atau
obor di perjalanan pada malam hari. Tetapi
orang Samaria itu tidak memikirkan
keperluannya. Dalam pikirannya hanya
menolong korban yang setengah mati itu.
Orang
Samaria itu berkorban untuk keselamatan orang itu. Dua dinar yang
diberikannya kepada pemilik penginapan itu adalah ukuran upah pekerja selama
dua hari. Dalam Matius 20: 2
disebutkan, satu dinar sama dengan upah satu hari bagi seorang pekerja.
Keempat,
Ayat 36-37: Jawaban Yesus. Yesus
menyelesaikan percakapannya dengan orang Samaria itu dengan mengarahkannya
untuk memberi jawaban yang tepat
sesuai dengan pilihannya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia
dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
(ayat 36). "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Jawaban orang Samaria
ini menembus batas yang sudah
lama menjadi keyakinannya, bahwa sesamanya manusia bukanlah hanya orang yang satu agama dan bangsa,
tetapi juga setiap orang, apa pun latar belakangnya adalah sesama manusia.
Terjadi perubahan konsep
tentang sesama manusia
dalam pandangan dan kehidupan ahli Taurat tersebut. Atas
jawaban tersebut, kata Yesus kepadanya, "pergilah, dan perbuatlah
demikian!"
Di akhir percakapan Yesus dengan seorang
ahli Taurat, Yesus bertanya, “Siapakah di antara
ketiga orang ini, menurut pendapatmu adalah sesama manusia dari orang yang
jatuh ke tangan penyamun itu?"
(Luk. 10: 36). Jawab orang itu:
"Orang yang telah menunjukkan belas kasihan
kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah
demikian!" (Luk. 10: 37), temukanlah sesama yang adalah saudaramu. Terus-menerus melakukan yang sama seperti
yang dilakukan oleh orang Samaria itu.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama,
Gereja hadir menemani dan merawat menembus batas. Firman Tuhan mengingatkan kita
tentang Yesus memperkenalkan sebuah kasih menembus batas-batas agama dan
budaya. Tindakan orang Samaria dalam perumpamaan tersebut selain dari pada
kasih karena kemanusiaan, namun sebagai sebuah tindakan persaudaraan yang saling
mengasihi. Melayani dengan menembus sebuah kebekuan, menjadi pelayanan yang
cair, yaitu melihat mereka yang berbeda adalah sesama saudara seperti yang
dilakukan oleh orang Samaria.
Kedua,
firman Tuhan hendak mengingatkan kita tentang amanat
“pergilah” untuk menemukan saudara yang berbeda agama, berbeda suku, gender,
dll., menjadi penyembuh, tanpa memandang latar belakang seperti yang dilakukan
oleh orang Samaria ini. Ia menolong orang Yahudi tanpa memikirkan latar
belakang agama, status dan ego doktrinal keagamaan.
Ia menggunakan apa yang ada dan berkorban untuk kesembuhan korban. Apa yang ada
pada Anda dan saya?
Ketiga,
gereja hadiri menemani dan merawat mencakup aksi yang
kongkret tentang penyembuhan healing. Kata Yesus kepada ahli Taurat
yang bertanya kepada-Nya: “pergilah, dan berbuatlah demikian!”. Perbuatlah
seperti yang orang Samaria ini berbuat.
Istilah healing di sini
dihubungkan sebagai sacrament of hope.
Dengan kata lain, hope menyediakan arah, inspirasi dan
motivasi ke arah kekuatan/daya dan kepenuhan
hidup. Merawat dan menemani dengan cinta kasih persaudaraan yang
memiliki kekuatan penyembuhan. Hal ini memiliki dua dimensi fungsi. Pertama, untuk menebus dan memperbaiki chaos
masa lalu. Kedua, memelihara dan menciptakan kesempatan bagi masa depan. Maka
dengan demikian, harapan
terajutnya kembali persaudaraan yang saling mengasihi.
Keempat,
“Siapakah… sesama manusia
dari orang yang jatuh ke tangan penyamun
itu?” Menjadi sesama saudara dapat dilakukan dengan memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan (Band. Luk. 6:31). Orang lain bukanlah
ancaman melainkan kawan yang perlu untuk dirangkul, diterima,
dan dikasihi. Amin. FN

Komentar
Posting Komentar