RENUNGAN : MATIUS 18 : 6 - 11

 

Bacaan ini kelanjutan dari ayat 1-5. Kita mencatat peristiwa yang melatarbelakangi bacaan ini, yakni Yesus memperhatikan percakapan murid-murid di tengah jalan. Percakapan mereka tentang “Siapa yang terbesar dalam Kerajaan sorga?” Kemudian Yesus memanggil kedua belas murid itu, serta berkata kepada mereka tentang perkara yang mereka percakapkan itu.

Bagi orang Yahudi,  pertanyaan tentang siapa yang terbesar di dalam kerajaan surga merupakan pertanyaan biasa. Orang Farisi yang sering dan suka berbicara tentang Kerajaan Mesias selalu mengatakan bahwa dalam kerajaan akan ada berbagai tempat, pangkat dan tingkat. Tentulah mereka yang akan mendapatkan pangkat terutama. Mungkin murid-murid kelak akan mendapatkan tempat yang utama. Pertruskah? Yakobuskah? Atau Yohanes yang mendapatkan pangkat dan tempat utama? Yesus melihat bahwa ada kecemburuan di antara mereka, sehingga Yesus bicara dalam ayat 3-5. Namun sebelumnya Ia memanggil seorang anak kecil menempatkan di tengah-tengah mereka. Sehingga di ayat 6, Yesus membicarakan hal yang paling bertentangan dengan hal berbuat baik kepada seorang, yakni menyesatkan seorang anak. Menyesatkan yang berarti menyebabkan anak jatuh ke dalam dosa dan meninggalkan Tuhan. Tidak menunjukkan jalan yang benar.

Anak kecil  dalam ayat 6a yang dimaksudkan dalam konteks tersebut menggunakan kata mikros, yang artinya anak yang sangat kecil. Siapa yang menyesatkan seorang anak kecil tersebut akan mendapat hukuman yang berat. Kata menyesatkan dalam teks ini menggunakan kata skandaliso. Kata ini adalah kata kerja, orang pertama tunggal, artinya “saya sedang menjatuhkan seorang anak ke dalam dosa”. Kata ini menunjukkan tindakan aktif yang terus menerus dilakukan. Artinya tindakan penyesatan yang dilakukan dalam ayat tersebut adalah terus menerus dilakukan. Oleh karena itu dalam ayat ini mengandung peringatan keras bagi mereka murid-murid.

Akibat penyesatan tersebut, dalam ayat 6b, maka akan mendapatkan hukuman yaitu diikatkan batu kilangan pada lehernya dan dilemparkan di dalam laut. Batu kilangan dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan menggunakan kata mulos artinya gilingan. Batu kilangan yang dimaksudkan adalah batu gilingan yang biasa digunakan orang-orang di daerah Timur Tengah untuk menggiling tepung dari gandum dan digunakan untuk menggiling minyak zaitun. Batu kilangan biasa digunakan untuk menggiling. Penggunaan batu kilangan sebagai cara menghukum orang yang sudah menjadi budaya di wilayah Timur Tengah dan bahkan Yunani sejak zaman dulu. Penggunaan batu kilangan, menunjukan beratnya kesalahan yang di lakukan oleh orang itu.

 Berdasarkan pernyataan tersebut maka hukuman bagi orang yang sedang menjatuhkan seorang anak kecil ke dalam dosa, akan dikenakan hukuman yang sangat berat. Dalam konteks ini Yesus menggambarkan dengan jelas bagaimana hukuman yang akan diterima oleh orang yang menjatuhkan seorang anak ke dalam dosa. Mengikatkan batu kilangan pada leher jelas menggambarkan hukuman mati, penggunaan batu kilangan untuk menghukum penyesat merupakan sebuah alat eksekusi, berat batu yang sangat besar akan dengan cepat menarik bahkan perenang yang hebat pun jika diikatkan batu besar (batu kilangan) dan ditenggelamkan ke dalam laut maka akan tenggelam ke dasar laut.

Dari hal tersebut Yesus ingin menegaskan murka Allah yang amat besar terhadap orang yang menjatuhkan anak ke dalam dosa. Yesus juga menegaskan pernyataan mengenai seorang penyesat yaitu “lebih baik mati dari pada membawa orang ke dalam dosa” (ay.7-9).

 Ayat 7 yesus mengikuti cara para nabi Israel, yang sering memakai kata “celakalah”. Yesus mengucapkan kata “celakalah” dua kali, tetapi dengan dua arti yang berlainan. “Celakalah” yang pertama Yesus memikirkan keadaan dunia. “Celakalah” yang kedua bernada ancaman. Celaka bagi penyesat yang merencanakan dan melakukan penyesatan. Di sini terkesan nada penyesatan itu direncanakan oleh si penyesat tersebut. Penyesat menyesatkan orang lain dan menyesatkan diri sendiri, sehingga dijelaskan pada  ayat 8 dan 9. Oleh karena itu, Yesus meminta untuk berjuang melawan penyesatan tersebut baik dari dalam diri maupun dari luar. Dari dalam diri adalah keinginan daging yang berjuang menyesatkan diri sendiri, sehingga Yesus mengatakan untuk mematikan keinginan daging. Penyesatan bisa melalui anggota tubuh. Mata, tangan, kaki menggambarkan hal-hal yang di cintai. Tetapi kalau hal-hal yang dicintai itu membawa atau menjatuhkan ke dalam dosa, harus rela membuangnya. Oleh karena itu perlu mendisiplinkan seluruh anggota tubuh yang memimpin kepada tindakan penyesatan yang menyesatkan orang-orang kecil dan menyesatkan diri sendiri. Yesus mengingatkan para penyesat bahwa orang-orang kecil dilindungi malaikat-malaikat (ayat 10). Ayat 11, Yesus memelihara mereka dan mencari mereka yang dianggap sesat dan kecil dalam masyarakat.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Kita mencatat pokok renungan sebagai berikut.

Pertama, orang-orang kecil, anak kecil menjadi perhatian Tuhan. Mata Tuhan tertuju kepada mereka untuk memelihara mereka. Tuhan menjadi pembela mereka. Tangan Tuhan memanggil mereka dan merangkul mereka. Mereka di tempatkan di tengah-tengah, bukan di belakang, di pinggir atau sudut. Oleh karena itu jangan menyesatkan, jangan memperalat, mengeksploitasi mereka. Mereka bukanlah objek melainkan subjek yang berharga di mata Tuhan. Bagi para penyesat akan mendapatkan hukuman. Kecaman yang paling keras dari firman Tuhan adalah celaka bagi mereka yang menyesatkan orang-orang kecil.

Kedua, kita bisa jadi penyesat, menyesatkan orang lain dan menyesatkan diri kita sendiri. Firman Tuhan menyoroti bahwa penyesatan itu dari keinginan daging, dari segala sesuatu yang kita cintai lebih dari pada kehendak Tuhan. Yesus mengingatkan murid-murid dan juga kita, bahwa jangan sampai kita yang menjadi penyesat. Oleh karena itu, kita diminta oleh firman Tuhan untuk mendisiplinkan diri, mendisiplinkan anggota tubuh kita. Memperhatikan ajaran-ajaran kita, jangan sampai apa yang kita ucapkan menyesatkan.

Ketiga, kita semua sama di hadapan Tuhan, karena itu jangan menganggap remeh orang-orang kecil. Tidak ada tempat yang istimewa bagi orang tertentu dalam kerajaan surga. Strata sosial, status sosial, jabatan, hanya berlaku selagi kita masih hidup dalam dunia, namun di surga kita semua sama. Oleh karena itu mari kita saling menjaga dan menghormati.  Orang besar menghargai dan menghormati orang kecil, anak-anak kecil. Mereka mempunyai tempat dan kesempatan yang sama baik dalam gereja maupun lingkungan masyarakat. Amin. FN.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

MENJAGA DIRI DARI MINUMAN KERAS (AMSAL 31:1-9 )

TUA ADAT: HP HARUS MENGHASILKAN UANG BUKAN MENGHABISKAN UANG