RENUNGAN BULAN PENDIDIKAN : ULANGAN 6: 1 - 9
Bulan Juli ditetapkan
oleh Gereja Masehi Injili di Timor sebagai Bulan Pendidikan. Pendidikan
dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan
pendidikan non-formal. GMIT merumuskan pokok ajaran tentang pendidikan sebagai
berikut: Pertama, GMIT mengakui bahwa pendidikan adalah perintah Allah.
Gereja terpanggil untuk melaksanakan bentuk-bentuk pendidikan sebagai tanggung
jawab iman kepada Allah. Kedua, keterlibatan gereja dalam bidang pendidikan
merupakan tanda keikutsertaan dalam karya penyelamatan Allah. Ketiga,
pelayanan pendidikan memiliki peran penting agar gereja masa kini dan masa
depan mewarisi nilai-nilai kekristenan, serta sebagai sarana untuk membekali
anggota agar memiliki karakter kristiani. Keempat, pendidikan Kristen bermuara
kepada tujuan transformasi dalam keluarga, gereja, masyarakat dan dunia, agar
peserta didik memiliki kemampuan pengetahuan dan spiritualitas sesuai dengan
teladan Kristus, Sang Guru Agung. Dari pokok-pokok ajaran tersebut kita dapat
menyimpulkan bahwa pendidikan adalah misi Allah yang harus dilaksanakan oleh
gereja.
Bacaan saat ini kita dapat membaginya dalam dua bagian.
Pertama, ayat 1-3. Mengasihi Allah. Seperti apa
kita mengasihi Allah? Bukankah Allah itu Kasih, dan bukankah manusia yang
seharusnya membutuhkan kasih. Ada berbagai jawaban atas pertanyaan tersebut,
ada yang bilang kita mengasihi Allah itu lewat sesama, rajin ke gereja,
ibadat-ibadat, tidak berbuat jahat, dll. Jawaban itu benar. Namun, mengasihi
Allah dalam konteks umat Israel ialah takut akan Tuhan, jadi Takut akan Tuhan
sama dengan mengasihi Allah (baca ay. 2). Takut akan Tuhan terdapat dalam Amsal
8 : 13. Namun ada pengertian lain tentang takut akan Tuhan, yaitu bergaul karib
dengan Allah, membangun relasi dengan Allah melalui persekutuan pribadi maupun
persekutuan bersama keluarga dengan Allah.
Bacaan ini merupakan
perintah, ketetapan dan aturan bagi bangsa Israel untuk kebaikan masa depan mereka (baca ay. 2 & 3)
ketika mereka masuk ke tanah Kanaan dan menjalani hidup di sana. Kunci
keberhasilan, kesuksesan itu ialah takut akan Tuhan atau mengasihi Allah.
Ketika orang dekat dengan Tuhan, bergaul karib dengan Tuhan menjadi orang
sukses/berhasil. Ketika Israel mengasihi Tuhan mereka diberkati tetapi ketika
mereka berbuat jahat mereka dihukum.
Kedua, ayat 4-9. Pengakuan iman Israel. Tuhan
Allah itu Esa/satu bukan dua artinya tidak boleh menduakan Tuhan. Maksudnya
jangan ada allah lain. Mengasihi Tuhan Allah dengan seluruh kehidupan,
totalitas hidup. Misalnya bukan hanya tangan yang mengasihi Allah tetapi mulut
juga digunakan untuk mengasihi. Orang yang mengasihi Allah berarti selalu
mengajarkan firman Tuhan berulang-ulang ayat 7.
Amanat pengajaran bagi
umat Israel, bahwa tiap keluarga wajib mengajarkan dengan baik perintah Allah
kepada anak-anak. “Apa yang Kuperintahkan kepadamu. haruslah engkau
mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya Haruslah
engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu lambang di dahimu dan
haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu”. Perintah ini
dimaksudkan agar Israel mengasihi dan mentaati Allah, serta aktif mengajarkan
tentang perintah Allah kepada generasi mereka turun-temurun melalui pengajaran
tentang Allah dan Taurat-Nya. Dalam pendidikan bangsa Yahudi, topik tentang
Allah dan hukum taurat menjadi yang terutama dalam pengajaran-pengajaran.
Orang tua memiliki peran
yang penting untuk mengajarkan secara berulang-ulang kepada anak-anak. Setiap
kesempatan harus digunakan untuk menyampaikan perintah Allah kepada anak-anak.
Pembelajaran yang dilakukan secara berulang-ulang, lebih dari satu kali,
memberi peluang bagi anak-anak untuk memahami apa yang diajarkan. Proses
pengulangan ini memungkinkan anak-anak untuk dapat mengingat dan menyimpan
informasi dengan baik. Dalam konteks Ulangan 6:4-9, pengajaran yang dimaksud
menunjuk pada perintah Allah, yakni membicarakan firman Allah kepada anak-anak,
dengan maksud agar anak-anak hidup takut akan Allah, mengasihi Allah, dan hidup
berkenan kepada-Nya. Hal ini menjadi prioritas utama dari tujuan pendidikan
yang ingin dicapai oleh bangsa Israel. Pendidikan dalam tradisi orang Israel
selalu menghubungkan setiap aktivitas kehidupan dengan pengajaran tentang Allah
yang didasari dengan Shema.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Pertama, pendidikan umat dimulai dari dalam
keluarga untuk memberi bekal bagi generasi-generasi berikutnya agar dapat hidup
sebagai umat Allah, sebagai warga gereja. Para orang tua diberikan tanggung
jawab untuk memperkenalkan kepada anak-anak mereka tentang Allah yang mereka
sembah dari dalam rumah.
Kedua, firman Tuhan mengingatkan kita agar
orang tua, lembaga pendidikan tidak hanya memenuhi otak anak-anak berbagai ilmu
pengetahuan, namun pengenalan iman yang benar dan takut akan Tuhan. Pendidikan harus
membuat orang mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati. Selain itu tidak
menduakan Tuhan. Ilmu pengetahuan tidak dijadikan Tuhan, melainkan ilmu
pengetahuan untuk melayani Tuhan dan bagi kebaikan umat manusia.
Ketiga, tantangan kita adalah anak-anak kita
“bebas” belajar di era digital. Apakah orang tua tahu apa yang anak-anak
belajar ketika mereka memegang, scroll HP android mereka? Apa isi gadget di
tangan anak-anak? Pelajarankah? Atau konten-konten yang tidak etis? Selain itu,
anak-anak zaman sekarang tidak mau duduk lama mendengar cerita dari orang tua
di rumah. Mereka juga tidak mau duduk berlama-lama di sekolah minggu dan duduk
mendengar khotbah-khotbah. Bagaimana kita membuat nasihat-nasihat kita,
pengajaran-pengajaran dan khotbah-khotbah kita menarik bagi anak-anak?
Keempat, Pertanyaan untuk kita ialah: apa yang kita ajarkan atau ceritakan bagi
anak-anak kita ketika mereka tidur malam? Atau ketika duduk bersama mereka? Anak-anak
belajar mendengar dari orang tua. Ketika apa yang dilakukan atau diceritakan
anak-anak di luar itulah cermin orang tua dalam rumah.
Kelima, pendidikan adalah misi Allah yang juga misi gereja. Oleh karena itu Anda dan saya harus melakukan misi itu. Selain pendidikan
formal di bangku sekolah namun pendidikan informal dan non-formal kita
ciptakan di rumah dan juga di gereja. Amin. FN.

Komentar
Posting Komentar