RENUNGAN BULAN KEBANGSAAN: YUNUS 3:1-10
"Malaikat masuk
sistem bisa jadi iblis/setan," pernyataan tersebut disampaikan oleh Mahmud
MD dalam konteks politik dan Pilkada di Indonesia. Ungkapan ini bermakna bahwa
individu yang bersih atau berniat baik sekalipun berisiko terjerumus dalam
korupsi atau keburukan jika masuk ke dalam sistem kekuasaan atau birokrasi yang
sudah telanjur rusak dan korup di Indonesia. Artinya, bahwa ada dosa sistemik diwarisi bahkan dibuat sampai saat ini. Dosa sistemik ini dibutuhkan pertobatan yang sistemik penyelenggara bangsa ini. Pengantar ini membawa kita masuk dalam pembahasan teks dan perenungan di Bulan Kebangsaan saat ini.
PEMBAHASAN TEKS
Narasi utama kitab Yunus
tidak berfokus pada penghakiman melainkan pada jangkauan belas kasih Allah
terhadap bangsa asing. Peristiwa pertobatan Niniwe dalam Yunus 3:1-10 merupakan
salah satu puncak narasi teologis yang memperlihatkan bagaimana kedaulatan
Allah bekerja melampaui batas-batas etnisitas dan geografis.
Kita dapat mengelompokkan
bacaan ini sebagai berikut.
Pertama,
pemberitaan (ayat 1-4). Ketaatan Yunus pada panggilan kedua menghasilkan pesan
yang singkat namun provokatif. Allah memanggil Yunus untuk kedua kalinya. Yunus
bukanlah Yunus yang dulu memberontak dan menolak tugas, melainkan pada
panggilan kedua ini, Yunus yang sudah mengalami pemahaman yang baru; bahwa
melarikan diri dari hadapan Allah itu sia-sia. Yang menarik adalah Allah tidak
meminta Yunus mempertanggungjawabkan perbuatannya, tidak mempersalahkan Yunus,
begitu pula dengan Yunus yang tidak mengungkapkan kesediaannya untuk pergi ke
Niniwe. Yang ada hanya “firman Tuhan datang kepada Yunus untuk kedua kalinya.
Tugas yang Yunus terima
adalah tugas yang sama tepat seperti yang diberikan padanya dalam Yunus 1:2.
Perbedaannya adalah dalam Yunus 3:2 ini tidak lagi menyebutkan alasan tentang
kejahatan mereka seperti di dalam Yunus 1:2, tetapi menekankan isi pemberitaan
Yunus. Kata yang digunakan adalah pengumuman, proklamasi. Yunus harus
menyampaikan apa yang difirmankan Allah kepadanya dan Yunus hanya boleh
bernubuat sesuai dengan Firman yang disampaikan-Nya. Tidak disebutkan apakah
Yunus pergi ke Niniwe dengan perasaan segan atau terpaksa, hanya dikatakan
bahwa Yunus pergi setelah mendengar firman Allah. Perjalanan tiga hari
menunjukkan betapa luasnya kota Niniwe.
Yunus tidak menunda
proklamasinya sampai ia tiba di jantung kota metropolitan yang besar itu; pada
hari pertamanya di dalam batas kota, dia mulai memberi tahu penduduk tentang
pesan ilahi kepada mereka.
Waktu empat puluh hari bukan suatu ancaman
yang tak terelakkan, tetapi suatu peringatan untuk melakukan perbaikan. Angka
"empat puluh hari" dalam teks Ibrani sering kali melambangkan masa
pengujian atau kesempatan untuk berubah.
Kedua,
pertobatan massal (ayat 5-9): Respons
Niniwe bersifat sistemik. Dimulai dari kepercayaan rakyat jelata hingga dekrit
resmi raja. Hal ini menunjukkan bahwa pertobatan sejati melibatkan kesadaran
kolektif dan kemauan politik untuk meninggalkan kekerasan.
Nubuat yang disampaikan
Yunus direspons dengan cepat. Orang Niniwe yang tidak pernah mendengar tentang
Allah, menjadi ‘percaya kepada Allah’. Dalam naskah Ibrani dijabarkan dari kata
`aman’, yang berarti ‘teguh’, ‘setia’.
Orang Niniwe adalah para
penindas yang dalam Nahum disebutkan sebagai “kota yang biadab dan bejat itu”
(Nah. 3:1-4), menjadi percaya kepada Allah, yaitu mereka menyerahkan diri
kepada sesuatu yang teguh dan setia.
Mereka mengakui bahwa
mereka pantas dihukum, dan bila berkenan kepada Allah, bisa jadi akan bebas
dari hukuman. Ayat 5 merupakan puncak dari pertobatan Niniwe. Nubuat Yunus
diartikan mereka sebagai nubuat bersyarat; kalau Niniwe tidak bertobat maka
Niniwe akan ditunggangbalikkan. Tetapi jika mereka bertobat, Allah dapat
mengubah rencana-Nya, oleh karena kesetiaan-Nya kepada manusia. Pengertian ini
dibangun karena orang Niniwe menjadi percaya kepada Allah. Sangat kontras
dengan sikap bangsa Israel, yang sering kali menolak pesan Allah melalui para
nabi-Nya, justru raja Niniwe yang bukan orang Yahudi dan kejam itu segera
merespons firman Allah. Seperti awak kapal ‘takut kepada Tuhan’ (Yun 1:16),
demikian orang Niniwe ‘percaya kepada Allah’. Kedua ungkapan itu berdekatan.
Orang yang bukan Israel tidak menutup diri terhadap firman Allah, tetapi
membuka hati untuk menerima firman Allah. Raja Niniwe turun dari takhtanya,
menanggalkan jubah dan mengenakan kain perkabungan serta duduk di atas abu, dan
mengeluarkan perintah supaya semua orang dan ternak melakukan hal yang sama,
tanpa terkecuali (ay. 6). Raja dan rakyatnya beserta seluruh binatang melakukan
pertobatan (ay. 7). Pertobatan Niniwe dinyatakan dengan perbuatan puasa dan
mengenakan kain kabung. Puasa merupakan tanda pertobatan, perkabungan, dan
pertapaan. Tanda perkabungan itu dilakukan dengan mengenakan ‘karung’ atau
‘kain kabung’ yang dilakukan semua orang, mulai dari anak anak sampai orang
dewasa tanpa terkecuali (ban. Kej. 42:25).
Ayat 6-9 merupakan flash
back (penyorotan kembali), di mana rakyat Niniwe bertobat (ay. 5) berdasarkan
panggilan raja untuk berpuasa (ayat 6-9). Pengarang kitab Niniwe menceritakan
dulu puncak peristiwanya, yaitu pertobatan di ayat 5 dan kemudian menuliskan
rincian bagaimana peristiwa itu terjadi (ay. 6-9). Maksud dari kata ‘kabar itu’
ialah nubuat yang Yunus sampaikan dalam ayat 4. Kata ‘sampai’ adalah terjemahan
dari akar kata Ibrani naga (kena), berarti nubuat Yunus ‘kena’ raja
Niniwe. Dengan demikian terjemahan untuk ayat 6 menjadi: “Setelah sampai kabar
itu kepada raja kota Niniwe, telah turun ia dari singgasana dan telah
ditanggalkannya jubahnya…” Yang menarik adalah pada ayat 8 dituliskan bahwa
tidak hanya manusia yang berseru kepada Allah, melainkan semua ternak yang juga
berpuasa. Kata yang digunakan “berbalik”, pada ayat 8b, menunjukkan bahwa orang
Niniwe sama sekali harus mengubah cara hidupnya dan berpaling kepada Allah.
Kata Ibrani ‘derek’ (jalan), di mana
orang Niniwe telah menempuh jalan yang salah, dan harus memilih jalan yang
lain. Niniwe bertobat dengan berbalik dari hidup yang jahat dan dari perbuatan
kejam sebagai reaksi atas pewartaan Yunus. Di ayat 9, ucapan ‘siapa tahu’
mengungkapkan harapan orang Niniwe kepada Allah akan perubahan rencana-Nya,
bahwa Allah akan berbalik dari rencana-Nya yang semula untuk menunggangbalikkan
kota Niniwe. Jadi dalam ayat 8 Niniwe diajak berbalik dan ayat 9 mengucapkan
harapan bahwa ‘Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya.
Ketiga
respons Ilahi (Ayat 10). Teks kita mencatat bahwa Allah "menyesal"
(nacham). Analisis gramatikal menunjukkan bahwa hal ini bukan perubahan rencana
Allah yang plin-plan, melainkan respons kasih Allah yang konsisten terhadap
manusia yang mau berubah arah hidup. Sikap yang ditunjukkan orang Niniwe dalam ayat
5 ’percaya kepada Allah’, membuat Allah tidak jadi melakukan penghukuman atas
Niniwe.
POKOK-POKOK RENUNGAN
Dalam perayaan Bulan Kebangsaan
minggu ini kita mencatat beberapa pokok refleksi.
Pertama,
belas kasihan Allah dapat menjangkau orang-orang yang paling tidak terduga.
Menjangkau semua warga negara di republik ini. Allah memanggil kita untuk
membawa berita pertobatan kepada seluruh anak bangsa. Walaupun terkadang kita
seperti Yunus berusaha untuk menghindarinya, Allah masih dapat memakai kita.
Allah melaksanakan kehendak-Nya dalam dunia dengan memakai orang yang lemah dan
berdosa.
Kedua,
pertobatan harus dilakukan secara total, memulai dari para pemimpin baik secara
lahiriah dan batiniah dengan berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan
percaya kepada Allah. Selain itu harus ada pertobatan sistemik. Undang-undang
kita, hukum-hukum kita, peraturan-peraturan di republik. Sistem dan hukum tidak
bukan membela kelompok elit, hukum tajam ke bawa tumpul ke atas, sistem ekonomi
yang tidak memihak kepada rakyat, dst. Harus ada pertobatan. Bahkan pertobatan
yang radikal. Dalam bacaan ini harus ada pertobatan yang radikal, di mana
binatang pun diikutsertakan dalam pertobatan.
Ketiga, firman Tuhan Allah mungkin menghindari bencana yang telah diumumkan-Nya. Bahwa Allah menggunakan kekuasaan-Nya untuk memulihkan dan menyelamatkan manusia yang berdosa, dan tersedia anugerah Allah bagi manusia berdosa yang sungguh-sungguh berbalik kepada Allah. Ketika Allah melihat apa yang kita perbuat, dan bagaimana kita berbalik dari jalan-jalan yang jahat, Allah berubah pikiran tentang malapetaka yang akan ditimpakan atas mereka dan tidak jadi melakukannya. Kemurahan Allah, kasih setia Allah, keinginan Allah agar semua orang menerima kasih-Nya, seharusnya menggerakkan Anda dan saya untuk dapat menyaksikan kasih Allah kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah. Amin. FN

Komentar
Posting Komentar