RENUNGAN : YOHANES 15;1-8

 

Metafora pokok anggur berakar dalam tradisi Perjanjian Lama. Israel digambarkan sebagai kebun anggur atau pokok anggur milik Allah (Yes. 5:1-7; Yer. 2:21; Hos. 10:1; Mzm. 80:9-16). Namun kegagalan Israel sebagai umat pilihan Allah menghasilkan buah anggur yang tidak sesuai kehendak Allah. Israel adalah pokok anggur yang mengecewakan. Misalnya dalam Yesaya tertulis “Aku hendak menyanyikan nyayian tentang kekasihku, nyayian kekasih-Ku tentang pohong anggurnya: kekasih-Ku itu mempunyai pohon anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga ditengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun anggur itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam. Kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel, dan orang-orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya” (Yes 5:1-2,7).

Secara struktur, bacaan kita saat ini memiliki tiga pokok pikiran utama.

 Pertama, Yesus sebagai pokok anggur yang benar (ay. 1-3).

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai ampelos alēthinē (pokok anggur sejati/ benar) yang menjadi sumber kehidupan rohani sejati. Kata “benar” di sini “alethinos”, benar yang sesungguhnya, yaitu benar sebagai lawan dari pada yang mirip benar atau yang seperti benar, bukan sekedar “benar” sebagai lawan dari palsu. Dengan kata lain, membedakan susuatu yang benar dengan palsu itu relatif mudah. Namun membedakan antara yang benar dan yang mirip benar itu sulit sekali. Jadi alethinos di sini berarti benar-benar sejati yang implikasinya adalah bahwa yang lain hanya seperti benar, tetapi bukan kebenaran yang sesungguhnya. Yesuslah pokok anggur yang benar, Israel telah menjadi pokok anggur yang gagal.

 “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah”. Ranting yang dimaksudkan pada ayat tersebut diungkapkan Tuhan Yesus d iayat 5a “kamulah ranting-rantingnya”. “Murid-murid Yesus sebagai ranting-ranting dari pokok anggur. Ayat 5 menunjukkan bukan hanya hubungan pribadi tetapi juga masuknya mereka ke dalam komunitas umat yang besar yang telah Allah ambil dari dunia (bdk 17:6). Metafora ini berdimensi komunal, Allah berperan sebagai pemilik dan penggarap kebun anggur (penggarap kebun anggur). Dalam ayat 2, Allah bekerja melalui tindakan airei, membuang, dan kathairei, memangkas. Hal ini mau menunjukkan bahwa kehidupan yang berbuah tidak terjadi otomatis, melainkan melalui proses pembentukan dan pemurnian, serta pembersihan ranting-ranting yang tidak berguna.

Pengusaha kebun anggur memangkas ranting-ranting dengan dua cara: Ia memotong kayu-kayu mati yang dapat membawa penyakit dan hama, dan Ia memotong jaringan yang hidup agar kehidupan dari pokok anggur itu tidak terlalu menyebar sehingga kualitas tuaian menjadi terancam. Bahkan pengusaha kebun anggur itu akan memotong seluruh tandan anggur agar kualitas tuaian yang lain menjadi lebih baik.

Ayat 3 “Kamu memang sudah bersih” tetapi pada saat yang sama Ia juga mengatakan “hanya tidak semua”. Tampaknya mereka orang yang sudah percaya, sudah selamat, sudah lahir baru, namun tidak berbuah. Ranting yang tak berbuah itu dipotong  yang menunjukkan kepada orang percaya.

Kedua, perintah tinggal dalam Kristus (ay. 4-7). Yesus memerintahkan para murid untuk tinggal di dalam Dia, karena hanya dengan berdiam dalam Kristus, seorang murid dapat bertumbuh dan menghasilkan buah. Intensitas penggunaan kata menō dalam bagian ini menegaskan relasi rohani yang tak terpisahkan. Prinsip melekat dan tinggal di dalam Kristus mengandung makna, pertama  ketekunan dalam iman; kedua, suatu gaya hidup pertobatan;  ketiga, ketaatan yang berkelanjutan; dan keempat, menghasilkan buah (lih.Mat 7:13). Ayat 5 “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak”. Sebuah prinsip produktifitas.  Ayat 6 “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar” merujuk pada iman yang palsu, ketidakbenaran. Pertama, mengalami kegagalan dalam hidup. Yesuslah pokok anggur yang benar “karena itu segala sesuatu bergantung pada tinggal di dalam Dia”. Tuhan Yesus menjelaskan kebergantungan ini begitu jelas “sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur demikian juga kamu tidak berbuah jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (ay. 4). Kemudian Tuhan Yesus mengulanginya di ayat selanjutnya “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (ay 5c). Kedua, mengalami hal-hal yang lebih tragis. “Barang siapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering , kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan kedalam api lalu dibakar.” Kasus yang lebih drastis disebut lagi dalam ayat 6, ranting-ranting yang tidak tinggal di dalam Aku akan berakhir dalam api.

Prinsipnya, berbuah banyak di sini bukanlah pekerjanaan dari ranting tetapi dari pokoknya. Kedua, doa-doa dikabulkan oleh Tuhan. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (ay 7). Namun ada juga syarat: “jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Jika kita tinggal di dalam Kristus hidup begitu selaras dengan tujuan Allah sehingga keinginan hati sesuai dengan kepentingan ilahi, dan dengan demikian, doa dijawab “menurut kehendak-Nya” (1 Yoh 5:14).

 Apa yang dimaksud dengan menghasilkan buah? Pertama, Berbuah berarti buah pelayanan menemukan membawa mereka yang hilang kembali kepada Tuhan. Namun bukan hanya itu saja dalam Yes 5:7, kiasan serupa diterapkan pada keadilan sosial. Kedua, adalah “Buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”. “Berbuah banyak” yang memuliakan Bapa, sebagai hasil “pembersihan-Nya” dan “tinggal di dalam-Nya”.

Ketiga, Bapa dipermuliakan. “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” (ay 8a).  Buah yang dikeluarkan oleh ranting itu tepat sama dengan yang dihasilkan oleh pokok anggur; buah apakah itu, mungkin paling dimengerti dengan memandang kepada Kristus sendiri sebagai saksi Allah di dunia ini. Memuliakan Tuhan ayat 8 “Bapa-Ku dipermuliakan” Pada akhirnya kita diperhadapkan kepada dua perkara yang adalah bagian dari kehidupan para murid Yesus, yaitu: para murid akan memiliki hidup yang kaya dalam kasih karunia karena terus berubah. Kedua, itu membawa kepada kemuliaan bagi Allah.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Pertama, hidup yang berkualitas, bermanfaat harus siap dimurnikan dengan berbagai ujian dan tantangan hidup.

Kedua, tinggal dalam Kristus yakni bergabung di persekutuan gereja (secara komunal) dan membangun relasi pribadi dengan Tuhan.

Ketiga, hidup bergantung kepada Tuhan sebab jika terlepas dari Kristus maka kita mengalami kematian spiritual dan akan seperti ranting kering.

Keempat, Kristus adalah pokok anggur yang benar, baik, maka ranting akan menghasilkan buah yang benar dan baik. Kehidupan kekristenan menghasilkan buah yang benar karena sumbernya dari Kristus.

Kelima, memuliakan Tuhan melalui produktifitas pekerjaan Anda dan saya. Jadi memuliakan Tuhan tidak terbatas pada memuji Dia saja, tetapi juga dengan menggunakan tangan Anda dan saya bagi pekerjaan yang produktif, bermanfaat dan positif. Berbuah dalam pelayanan dan dituntun oleh Roh Kudus melalui buah-buah roh. Amin. FN.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan Bulan Keluarga: MENJADI TELADAN IMAN (Titus 2:1-10)

RENUNGAN : YEHEZKIEL 34:1-16

Renungan Bulan Lingkungan : TANAH DAN AIR DALAM KARYA ALLAH (YEHEZKIEL 47:1-12)