RENUNGAN : 1 KORINTUS 6:12-20

 Pada abad pertama, Korintus menjadi salah satu Kota paling menonjol di kekaisaran Romawi. Korintus dijuluki sebagai “ruang tamu negara Yunani”, yaitu tempat bertemunya segala bangsa. Penduduk Korintus sebagian besar merupakan orang-orang pendatang dari berbagai tempat ke kaisaran Romawi. Menjadi kota yang termasyur, akan tetapi menjadi tempat untuk memuaskan hawa nafsu, di mana kejahatan dari Barat dan Timur saling berjumpa. Kebobrokan moral yang melanda jemaat Korintus didukung oleh kuil Aprodite. Dalam kuil ini ada seribu wanita yang bertugas sebagai pelacur, bahkan siap melayani para lelaki. Sehingga kota Korintus juga terkenal dengan seksualnya yang amoralitas.

Paulus juga mendapatkan laporan tentang jemaat Korintus bahwa, ada beberapa masalah yang terjadi di jemaat ini antara lain: Pertama, perpecahan di dalam Gereja. Kedua, kasus inses (hubungan seksual antar anggota keluarga dekat). Ketiga, kekacauan pada saat ibadah, bahkan saat perjamuan kudus. Keempat, masalah makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Masalah-masalah yang terjadi di Korintus terulang di setiap zaman dan menjadi tantangan bagi keluarga Kristen saat ini.

Bacaan ini kita dapat membaginya dalam beberapa point.

Pertama, ayat 12-14. Sifat-sifat lama jemaat Korintus yang diperingatkan oleh Paulus. Ayat 12 tidak dapat dipisahkan dari ayat-ayat yang lainnya, sebab ini merupakan satu unit dalam satu kesatuan. Jemaat Korintus menyalahgunakan kebebasan mereka sebagai orang Kristen. Mereka membiarkan percabulan berada di antara mereka.  Mereka berkompromi dengan dosa.

 Paulus menanggapi masalah itu dengan menuturkan bahwa segala sesuatu diperbolehkan bagiku, artinya segala sesuatu yang sah menurut hukum atau tidak melanggar hukum. Secara konteks historis pada saat itu, Paulus menasihati jemaat Korintus dan memulai dengan sebuah ungkapan “segala sesuatu halal bagiku”. Ini ungkapan yang terdengar dari beberapa orang Kristen di Korintus dan digunakan untuk membenarkan kebebasan mereka secara sembarangan.

Waktu itu ada beberapa kelompok orang dengan pahamnya masing-masing; kelompok pertama, pendapat orang-orang legalisme yang menganggap bahwa keselamatan yang mereka terima adalah karena mereka memelihara Hukum Taurat. Kedua, orang-orang libertinisme menganggap bahwa mereka sudah diselamatkan dan mereka bebas melakukan apa saja. Ketiga, para filsuf moral (Sinik dan Stoa) yang sudah beredar di tengah-tengah jemaat. Mereka mempertahankan kebebasan terhadap nafsu-nafsu mereka.

Paulus mengatakan bahwa orang-orang Korintus menyalahgunakan kemerdekaan yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka dengan cara memberi diri mereka diperhamba oleh dosa seksualitas. Mereka menyamakan seksualitas dengan keinginan untuk makan dan harus dipenuhi sampai puas.

Paulus menyatakan bahwa kebebasan yang benar adalah kebebasan yang ada dalam kontrol Allah. Kebebasan tidak dapat dipakai untuk melakukan kejahatan. Karena manusia lama sudah ditebus oleh Allah dan mengalami sebuah perubahan yang sejati di dalam Yesus Kristus, sehingga manusia baru menjadi milik Tuhan seutuhnya, bukan lagi milik Iblis seperti yang sudah dikemukakan pada ayat 11. Bagai Paulus orang-orang Korintus yang telah dikuduskan oleh Allah memiliki kebebasan penuh, akan tetapi kebebasan itu di bawah kedaulatan Allah.

Ayat 13, makanan-makanan yang dimaksud adalah makanan yang dilarang dalam hukum Yahudi. Makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala seperti daging. Makanan yang bersifat netral untuk perut dan perut untuk makanan-makanan yang bersifat netral. Tetapi tubuh jangan untuk percabulan, melainkan tubuh milik Tuhan dan Tuhan pemilik tubuh. Paulus juga menjelaskan bahwa makanan diciptakan sesuai fungsinya atau kegunaannya.

Ayat 14, Paulus mengatakan bahwa Yesus telah mati namun Allah Bapa telah membangkitkan-Nya hanya satu kali pada waktu itu.  Oleh karena itu, orang Kristen Korintus telah bangkit dari dosa sehingga jangan lagi menghambakan diri kepada nafsu seksualitas. Kristus bangkit menggunakan tubuh yang baru, maka hidup yang baru. Baru tersebut tidak hanya jiwa dan roh tetapi tubuh alami manusia yang telah dikuduskan oleh kebangkitan Kristus. Maka tubuh adalah milik Allah yang harus dirawat, karena didiami oleh Roh Kudus.

Kedua, ayat 15-17. Kesatuan tubuh dengan Tuhan.

Ayat 15, Paulus mengungkapkan pertanyaan retorika pada teks ini dan mau menekankan bahwa jemaat Korintus sudah tahu dan terus mengetahui bahwa anggota tubuh mereka adalah milik Tuhan. Paulus menjelaskan kepada jemaat Korintus bahwa mereka bukan sekedar tahu, tetapi mereka sudah mengetahui, hal ini lebih dari sekedar tahu. Di sini Paulus sedang menekankan apa yang harus mereka pahami tubuh adalah anggota Kristus.

Paulus mengandaikan bahwa dapatkah seorang yang sudah menjadi milik Kristus dan ia mempersatukan dirinya dengan pelacur? Paulus sendiri menjawab tidak sama sekali. Seorang yang sudah menyerahkan dirinya menjadi milik Kristus, tidak mungkin menyerahkan diri pada percabulan. Paulus sedang menjelaskan bahwa ketika manusia memberi peluang untuk percabulan sedang menentang Allah dan Roh-Nya.

Ayat 16, Paulus mengungkapkan pertanyaan retorika yang kedua sama dengan ayat sebelumnya. Hal ini menunjukkan penegasan penting. Tubuh mereka sudah menjadi milik Kristus, ketika mereka percaya kepada-Nya. Paulus menyatakan bahwa hubungan seksual bukanlah semata-mata masalah fisik. Tetapi menyangkut psikologi, maupun fisiologi seks, karena hubungan seks itu melibatkan penyerahan diri total dari tubuhnya kepada pribadi yang lain.

 Paulus mengingatkan bahwa jika mereka mengikatkan dirinya pada percabulan, yang menguasainya adalah nafsu yang menjadi natur dari cabul tersebut. Namun ketika mereka percaya kepada Tuhan Yesus, otomatis mereka sudah terikat dengan Allah. Terikat dengan Allah digambarkan seperti seorang isteri terikat dengan suaminya. Sangat jelas pada arti literal “saudara-saudara, kalian telah tahu dan sampai sekarang tahu bahwa barangsiapa sekarang tinggal dengan perempuan pelacur, mereka akan menjadi satu”. Sebab dari dulu sampai sekarang kata nas ini: dua yang menjadi satu adalah satu tubuh.

Pada ayat 17, prinsip perkawinan yang benar yakni seorang laki-laki harus bersatu dengan isterinya dan menjadi satu daging (Kej. 2:24). Tuhan Yesus juga mengungkapkan di dalam Matius 19:5,6 dan Markus 10:7. Paulus juga mengutip nas ini, bahwa suami harus mengasihi isterinya seperti pribadi-Nya (Ef.5:28-30).

 Dapat diartikan bahwa orang yang menjadi satu dengan Tuhan terus-menerus menjadi satu dengan Roh Kudus. Paulus mengungkapkan prinsip pernikahan yang jelas kepada jemaat Korintus. Mereka bukan hanya anggota dalam tubuh Kristus, melainkan menjadi satu tubuh dalam ikatan perkawinan. Paulus mengulangi penegasan bahwa, tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Kesatuan dengan Allah ini adalah hubungan rohani antara manusia dengan Allah. Waktu yang bersamaan dia sedang mengikatkan diri pada Kristus (Ef. 5:30; 1 Kor. 12:5). Paulus bukan hanya sekedar memberitakan tentang kehidupan moralitas yang sesuai dengan kehendak Allah, namun dia sendiri pun hidup sesuai dengan kehendak Allah .

Ketiga, ayat 18-20. Ayat 18 dimulai dengan kata Φεύγετε yang artikan oleh LAI “jauhilah”, tetapi dapat juga diartikan: melarikan diri, hindari. Kata ini berbentuk perintah yang harus dilakukan sekarang dan terus-menerus. Paulus lewat suratnya dalam teks ini mengatakan bahwa jemaat Korintus harus terus-menerus melakukan tindakan melarikan diri dari percabulan.

Dosa percabulan sejajar dengan dosa penyembahan berhala. Sebab seseorang yang melakukan hubungan kelamin dengan seorang pelacur merusak dirinya sendiri. Dosa tersebut sama dengan dosa penyembahan berhala. Dosa tersebut sering dilakukan sebelum mereka bertobat, namun sekarang sudah bertobat harus menjauhkan diri.

Ayat 19 diulangi, pertanyaan retorik yang terakhir. Paulus mau menjelaskan dan menyadarkan bahwa di dalam diri orang yang sudah percaya kepada Kristus, maka hati nuraninya menjadi tempat kediaman Roh Allah. Di sini juga Paulus menekankan bahwa pribadi yang percaya kepada Kristus, bukan lagi menjadi milik dirinya sendiri, melainkan bahwa Roh kudus yang ada dalam setiap orang yang percaya pemiliknya adalah Kristus sendiri. Roh Kudus yang sekarang ada pada jemaat Korintus itu berasal dari Allah.

Ayat 20, Paulus menguraikan bahwa Allah telah membeli manusia dengan lunas dibayar. Ayat ini sejajar dengan Kisah Para Rasul 20:28; 1 Korintus 7:23; Roma 3:24; Efesus 1:7; 1 Petrus 1:18; 2 Petrus 2:1; Wahyu 5:9. Kata ini mau menguraikan kepada jemaat Korintus bahwa cara hidup mereka yang lama sudah dibeli dengan lunas oleh Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Paulus memerintahkan kepada jemaat Korintus untuk tetap memuliakan Tuhan dengan tubuh mereka seperti yang sudah diungkapkan pada Roma 12:1 dan Filipi 1:20. Itu merupakan respon manusia terhadap penebusan yang Allah lakukan kepada orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus yang didiami Roh itu sendiri. Itu berarti menuntut tanggung jawab setiap orang, mau dan tidak mau harus mempermuliakan Allah dengan tubuh yang Tuhan percayakan.

POKOK-POKOK RENUNGAN

Minggu terakhir bulan keluarga kita mencatat beberapa pokok refleksi.

Pertama, kita hidup di era postmodern dan kita berhadapan dengan relativisme moral. Kejahatan dianggap hal biasa terjadi, perbuatan yang melanggar nilai-nilai kehidupan dianggap biasa. Bahkan kebenaran bisa dikaburkan. Hal-hal tersebut menjadi tantang bagi keluarga Kristen di masa kini. Firman Tuhan mengingatkan keluarga Kristen bahwa kita telah ditebus oleh Tuhan, karena hiduplah sebagai keluarga Kristen yang menjaga kekudusan hidup. Tetap berpegang kepada kebenaran dan tidak berkompromi dengan dosa.

Kedua, era postmodern kita dimudahkan dengan adanya teknologi. Misalnya kita masing-masing memiliki Hp android, tidak ada yang melarang kita untuk membaca, melihat, menulis ini dan itu di media sosial. Namun kita diingatkan oleh firman Tuhan untuk menjaga kekudusan, karena kita hidup dalam kontrol Allah. Orang lain tidak tahu tetapi Tuhan tahu.

Ketiga, dalam krisis moral di era modern, sebagai keluarga Kristen kita tetap menyerahkan hidup dalam kedaulatan Tuhan. Kita berdoa untuk Roh Allah terus menuntun kita, menjauhkan diri dari tindakan-tindakan yang amoral.

Keempat, perbuatan dosa tidak hanya soal perilaku, pikiran dan hati, tetapi ketika kita menyerahkan tubuh kepada hawa nafsu, maka tubuh ini menjadi cemar. Oleh karena itu, firman Tuhan meminta kita untuk menjaga tubuh (raga) karena kematian dan kebangkitan Kristus tidak hanya menyucikan jiwa, namun menyucikan hidup seutuhnya. Tubuh ini tempat Roh Allah berdiam, di dalam tubuh yang sehat dan suci maka di situ ada Roh Allah.

Kelima, hidup ini kita telah disucikan, diserahkan kepada Kristus, jangan menyerahkan diri kepada dosa, kepada yang lain. Seperti prinsip pernikahan yang disampaikan oleh Paulus, satu tubuh dalam ikatan perkawinan. Hidup kudus artinya kita mengkhususkan diri kepada seseorang. Amin. FN





Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN : YEHEZKIEL 34:1-16

Renungan Bulan Lingkungan : TANAH DAN AIR DALAM KARYA ALLAH (YEHEZKIEL 47:1-12)

Renungan Minggu Advent Kedua: Maleakhi 3:1-5